Rindu dalam Selembar Surat

Perempuan itu berdiri lama. Matanya terpaku menatap surat yang ia tulis semalam. Perlahan-lahan ia telusuri kembali isi surat itu, memastikan setiap katanya sempurna, semua perasaannya tertuang dalam setiap larutan kalimatnya. Entah sudah berapa lembar kertas ia robek semalam, untuk mendapatkan kesempurnaan dalam setiap huruf, frase, dan kalimat. Si perempuan mengambil nafas panjang, dan membaca.

Mas Krisna,

Bagaimana kabarmu di sana? Cerita perjuangan apa lagi yang akan kamu sampaikan? Tahukah kamu, setiap kali kamu berangkat ke medan laga, rasaku ini bercampur antara bangga dan sedih. Bangga karena kamu ikut menjadi bagian dari bangsa yang ikut memperjuangkan negeri ini. Meski aku sedih dan selalu khawatir kalau kamu tak akan bisa kembali lagi.

Setiap kali kamu melangkah pergi, hatiku selalu saja berkecamuk. Aku merindukanmu, Mas. Rindu akan tatapanmu. Rindu saat bibirmu mengecup dahiku, menenangkanku. Rindu saat tanganmu mengusap rambutku dan memelukku. Rindu akan setiap katamu yang selalu bisa melunakkan perasaanku. Aku kangen akan kehadiranmu di sisiku, Mas.

Apapun yang terjadi, aku akan selalu menunggumu. Aku berharap kamu pun mau kembali menemaniku lagi suatu waktu nanti. Cepatlah kembali, Mas.

Cintamu,
Ayu
9 Maret 1945

Perempuan itu mengusap air mata di pipinya. Matanya terlihat sembab. Ia memasukkan surat ini kembali ke amplopnya yang berwarna putih. Ia memandang lama amplop itu, sebelum akhirnya menundukkan badan sambil gemetar.

Si perempuan lalu menaruh amplop putih bersih itu di atas gundukan tanah merah, di antara taburan bunga berwana merah dan putih yang masih terlihat segar. Sebuah nisan sederhana, terbuat dari kayu, terpasang di sisi baratnya. Si perempuan terduduk. Sambil menahan isakan tangis, ia kini hanya bisa berdoa untuk suaminya.

Menatap Hari Besar

Tatapannya sayu. Ia melihat kaki-kakinya yang hitam. Rumput yang ia tiduri sejak semalam sudah terlihat melayu. Ia gerakkan salah satu kakinya, berupaya mengusir lalat yang beterbangan mendekat. 

Ia goyang-goyangkan kepalanya, mencoba menghilangkan kelesuan dari wajahnya. Ia harus semangat menghadapi hari besar ini. Hari ini hanya hadir setahun sekali. Kali ini ia ingin membuat perbedaan, dengan membuat orang lain bahagia. Beruntunglah kesempatan besar ini mendatanginya tahun ini. 

Ia menarik nafas panjang, mendongakkan kepalanya. Wajahnya terlihat tegar. Seseorang mendekatinya dan menarik tali yang terikat di lehernya, lalu membawanya ke tempat pemotongan kurban. Senyum kemenangan terakhir pun terlintas di bibirnya.

Malam di Rumah Sakit

Aku terbangun di tengah malam. Rasanya aku berada di sebuah bilik inap rumah sakit. Nuansa kolonial menghiasi isi ruangan. Beberapa cat di dinding terlihat mengelupas. Ruangan ini terasa sumpek, baunya tak mengenakkan. Serasa bangunan lama yang jarang mendapat perawatan.

Aku mendengar langkah kaki di luar kamar. Aku menunggu, berharap ada yang membukakan pintu dan menjengukku. Lama kutunggu, tapi tak ada yang datang ke kamarku. Apakah mereka tak tahu kalau aku sudah terbangun? 

Aku mencoba menjerit memanggil perawat, namun tak ada suara yang keluar. Tenggorokanku kering, serasa pasir memenuhinya. Sakitnya menghilangkan keinginanku untuk berteriak lebih lanjut.

Apakah aku yang harus keluar kamar? Aku pun mencoba bangun, dan baru kusadari kalau kedua kakiku sungguh sakit. Tak kuasa aku berdiri, apalagi mencoba berjalan. 

Tak ada jalan lain. Aku harus bisa menyeret sendiri badanku ke luar. Kujatuhkan diriku ke lantai. Geraian rambutku yang panjang jatuh menutupi wajah. Aku mencoba merayap sambil menahan sakit di kedua kaki yang kian menyiksa.

Apa yang sebetulnya terjadi pada diriku? Kecelakaan? Mengapa aku tak ingat apa-apa? 

Aku merayap mendekati pintu. Nyeri di kaki hanya bisa kutahan, sambil aku gerakkan badan dan kakiku perlahan satu demi satu. Dari lantai, aku gapai pegangan pintu dan kubuka. Decitan dari bawah pintu terdengar saat pintu kubuka perlahan.

