Peminta Receh

Cuaca sungguh panas di Sunter. Matahari rasanya tak berhenti mengirimkan pancaran sinarnya sejak tadi pagi. Aku berusaha berdiri di rumput, menahan lelah. Mobil-mobil beregrak pelan di hadapanku, antri menuju putaran balik arah di depan. Aku melihat penumpang di dalamnya menatapku. Ada yang tersenyum. Ada yang ketakutan. Ada yang menatap bingung.

Sesekali ada yang membuka jendela, memanggil dan mengajakku mendekat. Aku ulurkan tangan hitamku, meraih koin yang mereka berikan. Receh yang berusaha aku kumpulan dari pagi hingga sore untuk majikanku. Sesekali ada yang melemparku koin. Rantai di leher menahanku untuk bergerak. Aku biarkan majikan yang mengambilkan koinnya untukku. Lagi pula, aku tak pernah tahu apa manfaatnya. Yang aku tahu, aku bekerja, dan majikanku memberiku makan dan kesempatan hidup.

Sudahlah, untuk apa aku memikirkan itu semua. Aku kibas-kibaskan kotoran yang menempel di bajuku. Aku pakai lagi topengku yang berwajah manusia. Lalu aku berdiri lagi meminta uang kepada setiap mobil yang lewat, sambil terus mengibas-ngibaskan ekor hitamku.

 

Perjalanan Akhir

Aku menerima helm dari supir ojek, lalu mengenakannya. Setelah aku bilang siap, supir ojek pun mulai memacu motornya. Aku merasakan angin kencang bergerak seiring dengan motor bergerak semakin cepat. Entah karena memang anginnya yang terasa semilir, atau karena aku memang mengantuk.

Sejak semalam memang aku lembur di kantor dan kurang tidur. Salah satu alasanku meninggalkan mobil di kantor pagi ini karena aku khawatir terjadi apa-apa kala menyetir. Ojek langganan kantor lalu menjadi pilihan untuk mengantarku pulang. Supir ojek membawaku melewati kiri dan kanan mobil dengan hati-hati. Di belakang, aku menahan kantuk yang semakin terasa.

Tanpa terasa aku terbawa akan lamunan. Menumpang motor besar mengarungi padang berwarna merah menyala. Motor yang kami tumpangi bergerak cepat menyusuri tepian jurang. Aku ikut waspada saat pengemudi motor membelokkan motornya tajam ke kiri dan ke kanan, melewati tepian jurang yang berkelok-kelok. Sedikit gerakan yang salah bisa membuang kami jatuh ke jurang.

Di kejauhan aku melihat kereta raksasa bergerak menuju kami. Entah bagaimana caranya, kereta itu tetap bisa bergerak lancar di atas tepian jurang. Suara yang dikeluarkannya sungguh menggelegar. Aku bahkan sampai harus menutup telinga setiap kali aumannya terdengar. Suara itu semakin keras saat motor besar kami semakin bergerak mendekatinya.

Kereta raksasa pun bergerak semakin kencang. Tidak ada yang terlihat akan saling mengalah. Seketika itu juga, aku hanya melihat gelap. Hitam kelam. Tanpa suara. Tanpa gambar. Lalu tak lama, semuanya terang. Sangat terang menyilaukan.

Aku berada di atas awan, melihat jauh ke bawah. Mataku begitu tajam, hingga aku bisa melihat orang-orang berkerumun. Sebuah bus dan sebuah motor terlihat hancur. Dua orang terlihat terkapar tak bergerak. Pikiranku langsung kosong, tak kuasa menatap wajah dua orang itu. Aku mendengar bisikan suara dari atas kepalaku. Aku pun menengadahkan kepala. Seorang perempuan berwajah cantik dan bersayap terlihat menyambutku. Di belakangnya, terlihat gerbang cahaya bersinar terang, mengundangku untuk masuk melewatinya. Silaunya cahaya membuatku tak kuasa untuk memejamkan mata.

Aku buka kembali mataku. Pandanganku beralih kembali ke punggung supir ojek. Rupanya aku tadi terbawa mimpi. Motor masih bergerak ke kiri dan ke kanan melewati mobil. Jalan rasanya terasa tanpa akhir, hingga akhirnya supir ojek memperlambat motornya. Aku melepas helm, mengeluarkan uang untuk membayarnya, dan mengucapkan terima kasih.

Akhirnya aku pun tiba di rumahku. Aku membuka pagar. Pintu rumah tak terkunci dan aku pun melangkah masuk. Suara keras dan tajam langsung menghardik namaku dengan keras. Awalnya aku kira itu suara ayahku. Ternyata suara itu datang dari seorang berbadan merah dan besar. Wajahnya menakutkan dengan tanduk tajam di dahinya. “Selamat datang di kerajaanku,” sambutnya.

