Hiburan Bigo Live

Sekarang kalau menganggur, saya suka iseng buka aplikasi mobile Bigo Live. Suatu dunia social media yang berbeda dibanding yang biasa saya lihat. Melalui aplikasi ini, setiap orang bisa siaran streaming. Nggak cuma itu, ada unsur gamificaton juga di dalamnya. Semakin sering siaran, mendapat gift, atau apresiasi lainnya, si host penyiar akan semakin tinggi experience-nya. Seperti game, ketika mencapai experience tertentu, ia akan naik level.

Screenshot_2016-07-22-06-29-32_sg.bigo.live

Screenshot_2016-07-22-06-27-45_sg.bigo.live

Konsepnya menarik. Mirip dengan aplikasi streaming video versi desktop: Cliponyu.com dan Siaranku.com. Gamification-nya pun bisa dibilang hampir sama dengan mereka, hanya beda di platform saja. Setiap orang yang menonton siaran Bigo Live juga bisa membeli “beans” (mata uang di Bigo Live), yang bisa dikonversi menjadi beberapa tipe gift untuk diberikan ke host penyiar. Nantinya akan ada revenue yang diperoleh oleh host dari jumlah “beans” yang ia terima dari penontonnya.

Screenshot_2016-07-22-06-25-27_sg.bigo.live

Konsep bagus tentu harus disertai juga dengan konten. Bigo Live memang sempat menggandeng beberapa selebriti Indonesia untuk bersiaran di sana. Saya sendiri baru mencoba aplikasi beberapa hari lalu, dan agak kaget juga melihat suatu kebiasaan yang nggak pernah terjadi di lingkungan teman-teman social media saya.

Banyak teman saya yang sudah memulai kebiasaan vlog, atau share beberapa konten melalui video. Yang biasa mereka lakukan umumnya terkonsep (minimal ada pemikiran di belakangnya). Beberapa teman yang bersiaran streaming di Zeemi atau Fame pun masih punya tema/topik yang diangkat. Plus, mereka memang dikenal di lingkungan/komunitasnya, sehingga wajar bila ada teman/fans yang ingin mendengar cerita mereka.

Yang saya temukan di Bigo Live ini… benar-benar random. Hampir semua yang siaran sekedar mengaktifkan ponsel, lalu ngobrol ngalur ngidul sambil melakukan aktivitas mereka sehari-hari (hmm, apa karena mereka mengejar air time ya?).

bigo01

bigo02

Ada yang bangun tidur, dengan tampang apa adanya, siaran. Ada yang sambil sarapan. Ada yang dibiarkan menyala, sementara orangnya menghilang entah ke mana. Ada yang pas saya lihat, tiba-tiba sedang menangis kencang (duh, kenapa kamu mbak?). Ada pula seorang pekerja bank yang asyik cerita dengan audiensnya padahal ia sedang di kantor. Ada yang duduk kencan bermesraan dengan pacarnya, lalu diperlihatkan ke yang nonton. Ada yang sedikit eksibisionis, pakai pakaian seksi lalu berjoget dengan musik keras terdengar di belakangnya.

Saya benar-benar heran, apa yang membuat mereka mau menyiarkan dengan gamblang kehidupan pribadinya ya? Social media memang untuk berbagi, tapi mestinya kan ada filter, hal mana yang perlu diceritakan, dan mana yang tidak perlu. Sebenarnya ini bukan terjadi di Indonesia sih. Kalau saya cek akun-akun lainnya di Vietnam dan Thailand, isinya pun serupa. Hahaha bahkan untuk dua negeri itu, bagian seksi dan semi buka-bukaannya lebih parah sih.

bigo03

bigo04

Kebiasaan yang dibentuk komunitas sebuah aplikasi umumnya akan berpengaruh terhadap anggota komunitas lainnya. Coba deh cari di YouTube “Bigo Live buka” dan kalian akan menemukan banyak rekaman video Bigo Live yang menampilkan cewek-cewek seksi yang pernah siaran di Bigo Live. Bahkan ada yang sampai buka-bukaan beneran. Ada pula akun Indonesia yang pernah melakukan itu. Ada videonya di YouTube, kalian cari sendiri saja.

Saya kurang tahu dulu Bigo Live seperti apa, sehingga siaran seperti saya sebutkan di atas bisa terjadi. Namun memang kini setiap kali live, ada peringatan terlebih dahulu untuk mereka yang bersiaran. Bila melanggar, akun mereka akan langsung ditutup. Pernah di suatu pagi saya melihat akun seorang perempuan Indonesia yang berbaju seksi lalu berjoget. Nggak lama, siarannya terputus.

Screenshot_2016-07-22-06-33-17_sg.bigo.live

Beberapa kasus siaran seksi itu sepertinya memicu audiens untuk berkomentar yang nggak enak. Coba deh perhatikan dan hitung berapa banyak audiens yang men-chat supaya si host membuka baju, atau bahkan menggunakan kata-kata jorok dalam chat-nya. Ini saya temukan hampir terjadi di semua akun penyiar. Kasihan juga kalau memang ada penyiar yang niatnya bagus, tapi akhirnya disamaratakan dengan penyiar yang eksibisionis.

Mungkin ini pekerjaan rumah bagi Bigo Live ya. Hfft, apa lagi tidak ada filter usia bagi penontonnya. Setiap orang bisa bebas mengunduh dan menjadi anggota. Kebayang kan kalau ada anak di bawah umur menyaksikan siaran yang obrolan dan aksinya berbau dewasa. Nah, sekarang tugas berat Bigo Live adalah untuk mengurangi jumlah penyiar yang jualan sensualitas; dan fokus mengangkat dan mempromosikan para penyiar yang membawakan konten positif, dan memastikan audiensnya memang suka dengan konten tersebut.

Meski kadang meringis, tapi saya sih ikut terhibur dengan keberadaan Bigo Live. Terhibur membaca komentar yang “sakit” dan melihat aksi/curhat bebas tanpa filter para penyiarnya.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge