10.10.10

Tanggal sepuluh, bulan sepuluh, tahun dua ribu sepuluh.
Angka cantik bermakna ragam sepuluh.
Usiaku kini sudah empat kali sepuluh.
Kujalani hubungan kasih bersama istriku hingga tahun kesepuluh.
Istri tercinta yang kupilih sejak ia menjadi pacar yang kesepuluh.
Bersamanya di kebun aku kini memasang papan kayu kesepuluh.
Lalu aku goreskan di permukaan batangnya turus sepuluh.
Tempat kami akan lakukan ritual tahunan tanda cinta yang kesepuluh.
Saat kami akan bercinta hingga kali sepuluh.
Memadu nafsu hingga hitungan menit kesepuluh.
Di depan papan kayu, di atas gundukan tebal tanah yang kini berjumlah sepuluh.
Berisikan kumpulan mayat manusia yang sudah kami bunuh di tahun sepuluh.
Tak ada yang lebih istimewa dan cantik memang dari 10.10.10.

Harapan di Akhir Masa

Tami berjalan terseret-seret di atas reruntuhan puing. Sisa-sisa kekacauan masa lalu meninggalkan rekam jejaknya hingga kini. Gedung-gedung yang tak lagi berjendela, bahkan tak berdinding merupakan pemandangan biasa. Jalan besar yang konon dahulu dilalui kemacetan kini tampak sunyi. Sisa-sisa mobil berserakan tak beraturan, dengan debu tebal menempel kering sejak lama di permukaannya. Debu kering bertiup setiap saat. Panas udara benar-benar tak tertahankan, sungguh menyakiti kulit.

Di balik kacamata hitam tebalnya, Tami menatap langit yang berwarna merah pucat. Warna kematian yang membinasakan keluarga dan sahabat Tami satu demi persatu. Tami merapihkan syal yang menutup mulut, menjaganya dari angin panas kering yang menusuk. Bajunya terlihat lusuh, penuh jahitan di segala sisi. Tambalan seadanya terlihat pada sambungan lengan yang menutupi seluruh tangannya dari siksaan matahari. Sarung tangan tebal menutup kedua telapak tangannya. Badan Tami tertutup sepenuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya yang kucel tak terawat.

Kaki Tami yang luka membuatnya tak bisa berjalan cepat. Ia bergerak perlahan menyeret kakinya satu persatu. Beban ember tertutup berisi air yang dipegang di tangannya ikut menambah sulit geraknya. Air sudah menjadi bahan langka dan mahal. Tami berjalan perlahan, menjaga tak ada isi ember yang tertumpah.

Melewati gundukan puing-puing kehancuran, Tami terus berjalan terseret. Ia melewati tempat yang tertutup oleh pagar seng berkarat. Warna merah matahari memantul silau di beberapa bagian permukaan pagar itu. Salah satu sudut pagarnya terlihat berlubang di bagian bawah, cukup dilewati oleh badan Tami yang mungil. Tami mendorong embernya masuk ke dalam lubang, lalu ia pun ikut menyusul masuk.

Permukaan tanah di dalam pagar terlihat kering dan retak-retak. Kulit tanah terlihat pucat seakan kematian siap merenggutnya. Tami mengangkat kembali embernya, lalu berjalan menyusuri pagar hingga sampai di salah satu sudutnya. Bayangan tumpukan besi tua sedikit membuat sudut itu terasa teduh. Tami membuka penutup embernya. Air yang tak begitu jernih mengisi ember tersebut.

Sejenak Tami bimbang. Ia sungguh tergoda menikmati kesejukan air itu. Bukan, bukan ini tujuannya ke sini, pikirnya. Ia harus tetap bersiteguh akan niatnya.

Tami membuka sarung tangannya. Di balik keteduhan tumpukan besi tua itu, panas matahari masih terasa menusuk kulit telapak tangannya. Rasa panas yang langsung berganti dengan sejuk saat Tami mencelupkan kedua tangannya ke dalam ember. Di balik syalnya, Tami mengambil nafas panjang. Dengan kedua tangannya, ia mengambil air. Sangat perlahan air yang tertampung di telapak tangannya ia teteskan.

Sebuah bunga mawar terlihat mekar indah menerima tetesan air segar. Sebuah bunga di antara deretan bunga-bunga indah lainnya yang sudah dianggap musnah oleh manusia sejak ratusan tahun lalu. Tami pun bergantian meneteskan air hingga semua bunga mendapat ikut merasakan kesejukan.

Kamu hanyalah bunga, namun kamu juga adalah kehidupan. Kamu berhak mendapat hak hidup dan bertahan dari kiamat dunia. Aku percaya masih ada harapan bagi dunia yang rusak ini. Aku mau kita bersama menjadi bukti, kalau kehidupan tak akan pernah berakhir dari bumi.”

Ucapan yang selalu berulang kali terlontar dari hati Tami, setiap kali ia punya kesempatan untuk membantu makhluk hidup lainnya di bumi ini.

Menawarkan Kredit

“TIIT”

5 Oktober 2010, 10:41 [083870325525]
Maaf sebelumnya. Boleh saya tawarkan pinjaman KREDIT TANPA AGUNAN dari Bank Asing 11-200jt bunga 1,5%/bulan dengan syarat mudah. Jika berminat, hubungi saya, Panji 08568758314.