Aku merangkak ke luar kamar, memasuki selasar dengan pencahayaan yang remang-remang. Rambutku yang berantakan berulang kali jatuh menutupi wajah, meski sudah kusibak berulang kali. Aku menunggu di depan, berharap ada perawat yang lewat mendekat.

Yang kutunggu pun akhirnya datang. Dalam cahaya yang terbatas, aku melihat beberapa perawat berseragam putih terlihat berjalan mendekat. Aku menggapaikan tanganku, mencoba menarik perhatian mereka. Sekali lagi aku mencoba bersuara, berteriak, meski akhirnya hanya geraman suara yang bisa keluar.

Tiba-tiba mereka menghentikan langkah kaki. Mereka seakan ragu untuk mendekat. Aku terus melambaikan tangan. Satu orang perawat berjalan maju, sementara yang lainnya terlihat menunggu di belakang. Aku bertanya-tanya, apa lagi yang mereka tunggu? Kenapa mereka tak segera menghampiriku? 

Si perawat mendekatiku dengan perlahan. Cahaya selasar begitu suram. Mungkin saja ia tak bisa melihatku dengan jelas. Aku saja tak bisa melihat wajah si perawat. Tiba-tiba ia berhenti, lalu memandang ke teman-teman perawat di belakangnya. Entah apa yang mereka bicarakan, hingga akhirnya semua pun ikut bergerak maju.

Syukurlah. Aku mencoba menyeret lagi kakiku, menggeser-geser badanku mendekati mereka. Para perawat itu lalu melangkahkan kakinya dengan cepat. Sepertinya keraguan mereka hilang. 

Saat itulah baru aku sadar. Kalau aku tak sendirian di selasar ini. Aku melihat dalam kesuraman cahaya, bergeletakan benda-benda gelap yang mirip dengan badan manusia. Ada yang aneh dengan suasana ini. 

Firasat burukku ini datang terlambat. Para perawat sudah sampai di hadapanku. Aku menengadahkan kepala, mencoba melihat wajah mereka. Aku sibak rambut panjangku untuk melihat dengan lebih jelas. 

Seketika itu juga aku menjerit keras, meski kering di leher ini hanya membuat suaraku seperti gumaman. Ketakutanku di ambang batas saat kulihat wajah para perawat yang pucat. Urat nadi biru keluar menonjol dari kulit wajah yang mengering. Gigi tajam bersisakan bekas darah menonjol dari bagian atas mulut mereka. Mata mereka pucat putih kosong. 

Salah satu perawat menyambar leherku, mengoyaknya dengan taring tajam di mulutnya. Perawat lainnya menggerogoti kakiku yang sakit. Belum lagi aku mencoba berteriak, perawat-perawat lainnya sudah mengerumuniku, menancapkan taring-taringnya ke kulit badanku. 

Seketika itu pula pandanganku mulai gelap. Rasa sakit di seluruh badanku tak terasa lagi. Semuanya pun menjadi hitam saat taring tajam itu menancap di kedua mataku.

Terperangkap

Aku terduduk menyendiri. Sekelilingku gelap. Hanya lampu bohlam kusam menggantung di langit. Itu pun sebentar-sebentar padam. Rasanya bulu kudukku tak pernah bisa beristirahat. Tegang, menemani hatiku yang berdebar takut.

Kalau tak terpaksa, tak mau aku menyendiri duduk di kotak sempit ini. Bau menusuk keluar dari salah satu sudut bawah kotak yang terlalu gelap untuk bisa kulihat. Aku menggoyangkan kedua telapak kakiku, khawatir kalau makhluk kecil bersungut dan menjijikkan itu kembali merayap kakiku lagi.

Aku berusaha menahan diri, meski aku sudah tak tahan lagi diam duduk di sini. Saat ini aku hanya bisa berdoa agar cobaan ini segera berakhir. Duh, dengusan angin pun ikut menambah ketakutanku. Suara-suaranya terdengar seperti nafas makhluk yang menakutkan. Aku tahu ini hanya imajinasiku, tapi aku tak kuasa menghilangkannya dari pikiranku.

Sudah. Sudah. Aku tak tahan lagi. Segerakan aku keluar dari ruang sempit ini!

Doaku pun akhirnya terjawab. Rasa melilit di perutku pun berangsur hilang. Sisa energi kukerahkan untuk membuang isi perutku ke lubang hitam di bawahku.

Aaah.. Aku pun bernafas lega. Segera kupakai celanaku, kubuka pintu, dan keluar dari toilet umum celaka ini. Hati ini pun akhirnya bisa merdeka dari rasa takut.

