Teman di Bioskop

Mungkin hanya aku yang mendapat suguhan spesial dari bioskop ini. Bayangkan, aku bisa menonton film apapun dengan bebas. Kamu percaya nggak, kalau setiap ada film baru yang tayang di bioskop ini, aku selalu mendapat kesempatan menontonnya terlebih dahulu. Aku bahkan dengan puas bisa menontonnya berulang kali. Tanpa batas.

Nomor kursi G16 di tengah teater sudah menjadi favoritku. Dengan baik hatinya, pengelola bioskop selalu mengalokasikan nomor kursi itu untukku. Percaya deh, tak akan ada orang lain yang bisa mendapatkannya.

Kepuasan menonton menjadi kebahagiaan, sekaligus kesedihan bagiku. Bangku di kiri kananku selalu diduduki oleh orang yang tak aku kenal. Tak ada teman yang bisa kuajak berbagi cerita ketika film usai diputar. Tak ada teman yang menemaniku tertawa atau menangis ketika film diputar. Kenikmatan yang hanya bisa aku peroleh dalam kesendirian.

Hai kamu, mari sapa aku di nomor kursi G16. Ajaklah aku menikmati kebahagiaan menonton film bersamamu. Aku memang kasat mata di hadapanmu, namun bukan berarti aku tak mendengar perkataanmu. Maukah kamu jadi temanku?

KOWAWA! (´▽`)/

“Akhirnya kamu menetas juga,” si ibu menatap kendi yang mulai pecah.

Air mata si ibu menetes dari badannya. Terlihat senyum bahagia terpancar di paruhnya. Sudah berabad-abad ia menanti kelahiran putrinya. Si ibu mengepakkan sayapnya yang berwarna cerah, pertanda ekspresi bahagia.

Si ibu bergerak menyeret badannya. Ekor hijaunya merapat pada tanah yang keras. Perlahan ia mendekati kendi tanah liat di hadapannya.

Putrinya sungguh terlihat cantik. Si putri mengangkat lehernya, merayap keluar dari rumah kendi yang telah mengeraminya selama seratus tahun. Matanya langsung tertuju pada si ibu.

KOWAWA! (´▽`)/” ujar si putri saat ia menatap mata ibunya untuk pertama kali.

Dua makhluk yang saling berbahagia, meski membutuhkan masa satu abad untuk mempertemukannya.

64-KOWAWA

Kesempatan dari Alam Semesta

Memang belum lama aku mengenal dirimu. Aku belum tahu banyak tentang dirimu. Aku tak tahu apa warna favoritmu. Aku tak tahu apa makanan kegemaranmu. Aku bahkan tak tahu persis apa saja kesukaanmu. Yang aku tahu, aku langsung tertarik saat pertama kali berkenalan denganmu dulu. Pakaianmu sederhana, biasa saja. Kamu pun tak mengenakan makeup berlebih. Tak banyak berbeda dengan penampilan perempuan lainnya yang bekerja di kantor setiap harinya.

Namun ada sesuatu yang membuatku terus memandangmu (meski sambil malu-malu). Apakah karena wajahmu yang memang menarik? Apakah kacamatamu yang membuat wajahmu terlihat semakin manis? Ya ya, aku memang mudah tertarik dengan gadis berkacamata. Biasanya kacamata memang bisa membuat seseorang yang memang sudah cantik, menjadi terlihat semakin cantik. Jadi, bisa saja itu yang membuatku tak lepas memandangmu kala kita pertama dulu bertemu. Namun aku yakin lebih dari itu. Bisa jadi aku tertarik karena gaya bicaramu. Atau mungkin dari caramu menanggapi obrolan dengan teman-temanmu. Entahlah…

Pertemuan itu tak lantas membuatku bisa berjumpa terus denganmu di masa-masa berikutnya. Mungkin memang karena alam semesta yang belum memberikan kita kesempatan untuk bertemu. Ataukah memang kehendak hatimu yang mengatur sedemikian rupa, sehingga alam semesta pun bersekutu untuk membuatku sulit menjumpaimu? Entahlah. Aku hanya bisa berharap kalau sekali-kali alam semesta mau berbaik hari untuk berpihak pada diriku.

Karenamu pula, akupun akhirnya menyempatkan diri menonton film klasik Serendipity. Sepertinya hidup di dunia film itu sungguh menarik. Seakan-akan alam semesta bisa menunjukkan siapa pasangan hidupmu, kalau kita pintar membaca tanda-tandanya. Kenyataan di dunia memang bisa berbeda. Entahlah apakah benar tanda-tanda seperti itu ada? Kalaupun ada, apakah kita bisa sedemikian mudah mengartikannya?

Mungkin aku orang yang naif. Aku sukar membaca tanda-tanda alam semesta. Aku tak bisa melihat, apakah kamu adalah jawaban alam semesta kepada diriku? Aku terlalu polos untuk bisa menemukan tanda-tanda, apalagi mengartikannya. Mungkinkah kamu mau berbaik hati dan membantuku mencarinya?

