#MotretIdol

Beberapa hari lalu saya mendapat badge dari wordpress.com kalau saya sudah 8 tahun sejak saya mendaftarkan id saya di sana (meski saya sebenarnya sudah ngeblog sejak Juli 2005). Orang-orang dulu banyak mengenal saya karena blog media-ide.com yang membahas seputar dunia kreatif dan social media. Hahaha jangan dicek blognya, sekarang sudah nggak pernah di-update lagi.

Sejak 2013 saya melihat sudah makin banyak praktisi digital dan social media. Banyak dari mereka yang lebih banyak punya ilmu dibanding saya. Lebih baik menyediakan tempat buat mereka bertanya dan berbagi. Makanya untuk topik social media, saya sudah jarang (baca: malas) menulis. lebih cenderung mengajak mereka untuk bergabung di Facebook Group Social Media Strategist Club saja. Hahaha biar “memaksa” mereka yang pintar-pintar untuk mau berbagi.

Saya sempat vakum ngeblog karena saya bingung mencari tema baru, di luar dunia social media. Hingga akhirnya saya kepikiran untuk mengembangkan kembali blog personal saya ini saja, namun dengan topik yang saya suka dan saya jalani setiap minggunya, memotret stage. Seperti teman-teman tahu, sudah lebih dari 3 tahun saya suka memotret stage, khususnya idol. Blog ini pun saya benahi, saya rapihkan kembali kategori dan tag. Saya rapihkan juga semua konten foto saya di Flickr. Instagram saya yang sudah vakum lama pun saya hidupkan kembali, dengan fokus foto-foto yang saya anggap terbaik saat memotret.

Sempat ngobrol dengan Alex @aMrazing di Twitter mengenai konten Instagram, dan dia menyarankan saya untuk pakai hashtag #motretidol saja, karena toh memang saya sukanya memotret idol. Hashtag ini masih saya pakai terus di Instagram. Jangan berpikir sempit kalau kata “idol” itu harus JKT48 ya. Itu hanya bahasa marketing mereka saja. Buat saya, “idol” itu ya idola, artinya bisa siapa saja yang memang saya sukai.

Lanjut baca tentang #motretidol

Sesi Memotret Cherrybelle

Minggu lalu saat libur Pilkada saya tidak kemana-mana. Di Jakarta kan memang nggak ada Pilkada. Seharian itu saya ngeberesin sesuatu di rumah. Begitu sore selesai, saya menyusul teman-teman saya ke studio Trans 7 di Mampang untuk memotret Cherrybelle saat shooting program Hitam Putih. Ternyata ada miskomunikasi. Jadwal yang kami kira dimulai jam 6 sore, ternyata baru jam 8 malam. Ya sudahlah, kami duduk-duduk nongkrong di sana bareng teman-teman fotografer dan beberapa staf CBM.

Pak Irza, salah satu petinggi CBM tiba-tiba mengajak member Cherrybelle satu-satu keluar studio. Lalu mengajak kami untuk memotret mereka. Waduh, jarang-jarang bisa dapat kesempatan seperti ini. Pertama Yoeriche, lalu menyusul Mutiara dan Tata. Lalu terakhir Onad, Miftah, Ellen, dan Novi. Sayangnya saat sesi terakhir ini, langit sudah semakin gelap. Saya sendiri tidak membawa flash, karena memang saya nggak menyiapkan diri untuk sesi foto seperti ini. Di sesi terakhir ini akhirnya saya tidak memotret sama sekali.

Berikut ini beberapa fotonya. Untuk lebih lengkapnya silakan cek galeri Flickr ini.

IMG_4888

Masih ada foto-foto lainnya loh

Lebih Suka Lihat Foto Siapa?

Sore dua hari lalu saya bikin poll di Twitter melalui akun @anakcerdas, akun yang selalu saya pakai untuk berbagi foto idol. Sepanjang sejarah saya motret idol, bisa saya kategorikan menjadi 4 macam: Cherrybelle, Teenebelle, JKT48, dan para idol indie yang biasanya perform di event Jejepangan. Pokoknya sepanjang waktunya sempat, dan lokasinya mudah diakses, akan saya usahakan untuk datang.

Lalu bagaimana hasilnya? Hahaha ternyata mayoritas yang mengikuti akun saya itu masih kebanyakan fans JKT48.

Herannya, meski JKT48 mendominasi, yang mampir ke notifikasi untuk melakukan retweet atau likes untuk foto JKT48 tidak terlalu banyak. Masih lebih banyakfans Cherrybelle dan Teenebelle yang kebanyakan suka menambahkannya dengan berbagai komentar.

Mari kita bahas satu-satu tentang poll di atas

Mencoba Kamera 360 Derajat

Yang saya maksud di sini bukan aplikasi Camera 360 yang bikin semua selfie jadi cantik ya. Kamera 360 derajat yang saya maksud adalah hemispheric camera, alias kamera yang bisa menangkap gambar dengan sudut super lebar. Anggaplah seperti kita menjepret foto dalam bentuk panorama yang disambung-sambung, tapi dengan kamera ini cukup dengan satu jepretan saja. Selain itu, kamera juga bisa dipakai untuk merekam video dengan sudut yang super lebar. Format video semacam ini sekarang sudah didukung oleh YouTube dan Facebook. Saat kita melihat videonya, kita bisa menggeser-geser sudut pandang hingga 360 derajat keliling.

Kamera semacam ini sebetulnya sudah lama ada, namun harganya masih sangat mahal. Versi consumer dengan harga masuk akal yang saat ini ada hanyalah keluaran dari Kodak (seri Pixpro SP360) dan Ricoh (seri Theta m15 dan Theta S). Seri Pixpro SP360 hanya merekam setengah bola (180×360), sementara Ricoh bisa merekam satu bola penuh (360×360). Karena ini masih teknologi baru, jangan terlalu berharap bisa mendapatkan kualitas video HD untuk versi consumer-nya, meski lumayan memadai untuk dokumentasi seru-seruan.

