Bermain dengan Lensa Helios

Sekitar 2 minggu lalu saya iseng beli mainan baru (halah, iseng). Mainan itu berjudul lensa manual Helios 44-2 58 mm. Lensa lama buatan Rusia ini memang sudah tidak diproduksi lagi. Orang biasanya mencari dari lapak barang second. Saya menemukan lensa ini di toko MasterLensa.com di STC Senayan lantai 1. Ternyata di sana banyak sekali dijual lensa manual second. Plus, kalau kalian butuh lensa manual kalian diservis, juga bisa datang ke sana.  Saya membeli lensa Helios 44-2 58 mm seharga Rp. 800.000,00 + mount + cap, sehingga total Rp. 900.000,00.

IMG_20150926_115451_HDR

Hari Sabtu lalu saya mencoba lensa ini dengan memotret Kei Andinta. Fokus lensa Helios dilakukan dengan cara manual, alias berdasarkan kepekaan mata melihat di viewfinder. Tidak ada motor yang biasanya membantu menemukan titik fokus saat memotret. Susah? Hahaha… Banget, kalau memang belum terbiasa. Alhasil, di awal-awal banyak jepretan saya yang tidak fokus.

Lensa Helios ini memang murni lensa manual, dengan segala ketidaksempurnaannya. Namun ketidaksempurnaan ini yang malah membuatnya menjadi unik. Misalnya, saat menampilkan bokeh di background, perhatikan tepian hasil foto deh. Akan terlihat agak swirly (berputar) bentuk bokeh-nya. Atau kadang suka terlihat bocoran cahaya saat memotret subjek dengan kondisi backlight.

Kemarin sore saya sempat mampir ke Frisian Flag Cafe, sebuah kafe temporer untuk promosi Susu Bendera, di halaman depan fX Sudirman. Saya sempat memotret beberapa objek di sana dengan menggunakan lensa Helios ini. Galeri keseluruhan foto-foto di Frisian Flag Cafe ini bisa dicek di galeri Flickr ini.

IMG_7601

IMG_7611

IMG_7606

IMG_7615

IMG_7599

IMG_7616

IMG_7619

Alasan Saya Memotret

Sejak beberapa bulan terakhir ini di setiap akhir minggu, saya hampir selalu mendatangi beragam event untuk memotret aksi live apapun. Biasanya prioritasnya memang memotret aksi live JKT48, tapi kalau itu tidak ada, saya akan mencari info acara apa saja yang ada di akhir minggu itu dan siapa artisnya. Kalau buat saya menarik dan jaraknya terjangkau, pasti akan saya coba datangi.

Saya suka memotret. Rasanya aneh memang kalau tidak menggunakan kamera di akhir minggu. Mungkin ada yang ingin tahu, kenapa saya sampai segitunya aktif memotret event live di akhir minggu. Saya bisa jabarkan dalam 3 alasan:

IMG_2433

1. Latihan

Setiap kali saya aktif memotret, saya mencoba selalu mempertajam skill dan intuisi saya. Mencoba eksperimen dalam mengambil sudut pemotretan. Melatih diri mengukur pencahayaan secara manual. Latihan mengenali pola gerakan subjek yang dipotret, dan mengambil shot di saat yang pas. Yang paling penting, bisa semakin kenal dengan kamera dan lensa saya sendiri, mengetahui kelemahan dan kelebihannya. Seperti kita mengendarai mobil atau sepeda, saya mencoba supaya kamera saya bisa menjadi perpanjangan badan saya sendiri, yang saya kenal dan bisa rasakan saat saya pakai.

IMG_8604

Mengolah hasil jepretan di komputer juga bagian dari ajang melatih diri. Saya selalu kagum dengan variasi tone warna yang dibuat banyak fotografer lain. Ada masanya saya selalu mencoba membuat mirip dengan itu (meski biasanya jarang berhasil). Ada masanya saya akhirnya menemukan tone warna yang khas, yang akhirnya suka saya pakai berulang. Ada masanya saya mencoba eksperimen tone warna yang berbeda (yang kadang hasilnya nggak melulu selalu enak dilihat sih).