“Duh ini lagi, ini lagi,” kataku sambil membaca pesan SMS di ponsel. Sudah beberapa kali aku mendapat SMS sampah seperti ini. Menawarkan kredit tanpa kejelasan bank peminjam. Mungkin para telemarketer kredit bank itu sudah kehabisan cara untuk mengejar konsumen. Permainannya sekarang membajak data bank lain lalu memborbardir pelanggannya dengan SMS seperti ini. Lalu pikiran iseng muncul di kepalaku.

“Hmm, tunggu dulu deh, siapa tahu aku dapat SMS serupa lagi hari ini.”

“TIIT”

5 Oktober 2010, 12:16 [083898252882]
Nikmatilah fasilitas KTA (kredit tanpa agunan) bagi pengguna KARTU KREDIT. Info lebih lanjut hubungi/SMS Yuni, 08999749370. Abaikan pesan ini bila tidak berminat.

“Ahaa,” aku pun tersenyum. Aku catat nomor telepon mereka masing-masing. Hmm, baru aku tersadar ada yang aneh dengan setiap SMS ini. Nomor pengirim selalu tidak sama dengan nomor yang tertulis di SMS.

“Nggak apa-apa,” pikirku. “Aku coba saja ke semua nomornya.”

Lalu akupun memainkan jari jemariku di atas ponsel, mengetik SMS.

Mas Panji, saya sedang tidak membutuhkan pinjaman, tapi silakan coba tawarkan ke rekan saya. Namanya Yuni, nomornya 08999749370. Ia lagi butuh pinjaman cepat.

SMS itu pun kukirimkan ke 083870325525 dan ke 08568758314.

Lalu aku mengetik SMS kedua.

Mbak Yuni, terima kasih atas tawarannya. Saya sedang tidak membutuhkan pinjaman. Coba mbak kontak teman saya, Mas Panji 08568758314. Ia butuh modal tambahan untuk tokonya.

SMS itu pun kukirimkan ke 083898252882 dan ke 08999749370.

Mudah-mudahan saat Panji dan Yuni nanti berkenalan, mereka bisa saling membantu menawarkan kreditnya satu sama lain.

Keputusan Penting dalam Hidupku

Malam itu terasa menyenangkan. Bulan purnama kuning terang terlihat tinggi di jendela loteng. Bintang-bintang bertaburan menghiasi langit yang membiru. Udara sejuk sesekali terasa menghembus masuk ke dalam ruangan. Aku melamun terbaring menatap loteng, memperhatikan bulan yang kini mulai sedikit tertutup awan. Tanganku merangkul Natalie yang dengan manja menggelayutkan tangannya di dadaku.

“Nat, terima kasih ya kamu mau menemaniku malam ini,” ujarku.

“Ah Will, kamu bisa saja. Kapan sih aku pernah meninggalkanmu?” Natalie berkata manja.

“Hmm, belum pernah sih,” aku mendekatkan Natalie ke badanku. Kukecup kening Natalie.

“Will, tahukah kamu sudah berapa lama kita bersama?” mata Natalie menatap mataku dengan manja. Aku selalu suka kala Natalie menatapku seperti ini, membuat diriku terasa penting bagi dirinya.

“Hmm, baru setahun bukan?” kataku bercanda.

“Ah kamu suka sok lupa deh. Besok kan sudah hari jadi kita yang kelima, Will.”

“Haha, tentu saja aku ingat, sayang.”

Aku lalu mengangkat badanku, mencoba duduk di tempat tidur.

“Nat, kita kan sudah lama berpacaran. Hubungan kita sudah sangat serius. Melanjutkan apa yang kita bicarakan minggu lalu, apakah kamu sudah siap kalau kita sekarang melangkah lebih lanjut?”

Natalie pun ikut terbangun. Ia duduk menghadapku di atas tempat tidur, tersenyum. Senyuman nakal yang sangat khas dan membuatku ingat selalu akan dirinya.

“Will, apa lagi yang harus aku katakan? Aku mencintaimu. Aku tak akan bisa hidup tanpa dirimu. Kamu sudah menjadi bagian dari diriku.”

“Jadi, kamu sudah siap?” tanyaku. “Karena keputusan ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi diriku, dan tentunya juga bagi dirimu. Keputusan yang tak akan bisa kita batalkan lagi sepanjang hayat hidup kita.”

“Aku sudah lama memikirkan hal ini, Will,” jawab Natalie. “Ya, kali ini aku siap. Aku sudah yakin akan pilihan ini. Hal apapun yang nanti kita hadapi, aku percaya kita akan bisa menjalaninya bersama dengan penuh cinta.”

Aku pun memegang kedua pundak Natalie. Tersenyum. Wajah Natalie tak menunjukkan keraguan sedikit pun. Aku melihat tekadnya kini sudah mantap.

“Terima kasih, Natalie. Aku berjanji tak akan mengecewakanmu.”

Aku mendekatkan tubuh Natalie ke diriku. Kukecup bibirnya hangat. Mata Natalie pun terpejam. Kugerakkan bibirku turun. Menciumi dagunya, lehernya dengan mesra.

Aku angkat bibirku sejenak. Kubuka mulutku, dua taring tajam muncul perlahan, dan dengan cepat kugigit leher Natalie hingga darah merah segar terlihat mengalir. Kuhisap darahnya dengan perlahan. Lalu aku kembali mencium bibirnya, mengalirkan darah yang bercampur dengan ludahku ke bibirnya. Mata Natalie masih terpejam. Aku merasakan badannya mulai melemas. Aku rebahkan dirinya perlahan di tempat tidur.

“Natalie, kuucapkan selamat datang di duniaku…”