Bee dan Yohana

Hari Minggu kemarin saya bersama beberapa teman ikut meramaikan event hunting di Taman Langsat, untuk penggalangan dana bantuan untuk seorang rekan fotografer bernama Denta Ramdani Siregar. Saya baru pertama kalinya ikutan event hunting bertema seperti ini. Fotografer yang ikutan diminta untuk memberikan donasi minimal Rp. 100.000,00. Banyak model yang juga berdatangan. Mereka berpartisipasi menjadi model tanpa dibayar. Semua dana yang terkumpul akan langsung didonasikan ke yang bersangkutan. Dengar-dengar dari salah satu model, katanya berhasil terkumpul dana 40 juta rupiah.

Sepanjang hari Minggu itu, sejak jam 10:00 hingga sore hari, banyak model dan fotografer yang datang dan pergi. Silakan datang dan lakukan aktivitas foto, tanpa ada batasan waktu dan sesi. Sepanjang yang difoto masih kuat, dan yang memotret juga masih kuat, silakan saja lanjut terus. Saya sendiri hanya memotret hingga jam 13:00. Saat saya pulang, masih terlihat banyak sekali fotografer dan model tersebar di beragam penjuru Taman Langsat.

Meski banyak model yang bisa dipilih, tidak banyak yang kena di hati saya untuk memotretnya. Namanya motret suka-suka kan tetap dong pakai hati. Kalau nggak sreg, nanti motretnya jadi nggak niat. Hahaha..

IMG_7836

IMG_7849

IMG_7884

Akhirnya saya menemukan satu model yang saya sangat suka karakteristik wajahnya. Ia menyebut namanya Bee. Lumayan banyak shot saya habiskan untuk memotret Bee. Anaknya juga asyik. Senyum dengan gigi yang terlihat sedikit itulah yang bikin saya (dan juga banyak fotografer lain) tertarik untuk memotretnya. Nama lengkapnya Beckha Widya. Ia baru kembali lagi di dunia model setelah vakum 2 tahun.

Usai cukup banyak memotret Bee, saya kembali berkeliling. Hingga akhirnya saya melihat beberapa fotografer melakukan pemotretan di salah satu jembatan kecil di taman. Nama modelnya Yohana Kristiani. Senyum tipis dan tubuhnya yang langsing memang menarik perhatian. Apalagi ia sempat mengenakan kacamata saat pemotretan. Siapa sih yang nggak luluh lihat perempuan manis berkacamata?

IMG_8017

IMG_7992

IMG_8029

Saya menggunakan lensa manual Helios untuk sebagian besar shot pemotretan. Hitung-hitung buat nambah jam terbang penggunaan. Repotnya kamera Canon adalah sulit melihat ketajaman fokus melalui viewfinder. Orang-orang sih menyarankan untuk melihatnya melalui live view dan di-zoom 10x. Kalau untuk motret landscape yang diam saja sih nggak masalah pakai cara itu, tapi kalau untuk motret subjek yang bergerak kan repot kalau harus pakai live view. Akhirnya saya mengandalkan mata saja. Hahaha alhasil ya begitu deh, ada banyak yang tidak fokus. Paling sulit itu mengukur fokus bila subjek berada lebih dari 2 meter, karena nggak terlalu jelas di viewfinder.

Untuk seluruh foto Bee bisa dicek di album Flickr ini, dan untuk seluruh foto Yohana juga bisa dicek di album Flickr ini.

The Walk

See u bye bye Malang ??? #Novichibi #cherrybelleaudition2015 #vscocam ? by: @pitra

A photo posted by Novi Chibi (@noviherlina) on

She walks in beauty, like the night
Of cloudless climes and starry skies;
And all that’s best of dark and bright
Meet in her aspect and her eyes;
Thus mellowed to that tender light
Which heaven to gaudy day denies.

One shade the more, one ray the less,
Had half impaired the nameless grace
Which waves in every raven tress,
Or softly lightens o’er her face;
Where thoughts serenely sweet express,
How pure, how dear their dwelling-place.

And on that cheek, and o’er that brow,
So soft, so calm, yet eloquent,
The smiles that win, the tints that glow,
But tell of days in goodness spent,
A mind at peace with all below,
A heart whose love is innocent!