Pembelajaran ini saya yakin tidak akan selesai. Setiap kali usai memotret dan mengedit foto, saya selalu membandingkan dengan hasil jepretan teman yang memotret subjek sama. Pasti akan ada jepretan mereka yang bisa menjadi pembelajaran buat saya.

IMG_5350

2. Kenalan

Memotret itu salah satu medium yang bisa dipakai untuk berkenalan. Jadi inget dulu banget waktu sering datang ke pameran mobil. Memotret SPG lalu minta ID Facebook-nya untuk nanti saya tag fotonya. Modus banget ya.. Haha tapi itu beneran cara yang ampuh untuk kenalan. Dengan cara serupa saya pun akhirnya bisa berkenalan dengan beberapa performer di panggung. Saya berkenalan dengan anak-anak Lumina Scarlet melalui foto. Saya lalu jadi dikenal anak-anak Teenebelle juga karena foto. Saya kenal Hiroaki Kato pun melalui foto.

IMG_3380

Caranya sebetulnya mudah, siapa tau mau niru. Rajin-rajinlah datang ke event musik (yang kamu sukai). Foto musisi/performer yang kamu sukai. Bikin foto sebagus mungkin, dan sebanyak mungkin. Lalu segeralah pulang dan edit foto. Share hasil foto kamu di Twitter sambil mention musisi/performer itu. Kalau bisa sih, jadilah yang pertama yang men-share foto di Twitter. Lalu berdoa, siapa tau beruntung foto kamu mendapat apresiasi dari musisi/performer tersebut. Manfaatkan apresiasi itu untuk langsung ngobrol dan berkenalan dengan mereka di Twitter. Ulangi cara tersebut di event berikutnya. Biasanya, konsistensi akan mendapatkan imbalan setimpal.

Melalui kegiatan memotret saya juga berkenalan dengan banyak teman fotografer yang memiliki hobi serupa. Biasanya kami sepakatan untuk datang barengan ke event dan motret bareng. Atau ada juga yang tidak saya kenal dekat, tapi sering ketemu di event, jadinya malah ngobrol bareng dan saling tukar informasi mengenai musisi/performer yang akan difoto.

IMG_2015

3. Kesempatan

Sejak bertahun-tahun lalu saya memulai nulis blog saya berpegang pada prinsip yang sama, “Ngebloglah karena memang ingin menulis dan berbagi, bukan karena ingin mendapatkan imbalan. Namun percayalah, biasanya rejeki akan datang dengan sendirinya seiring rajinnya kita berbagi.” Hal sama saya terapkan juga dengan saya memotret. Saya melakukannya karena saya senang. Saya membagi hasilnya di Twitter biar banyak orang yang melihat, dan siapa tau ikut senang melihatnya. Kalau ada yang minta foto versi resolusi tinggi untuk kebutuhan fanbase musisi/performer itu, saya dengan senang hati mengirimkannya. Sepanjang foto itu digunakan untuk membantu mengangkat nama musisi/performer itu, saya sama sekali tidak akan keberatan.

IMG_8386

Untuk di Twitter saya memang selalu mencantumkan watermark. Namun sudah beberapa kali saya mengirimkan foto resolusi tinggi tanpa watermark ke musisi/performer, bila mereka memang memintanya. Saya tidak meminta apa-apa kecuali nama saya dituliskan sebagai fotografernya. Buat saya, hal itu sudah cukup.

Lalu kesempatan apa sih yang saya harapkan dari aktivitas memotret live ini? Salah satunya adalah saya ingin sekali-sekali diajak terlibat menjadi fotografer resmi salah satu musisi/performer. Lebih bersyukur lagi bila ternyata ia adalah musisi/performer yang juga saya sukai. Ternyata kesempatan itu datang juga. Saat ini hampir setiap akhir minggu saya jalan keliling kota mendokumentasikan audisi salah satu girl band ternama Indonesia. Semoga saja ini menjadi awal baik dari kesempatan-kesempatan lainnya yang lebih besar.

IMG_7961

Motret di Jak-Japan Matsuri

Event tahunan Jak-Japan Matsuri kali ini berjalan mirip tahun lalu. Diawali dengan event Japan Week di Plaza Senayan (6-12 September 2015), lalu ditutup di Parkir Timur Senayan tanggal 13 September 2013. Sejak seminggu sebelumnya saya sudah mengetahui jadwal hariannya, jadi saya sudah merencanakan untuk datang di hari apa saja. Hehehe ujung-ujungnya malah saya datang hampir setiap hari.