Ketetapan Hati

Hari kala itu sudah menjelang senja. Mentari mulai terbenam tertutup awan yang kelabu. Berkas jingga menyebar tak merata di baliknya. Tidak selalu senja itu indah. Suasana sore yang semakin kelam menemani perempuan itu saat ia berjalan masuk menuju tempat peminuman kopi itu. Perasaan gundah menjadi pelengkap ketidaknyamanan dirinya saat berjalan menuju salah satu pojok ruangan. Si perempuan pun duduk di titik yang sudah menjadi tempat favoritnya untuk sejenak menyepi dari dunia.

Seorang pelayan mendekat, memastikan apakah si perempuan akan memesan kopi yang sama. Si perempuan mencoba tersenyum, dan mengangguk. Si pelayan pun berlalu dan kembali mengantarkan segelas cappucino hangat. Ia sudah familiar dengan pelanggannya yang satu ini, yang selalu datang ke tempatnya, memesan kopi yang sama, dan selalu menghindar bila ada yang mengajaknya bicara.

Si perempuan mengeluarkan netbook hitam dari tasnya. Ia memasang earphone dan mencoloknya ke netbook, memutar lagu yang selalu menjadi pengiringnya dalam sendu, “Yiruma – River Flows in You.” Ia memejamkan mata saat lagu itu mengalun membangkitkan rasa kangen dirinya akan masa lalu. Sesuatu yang entah kenapa selalu menjadi memori yang tak pernah bisa hilang, meski kisah itu sudah berlalu tahunan lamanya.

“Hai, nona, pasti kamu kembali ingat kisah itu ya?” seorang pria sudah duduk di hadapan si perempuan, menyapanya.

“Oh kamu, bikin aku terkejut,” si perempuan membuka mata dan melepas earphone-nya. Ia mengenali si pria, “haha, kamu bisa saja. Ya, begitulah, Mas…”

“Nona, kamu itu cantik. Tidaklah sulit bagimu untuk mendapatkan seorang kekasih baru,” ujar si pria.

“Nggg…” si perempuan tak menjawab. Ia hanya bisa tersipu malu setiap kali ada orang yang memujinya.

“Hati memang sebuah benda yang rapuh. Ia bisa menjerit teriak-teriak bahagia, tetapi sekalinya ia terluka, ia akan menjerit kesakitan. Apakah luka di hatimu kini masih terbuka lebar?”

Si perempuan hanya menghela nafas, hendak mengeluarkan jawaban, yang sebetulnya si pria pun sudah mengetahuinya.

“Sudah nggak sih, Mas. Hanya saja masih ada sisa pecahan kaca yang menusuk-nusuk hatiku saat aku bercermin ke masa lalu.”

“Nona, dalam hidup kita akan selalu bertemu dengan banyak cermin. Hanya keputusan hatimulah yang bisa mengabaikan refleksi masa lalu, dan menentukan cermin yang bisa memberimu refleksi masa depan.” si pria mencoba berkata bijak.

“Aku tahu kok, Mas, dan aku sedang berusaha untuk itu…” ucap si perempuan, dengan nada ragu.

“Ketahuilah Nona, kalau aku percaya sepenuhnya pada dirimu,” ungkap si pria. “Nona, maukah kamu membuktikanku sesuatu?”

“Bukti apa, Mas?”

“Buktikan padaku kalau kesenduan yang kamu tunjukkan itu hanya perwajahanmu saja. Hatimu sebenarnya sudah siap untuk melangkah maju. Kamu bisa?”

Si perempuan hanya bisa tersenyum. Ia ingin sekali meyakini ungkapan si pria. Si pria menggenggam tangan si perempuan. Tangannya terasa hangat, meleburkan suasana hati si perempuan yang penuh ketidakpastian.

“Nona, yang perlu kamu lakukan hanyalah yakin. Percaya bahwa keputusanmu akan membawa dirimu ke arah kehidupan yang lebih baik. Percaya kala kamu melangkah dari tempat ini, kamu akan punya beragam warna yang akan mengisimu dengan kehangatan. Percaya bahwa dirimu bisa memiliki hati yang kuat untuk bisa jatuh cinta kembali.”

Si perempuan mengangguk. Ia mendengarkan kata demi kata si pria dengan seksama. Menyerap semua ucapannya karena ia tahu hanya pria ini yang bisa mengembalikan kekuatan dirinya. Si perempuan kembali memejamkan matanya, mengambil nafas panjang, mengingat-ingat kembali setiap kata itu dan meyakinkan hatinya sendiri kalau ia mampu.

Saat mata terbuka, si pria sudah tak ada lagi di hadapannya. Si perempuan tetap tenang. Kehadiran teman imajinernya ini memang selalu bisa menguatkan kembali dirinya, dan mengembalikan semangatnya dari rasa sepi.

Si perempuan menutup netbook hitamnya, menghabiskan cappucino-nya, dan meninggalkan tempat peminuman kopi itu dengan senyum senang. Kelabu yang membebani hatinya kini sedikit terangkat. Ia pun mencoba mengisinya dengan warna-warna lampu kota yang akan membawanya pulang.