Power BI: Guru Sertifikasi

Beberapa bulan terakhir ini saya mulai eksplorasi aplikasi Microsoft Power BI (Business Intelligence). Aplikasi yang merupakan bagian dari paket Office 365 ini asyik banget buat dipakai pengolahan dan visualisasi data. Sumbernya bisa banyak macam, dari file spreadsheet lokal, database live, social media (terutama Facebook), web pada umumnya, dan puluhan aplikasi lainnya. Untuk belajar, kalian bisa coba gunakan open data yang tersedia di internet. Untuk data Indonesia, salah satunya bisa comot dari Portal Satu Data Indonesia.

Untuk contoh, saya comot data Guru Sertifikasi dari portal tersebut. Sumbernya dari 3 bagian:

  1. Guru Sertifikasi.
  2. Presentase Guru Sertifikasi.
  3. Rasio Siswa Guru Sertifikasi.

Ada banyak tipe visual yang disediakan oleh Power BI. Jika kita punya data latitude dan longitude, kita bisa gunakan tipe visual map, seperti contoh berikut ini. Menu filter di atas juga bisa diklik untuk melihat data per kategori. Kalau mau lihat data per propinsi, juga bisa klik info tulisan nama propinsi di sebelah kiri.

Contoh-contoh lainnya, akan saya tampilkan dalam postingan blog berikutnya secara bertahap ya 🙂

Mengenalkan yang Saling Membutuhkan

Mungkin sudah bawaan pemikiran saya kalau setiap bertemu seseorang yang saya anggap menarik, saya ingin tahu ia saat ini sedang mengerjakan apa. Kalaupun baru kenal, saya ingin tahu apa yang sedang atau pernah ia kerjakan. Tentunya bukan hal yang personal ya. Saya lebih ingin tahu hal kreatif apa yang belakangan ini ia kerjakan. Kepo?Memang sih.. tapi kepo yang bermanfaat, menurut saya.

Dengan mengetahui apa yang orang lain lakukan, saya bisa mendapatkan insight baru. Saya bisa melihat suatu hal dari kacamata berbeda, yang membuat wawasan saya semakin luas. Saya bisa mengenal hal baru yang mungkin belum pernah saya pikirkan sebelumnya. Dunia kreatif itu sangat luas, nggak mungkin kita pelajari setiap sudutnya sendirian. Perlu ada orang lain yang belajar lalu membagi pengalamannya kepada kita. Tentunya saya juga ikut berbagi cerita ya. Saling bertukar insight.

Connections

Augmented Reality Mustika Puteri

Prinsip augmented reality adalah menggabungkan unsur nyata dengan unsur virtual. Orang di dunia nyata bisa merasakan dirinya berada atau berinteraksi dengan sesuatu di dunia virtual.

Kantor saya, Stratego, sudah sempat beberapa kali mengembangkan aplikasi augmented reality untuk brand. Salah satu yang pernah kami kerjakan adalah untuk Nutrilon Royal. Di aplikasi ini, anak-anak bisa melihat diri mereka di komputer dengan baju virtual menutupi baju mereka. Baju virtual yang dipakai waktu itu adalah astronot, dokter, polisi, dan banyak lagi profesi lainnya. Hasilnya bisa dicetak dan mereka bawa pulang.

Pekerjaan terakhir kami yang berhubungan dengan augmented reality adalah untuk brand Mustika Puteri. Hingga September 2015 kemarin Mustika Puteri menggandeng JKT48 sebagai brand ambassador-nya. Untuk kebutuhan kampanye brand tersebut di sekolah-sekolah, kami membantu membuatkan aplikasi augmented reality yang memungkinkan peserta di sekolah untuk joget bareng member JKT48.

Lihat video hasil dan foto behind the scene-nya yuk

Bermula dari Nol

Saya lahir belum bisa apa-apa. Saya belajar dari awal. Awalnya dipilihkan oleh orang tua saya, apa yang harus saya pelajari, hingga akhirnya bisa memilih sendiri. Saya yakin teman-teman saya pun seperti itu. Yang mempengaruhi mungkin bisa berbeda-beda. Bisa keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, televisi, internet, ata apapun. Semua selalu mulai dari tak bisa apa-apa, lalu melalui proses belajar, menjadi sesuatu yang lebih baik.