Senin malam di jadwal ada Aya Anjani. Perempuan cantik ini saya kenal di Twitter. Biasanya dia bareng grupnya, Choco Miruku, namun kali ini Aya bermain gitar solo sekaligus amenyanyi. Selain membawakan lagu-lagu cover, Aya membawakan satu lagu ciptaanya sendiri yang berjudul “Darling Selalu.”

IMG_7619

Selasa sore saya kembali datang ke Plaza Senayan. Kali ini saya melihat Angelina Hirawan menyanyikan beberapa lagu Jepang yang sebagian liriknya ia terjemahkan sendiri ke bahasa Indonesia. Tahun lalu saya pernah melihat aksi Angelina di event Plaza Blok M Matsuri, lalu beberapa bulan lalu di event Sakura Matsuri. Terakhir kali saya melihatnya sebagai MC di event Countdown Asia Festival.

IMG_7691

Rabu sore lagi-lagi saya datang. Kali ini saya menyaksikan duet Hiroaki Kato dan Rica Leyona di panggung. Mereka berdua juga yang nantinya menjadi MC di event penutupan Jak-Japan Matsuri. Seperti biasa, Hiro bernyanyi sambil bermain gitar, lagu-lagu pop Indonesia yang sebagian liriknya ia ubah ke dalam bahasa Jepang. Rica ikut membantu vokal dalam beberapa lagunya.

IMG_7866

IMG_7884

Hari Kamis sore saya melihat Aya Anjani di panggung untuk kedua kalinya. Kali ini Aya berduet dengan Ega yang bermain gitar. Kalau sering datang ke event Jejepangan, pasti familiar akan wajah Ega, karena ia memang sering muncul mengisi acara.

IMG_7966

IMG_8013

Setelah itu saya melihat seorang gadis asal Pekalongan yang pertama kalinya mentas di Jakarta. Namanya Chasandra Florence. Ia membawakan beberapa lagu Jepang. Dari gestur tubuhnya terlihat sekali kalau ia masih terlihat canggung di atas panggung. Namun untuk sebuah pengalaman pertama, tentunya usahanya layak mendapat apresiasi.

IMG_8028

Di hari Jumat yang menjadi pengisi acara adalah JKT48. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, audiens hari itu sangat ramai. Semua bangku penuh. Saya saja ikut duduk di lantai. Kalau di hari-hari sebelumnya, saya bisa bebas pindah posisi saat memotret, maka di hari Jumat, saya terpaksa diam di titik tengah depan. Kalau saya pindah-pindah, nanti malah mengganggu penonton lainnya (yang juga ikut memotret).

Sebenarnya acara JKT48 di hari ini agak membosankan. Enam member yang datang saat itu: Haruka, Shania, Ayana, Naomi, Jeje, dan Desy malah keasyikan sendiri ngomong di panggung. Mereka cerita tentang pengalaman saat shooting di Jepang untuk program acara Yokoso JKT48. Ngobrol-ngobrol ini diakhiri dengan mereka membawakan 4 lagu.

IMG_8073

IMG_8186

Saya tidak datang ke Plaza Senayan di hari Sabtu, namun saya datang saat acara penutupannya hari Minggu di Parkir Timur Senayan. Saya datang sore pas Hiroaki Kato membawakan lagu-lagunya di panggung. Hiro ditemani Rica Leyona menjadi MC-nya.

Sore hingga malam itu saya juga menyaksikan (dan memotret) Yumi, Jakarta Keion Club, tarian tradisional Betawi, Mayumi Itsuwa, J-Rocks, dan ditutup oleh JKT48. Pencahayaan malam itu cukup menarik, terutama saat penampilan J-Rocks. Mayumi Itsuwa yang terkenal di tahun 1980-an membawakan lagu klasiknya, Kokoro no Tomo, diiringi oleh J-Rocks dan paduan suara. Pencahayaan panggung saat JKT48 cukup lumayan, meski sayang terlihat gelap di sayap kanan.

