Hiburan Motion Comic

Apa itu motion comic? Ini sebenarnya genre yang agak banci, dibilang komik ya terlalu kompleks, tapi dibilang animasi ya terlalu sederhana. Motion comic itu biasanya menggunakan elemen-elemen gambar dari suatu komik, lalu dianimasikan, diberi efek suara dan grafis. Karena geraknya yang biasanya sederhana, kekuatan utamanya adalah pada pengisi suaranya. Anggap saja, kita jadi melihat komik yang dihidupkan dalam format gerak (masih menggunakan desain artwork asli dari komik).

Saya sendiri antara suka dan tidak suka melihat motion comic. Ada yang gerak animasinya lumayan bagus, pengisi suaranya jelas, maka hasilnya pun enak dinikmati. Namun tetap saja, saya cuma bisa menikmatinya dalam waktu pendek. Alias, kalau yang saya tonton itu sampai berdurasi lebih dari 15 menit, saya pasti langsung bosan.

Mungkin itu juga, para produser motion comic ini selalu menayangkannya dalam durasi pendek, dan dibagi menjadi beberapa episod. Supaya nggak terlalu jenuh menontonnya.

Saya pertama kali tahu genre motion comic ini sewaktu melihat Spider Woman diadaptasi dari komiknya menjadi potongan film pendek, dan ditayangkan di situs Marvel.com. Marvel pernah pula mengadaptasi komik Captain America: Reborn, Astonishing X-Men, dan Iron Man: Extremis menjadi motion comic. Yang paling keren sih Iron Man: Extremis karena animasinya menambahkan animasi 3D baru sebagai pelengkap elemen di dalamnya. Semua seri motion comic Marvel ini cuma bisa dinikmati dengan mengunduhnya di iTunes.

Yang baru saya lihat (tepatnya mengunduh sih beberapa hari lalu) adalah serial motion comic Batman: Black & White dan Superman: Red Son dari DC. Sebelumnya, DC pernah pula mengeluarkan seri Batgirl: Year One dalam versi motion comic. Cukup menarik, setidaknya saya bisa menonton seluruh episod Superman: Red Son tanpa ketiduran. Hahaha…

Ada yang menggunakan motion comic sebagai teaser akan dikeluarkannya film yang diadaptasi dari suatu komik. Seperti motion comic Walking Dead, yang meskipun berwarna hitam putih tetap bisa menarik untuk disimak cerita animasinya.

Salah satu channel populer di YouTube, Machinima, bahkan kini menayangkan motion comic yang diadaptasi dari serial komik John Woo’s 7 Brothers. Serinya masih tayang hingga saat ini.

Genre motion comic ini juga banyak penggemarnya. Coba saja cari di YouTube, banyak banget buatan para fan. Mereka mengambil elemen komik asli lalu mereka olah ulang dengan grafis dan pengisian suara. Meski nggak semuanya bagus buat disimak sih. 🙂

Sekelumit Cerita Horor Amerika

American Horror Story, menurut saya adalah film seri horor terbaik yang pernah saya lihat dalam beberapa tahun ini. Saat saya tulis ini, sudah masuk episod 11 dari total 12 episod season ini. Bagi saya pribadi, cerita yang disajikannya sangat menarik dan penuh kejutan. Setiap episod merupakan kepingan puzzle misteri, menceritakan kisah tersembunyi dari sebuah rumah di Amerika.

Rumah yang dikenal sebagai rumah horor karena sering terjadi pembunuhan di dalamnya. Rumah yang akhirnya di masa ini dihuni oleh seorang psikolog bernama Ben Harmon (Dylan McDermott), istrinya, Vivien Harmon (Connie Britton), dan putrinya, Violet Harmon (Taissa Farmiga). Rumah yang mereka huni ternyata memiliki aura kegelapan. Semua yang pernah meninggal di rumah tersebut, jiwanya akan terperangkap, dan selamanya menjadi hantu di rumah tersebut.

Kisah per episodnya selalu diawali dengan kejadian di masa lalu, mengisahkan cerita-cerita lama tentang orang yang pernah mendiaminya. Cerita-cerita lama yang menjadi petunjuk misteri yang menyelubungi kehidupan keluarga yang mendiaminya kini. Sebutlah ada Tate Langdon (Evan Peters), anak tetangga yang sebelumnya pernah tinggal di rumah tersebut. Ia menjadi pembunuh beberapa orang yang pernah tinggal di situ. Atau asisten rumah tangga Moira O’Hara, yang terlihat tua (Frances Conroy) di mata perempuan, namun terlihat muda, cantik, dan seksi di mata pria (Alexandra Breckenridge).

Munculnya tokoh-tokoh di dalam rumah lainnya, seperti dokter yang suka menjahit manusia yang dimutilasi, istrinya yang punya lubang di kepala, pria berseragam latex, sepasang gay yang ingin membesarkan anak, seorang bidan dan dokter, perempuan selingkuhan Ben, ibu tetangga dan anaknya yang cacat, serta pria misterius dengan wajah terbakar, semakin melengkapi misteri sesungguhnya di balik rumah horor ini. Kita akan menduga-duga siapa sebenarnya yang sudah mati dan siapa yang masih hidup.