Selamat Malam

Selamat malam, kata-kata. Istirahatkanlah kalimatmu sejenak. Taruhlah sebuah koma. Kita lanjutkan sampai kalimatmu berakhir titik esok hari.

Selamat malam, hati. Tenangkan dirimu malam ini ya. Kita lanjutkan pencarian cintanya esok hari lagi. Mudah-mudahan esok kita lebih beruntung.

Selamat malam, pikiran. Kosongkan isimu malam ini. Isilah dengan mimpi indah, agar kamu terbangun segar esok pagi untuk menyerap ilmu baru.

Selamat malam gadis berkostum balerina. Jagakan mimpimu. Percayalah kalau dirimu bisa mencapai apapun yang kamu inginkan. Sekarang, beristirahatlah.

Selamat malam juga untukku. Selamat tidur dan istirahat.

Aksi dan Reaksi

Nadya bergegas memasuki restoran. Ia menyapa salah satu pelayan, yang langsung mengarahkannya ke salah satu sudut ruangan. Ini salah satu restoran favoritnya. Bersama Hafid, sahabatnya, ia sudah sering ke sini sejak mereka berdua sama-sama duduk di bangku kuliah. Sejak lama mereka saling berbagi suka dan duka satu sama lain. Kegembiraan ditanggung bersama. Kesukaran selalu dihadapi berdua.

 

Hafid bukan orang yang suka dibiarkan menunggu. Nadya tahu betul itu. Makanya ia selalu berusaha untuk sampai di lokasi lebih dahulu daripada Hafid. Alangkah leganya, ternyata Hafid belum datang. Nadya pun duduk, lalu memesan segelas es jeruk. Kepada pelayan ia bilang, kalau ia masih akan menunggu sahabatnya sebelum nanti ia memesan makanan. Si pelayan pun tersenyum dan meninggalkan Nadya.

 

Nadya menatap jam. Pukul 19:20. Aneh, Hafid bukan orang yang suka datang terlambat. Hafid bisa jadi adalah satu-satunya orang yang dikenal Nadya yang paling disiplin soal waktu. Perasaan takut mulai menghinggapi Nadya. Es jeruk di hadapannya sudah habis ia minum, untuk melawan rasa takut di hatinya. Ia pun tak tahan lagi. Dikeluarkannya telepon genggam dari tasnya, dan Nadya pun menghubungi sahabatnya. Mati. Telepon genggam Hafid ternyata dinonaktifkan.

 

Pukul 19:40, dan Nadya semakin khawatir kalau sesuatu terjadi pada sahabatnya. Ia berulang kali menelepon dan meninggalkan pesan SMS untuk Hafid, namun semuanya tanpa hasil. Nadya mencoba menelepon rumahnya, juga tidak ada yang mengangkat. Ia pun mulai putus asa, tak tahu lagi harus mengontak siapa.

 

Si pelayan kembali datang menghampiri. Bukan untuk menawarkan makan malam, tapi memberikan sebuah amplop cokelat besar. Nadya menerimanya dengan heran. Ia mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Tulisan tertera di bagian depan amplopnya, “Untuk Sahabatku, Nadya.”

 

Nadya mulai berpikir macam-macam. Ini tulisan tangan Hafid. Amplopnya cukup berat. Di dalamnya terlihat sebuah surat dan benda terbungkus kain. Ia pun mengambil surat dan membacanya.

 

“Setiap aksi akan ada reaksi. Setiap perbuatan akan ada yang harus dibayar. Malam ini aku sudah membayar hutangku kepada dunia. Dunia telah melahirkan aku dan orang tuaku. Kini giliranku untuk membalas kebaikannya. Tepat pukul 19:00 aku akan mengirim diriku dan orang tuaku keluar dari dunia ini. Selamat jalan, Nadya. Jangan lupa untuk membayar hutangmu pula.”

 

Nadya berulang kali membaca surat itu, mencoba memaknai kata demi kata. Ia masih berharap dan berdoa kalau yang ia bayangkan adalah salah. Nadya membuka kembali amplop dan mengambil benda yang terbungkus kain. Di dalamnya terbungkus sebilah pisau. Selembar kertas di samping pisau tertulis, “Nadya, pisau ini untuk kamu. Kembaran pisau ini sudah aku pakai untuk membayar hutangku.”

 

Nadya pun terduduk lemas, tak kuasa lagi berpikir apa-apa. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia hanya bisa menatap pisau itu dengan lama.