IMG_8346

IMG_8360

IMG_8385

IMG_8426

IMG_8444

IMG_8502

IMG_8765

Event Jak-Japan Matsuri tahun 2015 ini terasa lebih baik dibandingkan tahun lalu yang sempat diguyur hujan saat sore. Pencahayaan panggung pun lebih baik dibanding tahun lalu yang sangat gelap. Semoga saja event tahun depan bisa lebih keren lagi daripada tahun ini.

Cek keseluruhan foto Jak-Japan Matsuri 2015 di album Flickr ini. Khusus untuk JKT48 bisa dicek di album Flickr ini dan ini.

Kategori Foto Favorit

Setiap orang punya kesukaannya sendiri saat memoret. Ada yang suka foto fashion, ada yang suka landscape, ada yang suka foto travelling, dan ada banyak macam lainnya lagi. Lalu kategori fotografi seperti apa yang saya sukai? Hihi jawabannya bisa banyak, tapi saat ini saya fokus di 3 hal ini saja:

Travelling

Setidaknya setahun sekali saya menyempatkan waktu untuk travelling. Jalan-jalan khusus untuk liburan ya, bukan untuk pekerjaan. Kenyataannya kalau jalan-jalan untuk kepentingan pekerjaan, sangat kecil kemungkinannya saya bisa memotret santai.

Tahun 2013 dan 2014 saya sempat jalan-jalan keliling Jepang bersama teman. Sementara teman lainnya murni jalan-jalan, saya sendiri memang berniat untuk memotret. Karena sering berhenti dan mengambil gambar, terkadang teman jadi ikut menunggu. Hehehe maaf ya. Pernah juga di 2012 saya berjalan-jalan ke China. Kali ini satu rombongan berisi fotografer semua yang memang punya tujuan utama memotret di beberapa lokasi di China. Untuk lokasi di nusantara, saya setiap tahun selalu ke Jogja. Saya selalu mencari lokasi baru di Jogja dan sekitarnya yang asyik untuk dijadikan objek foto. Setiap tahunnya pasti akan ada saja titik wisata baru yang menarik.

IMG_0471

Hal paling menyenangkan saat memotret kala travelling adalah selalu menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang tak pernah saya temui di Jakarta, atau bahkan Indonesia. Ada kesenangan sendiri saat saya bisa memotret itu dan membaginya di media sosial. Khusus untuk wisata di Indonesia, saya malah senang bisa membagikan infonya ke banyak orang. Siapa tau saja makin banyak yang tertarik dan bisa meramaikan titik wisata tersebut.

IMG_4239

Modelling/Fashion

Setiap minggu di Jakarta hampir selalu ada event hunting motret model dengan beragam tema. Banyak info seperti ini bisa ditemukan di forum terkenal seperti fotografer.net atau di banyak group fotografi di Facebook. Biayanya beragam dari Rp.100.000 hingga Rp. 400.000, tergantung tingkat eksklusifitas dan model yang ikutan.

IMG_1492

Setiap penyelenggara event pemotretan model berupaya menampilkan hal yang unik. Kebanyakan model yang digunakan sudah profesional. Mereka sudah terbiasa berpose, berekspresi, dan membagi matanya untuk banyak fotografer yang mengelilinginya. Untuk kalian yang memang mau belajar memotret model, event seperti ini menjadi sarana baik untuk coba-coba. Kalian bisa belajar mengambil komposisi yang baik dan mengenali pose-pose yang ok untuk pemotretan.

IMG_5611

Ada juga event pemotretan model yang bersifat private. Modelnya mengenakan pakaian minim (atau bahkan mungkin tidak sama sekali, eh) dengan jumlah fotografer yang terbatas. Sayangnya event seperti ini sangat jarang dipublikasikan terbuka. Hanya bisa didapat dalam grup tertutup atau info mulut ke mulut saja.

Sebenarnya saya kurang terlalu suka memotret model seperti ini. Bukan nggak suka lihat para model berpose seksi ya, tapi saya kurang suka melihat ekspresi dan senyuman mereka yang template ala model. Tidak ada tawa. Tidak ada canda. Kurang ada cerita di dalamnya. Mungkin karena saya dan teman-teman pernah membuat photobook Re:ON Rise (kalau belum punya, silakan beli di Rakuten), yang setiap halamannya bercerita, saya kurang mendapatkan gregetnya kalau sekedar memotret model saja. Kapan-kapan saya akan cerita lebih lanjut deh tentang photobook ini.

