Tulisan Terakhir di 2011

new-year-2012-500x375
Huufff… jam-jam terakhir menjelang tahun 2011 berakhir. Tahu nggak, selama setahun ini saya ternyata sudah menuliskan 177 posting blog (termasuk tulisan ini). Ada 84 posting di blog media-ide.com, 23 posting di blog pitra.media-ide.com, 31 posting di blog mataku.media-ide.com, dan 39 posting di blog laindunia.media-ide.com. Ini belum terhitung entah berapa puluh cuplikan yang saya taruh di mediaide.tumblr.com.

Banyak? Iya kali ya, tapi kalau dilihat frekuensinya sih semakin menurun ke akhir tahun. Semangat di awal, semakin mengendur di tengah-tengah. Mungkin memang nggak ada bahan, atau memang waktunya yang habis untuk kebutuhan lain (baca: pekerjaan dan pergaulan). Nyambung dengan itu, saya jadi mengingat-ingat upaya apa yang saya dapatkan selama setahun kemarin.

Bisnis

Kalau ini saya sih cukup berucap Alhamdulillah. Rejeki memang nggak kemana-mana asal segala sesuatunya dikerjakan dengan ridho dan ikhlas. Pendapatan kantor tahun ini nggak jauh berbeda dengan tahun 2010 sih. Yang berbeda adalah komposisinya. Kalau tahun 2010 pendapatan lebih banyak diperoleh dari proyek digital untuk event, kalau tahun 2011 ini lebih banyak diperoleh dari proyek yang berhubungan dengan web dan social media. Jumlahnya? Hahaha nggak boleh tahu! Rahasia perusahaan! Pokoknya banyak lah.

Lalu saya dan seorang teman lainnya mencoba peruntungan di bidang makanan. Buka warung Naskun di Ambassador. Banyak orang yang sudah mencoba, dan kata mereka nasi kuningnya memang enak banget. Beneran! Namun ya pilihan lokasinya memang tidak menguntungkan. Service charge-nya pun terlalu tinggi, tidak sebanding dengan volume penjualan. Jadi mau nggak mau bisnis yang satu ini mesti dipertimbangkan ulang. Saat ini Naskun masih menerima pesanan katering, tapi maaf, untuk sementara warung di Ambassador terpaksa kami tutup lebih dahulu.

Di akhir tahun sempat buka warung lagi. Kali ini franchise Arabian Kebab. Peruntungannya belum tahu nih, tapi kalau dari progresnya kemarin sih lumayan. Nggak gede sih, tapi selalu ada setiap hari. Jualannya jauh tapinya, di Bekasi sana.

Keluarga

Untuk yang satu ini saya beruntung masih ditemani oleh keluarga saya. Ada Bapak, Ibu, adik saya, suaminya, dan anaknya yang kini berusia 4 tahun. Untuk keponakan saya ini memang sering saya ceritakan di twitter. Iya iya, meski bukan anak sendiri, tetap saja punya kebanggaan tersendiri punya keponakan sepintar (dan sebandel) dia.

Bersyukur pula saya sempat mengajak keluarga saya berjalan-jalan di tahun 2011 ini. Awalnya saya hanya mengajak Bapak untuk berjalan-jalan backpacker-an ke Bali. Menyenangkan, karena selama 3 hari saya bisa berjalan-jalan dan ngobrol dekat dengan si Bapak.

Dua minggu berikutnya, bersama seluruh keluarga saya sempt berjalan-jalan ke Singapura. Ini sama menyenangkan dan sama capeknya. Karena mengajak si Ibu dan keponakan, tentunya nggak mungkin kemana-mana ala backpacker. Ternyata sudah lama sekali baik Bapak atau Ibu saya tak berjalan-jalan ke luar negeri. Meski liburan 3 hari ini hanya sampai ke negeri singa (yang entah sudah berapa kali mereka berdua dulu ke sana), ternyata Singapura sudah jauh berubah. Jadi, buat mereka ini menjadi pengalaman yang baru pula.