DSCF3514

Bagaimana hasil rekamannya? Ayo baca terus –

Lensa Memotret

Semakin sering memotret, semakin lama pasti akan semakin merasa butuh lensa baru. Biasanya mulai dengan lensa kit, lalu setelah tahu limitasinya, mulai mencari lensa lain yang sesuai kebutuhan. Untuk yang suka memotret landscape, pasti akan mencari lensa wide. Sementara seperti saya yang suka memotret stage pasti akan mulai mencari lensa tele. Yang jelas, saya selalu mencari tahu lebih dulu limitasi lensa yang saya punya, supaya saya tahu lensa seperti apa yang akan saya cari berikutnya.

Saya pengguna kamera Canon, jadi yang akan saya share di sini adalah lensa Canon atau yang mendukung Canon.

1. Canon EF 24-105mm f/4L IS USM

Ini lensa wide/zoom yang pertama yang saya pakai ke manapun saya pergi. Travelling, liburan, dokumentasi, selalu pakai ini. Dengan 24 mm-nya, saya bisa mengambil gambar cukup lebar, memadai untuk memotret ruang luar. Hanya saja saya sering mengingatkan diri sendiri supaya tidak memotret close up pada saat di wide, karena distorsinya tidak terlalu enak. Dengan zoom 105 mm-nya sangat memadai bila ingin memotret medium close up seseorang. Bila saya di depan panggung, lensa ini juga bisa dipakai untuk memotret wide situasi di panggung.

Canon EF 24-105mm f/4L IS USM

2. Canon 70-200mm f/4L IS USM

Ini lensa andalan saya sekarang. Paling sering saya bawa kalau saya memotret panggung. Sebenarnya lebih enak kalau punya yang f/2.8L, tapi harga barunya terlalu mahal buat kantong saya. Jadi pilihannya jatuh ke f/4L. Lagi pula yang f/2.8L jauh lebih berat, dan bikin pegal kalau dibawa terlalu lama. Perbedaan mendasar pastinya ada di bokeh yang didapatkan karena lensa f/2.8L punya depth of field yang lebih tipis daripada f/4L. Baik lensa f/2.8 atau f/4L sangat berguna untuk memotret panggung dengan kondisi pencahayaan temaram. Apalagi kalau yang difoto adalah JKT48 yang membutuhkan kecepatan minimal 1/250, karena aksi gerak cepat mereka di panggung. Auto focus lensa ini juga cepat, bahkan di tempat yang cukup gelap. Sangat membantu saat memotret aksi performer di panggung yang suka berpindah-pindah dengan cepat.

Canon 70-200mm f/4L IS USM

3. Canon EF 40mm f/2.8 STM

Lensa fix 40mm ini biasanya saya pakai kalau memotret model. Kadang saya bawa juga sih kalau jalan-jalan di Jakarta. Ringan banget soalnya. Umumnya saya selalu pakai di f/2.8 demi mendapatkan depth of field tipis di wajah (atau bagian badan lainnya yang saya tujukan fokusnya). Bokehnya juga bagus, apalagi kalau dipakai untuk memotret di malam hari. Ukuran 40mm cukup memberikan ruang lebar, namun tidak sampai membuat bagian tubuh model terdistorsi seperti yang terjadi saat saya pakai 24mm (cek point nomor satu di atas).

Canon EF 40mm f/2.8 STM

4. Samyang 8mm f/2.8 UMC Fisheye CS II

Lensa fisheye bukan hal yang wajib dimiliki sih. Kebutuhannya murni sebagai gimmick. Nggak enak kalau melihat semua hasil foto menggunakan fisheye. Namun menarik kalau ada 2-3 foto menggunakan fisheye di antara kumpulan foto umum lainnya. Lensa Samyang ini manual, alias tidak ada motor focus-nya, namun memiliki hasil yang bagus dengan harga yang masih masuk akal. Perlu diperhatikan saat memasang lensa ini di body kamera full frame, karena akan terlihat vignette dan chromatic abrassion di setiap sudutnya. Bagi saya, hal ini tidak terlalu masalah, karena toh bagian itu masih bisa saya crop.

Samyang 8mm f/2.8 UMC Fisheye CS II

5. Helios 44-2 58mm f/2

Lensa fix manual ini juga masuk kategori gimmick sih. Keunikan lensa ini adalah menampilkan bokeh yang berbentuk swirly. Biasanya akan terlihat jelas saat ada pepohonan di background. Mengenai lensa ini sudah pernah saya tuliskan di postingan ini.

Helios 44-2 58mm f/2

6. Canon EF 70-300mm f/4.5-5.6 DO IS USM

Sebelum saya punya lensa nomor 2 di atas, lensa tele inilah yang selalu menemani saya saat memotret panggung. Lensa DO (Defractive Optics) ini ringan, karena menggunakan teknologi yang berbeda dengan IS. Sayangnya lensa ini kurang populer, entah kenapa. Buat saya yang suka menghadapi panggung yang pencahayaannya temaram, f/4.5-5.6 kurang memadai. Saya harus terpaksa mengorbankan speed atau menaikkan ISO hingga 6400 (itu pun kadang belum cukup). Keuntungannya lensa ini punya jangkauan 300mm. Lensa ini akhirnya hanya akan saya pakai bila kondisi pencahayaan sangat memadai dan jarak ke subjek pemotretan jauh.

Canon EF 70-300mm f/4.5-5.6 DO IS USM