Saat saya bergabung dalam suatu lingkungan, misalnya sekolah atau kuliah, saya berkenalan dengan orang yang berbeda, yang mendapatkan pengalaman belajar berbeda-beda pula. Tak ada yang lebih baik, tak ada yang lebih buruk. Landasan yang mempengaruhi kita selama perjalanan hidup sudah pasti berbeda, tak ada yang bisa memaksakan itu.

Di lingkungan yang sama itu pastinya kita mencoba kenal satu dengan lain. Apalagi saat kuliah saat saya semakin banyak kenal dengan teman-teman dari luar daerah, termasuk dari luar Pulau Jawa. Saya belajar untuk mengenal mereka. Mengenal perbedaan dan mencoba bertoleransi. Ada yang menyenangkan memang, meski ada juga yang menyebalkan.

Seperti biasanya masuk dalam suatu lingkungan, saya hanya berkumpul dengan teman-teman yang saya kenal di awal. Beberapa teman yang dari luar daerah pun cenderung berkumpul dengan teman lainnya dari daerah asal sama. Setiap orang mencoba mencari teman melalui kesamaan akan suatu hal. Nggak ada yang salah dengan itu.

Berbulan-bulan berlalu, sampai akhirnya beberapa dari kami menyadari kalau kami ingin lebih kompak dan kenal lebih dekat satu sama lain, kami semua harus bikin acara ke luar kota bareng. Camping. Bikin kegiatan bareng di luar kampus. Bikin kegiatan yang memaksa kami untuk bisa saling membantu satu sama lain, dan akhirnya semakin kenal dengan yang lain. Bikin kegiatan yang membantu kami mengenal keahlian dan kelebihan teman-teman kami masing-masing.

Acara 3 hari camping di Ranca Upas ini yang mulai mengubah kebiasaan kami. Pertemanan mulai melebar, tidak hanya kumpul dengan kelompok tertentu. Sesuatu yang rasanya canggung di awal, kini sudah tidak terlalu terasa lagi. Kelompok-kelompok pertemanan kecil yang dulu muncul semakin lama terkikis menjadi kelompok yang lebih besar yang saling beririsan satu dengan lainnya.

Apakah kami bersaing satu sama lain? Tentu saja. Saya sendiri pernah merasa iri dengan teman yang nilai tugasnya lebih baik. Saya juga pernah kesal dengan seorang teman tidak melakukan apa-apa saat kerja dalam grup. Iri dan kesal tidak lalu membuat saya menjatuhkan mereka. Justru sebaliknya, saya tetap terbuka dan mau membantu kalau mereka, atau teman lainnya butuh bantuan. Persaingan boleh terjadi, namun tidak berarti harus menjatuhkan teman lainnya. Justru kalau bisa saling berbagi ilmu, bukankah akhirnya kita punya landasan pengetahuan yang sama untuk bersaing dengan tantangan lebih hebat?

Hingga sekarang persaingan selalu ada. Bedanya malah lebih besar, konteksnya industri. Kantor saya bersaing dengan kantor lainnya demi mendapatkan sebuah proyek adalah hal yang biasa. Namun saya mencoba sebisa saya untuk berbagi lebih, atau setidaknya menyediakan sarana untuk berbagi. Tujuannya? Supaya semua yang berada di industri yang saya geluti ini mendapatkan pandangan dan pengetahuan yang selalu baru. Semua bisa belajar dari yang lain, meski kami tetap bersaing satu sama lain.

Saya mulai dari nol. Kamu pasti juga mulai dari nol. Mereka semua juga mulai dari nol. Yang membedakan saya, kamu, dan mereka adalah kesempatan. Bisa jadi saya dapat kesempatan lebih dahulu. Bisa jadi untuk suatu hal, saya malah belum mendapat kesempatan sama sekali. Saling berbagi dan belajarlah satu dengan lainnya. Tidak sombong. Tidak tinggi hati. Selalu ingat bahwa setiap orang lahir dengan pengalaman dan kesempatan yang berbeda. Selalu ingat kalau saya, kamu, dan mereka adalah teman juga, yang harus saling membantu satu sama lain, bukan menjatuhkan.

Baca juga tulisan Mas Bukik di tautan ini.