Teman-teman

Siapa bilang hidup lama di social media itu kesepian? Ya iya sih kesepian kalau kerjanya cuma nongkrong menatap notebook atau hape demi eksistensi. Beruntungnya saya, perjumpaan di Twitter selalu berakhir dengan perjumpaan kopdar di dunia nyata. Teman-teman saya banyak, dari Kopdar Jakarta, FreSh, Piknik Asik, Twitalk, Langsat, dan entah pertemuan dimana-mana lagi. Hihihi, maaf juga kalau saya akhirnya lupa nama dan wajah meski ternyata kita sudah pernah berkenalan sebelumnya.

Twitter menjadi tempat yang menyenangkan untuk berbagi, ngobrol, hingga ada sebutan kalau saya suka menggombal. Entah siapa yang bilang saya begitu, padahal saya ya cuma bicara jujur apa adanya. Kalau kamu cakep atau cantik atau lucu atau berhati baik atau imut atau kiyut atau unyu, maka memang demikianlah kamu apa adanya. Sebutan gombal itu hanyalah ungkapan terbuka saya saja kepada kamu (siapapun itu kamu yang merasa).

Romansa

Naaah, kalau ini sih nggak ada perubahan. Status quo, yang entah sudah berapa tahun lamanya. Naksir? Pastilah ada yang ditaksir. Sayangnya ada beberapa pertimbangan yang akhirnya saya tak melanjutkan. Bisa karena tak berbalas, bisa karena ternyata saya tidak terlalu suka setelah kenal lebih lanjut, bisa karena ternyata ia sudah berpacar (halah). Sudahlah, ini tak perlu diceritakan. Nggak perlu di-mention juga siapa saja orangnya.

 

Lalu bagaimana tahun 2012? Saya nggak pernah bikin tekad atau resolusi. Saya lebih suka mengikuti kehidupan ini apa adanya. Saya memang pragmatis, lihat bagaimana situasi nanti dan bagaimana menyikapinya. Hihihi, siapa juga yang berencana tahun 2011 kemarin saya akhirnya buka warung?

Yang saya punya untuk 2012 ini cuma doa. Doa semoga saya bisa lebih membuat orang tua saya lebih bahagia (entah dengan cara bagaimana). Doa semoga petualangan romansa saya pun melewati masa status quo. Doa semoga bisnis saya lebih berkembang (nggak perlu gede-gede banget, tapi harus mencukupi untuk investasi masa depan). Doa semoga saya bisa lebih banyak berbagi dengan cara baru lagi (entah apa dan dengan cara apa).

Doa untuk bangsa, semoga Indonesia (dan Jakarta) dipimpin oleh orang yang tegas dan nggak bikin sakit hati. Doa supaya banyak orang sadar kalau kebaikan bangsa dimulai dari dirinya sendiri. Kalau kita mau berbagi (dalam hal apapun) dengan ikhlas dan ridho, dengan tidak langsung kita akan membuat karakter bangsa ini menjadi lebih baik.

Selamat tinggal 2011.

Selamat datang 2012.

*nonton kembang api*

Belanja Impulsif

Kemarin saya jalan-jalan ke Indocomtech. Seperti kebiasaan saya sebelumnya, saya sudah punya rencana, kalau saya hanya akan membeli tinta printer. Niatan ini pun terlaksana. Di sana, meski saya beredar ke mana-mana, tidak membuat saya ingin belanja hal-hal lain di luar yang saya butuhkan. Ada sih, ingin beli hard disk eksternal tambahan, tapi begitu dapat masukan kalau harga hard disk melonjak pesat karena banjir di Thailand, saya pun urung untuk membeli.

Beberapa kali saya sempat berjalan dengan beberapa teman. Ada yang bisa menahan diri, ada yang ternyata bisa belanja barang dengan impulsifnya. Nggak apa-apa juga sih, toh si teman belanjanya pakai duitnya sendiri. Bukan hak saya juga untuk melarangnya. Lalu apa dong masalahnya? Ya nggak ada. Tulisan ini memang sudah selesai. Looh..

