Perjalanan Penuh Kebisingan

Perjalanan kali ini penuh goncangan. Pilot pesawat kami melewati hambatan yang tak mulus. Kami berdua berpegang erat satu sama lain, sembari menahan getaran pesawat yang tak kunjung reda.

Temanku menutup telinga menahan kebisingan. Berulang kali aku mencoba bersuara, tapi suaraku selalu terbenam oleh berisiknya goncangan pesawat. Susah sekali menyapa sang pilot. Ia begitu konsentrasinya menempuh hambatan, sehingga pikirannya tak bisa lagi terkonsentrasi mendengarkan teriakanku.

Untunglah goncangan pun akhirnya berhenti. Sungguh lega kami masih bisa melihat sinar matahari. Aku dan temanku berucap terima kasih kepada sang pilot. Meski tak nyaman, kami toh semua tetap bisa sampai di tujuan dengan selamat.

47-Perjalanan-Penuh-Kebisingan

Percaya

Jarum berdetak, tengah malam pun akan segera berganti. Perasaan perempuan itu semakin tak menentu. Ia berharap waktu bisa berhenti, dan selamanya ia berada di titik masa itu. Ia tahu hal itu tak akan mungkin terjadi. Yang bisa ia lakukan hanya menatap jarum sambil memeluk erat badannya sendiri. Tatapan cemas matanya memancarkan kerisauan yang melanda hatinya kala itu.

Jarum pendek dan panjang pun bersatu di malam hari. Tanggal dalam setahun ini selalu saja membuat dirinya selalu merasa sepi. Sebelum ia merasakan kegalauan lebih dalam, si perempuan memutuskan untuk mengurung dirinya dalam selimut. Menghindar dari nyata, dan melelapkan diri dalam impian.

Belum juga ia memejamkan mata, ponsel di sampingnya berdenyut. Sebuah pesan singkat dari sahabatnya, “Dirimu tak perlu sedih di hari kasih sayang ini. Sejenak lagi, pasangan sejati akan menghampiri dan memberimu cinta abadi. Yang kamu perlukan hanyalah PERCAYA.”

Jagad Maya

Jagad Maya, kamu memang yang terindah bagiku. Aku mungkin belum pernah bertemu dengan kebanyakan temanku di sini. Mungkin pula aku memang pernah bertemu walau cuma sekali. Namun hebatnya, aku tak melihat perbedaan yang jelas saat aku berbincang dengan mereka di duniamu. Semua teman baik baru dan lama seakan sama dalam satu mata, tak risau apakah aku kenal betul dengan mereka atau tidak.

Memang banyak dari mereka yang mungkin tak nyata. Akun palsu katanya. Cara terbaik mengenali mereka adalah dengan lebih lama mengenalmu terlebih dahulu, Jagad Maya. Semakin aku kenal kamu, semakin aku bisa mengenali siapa yang asli, siapa yang tidak. Aku cukup hidup dan menghirup nafas yang kamu berikan. Selanjutnya, aku biarkan aura kehidupanmu yang akan menunjukkan jalan dengan sendirinya.

Jagad Maya, kamu memang luar biasa. Kamu sebenarnya telah menciptakan dunia yang nyaman, yang membuat para peragu dan pemalu akhirnya berani berbicara. Kamu membuat aku yang sukar berbicara di dunia nyata untuk berani menunjukkan diri. Kamu membuat mereka yang tak bisa berucap lancar untuk berani mewujudkannya dalam susunan kata dan frase. Kamu sungguh membuat segalanya menjadi lebih mudah.

Hanya saja, kadang masih saja ada yang merusak kemurnianmu. Ada yang merasakan dunia yang kamu ciptakan ini bebas tanpa aturan, sehingga merasa bisa berbuat sesuka hati mereka. Aku tak mau menuduh, karena aku sendiri pun suka merasa pernah berbuat demikian. Aku pernah menyakiti teman yang bahkan belum pernah kujumpa sebelumnya. Aku pernah menyinggung hati seseorang hanya karena perbedaan persepsi dalam kata. Aku pernah sesuka hati menuliskan pesan tanpa berpikir jauh apakah aku menyiksa batin orang lain yang membacanya.