Aku berharap alam semesta akhirnya mau memberikanku kesempatan untuk bisa mengajakmu berjumpa. Hanya kita berdua saja, tak lebih. Kita berbicara biasa, santai, sembari menikmati suguhan secangkir kopi hangat (untukmu saja, sementara aku akan minum cokelat panas) dan masing-masing sepiring cheese cake. Obrolan seperti yang biasa kita lakukan via chat. Bedanya, kini aku ingin bisa melihatmu tersenyum dan tertawa di hadapanku. Aku pun ingin bisa mendengar suaramu.

Aku berharap di balik hatimu, kamu pun ingin menemukan tanda-tanda serupa. Kita bisa mencari dan membacanya bersama-sama. Kalaupun alam semesta akhirnya memang tak membuat kita cocok satu sama lain, setidaknya aku tahu karena kita sudah berusaha bersama menerjemahkan tanda-tandanya.

Alam semesta bisa (dan pasti) memberikan kesempatan kepada kita. Tak inginkah kita memanfaatkannya sebelum kesempatan itu ditariknya kembali?

Kisah Seorang Pesulap

Pria itu mengambil nafas panjang. Meski sudah memiliki jam terbang tinggi dalam hal sulap menyulap, setiap kali ia berhadapan dengan banyak audiens, kegugupan selalu muncul. Ia menyeka keringat yang mengalir mendekati portable mic yang dipasang dekat mulutnya.

Pria itu mengucapkan selamat malam kepada audiens di hadapannya, lalu mengeluarkan beberapa kartu domino dari lengan bajunya. Ia menaruh kartu-kartu kecil dengan titik-titik merah itu di telapak tangan kirinya. Si pesulap mengucapkan mantra, lalu tangan kanannya mengusap tumpukan kartu-kartu domino di telapak tangan kirinya. Perlahan, seiring bergesernya tangan, kartu-kartu domino itu berubah menjadi selembar kartu remi. Audiens yang melihatnya pun berdecak kagum.

Si pesulap mengeluarkan trik kedua. Sebuah bohlam lampu ia keluarkan dari tas yang ia kenakan di pinggang. Si pesulap berkata kalau bohlam ini adalah benda ajaib, yang bisa menyala hanya dengan menggunakan listrik dari dalam tubuhnya. Seutas kabel ia keluarkan dari tas. Ia tempelkan salah satu ujungnya ke bohlam, dan ujung lainnya ke lubang hidungnya. Ia kembali mengucapkan matra, dan seketika itu pula bohlam menyala terang. Audiens mulai bertepuk tangan.

Trik ketiga adalah pamungkas dan penutupnya. Si pesulap melepas kabel yang menempel ke bohlam, dan bohlam pun kembali mati. Ia mengembalikan kabel ke tas, dan mengeluarkan sekantung plastik kresek transparan. Kali ini ia bercerita kalau nafasnya juga mengandung aliran listrik. Ia memasukkan bohlam tadi ke dalam kantung plastik kresek. Si pesulap mengucapkan mantra lalu memberikan tiupan ke dalam plastik. Bohlam pun kembali menyala terang di dalam plastik kresek. Tepuk tangan audiens pun bertambah keras.

Si pesulap senang karena tiga triknya bisa memberikan hiburan. Kini saatnya ia menuai hasil. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh audiens.

Si pesulap lalu bergerak maju, melewati lorong sempit di hadapannya. Berulang kali ia mengucap permisi saat harus melewati desakan orang-orang yang bergelantungan. Plastik yang masih berisi bohlam menyala ia sodorkan ke setiap bangku yang ia lewati, berharap mereka yang terhibur ikhlas memberikannya seribu dua ribu untuk ia makan malam nanti. Tak lama kemudian, bus berhenti. Si pesulap lalu turun, dan mencari peruntungan di bus berikutnya.

#hujan

Rangkaian tweet dari seorang pejalan kaki di trotoar Jakarta:

“Aku berlindung di balik sebuah payung. Melihat butiran #hujan berjatuhan kencang di hadapan wajahku. Memecah jalan yang kutempuh kini.”

“Aku menatap ke langit. Melihat #hujan yang semakin menderas. Aku menatap ke depan. Melihat bercak air yang mengumpul di jalan.”

“Aku melompat. Terus melompat. Menjaga kaki jauh dari basah #hujan. Menjaga tubuh agar tetap jauh dari lubang-lubang trotoar yang menganga.”

Sebuah tweet dari pejalan kaki lainnya:

“Astaga! Dalam #hujan seorang pria terjatuh ke dalam lubang galian. Payungnya terlepas. Ia tak terlihat lagi. Apakah ia hanyut terbawa arus?”