Hahaha nggak deng. Yang mau saya sampaikan adalah, seperti para motivator dan financial planner suka bilang, belanja impulsif berakibat boros. Kalau ini sih, semua orang juga sudah tahu ya? Cuma memang kemampuan diri untuk menghentikannya memang sulit. Saya juga pernah mengalami hal seperti ini beberapa tahun lalu.

Jadi sejak tahun 1989 saya itu penggila komik Amerika. Yang import ya. Dari awalnya saya cuma belanja sedikit, makin lama makin menggila setiap bulannya. Naluri mengkoleksi membuat saya sukar menghentikan niatan belanja ini. Untungnya sih masih pakai duit orang tua (eh ini untung atau nggak ya?). Lah ya, pas tahun segitu ya saya belum kerja dan belum pernah punya duit sendiri. Saking gilanya, saya suka nitip ke Ibu atau Bapak saya kalau lagi dinas ke luar negeri. Saya ketik itu list komik yang saya mau, tanpa berpikir berapa uang yang harus dikeluarkan. Begitu Ibu atau Bapak kembali membawakan komik, saya girang setengah mati. Meski sudah dibilang kalau komik saya menghabiskan duit banyak, saya nggak pernah terlalu mikirin.

Lalu datanglah tahun 1998 dengan krisis moneternya. Nilai Rupiah melemah. Kalau awalnya 1 USD = Rp.2.500, maka saat itu 1 USD bisa mencapai Rp.15.000. Dampaknya berasa banget ke diri saya. Mau nggak mau saya harus menyetop kebiasaan boros saya ini. Komik Spawn misalnya, yang saya punya dari edisi nomor 1, dan rata-rata awalnya saya beli dengan harga Rp.7.500, harganya langsung melonjak drastis menjadi Rp.30.000-40.000. Jelas nggak mungkin saya terus melanjutkannya.

Saat itulah saya bisa menghentikan belanja impulsif saya di komik. Hahaha mungkin karena sudah pernah kena tekanan seperti ini, akhirnya saya selalu berpikir 2-3 kali setiap kali membeli sesuatu. Perlu atau nggak? Darurat harus dibeli sekarang atau nggak? Untuk saya pribadi, barang itu didiskon atau nggak bukanlah yang menjadi pemicu untuk saya belanja. Lebih baik saya membeli barang pada saat saya membutuhkannya, meskipun saat itu sedang tidak ada diskon sekalipun.

Kalau ada niatan impulsif saya untuk belanja suatu produk, dan ternyata di toko akhirnya saya bisa membatalkan niatan saya itu, begitu sampai di rumah biasanya saya benar-benar bernafas lega. Huf, pikir saya, untung saja nggak jadi beli. Kalau beli juga buat apa lagi? Namun kalau ternyata saya memang benar-benar membutuhkan barangnya, ya besok toh tinggal datang lagi ke tokonya. Beli barangnya dan selesai.

Hahaha tapi kan itu saya ya… 🙂

Berkat Ngeblog Sejak Tahun 2005

Hari ini Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2011, hari yang “dirayakan” oleh para blogger semenjak dicanangkan oleh Pak Mohammad Nuh saat Pesta Blogger pertama kali diselenggarakan tahun 2007. Waktu Pesta Blogger pertama kali itu saya masih termasuk golongan yang cupu di semesta blog Indonesia. Hanya kenal sedikit blogger lain, karena kala itu yang namanya kegiatan kumpul-kumpul (kopdar) masih sangat jarang.

Awalnya saya ngeblog di blog Media-Ide.com karena saya terinspirasi oleh beberapa suhu blogger seperti Enda dan Priyadi. Saya waktu itu nggak kenal mereka berdua. Saya mengikuti dari dua blog ini, siapa-siapa saja sih yang suka berkomentar, lalu berkunjung (blogwalking) ke masing-masing blog pengomentarnya. Saya lalu tahu ada beberapa komunitas blog dari blogwalking ini. Menarik, meski saya malu juga untuk ikut bergabung karena saya belum kenal siapa-siapa.