Kejutan di akhir season adalah saat Ben dan Vivien melahirkan anak kedua. Ini menjadi misteri selanjutnya. Apakah benar ini anak Ben? Ataukah ini anak Vivien dan salah satu hantu penunggu rumah tersebut? Apa yang terjadi kalau seorang manusia dan makhluk alam gaib membuahkan keturunan?

Coba saja dulu cari serinya. Recommended banget deh ini serinya.

Oh ya, coba saja deh nontonnya tengah malam ya.. Hahaha, biar tegangnya semakin terasa.

GI Joe Versi Baru

Ini bukan ngomongin GI Joe versi film bioskop ya. Saya baru saja menuntaskan menonton film seri GI Joe: Renegades sebanyak 26 episod. Menarik sih kalau membandingkan film animasi Amrik versi kini dibandingkan versi aslinya tahun 1980-an. Kala itu film animasi hanya ditargetkan untuk anak-anak, sehingga sangat tidak boleh muncul kekerasan.

Kalau ingat nonton GI Joe versi 1980-an, tidak pernah ada satu karakter pun yang tewas. Tembak-tembakan antara pasukan GI Joe dan Cobra dari jauh dengan senapan laser, namun tak pernah ada yang kena. Begitu dekat, yang terjadi hanya pukul-pukulan. Adegan tempur di udara pun selalu berakhir dengan pilot yang tertembak berhasil keluar dari pesawat dengan parasut. Konflik antar-karakter pun dibatasi, sehingga terkadang cerita yang disajikan menjadi datar.

Tahun 2009 pernah muncul seri GI Joe: Resolute. Isinya animasi pendek, yang akhirnya bisa dinikmati total selama 1,5 jam di DVD. Mungkin karena pecinta animasi versi 1980-an sudah dewasa sekarang, makanya animasi ini benar-benar ditujukan untuk dewasa. Cobra tidak lagi cupu, satu kota Moskow dihancurkan dan semua penduduknya dimusnahkan. Karakter GI Joe ada yang mati terbunuh, darah bercipratan terlihat di beberapa adegan, dan pertarungan abadi antara Snake Eyes dan Storm Shadow berakhir dengan kematian salah satu karakternya. Animasinya pun bernuansa sedikit noir. Cobra Commander, yang selalu jadi guyonan di versi 1980-an, tampil sebagai diktator yang menakutkan.

Yang terbaru, yang baru saya tonton, GI Joe: Renegades, merupakan versi reinkarnasi terbarunya. Cerita berawal dari beberapa GI Joe yang terfitnah. Sebut saja Duke, Scarlett, Roadblock, Tunnel Rat, Ripcord, dan Snake Eyes yang selalu dikejar-kejar oleh militer karena membelot. Para pengejarnya, Flint dan Lady Jaye. Semua tokoh yang disebutkan familiar, dan merupakan versi baru dari karakter animasi versi tahun 1980-an.

Cobra di versi ini adalah korporasi raksasa yang bergerak di bidang kimia dan pertahanan. Semua aksinya legal di mata hukum, meski sebenarnya itu hanyalah kedok bagi Adam DeCobray (alias Cobra Commander) dan Anastasia Cisarovna (alias Baroness) untuk menguasai dunia (dengan cara ilegal tentunya).

Selama 26 episod ini, para GI Joe yang terfitnah ini berusaha mengumpulkan bukti aktivitas ilegal apa saja yang telah dilakukan Cobra, sembari membersihkan nama mereka. Secara bertahap, tokoh-tokoh yang membantu (atau dipaksa membantu) Cobra Commander pun muncul satu persatu. Ada Doctor Mindbender yang divisualkan sebagai anak muda jenius – berbeda dengan versi 1980-an yang ditampilkan sebagai ilmuwan botak serius. Ada Tomax dan Xamot, si kembar identik yang punya kemampuan psikis. Ada pula Zartan dan gang Dreadnoks-nya, yang memiliki kostum curian dari eksperimen Cobra yang membuatnya bisa menyamar menjadi siapapun juga.

Memang kalau dibandingkan dengan GI Joe: Resolute, kualitas animasi dan desain karakter GI Joe: Renegades ini lebih sederhana. Bedanya, di versi baru ini, ceritanya lebih dalam, lebih menjelaskan latar belakang kenapa Cobra ingin melakukan itu semua. Tingkat kekejamannya memang tidak sesadis GI Joe: Resolute, tapi tetap kita bisa melihat beberapa karakter yang mati di beberapa episodnya. Ceritanya pun tuntas dan saling menyambung selama 26 episod, tidak seperti versi 1980-an yang setiap episodnya berdiri sendiri dengan korelasi yang minim.

Kalau memang kamu penggemar GI Joe, coba simak saja deh seri terbaru ini. Menurut saya sih, meski secara kualitas visual GI Joe: Resolute lebih keren, namun secara cerita dan pendalaman karakter, GI Joe: Renegades lebih unggul.