Satu hal yang aku suka dari kamu, Jagad Maya, kamu sudah menyiapkan dunia ini dengan sebaik yang kamu bisa. Tak sempurna memang, tapi sudah sangat memadai. Sekarang biarkan kami yang mengisinya dengan kata dan gambar kami. Biarkan kami saling bercakap satu sama lain, memohon maaf kalau kami menyakiti satu sama lain, menyebar ilmu dan keahlian kami demi kebaikan teman-teman kami, dan biarkan kami untuk menjaga duniamu dengan energi positif.

Terima kasih Jagad Maya. Terima kasih sebesar-besarnya. Aku akan selalu terus menjagamu.

Kerinduan Akan Rumahmu

Kamu tahu betapa berdebunya tempat ini? Kamu pasti tak akan berhenti bersin kalau sampai datang ke hunianku sekarang. Aku pun sudah tak mungkin kembali ke tempatmu, sejak kamu mengusirku kala itu.

Dahulu aku selalu mengamatimu. Setiap kali kamu membersihkan rumah, kamu selalu rajin menyapu, mengelap, menggosok setiap sudut agar terlihat bersih dan cemerlang. Kalau temanmu datang, kamu menyuruhnya untuk melepas sepatu. Kamu bahkan meminta temanmu mengenakan sandal khusus yang memang kamu siapkan untuk berjalan-jalan di dalam rumah.

Aku ingat saat memandangmu asyik memasak. Mungkin hanya rumah kamu satu-satunya di dunia yang punya dapur sebersih kamar tidur. Tak pernah terlihat noda sebercakpun setelah kamu membersihkan dapur setelah memasak. Semua panci, nampan, penggorengan, dan perlengkapan memasak lainnya tergantung cantik dan berkilauan di lemari.

Kamu tahu kalau aku selalu was-was berada di dekat kamu. Melihatmu rajin membuat segala isi rumah menjadi bersih membuatku cemas. Jelas aku tak akan bisa mengubah perilaku yang sudah aku bawa sejak lahir ini. Sudah dipastikan kalau aku pun tak akan bisa hidup sebersih kamu. Mungkin memang sudah suratan takdir, saat masa itu kita harus berpisah.

Kamu akhirnya menemukan tempat persembunyianku, dan membersihkan sarangku. Aku berlari kencang saat kamu mengayunkan sapu saktimu ke tubuhku. Kalau saja aku tak hapal seluk beluk lubang di rumahmu, aku pasti akan tewas saat itu.

Sekarang dengan bodohnya aku menuliskan surat ini, sambil berharap kamu bisa membacanya. Boro-boro membacanya, aku bahkan tak yakin kamu bisa memegang surat yang hanya berukuran sebuku jari kelingkingmu ini. Namun aku optimis, kalau kamu bisa menemukan dan membaca surat ini.

Kamu tahu kan, hidup sebagai seekor kecoak tidaklah mudah. Masa hidup kami pun hanya sebentar di dunia. Maka izinkan aku mengucapkan selamat berpisah, terima kasih, dan mohon maaf dalam satu kalimat. Esok hari mungkin aku sudah meninggalkan dunia penuh debu ini. Aku sungguh merindukan rumahmu yang bersih dan cantik. Mudah-mudahan surgaku nanti seperti rumahmu.

Kepada Rasa Sepi

Teruntuk kamu, yang sekarang mengisi penuh hati ini.

Kapankah kamu mau meninggalkan rasa sesak di hati ini? Menjauh sana! Pergi! Aku sangat berharap kalau kamu tak kembali lagi!

Meski sebetulnya aku tahu, kamu tak akan bisa pergi dengan sendirinya. Kamu hanya bisa diusir dengan keberadaan rasa suka, dan dengan kembalinya rasa bahagia. Kalau para perasa itu datang, kamu pasti akan beranjak pergi dengan sendirinya. Bahkan tanpa perlu aku suruh.

Saat ini kamu masih mengisi ruang yang sudah sesak di hati ini. Kamu tak mau mengalah, membiarkan para perasa untuk datang dan mengusirmu. Aku jadi sebal. Dengan adanya kamu, pikiranku selalu terbawa ke masa lalu, mengingat-ingat cerita lama, yang ujung-ujungnya hanya akan membuat kamu semakin betah menyesakkan hati.

Ayolah, segeralah kamu lepaskan perekatmu! Aku tak ingin kamu ada lagi di sini. Aku ingin si suka dan si bahagia yang menggantikan kamu. Aku ingin mereka yang merekatkan jemari mereka di hati ini.

Kepada rasa sepi, kumohon sekali lagi. Cepatlah pergi…