Yang saya bahas di blog Media-Ide.com memang bukan hal yang biasa orang lain tulis. Karena pada dasarnya saya nggak bisa menulis cerita pribadi, akhirnya yang saya tulis adalah pengamatan saya terhadap dunia yang saya gemari dan terjuni, yakni dunia kreatif dan interaktif. Saya terkesan dengan tulisan-tulisan di AdRants dan Adverblog, lalu berniat membuat hal yang serupa, tapi versi Indonesia.

Saya akhirnya sempat bergabung dengan komunitas blog Merdeka, sejak diundang oleh dedengkotnya Andry Huzain. Melalui komunitas inilah saya akhirnya bertemu dengan blogger-blogger senior yang juga saya kagumi setiap tulisannya, Ndoro Kakung dan Paman Tyo.

Berkat ngeblog ini, blog saya ternyata terpilih sebagai salah satu finalis blog kategori marketing di Pesta Blogger 2007, dan akhirnya menang. Dari beragam kategori award di Pesta Blogger 2007, yang dianggap sebagai best of the best waktu itu adalah blognya Enda. Namun karena Enda juga adalah ketua Pesta Blogger 2007, maka dengan ikhlas Enda meneruskan hadiahnya ke terbaik kedua, yaitu blog Media-Ide.com. Lumayan, dapat hadiah lah yang jelas.

Perjalanan selanjutnya biasa-biasa saja. Saya mencoba untuk konsisten berbagi informasi seputar hal yang sama di blog Media-Ide.com. Dalam perjalanannya saya pun akhirnya berkenalan dengan banyak komunitas blog lainnya, seperti BHI (Jakarta), Cah Andong (Jogja), Loenpia (Semarang), dll. Komunitas yang bloggernya tidak hanya asyik menulis, tapi juga aktif bekontribusi terhadap lingkungan sekitarnya. Yang jelas, teman saya di dunia online ini semakin banyak.

Tahun 2008 saya iseng-iseng mengirimkan blog saya untuk berpartisipasi dalam The BOBs Award yang diadakan oleh Deutsche Welle, Jerman. Sejak tahun itu mulai dimasukkan kategori blog berbahasa Indonesia. Salah satu jurinya juga dari Indonesia, Budi Putra, blogger senior yang banyak membahas teknologi. Kebetulan pula, dari sekian banyak blog berbahasa Indonesia yang ikut dalam kompetisi itu, blog saya terpilih sebagai pemenangnya. Hadiahnya sih nggak seberapa penting, radio internet, yang pada masa itu sulit digunakan karena keterbatasan koneksi internet yang saya miliki.

Yang jadi kejutan adalah saat Deutsche Welle menyelenggarakan Global Media Forum di Bonn, Jerman di tahun 2009. Saya tiba-tiba mendapat undangan untuk hadir, karena di event ini pula, para pemenang dari berbagai negara akan menerima penghargaannya. Tentunya semua tiket dan akomodasi selama 3 hari ditanggung oleh panitia (meski ternyata untuk tiket pulang pergi saya harus membayarnya terlebih dahulu). Saya pun berkenalan dengan blogger berbagai bangsa yang berbagi cerita tentang kondisi kebebasan berekspresi di negara mereka masing-masing. Selama 8 hari akhirnya saya habiskan di Jerman. Perjalanan ke Jerman ini pun saya rangkum semua dalam ebook 8 Hari di Jerman yang bisa dibaca dan diunduh gratis. Lagi pula, apa sih yang bisa dibawa oleh seorang blogger kecuali cerita dan foto?

Di penghujung tahun 2009, saya ternyata masih mendapat kesempatan untuk berjalan-jalan lagi. Saya diundang untuk mengikuti Blogfest Asia di Hong Kong. Saya pun merangkum perjalanan ini melalui ebook Hong Kong yang bisa dibaca dan diunduh gratis pula. Kesempatan untuk menghadiri event internasional yang mengundang blogger dari berbagai negara ini memberikan saya masukan kalau negeri kita ini benar-benar sangat beruntung dalam kebebasan berekspresi. Miris rasanya kalau mendengar pengalaman teman-teman blogger di luar sana yang tak boleh berkumpul dalam jumlah banyak, mendapat tekanan dari Pemerintahnya, hingga ada yang pernah dipenjara.