Belajar dari Konsep JKT48

Sudah beberapa kali saya menulis tentang JKT48 di blog ini, baik itu murni sebagai fans, atau karena memang kagum dengan pemasarannya yang unik. Bulan Februari dulu saking penasarannya dengan reaksi para fans, akhirnya saya mencoba membuat survei singkat dengan mereka sebagai respondennya. Detil tentang survei ini bisa dibaca di blog satunya.

Setelah survei itu berakhir, pembelajaran saya terhadap strategi yang mereka lakukan masih berlanjut. Saya sempat berdiskusi juga dengan beberapa teman yang berlatar belakang advertising, yang juga mengikuti perkembangan JKT48. Berikut ini beberapa poin yang saya tangkap dari apa yang telah mereka lakukan, dan hal-hal yang pernah kami diskusikan.

Storytelling

Hal menarik dari AKB48 dan diadaptasi di JKT48 adalah membangun cerita, yang dilengkapi dengan kejutan. Di AKB48 misalnya. Cerita tentang member terpopuler mereka, Maeda Atsuko, terlihat banget dibangun. Mulai dari pengumuman kalau ia akan lulus, yang bikin member lain kaget dan menangis, karena mereka tidak ada yang tahu. Hingga konser terbesar AKB48 di Tokyo Dome dengan satu hari terasa banget dikhususkan untuk Maeda.

Di JKT48 sendiri, meski skalanya tidak semasif AKB48, cerita seperti itu sudah mulai terasa dibangun beberapa bulan belakangan ini. Kejutan diberikan di akhir setiap pertunjukan yang dianggap khusus. Isu dihembus dengan adanya single baru, tapi dibuat tetap misterius single apa yang dimaksud. Fans dibiarkan penasaran supaya pembicaraan di social media terus berlangsung.

Saat konser spesial Heavy Rotation akhirnya disebutkan kalau yang dimaksud adalah single River, misalnya. Atau saat tiba-tiba diumumkan show JKT48 Trainee akan berakhir. Seketika saja booking tiket di show terakhir di hari Minggu kemarin meningkat tajam mencapai 5.000 pemesanan. Padahal sebelumnya, kalau mau nonton JKT48 Trainee bisa dibilang sangat gampang, karena tak banyak yang melakukan booking.

Cerita akan selalu dimunculkan di setiap eventnya, demi memancing rasa penasaran fans untuk melihat show-show dan kejutan berikutnya. Semakin penasaran, semakin ramai dibicarakan di social media.

Everlasting Brand

Ada yang pernah bertanya ke saya, apakah grup JKT48 ini bisa bertahan lama? Apa yang terjadi kalau member yang paling populer keluar, apakah grup ini bubar? Hal yang lumrah memang mendengar kalau ada grup musisi yang cekcok, tak lama kemudian grup itu bubar jalan. Atau saat vokalis sebuah grup hengkang, meski grup itu sudah digantikan dengan vokalis lain, tetap terasa ada rasa yang berbeda. Grup ini memang sangat tergantung dengan individunya. Lalu apakah JKT48 akan demikian juga?

Saya belum bisa menjawabnya ya. Namun kalau saya amati brand AKB48 di Jepang sana tetap bisa hidup sejak dibentuk pertama kali tahun 2005. Bahkan sampai member paling populernya (yang saya duga juga ikut mendukung popularitas AKB48 belakangan ini), Maeda Atsuko lulus (atau keluar), ternyata brand AKB48 tetap hidup. Tidak ada tanda-tanda ditinggalkan oleh fans-nya.

Menjelang Maeda Atsuko lulus, Team 4 AKB48 yang sudah mandiri tiba-tiba dibubarkan dan dilebur dalam 3 team utama. Beberapa member muda tiba-tiba diangkat dan dikenalkan dengan banyak cara. Ada Paruru (Haruka Shimazaki) yang tiba-tiba didaulat jadi center, muncul di banyak video klip, dan bahkan bersama generasi muda lainnya main di film seri Majisuka Gakuen 3. Wajah-wajah mereka ditampilkan sesering mungkin, untuk menggaet fans-fans baru. Akhirnya brand AKB48 pun bisa tetap hidup dengan wajah-wajah muda dimunculkan.

