1 Syawal 1437 H

​Bulan Ramadhan pun berakhir. Pagi ini sholat Ied diadakan di banyak lapangan dan mesjid di seluruh Indonesia (bahkan dunia). Saya bersama keluarga seperti tahun-tahun sebelumnya mengikuti sholat Ied di lapangan sekolah dekat rumah di Jogja.

Pagi yang sangat cerah. Langit biru bersih tanpa awan. Cahaya matahari pagi menyinari mereka yang berjalan menuju lapangan. Mereka yang sudah di lapangan, duduk rapih menunggu pukul 7 sambil mengumandangkan takbir.

DSCF6149
Ketika Sholat Ied berakhir

Makna Lebaran

​1 Juli 2016. Hari ini saya kembali lagi ke kota Jogja setelah setahun berlalu. Sepertinya saya hanya datang ke kota ini saat menjelang Lebaran tiba, atau kecuali ada tugas yang menuntut saya mampir ke kota ini.

Sebenarnya sudah tidak ada hal yang mewajibkan saya dan keluarga saya untuk kembali ke Jogja saat Lebaran. Maklum, semua eyang saya sudah lebih dahulu meninggalkan kami semua sejak lebih setahun lalu.

Continue reading “Makna Lebaran” »

Nostalgia Melalui WhatsApp Group

Kini WhatsApp sudah menjadi aplikasi lumrah untuk berkomunikasi dengan banyak orang, menggantikan BBM yang pernah populer. Saya sendiri lebih banyak menggunakannya untuk berkomunikasi urusan pekerjaan.

Seiring digunakan makin banyak orang, group di WhatsApp saya pum bertambah. Setelah group pekerjaan, kini ada group keluarga dan alumni. Jujur hampir semua group itu tidak saya baca setiap saat. Group alumni apa lagi. Kontennya terlalu berisik. Saya bergabung demi menjalin silaturahmi saja. Ngobrol di sana pun sangat jarang.

Buat saya yang dihujani banyak konten dari banyak kanal social media, saya memang harus memilih mana yang lebih diutamakan. Namun tentunya ini berbeda dengan kedua orang tua saya. Baik Bapak dan Ibu saya bisa dibilang aktif di group WhatsApp keluarga dan alumninya masing-masing. Bagi mereka, komunikasi di group benar-benar mendekatkan mereka yang sudah lama terpisah oleh jarak dan waktu.

Lanjut dengerin cerita tentang Bapak saya

Life with XL

Sudah entah berapa tahun lamanya saya menggunakan nomor XL. Mungkin saking lamanya kali ya. Secara perlahan, identitas nomor XL ini mulai menggantikan nomor lama saya, mengingat hanya nomor ini sajalah yang saya pakai untuk kebutuhan akses data. Artinya, semua akses komunikasi mobile saya melalui email, WhatsApp, Line, Twitter, dan Facebook, hanya nomor XL ini sajalah yang saya pakai.

Dulu saya agak enggan memberikan nomor yang saya pakai untuk WhatsApp ke klien. Nomor ini hanya saya berikan ke keluarga dan teman-teman dekat saja. Saya selalu berupaya memberikan nomor lama saya ke klien, sehingga mereka hanya bisa mengontak saya melalui SMS. Hahaha, tapi akhirnya saya yang menyerah terhadap kecepatan zaman. Beberapa klien (yang baik) saya bagi nomor XL saya. Komunikasi melalui chat di WhatsApp nggak dipungkiri lebih cepat dan praktis. Di sisi buruknya, kalau dapet omelan juga jadi lebih cepat ya hahaha…

Saya termasuk pengkonsumsi internet yang cukup berat, bahkan mungkin bisa dibilang adiktif. Adalah suatu keajaiban jika saat saya di luar rumah atau kantor, dan saya tidak sedang melakukan aktivitas khusus, mata saya tidak menatap ponsel lebih dari 5 menit. Jari-jari saya menggeser layar ponsel, mengganti-ganti antara Twitter, WhatsApp, Line, Facebook, Instagram, dan Flickr. Padahal ujung-ujungnya saya hanya men-scroll dan membaca, tapi tidak mem-post sesuatu. Apalagi bila ada cerita atau berita menarik yang menjadi percakapan di Twitter. Sepertinya kalau percapakannya sudah terjadi lewat dari satu jam, sudah menjadi hal yang basi untuk diikuti.

Saya bisa menggunakan koneksi kabel yang cepat baik di rumah atau kantor. Namun saat di perjalanan, andalan saya hanya satu ponsel yang menggunakan koneksi XL, yang mau nggak mau harus saya terima dalam kondisi apapun (kayak jodoh aja ya). Saat dalam perjalanan naik bus Trans Jakarta dari rumah ke kantor pun saya sudah hapal titik mana yang sinyal XL-nya kuat, dan titik mana yang tidak ada data masuk sama sekali. Biasanya saat mendekati jembatan Semanggi, saya menghentikan aktivitas saya di depan ponsel, karena di situlah titik terlemah sinyal XL selama perjalanan saya. Melewati jembatan Semanggi, sinyal XL akan kembali menguat.

Hingga saat ini saya selalu rutin menggunakan paket HotRod 3G+ bulanan 3 GB seharga Rp. 49.000. Ini sudah sangat cukup (sebetulnya), karena ini hanya dipakai saat saya mobile. Kenyataannya sih, baru sampai 3 minggu sekarang sudah selalu kehabisan kuota. Lebih dari 80% pemakaian data saya ada di aplikasi Twitter. Bisa jadi ini akibat semakin banyaknya konten visual di Twitter, terutama semakin didukungnya fitur Animated GIF dan video di Twitter.

Saya jarang membeli paket bulanan 5,1 GB seharga Rp 99.000, karena dengan nilai rupiah yang hampir sama, lebih baik saya membeli paket 2 x 3 GB daripada 5,1 GB. Hihihi betul kan? Pembelian paket 5,1 GB baru saya lakukan bila saya membutuhkan akses roaming di luar negeri. Karena kalau hanya untuk perjalanan 1-2 hari, masih lebih murah dan praktis menggunakan nomor XL (terutama untuk negara-negara yang operatornya sudah bekerja sama dengan XL dan Axiata group ya).

Saya mungkin termasuk orang yang agak susah untuk mengganti nomor. Buat saya, mengganti nomor telpon bisa menghilangkan kesempatan yang akan muncul. Jadi hingga saat ini sepertinya saya masih akan terus menggunakan nomor XL. Saya yakin semua operator, mau warna apapun, punya kekuatan dan kelemahan. Tidak ada operator yang bisa kuat di semua lini. Yang ada hanyalah, kekuatan apa yang dimiliki si operator yang memang cocok dengan kebutuhan kita saat ini.  Buat kebutuhan saya saat ini, apa yang ditawarkan XL melalui paket datanya sudah sangat memadai.

Semoga saja di tahun ke-19-nya ini, XL Axiata bisa semakin kuat. Selamat ulang tahun XL Axiata!

DSCF2852