Berkat ngeblog pun belum berakhir. Di akhir tahun 2009 saya bersama beberapa blogger lain diundang oleh Acer untuk mengikuti workshop (dan jalan-jalan, banyak jalan-jalannya sih) ke Lombok dan Gili Trawangan. Rekor bagi saya bisa menuliskan 3 ebook pada tahun 2009, dengan ebook terakhir bercerita tentang wisata ke Lombok dan Gili Trawangan ini.

Saat itu cukup banyak teman-teman blogger yang akhirnya menelurkan buku baru. Salah satu yang saya kagumi adalah Ollie, yang entah sudah berapa puluh buku yang ia tulis. Rasanya nggak afdol juga ya kalau nggak pernah bikin buku. Tahun 2010 pun saya akhirnya berhasil membuat 3 buku, semuanya berhubungan dengan yang pernah saya tuliskan di blog. Ada E-narcism, F-Marketing, dan Twitter/Plurk. Dibilang sukses sih nggak juga ya, karena yang laku pun sebetulnya nggak banyak. Namun setidaknya saya punya portfolio baru di sini.

Tahun 2011 sebagai blogger, saya pun diajak oleh Acer menjadi salah satu Acer Friendsnya. Berkat ngeblog ini juga, saya pun menjadi salah satu orang yang pertama merasakan memegang Acer Iconia Tab, yang masih saya pakai hingga saat ini. Beberapa kali juga saya diminta untuk berbagi cerita di seminar dan workshop, membahas tentang topik yang sering saya ceritakan di blog. Beberapa kali sebagai blogger, saya diundang untuk hadir dalam beragam acara yang bisa membantu memperluas networking saya. Yang paling penting, berkat ngeblog, teman-teman saya pun semakin banyak.

Hingga saat ini saya masih mencoba untuk terus ngeblog, meski sejujurnya semangat ngeblog ini kadang ada, kadang menghilang. Apalagi blog Media-Ide.com ini membahas hal yang niche, yang kadang membuat saya sering kehabisan bahan ulasan.

Saya kini punya 3 blog lain di luar Media-Ide.com. Masing-masing blog ini menyalurkan obsesi saya menulis di bidang yang berbeda-beda. Blog mataku.media-ide.com lebih membahas tentang kecintaan saya terhadap fotografi. Blog laindunia.media-ide.com berisikan cerita-cerita pendek, yang kebanyakan bergenre flash fiction. Lalu yang baru saya hidupkan adalah blog ini, pitra.media-ide.com, yang berisikan cerita personal yang saya alami. Saya juga masih menulis ebook, dan ebook terakhir saya bercerita tentang perjalanan saya ke negeri Shenzhen, Hong Kong, dan Macau.

Berkat ngeblog, saya pun bisa eksis di dunia online (plus berkat Twitter juga sih). Terima kasih untuk teman-teman blogger yang terus menginspirasi saya (dan memaksa saya) untuk menulis hingga saat ini. Semoga blog Media-Ide.com dan anak-anaknya masih bisa eksis hingga tahun-tahun mendatang.

Rambut Gondrong Masa Lalu

Hari ini (sejak kemarin sih) para kaum adam di Twitter kembali bernostalgia. Banyak loh dari kita (termasuk saya sendiri) yang penah berambut gondrong. Halah, masa lalu banget ini sih.

Petualangan saya berambut gondrong dimulai semenjak saya ikutan OS MAD (Masa Adaptasi Diri) di IMA-G ITB (Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma – ITB), himpunan tempat saya bernaung kala kuliah dulu. Saat OS MAD, rambut saya sempat diacak-acak, hancur lah pokoknya. Mau nggak mau, setelah acara berakhir, saya harus membotakkan diri. Plontos. Banget.

