Hi Kamu!

Aku Melawan Monster

Usiaku sudah hampir seminggu. Aku sudah sangat lihai terbang. Kujalani angkasa dari ruang ke ruang dengan kepakan sayapku yang cepat.

Aku tahu daerah mana yang berbahaya bagiku. Seperti daerah berbau menusuk yang telah membunuh banyak temanku. Mereka seperti keracunan setelah menghisapnya. Aku amatlah lihai. Aku selalu terbang di atas bau, sehingga aku selalu selamat.

Kali ini aku berhadapan dengan musuh baru. Monster raksasa berwarna yang bergerak dengan sangat cepat. Sentuhannya mengejutkan. Semua yang terkena, akan langsung semaput mati di tempat. Lebih kejam lagi, tidak cukup satu kali terkena. Aku melihat temanku dihajar terus berkali-kali oleh makhluk itu. Aku bergidik setiap kali ingat bau gosong mayat temanku setelah dihajar habis-habisan.

Aku memang lihai, namun aku takabur. Kali ini aku kalah lincah dibanding monster raksasa itu. Aku tersambar olehnya sekali. Seluruh isi badanku terasa hancur luar dan dalam. Aku kini hanya bisa menatap nasib, menunggu kematian.

Aku ingatkan kau, monster. Aku tidak sendiri. Satu bangsaku tak akan menyerah melawanmu. Satu mati, seratus akan siap menanti tantanganmu. Aku akan tunggu kau di akhirat, monster, bersama teman-teman sebangsaku yang telah menjadi korban di hadapanmu.

Kesungguhan Cinta

Perempuan cantik itu menatap lemarinya yang terbuka. Di dalamnya terlihat banyak benda yang memberi kenangan berarti baginya. Ia begitu mencintai prianya, sehingga menyimpan kenangan semua kisah romantis mereka. Foto-foto saat mereka berdua pergi bersama. Hadiah ulang tahun yang ia terima dari sang pria. Semua tiket pertunjukan konser yang mereka tonton berdua. Hingga struk makan malam saat ia pertama kali berkencan dengan sang pria.

Perempuan cantik itu tersenyum. Ia teringat akan percakapan saat terakhir berjumpa dengan si pria. Ia begitu bahagia dan tak ingin si pria lepas dari dirinya. Ia sungguh-sungguh mencintainya.

Perempuan cantik itu kembali menatap lemari. Ia menaruh plastik yang ia genggam ke dalam lemari. Ia senang karena kini si pria bisa bersama dirinya setiap saat. Setelah perjumpaan terakhir tadi, ketika si perempuan menusuk dan mencabut hati si pria, dan menaruhnya dalam sebuah plastik bersih.

Manusia Terakhir

Bumi sudah porak poranda.
Tak ada lagi yang tersisa.
Yang teringat hanya nama.
Tertanam di benak jiwa.

Si pria kembali berteriak.
Demi melepas sepi yang bergolak.
Meski ia yakin tak ada yang menyimak.
Pun biasa yang membalas hanya suara semak.

Kali ini ia salah sangka.
Jeritan perempuan terdengar membahana.

Si pria langsung berlari.
Cepat-cepat menyusur jurang tanpa tepi.
Melompat-lompat kilat tanpa henti.
Hingga ia tiba di sebuah puing puri.

Runtuhan puing menjatuhi kaki si perempuan.
Jeritan sakitnya terdengar tertahan.

Si pria berjalan mendekat.
Ia angkat runtuhan satu-satu hingga kulit berkeringat.
Kedua tangannya gemetar hebat.
Saat ia memindahkan batu terberat.

Si perempuan menatap gembira.
Harapan hidupnya kembali terbuka.

Tiba-tiba terdengar gelegar hebat.
Puing puri yang tak stabil pun bergeliat.

Si pria mempercepat aksinya.
Hanya ini kesempatan berjumpa manusia.
Ia tak ingin lagi sendiri merana.
Setelah berusaha, kaki si perempuan terbebas juga.

Si perempuan merasakan badannya terangkat.
Si pria menariknya dengan kencang dan erat.
Batu-batu puing puri tak lagi merekat.
Semua runtuh dengan sangat cepat.

Kini si pria menatap wajah si perempuan.
Sudah lama ia tak melihat senyuman.
Mata mereka lama bertatapan.
Mulut pun akhirnya menutup dengan kecupan.

Bumi boleh porak poranda.
Namun kesempatan hidup selalu ada.
Kebahagiaan manusia bermula dari jiwa.
Sampai akhirnya tercipta baru keturunan dan nama.

Kisah Peri Hati

Peri Hati menjalankan misi. Ia kini mendarat di bumi. Matanya menelusuri kutub, mencari kepingan rasa sayang yang jatuh dari nirwana.

Peri Hati tak bisa kembali, sebelum tugas ini ia lunasi. Ia lalu berjalan menuju hutan salju, bertanya kepada setiap makhluk, apakah ada yang melihat rasa sayang?

Peri Hati semakin gundah. Tak ada yang bisa membantunya. Ia menggerus-gerus salju, berharap tiba-tiba rasa sayang terengkuh dalam genggaman tangannya.

Peri Hati mengambil nafas panjang. Saat itulah terdengar sebuah bisikan menyebut namanya. Ia mencari-cari sumber suara, siapakah yang memanggilnya?

Peri Hati menurunkan badannya, mencari-cari di antara dedaunan putih. Sumber suara semakin mendekat. Ternyata bisikan itu datang dari suara Peri Gajah.

Peri Hati mendengarkan Peri Gajah bercerita. Katanya, kepingan rasa sayang tak akan bisa ditemukan tercecer di hutan salju, apalagi di seluruh kutub.

Peri Hati menangis putus asa. Peri Gajah lanjut berkata, kepingan rasa sayang itu telah berubah bentuk. Ia telah menjadi rasa cinta, yang berbentuk penuh dan tidak lagi berkeping.

Peri Hati tersenyum. Ia berterima kasih kepada Peri Gajah. Kecupan manis diberikan, sebelum ia melayang pergi meninggalkan kutub.

Peri Hati kembali ke nirwana. Ia melapor ke Permaisuri Kasih kalau sebaran rasa sayang telah membuahkan hasil. Sayang telah berubah menjadi cinta.

Peri Hati melihat Permaisuri Kasih tersenyum bahagia. Dunia akan kembali nyaman dalam rasa suka, karena cinta pun terbangun di antara penghuninya.

67-cerita-bidadari-990x662