Stage/Konser

Kategori fotografi ini yang paling sering saya lakukan belakangan ini. Yang mungkin banyak teman saya sudah tahu, saya sering banget memotret JKT48 saat mereka live performance. Di sini saya memang bergabung dalam komunitas IdolGrapherID yang sebagian besar anggotanya selalu kelihatan memotret JKT48 di manapun di Jakarta dan sekitarnya. Biasanya setelah selesai memotret, malamnya foto-foto itu langsung sudah ada yang membagikannya di media sosial.

IMG_5823

Saya sendiri tidak melulu memotret JKT48. Saya juga masih suka memotret Teenebelle, Cherrybelle, Lumina Scarlet, dan banyak lainnya. Kalau ada idol group atau band Jepang yang muncul di event Jejepangan yang kini makin banyak di Jakarta, saya coba menyempatkan untuk datang dan ikut memotret. Terakhir ini saya sempat pula datang ke Indonesian Jazz Festival demi bisa melihat dan memotret Isyana Sarasvati dan Be3. Yang belum kesampaian, tapi saya tunggu-tunggu saat ini adalah memotret aksi live Raisa.

IMG_6507

Memotret stage itu sangat menantang, bahkan menurut saya lebih menantang dibanding dua kategori di atas. Tidak semua stage disertai dengan lighting yang keren. Tidak semua stage pun memiliki podium yang tinggi. Kerumunan orang yang datang ke stage pun bisa beragam tergantung event-nya.

Paling beruntung memang kalau stage dilengkapi lighting keren ala event sekelas Java Jazz atau Indonesian Jazz Festival. Lampu di belakang artis berwarna-warni terang, namun wajah dan figur si artis masih terlihat jelas. Memotret seperti ini tidak akan membutuhkan waktu lama saat proses editing.

IMG_6407

Sayangnya lighting seperti itu tak bisa ditemui di atrium mall. Baik JKT48, Teenebelle, atau Cherrybelle sering manggung di mall. Untuk memberi kesan “keren” biasanya mall akan menambahkan lampu warna-warni yang diarahkan ke bagian depan wajah dan badan artis. Meski kelihatannya menarik kalau dilihat mata, namun lighting seperti itu bencana bagi fotografer. Warna kulit si artis akan hilang tertutup tembakan lampu. Belum tentu foto seperti ini bisa dikoreksi saat editing. Contoh seperti ini saya hadapi saat memotret JKT48 di Mall Emporium Pluit dan Cherrybelle di Pluit Junction. Beberapa foto terpaksa saya ubah menjadi hitam putih karena saya tidak berhasil mengedit warna kulitnya.

IMG_3923

Selain 3 kategori foto favorit di atas, saya juga suka memotret apapun sih. Rasanya aneh kalau dalam seminggu tidak memencet shutter kamera sama sekali. Serasa ada yang kurang. Jadi, saya selalu mencari sesuatu yang menarik untuk difoto. Bila dalam seminggu itu saya tidak menemukan subjek pemotretan yang masuk 3 kategori favorit di atas, pasti saya akan mencoba eksplorasi hal lain, misalnya: memotret mainan atau keluarga saya sendiri.

Kalau kalian sendiri, suka memotret apa saja?

 

Workflow Editing Foto

Setiap orang mungkin punya pengalamannya sendiri-sendiri dalam melakukan proses paska produksi pemotretan. Tergantung kebiasaannya masing-masing. Nah, kali ini saya akan cerita workflow versi saya.

Umumnya setiap proyek pemotretan saya buatkan folder dengan format [tahun][bulan][hari][nama event foto], misalnya: 2015.08.30 – Indonesian Jazz Festival. Saat nanti saya punya banyak proyek foto, maka saya akan bisa melihat urutannya berdasarkan tanggal.

image

Di dalam folder tersebut, saya membuat 3 folder baru, yaitu:

  • original: berisikan semua file RAW dan JPG yang murni hasil pemotretan. Ini yang saya copy langsung dari memory card kamera.
  • final: berisikan file final resolusi tinggi yang sudah mengalami proses editing di aplikasi Lightroom dan Photoshop. File ini saya siapkan seandainya sewaktu-waktu saya mau cetak atau kebutuhan lainnya. Semua file di folder ini tanpa watermark.
  • thumb: berisikan file resolusi web dari versi final. File ini sudah cukup jelas untuk dilihat di online namun kualitasnya tidak terlalu bagus kalau dicetak. Semua file di folder ini mencantumkan watermark.