Mumpung masih kuliah, saya juga ingin dong merasakan enak/nggak enaknya berambut gondrong. Selama dua tahun saya pun nggak memotong rambut saya, kecuali sekedar merapihkan saja. Hasilnya, rambut saya pun panjang hingga sepunggung. Anehnya, rambut saya ini aslinya lurus. Namun begitu memanjang hingga leher, mulai mengikal.

Jadi kalau dulu di jurusan ada “pertempuran” antara para pria berambut lurus dan berambut keriting, maka saya pun hanya bisa terjebak di tengah-tengah. Untunglah saya baik hati dan tidak sombong, dan tidak membeda-bedakan teman berdasarkan panjang dan bentuk rambutnya. Ini apaan sih?

Masa-masa keemasan berambut gondrong pun berakhir menjelang saya memasuki Tugas Akhir. Ya iyalah, bisa digeplak dosennya kalau pas sidang tugas akhir rambut saya masih gondrong. Sebelum saya dan teman-teman saya berpisah dengan rambut kami masing-masing, maka kami pun mengambil sebuah keputusan yang sangat penting. Kami harus berfoto bersama di Jonas Photo!!

Kalau ingat dulu melihat ekspresi mbak fotografernya saat memotret kami semua… Sungguh priceless.

Postingan ini sungguh penting sekali ya?

Oh ya, cek juga ini nih, kumpulan avatar gondrong se-Twitter.

Hai Dina

Hari ini hari terakhir aku melihat dirimu dari dekat. Kamu tak lagi sanggup berbicara. Kamu bahkan mungkin tak tahu kalau aku berada di dekatmu. Kamu mungkin juga tak bisa mendengar seluruh anggota keluargamu duduk di sekitarmu memanjatkan doa. Kain putih tipis sudah membalut wajahmu yang pucat.

Aku lama duduk menatapmu. Mengingat-ingat saat kami semua sekeluarga besar sempat berjalan bersama, makan malam bersama. Ibuku sepupu ayahmu. Memori masa kecilku mengingat saat keluargaku beberapa kali berkunjung ke rumahmu. Memori masa kecilku masih mengingat saat aku iseng mengganggu dan menjahili kamu. Memori yang sudah berlalu berdekade lalu.

Lama sekali aku tak berjumpa denganmu dan keluargamu. Sesekalinya perjumpaan hanyalah saat ada keluarga besar yang menikah. Lucu memang, pertemuan antar-keluarga yang sebelumnya terjadi saat kami semua masih di sekolah dasar, baru kembali berulang saat kami semua sudah lulus kuliah. Canggung di awal memang, namun keceriaan memori masa kecil ternyata bisa membangkitkan percakapan yang menarik, tidak sekedar hampa tanpa pesan.

Aku ingat saat pernah mengajakmu pergi. Sekedar ngobrol antara saudara sepupu yang sudah beranjak dewasa. Jelas banyak sekali yang berbeda, yang membentuk kehidupan kami masing-masing selama puluhan tahun, yang membuat kita tak kehabisan bahan percakapan. Kamu tahu, pertemuan yang sudah terjadi sekitar 4-5 tahun lalu ini masih sangat kuingat, seperti masih terjadi kemarin sore.

Sejak terakhir kita ngobrol lama itu, kita tak sempat bertemu lama lagi. Perjumpaan kita selanjutnya adalah saat kamu datang ke pernikahan adikku 4 tahun lalu. Kita sempat berbincang sejenak kala itu.

Sekarang kamu sudah meninggalkan kami semua, dalam usiamu yang masih muda. Aku tak akan punya kesempatan lagi untuk ngobrol dan tertawa bersamamu. Aku sungguh menyesal karena kita jarang bertemu dan bercerita. Namun kini aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang bisa aku bantu hanyalah doa. Doa agar kamu tetap tersenyum di sana, tertawa di sana, dan mendapatkan kebahagiaan abadi di sana.

Selamat jalan, Dina. Selamat jalan saudariku…

41 yang tiada