Saya yakin JKT48 akan melakukan hal serupa bila suatu waktu nanti Melody, Nabilah, Kinal, Shania, atau member lainnya harus lulus dan mencari kesempatan lain. Manajemen pasti sudah akan menyiapkan antisipasi member-member generasi berikutnya untuk menggantikannya.

Gimmicks

Saya dulu termasuk yang nggak pernah percaya kalau jualan merchandise resmi itu bisa laku di Indonesia, karena ujung-ujungnya orang akan cari bajakannya. Sampai akhirnya saya mengalami sendiri sistem penjualan yang dilakukan oleh manajemen JKT48.

Melihat sendiri fans meramaikan booth merchandise di teater saja sudah luar biasa. Melihat fans bertukar koleksi merchandise photo pack, dan bahkan menjualnya dengan harga tinggi, demi bisa menonton teater juga sudah hal yang biasa. Hal ajaib seperti merchandise kaos dengan desain oleh member sendiri (yang jujur saja menurut saya desainnya nggak banget ituh) pun laku dibeli oleh fans.

Di tulisan sebelumnya saya cerita kalau saya antri membeli CD single River yang rilis minggu lalu. Antrian yang nggak diduga ternyata berlangsung selama hampir 5 jam. Melelahkan dan menyebalkan pastinya. Namun semua orang yang antri pada saat itu sudah nggak peduli lagi. Semua dilakukan demi gimmick tiket handshake 1 Juni mendatang. Demi handshake pula ada yang membeli 5 CD, 10 CD, bahkan 50 CD.

Tujuan membeli CD bukan lagi untuk menikmati lagu, namun untuk mengumpulkan gimmick. Karena kalau untuk sekedar menikmati lagu, tak lama setelah single rilis, MP3-nya sudah langsung beredar di jagad internet. Fans nggak lagi membeli CD karena suka dengan lagunya, namun karena ada hal menarik lainnya yang jadi perhatian fans.

Organic Fans

Seorang teman ada yang pernah bertanya juga, itu fans-nya beneran bukan sih? Fans-nya dibentuk oleh Dentsu sebagai agency-nya JKT48 bukan? Saya jelaskan ke teman saya itu, kalau setahu yang saya kenal, fans JKT48 benar-benar asli dan terbentuk secara organik. Banyak dari mereka yang benar-benar mendukung member dengan beragam cara. Baik itu sekedar datang nonton pertunjukan live-nya, nonton di teater, beli merchandise, atau bahkan memberikan gift dan fan letter sebagai bukti dukungannya.

Awalnya saya menduga kalau mayoritas fans JKT48 adalah penyuka AKB48 juga sebelumnya. Ternyata dari survei yang saya sebar waktu itu, malah kebanyakan dari mereka nggak terlalu tahu apa itu AKB48. Kalau pun tahu, nggak pernah dengar lagu mereka juga.

Keberadaan teater tetap di FX-lah yang menjadi penarik utamanya. Fans-fans baru bermunculan karena mendengar cerita menarik dari teman-temannya yang sudah pernah berkunjung ke teaternya. Teater menjadi sanctuary bagi mereka. Kafe dan food court di FX menjadi tempat berkumpul menjelang dan setelah teater. Yang dibicarakan? Ya tentang JKT48.

Saya awalnya mengira perkembangan fans yang organik ini hanya terjadi di Jabodetabek, karena kedekatan aksesnya ke teater. Namun hal luar biasa terjadi saat JKT48 beberapa bulan lalu manggung di Jogja. Saya tidak di sana, namun dari video rekaman fans yang beredar di YouTube, antusias fans JKT48 di sana luar biasa. Ratusan lightstick menyala memenuhi stadion yang dipakai konser. Mereka pun kompak meneriakkan chant mix saat lagu dibawakan. Luar biasa.

Saya yakin di luar hasil survei dan pengamatan yang saya tulis di postingan ini, akan banyak hal luar biasa lagi yang akan mereka lakukan di masa datang. Sesuatu yang mengejutkan, yang membuat para fans hanya bisa berdecak kagum. Saya akan masih terus mengikuti perkembangan JKT48 dan strateginya. Bila ada temuan baru, pastinya akan saya tulis kembali di blog ini.

Baca juga tulisan Widi Asmoro yang membahas pemasaran JKT48 di blognya.