Proses editing pun dimulai dengan menggunakan aplikasi Lightroom. Saya buka semua file di folder original, lalu saya pun mulai mengedit tone dan cropping foto. Saya sendiri sudah memiliki preset tone favorit dengan beberapa kondisi pencahayaan pemotretan. Penggunaan preset ini mempercepat proses editing, dan sangat bermanfaat saat menghadapi proyek yang memiliki ratusan foto dalam suatu kondisi pencahayaan serupa. Biasanya saya tinggal apply preset, lalu melakukan adjustment sedikit saja.

Hehe itu teorinya ya. Kenyataan di lapangan berbeda. Sangat jarang saya mendapatkan kondisi pencahayaan yang sama, terutama kalau yang menjadi subjek pemotretan adalah aksi di stage. Terkadang saya juga ingin bereksperimen menampilkan tone foto yang berbeda. Makanya tidak pernah ada rumusan tone yang pasti. Preset tone saya di Lightroom pun akhirnya makin lama makin banyak.

Saya juga bukan orang yang sangat perfeksionis bahwa hasil editing akhir foto memiliki komposisi yang tidak jauh berbeda dengan saat saya menjepretkannya. Foto yang saya jepretkan landscape, saat editing akhir bisa saja saya crop menjadi portrait. Komposisi subjek yang di kanan, bisa saja menjadi di tengah setelah saya crop banyak sisi kirinya. Hanya saya perlu ingat konsekuensinya, ukuran foto akhir akan menjadi lebih kecil daripada sebelumnya.

Semua foto yang sudah saya edit tone dan cropping di Lightroom saya ekspor ke JPG resolusi tinggi 300 dpi. Saya simpan di folder final. Selanjutnya saya buka Photoshop untuk melakukan editing tambahan. Saat saya memotret seorang member JKT48 di stage saat mereka bergerak, terkadang setelah saya crop fotonya, masih menyisakan potongan tangan/jari/kaki/badan nongol di tepi foto. Kalau memang memungkinkan, potongan yang nongol ini saya hilangkan di Photoshop. Kadang saya juga masih suka melakukan adjustment tone tambahan di Photoshop bila ternyata hasil ekspor dari Lightroom kurang memuaskan.

IMG_6188

Versi asli foto Ghaida dan Dhike di atas ada potongan badan member lainnya di sebelah kanan. Di Photoshop saya sengaja hapus supaya Ghaida dan Dhike terlihat menonjol.

Untuk editing di Photoshop yang sangat kompleks, saya akan menyimpan foto dalam versi PSD yang masih ber-layer. Namun kalau editing yang saya lakukan itu mudah, biasanya langsung saya save dalam format JPG 12 300 dpi, menimpa file JPG final hasil ekspor dari Lightroom.

File ukuran web dengan watermark juga saya buat di Photoshop. File ukuran web yang saya buat adalah 1200 pixel untuk sisi terpanjang, dengan resolusi 72 dpi. Setelah itu baru saya tambahkan watermark. Ada dua macam watermark yang saya pakai. Yang sederhana, cukup dengan nama saya di pojok kanan bawah. Ada pula watermark yang menampilkan versi lengkap dengan nama event dan tanggal. Selanjutnya saya save foto ini di folder thumb.

Semua file foto ini saya backup di hard disk eksternal khusus untuk foto. Tidak saya campur dengan file lainnya. Untuk menjaga keamanan data, hard disk eksternal ini hampir tidak pernah saya angkat dan pindah-pindah. Saya juga melakukan backup data JPG versi final dan thumb di Flickr. Yang versi thumb ini yang bisa kalian lihat secara terbuka di Flickr saya, sementara versi finalnya saya private, hanya saya yang bisa mengaksesnya.

Pastinya semua orang memiliki workflow berbeda dalam melakukan proses editing foto, karena kebutuhannya pun pasti berbeda. Nah kalau workflow versi kalian seperti apa?

IMG_6406