Lorn Byron, 1814 (from Hebrew Melodies, 1815)

Memotret di Kegelapan

Semalam saat makan-makan bareng usai event audisi Cherrybelle di Malang Town Square, ada kebutuhan untuk foto-foto dan rekaman video, karena ada yang barusan ulang tahun. Masalahnya, kita semua makan di ruang luar, dengan cahaya yang seadanya. Nggak mungkin motret dan rekam video dalam kondisi ini. Nggak akan kelihatan apa-apa. Saya sih bisa pakai flash (meski sebetulnya saya menghindari banget pakai flash). Namun tetap saja, untuk video akan butuh lampu tambahan.

Untunglah pihak pengelola bersedia meminjamkan lampu yang bisa dipasang fleksibel. Haha baguslah, jadinya nggak gelap total. Saya tetap memotret tanpa flash.

Foto-foto ini pasti akan diminta saat itu juga untuk di-share di social media. Jadi saya perlu mengantisipasi tone warnanya. Untuk lebih mengurangi warna yang terlalu jingga (yang biasanya terjadi kalau motret malam), saya set white balance di tungsten light 3200K. Biasanya sih saya selalu pakai AWB (auto white balance) lalu saya edit belakangan di Lightroom. Namun karena ini diminta cepat, dan saya nggak bawa notebook, antisipasi awal sebaiknya sudah saya lakukan di kamera. ISO saya set di 8000 dan f 4. Saya usahakan supaya masih bisa memotret di kecepatan 1/125. Untuk di social media, saya nggak terlalu memikirkan noise, karena toh nggak akan terlalu kelihatan untuk ukuran kecil. Setelah foto saya pindahkan ke ponsel, saya edit tone dan angkat sedikit warnanya menggunakan aplikasi VSCO.

Hasilnya seperti apa? Ini beberapa di antaranya.

Update: berikut ini video ulang tahun Angel Chibi 🙂

sen·su·ous

“I believe in the imagination. What I cannot see is infinitely more important than what I can see.” ~Duane Michals, Real Dreams.

That quote probably would represent the photo galleries below. Taken few months ago on the islands at northern part of Jakarta. See more of them at this Flickr gallery. You need to have a Flickr account first before accessing the gallery. And please check your back, don’t let your boss or your parents see this one.

IMG_5429

IMG_7203

IMG_7105

IMG_5587

Bermain dengan Lensa Helios

Sekitar 2 minggu lalu saya iseng beli mainan baru (halah, iseng). Mainan itu berjudul lensa manual Helios 44-2 58 mm. Lensa lama buatan Rusia ini memang sudah tidak diproduksi lagi. Orang biasanya mencari dari lapak barang second. Saya menemukan lensa ini di toko MasterLensa.com di STC Senayan lantai 1. Ternyata di sana banyak sekali dijual lensa manual second. Plus, kalau kalian butuh lensa manual kalian diservis, juga bisa datang ke sana.  Saya membeli lensa Helios 44-2 58 mm seharga Rp. 800.000,00 + mount + cap, sehingga total Rp. 900.000,00.

IMG_20150926_115451_HDR

Hari Sabtu lalu saya mencoba lensa ini dengan memotret Kei Andinta. Fokus lensa Helios dilakukan dengan cara manual, alias berdasarkan kepekaan mata melihat di viewfinder. Tidak ada motor yang biasanya membantu menemukan titik fokus saat memotret. Susah? Hahaha… Banget, kalau memang belum terbiasa. Alhasil, di awal-awal banyak jepretan saya yang tidak fokus.

Lensa Helios ini memang murni lensa manual, dengan segala ketidaksempurnaannya. Namun ketidaksempurnaan ini yang malah membuatnya menjadi unik. Misalnya, saat menampilkan bokeh di background, perhatikan tepian hasil foto deh. Akan terlihat agak swirly (berputar) bentuk bokeh-nya. Atau kadang suka terlihat bocoran cahaya saat memotret subjek dengan kondisi backlight.

Kemarin sore saya sempat mampir ke Frisian Flag Cafe, sebuah kafe temporer untuk promosi Susu Bendera, di halaman depan fX Sudirman. Saya sempat memotret beberapa objek di sana dengan menggunakan lensa Helios ini. Galeri keseluruhan foto-foto di Frisian Flag Cafe ini bisa dicek di galeri Flickr ini.

IMG_7601

IMG_7611

IMG_7606

IMG_7615

IMG_7599

IMG_7616

IMG_7619