​LinQ – Idol Group dari Fukuoka Jepang

Sepertinya prefecture Fukuoka Jepang lagi gencar-gencarnya promosi ke Indonesia. Season terbaru program televisi Kokoro No Tomo yang tayang di Metro TV kini sedang membahas wisata Fukuoka. Acara yang dipandu kak Amanda Zevannya itu kini menggandeng bintang tamu idol group cowok, 10神Actor (10 Jin Actor), yang asli dari Fukuoka.

Di hari Sabtu dan Minggu kemarin (16-17 Juli), prefecture ini juga menyelenggarakan event Fukuoka Fair di Aeon Mall Serpong. Event ini mencoba mengenalkan wisata, kuliner, dan budaya Fukuoka melalui pameran dan pertunjukan. Bintang utama Fukuoka Fair adalah idol group yang berbasis di sana, yaitu LinQ (dibaca: linkyu), singkatan dari “Love in Kyushu.” Fukuoka sendiri berada di Pulau Kyushu, di selatan Jepang. Di Jepang sana, memang sepertinya banyak artis yang berbasis lokal per prefecture ya.

_MG_8094
— Siapa saja member LinQ? —

Bricks Decool Architect 23 in 1

Biasanya dimulai dari meniru, lalu setelah itu mencoba membuat sesuatu yang baru. Mungkin itu prinsip yang dilakukan bricks merk Decool dari Tionghoa. Awal-awalnya merk ini sering bikin bootleg dari Lego, lalu lama-lama membuat versinya sendiri (meski tetap sih pakai propriety rights pihak lain tanpa izin, hahaha). Itu yang mereka lakukan untuk beragam desain minifigure versi mereka.

Selain minifigure, Decool juga mengeluarkan seri Architect. Kalau di Lego, ini mirip dengan seri Creator. Satu dus berisi banyak part yang bisa digunakan untuk membangun lebih dari 1 bentuk. Tentunya dengan petunjuk di dalamnya. Nah, di seri-seri awal memang Decool meniru abis bentuk dari Lego Creator, namun belakangan ini mereka sudah 100% mengeluarkan desainnya sendiri, tanpa melanggar propriety rights pihak lain.

Ada yang paling menakjubkan di antara desain terbaru itu, yaitu seri 3110. Sementara seri lainnya hanya 3 in 1 (3 macam desain dalam 1 dus), seri 3110 ini malah 23 in 1 (23 macam desain dalam 1 dus). Buku petunjuk di dalamnya memang hanya menceritakan 3 desain saja. Sisa 20 desain lainnya bisa diunduh online dari situs mereka.

DSCF6645
Lihat hasilnya yuk!

Membuat Fancam

Akhirnya channel YouTube saya ada isinya. Hehe bukan, bukan vlog kok. Belum pede saya bikin vlog, dan memang nggak ada waktu untuk mencoba pula. Saya masih lebih suka motret pula daripada membuat video. Saya lebih banyak bikin fancam sekarang, saat musisi perform di panggung.

Saat motret pertunjukan musik ada masanya juga kondisi lapangan nggak terlalu seru untuk diambil fotonya. Misalnya, jarak antara lokasi untuk motret dan panggung yang jauh. Jadi yang bisa diambil hanya wide. Saya nggak bisa mengambil detil aksi dan ekspresi si performer. Kalau dari jauh, lama-kelamaan gambar yang diambil serupa. Dalam saat seperti ini, saya biasanya hanya memotret 2-3 lagu, selebihnya saya rekam video fancam.


Soundwave – Salah
Ada koleksi fancam apa lagi ya?

Menyusun Diorama Mini Bricks

Saya suka melihat diorama. Diorama miniatur apapun. Salah satu yang saya suka lihat diorama Lego, yang bisa dijumpai kalau teman-teman komunitas Lego Builder Indonesia berpameran dan berjualan. Setiap kali lihat seperti itu, ada hasrat untuk ingin membuat hal serupa pula.

Kelihatannya mudah. Beli, pasang, lalu diatur posisinya sesuka hati. Kenyataannya hal itu sulit diterapkan. Pertama, Lego bukan barang murah. Membuat satu diorama kota penuh dengan bangunan dan mini figure bisa menghabiskan puluhan juta. Belum lagi kalau ingin membuat custom, yang membutuhkan part tambahan yang harus dipesan. Waktu dan investasi yang dikeluarkan sangat besar.

_MG_7153//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
Kelanjutannya…

Bermain Pokémon GO di Monas

Siapa belum main Pokémon GO? Memang belum resmi ada di appstore Indonesia sih, tapi sudah beredar apk android-nya di banyak website di luaran sana. Untungnya, tidak seperti negara Asia lainnya, di Indonesia, semua lokasi pokespot dan gym sudah aktif bisa dipakai. Jadi meski belum resmi hadir, semua orang di sini sudah bisa memainkannya.

Baru satu minggu lewat, sudah banyak penggunanya di Indonesia. Setiap gym sudah ada penguasanya, dan mereka sudah memiliki Pokémon dengan CP (Championship Points) yang tinggi-tinggi. Kalau datang ke mal besar yang memiliki banyak pokespot, selalu saja ada yang memasang lure module (modul untuk memancing Pokémon datang ke pokespot). Saya jadi menduga, jangan-jangan yang memasang si pengelola mal sendiri, untuk mendorong pengunjung datang meramaikan mal.

DSCF6654
Lihat foto-foto keramaian Pokémon GO lainnya