Arah Kisah Kita

Hari Jumat minggu lalu, saya dan beberapa rekan blogger diundang ke event Opera Indonesia. Brand ini baru saja merilis film pendek di YouTube berjudul Arah Kisah Kita. Pemerannya Genrifinadi Pamungkas (Okta Andromedha, penulis buku) dan Clairine Clay (Olivia Samudera, pencinta sejarah). Film pendek yang disutradarai Salman Aristo, dan ditulis oleh Gina S. Noer dan Diva Apresya ini terasa banget digarap serius. Meski sudah muncul di YouTube sejak beberapa minggu, namun saya baru sempat lihat di hari itu.


Lanjut lihat sekuelnya

#MotretIdol

Beberapa hari lalu saya mendapat badge dari wordpress.com kalau saya sudah 8 tahun sejak saya mendaftarkan id saya di sana (meski saya sebenarnya sudah ngeblog sejak Juli 2005). Orang-orang dulu banyak mengenal saya karena blog media-ide.com yang membahas seputar dunia kreatif dan social media. Hahaha jangan dicek blognya, sekarang sudah nggak pernah di-update lagi.

Sejak 2013 saya melihat sudah makin banyak praktisi digital dan social media. Banyak dari mereka yang lebih banyak punya ilmu dibanding saya. Lebih baik menyediakan tempat buat mereka bertanya dan berbagi. Makanya untuk topik social media, saya sudah jarang (baca: malas) menulis. lebih cenderung mengajak mereka untuk bergabung di Facebook Group Social Media Strategist Club saja. Hahaha biar “memaksa” mereka yang pintar-pintar untuk mau berbagi.

Saya sempat vakum ngeblog karena saya bingung mencari tema baru, di luar dunia social media. Hingga akhirnya saya kepikiran untuk mengembangkan kembali blog personal saya ini saja, namun dengan topik yang saya suka dan saya jalani setiap minggunya, memotret stage. Seperti teman-teman tahu, sudah lebih dari 3 tahun saya suka memotret stage, khususnya idol. Blog ini pun saya benahi, saya rapihkan kembali kategori dan tag. Saya rapihkan juga semua konten foto saya di Flickr. Instagram saya yang sudah vakum lama pun saya hidupkan kembali, dengan fokus foto-foto yang saya anggap terbaik saat memotret.

Sempat ngobrol dengan Alex @aMrazing di Twitter mengenai konten Instagram, dan dia menyarankan saya untuk pakai hashtag #motretidol saja, karena toh memang saya sukanya memotret idol. Hashtag ini masih saya pakai terus di Instagram. Jangan berpikir sempit kalau kata “idol” itu harus JKT48 ya. Itu hanya bahasa marketing mereka saja. Buat saya, “idol” itu ya idola, artinya bisa siapa saja yang memang saya sukai.

Lanjut baca tentang #motretidol

Different Values from Different Communities of My Followers

Rasanya Dapat Mention Bertubi Itu…

Pada tanggal 9 Juni kemarin, saya untuk kedua kalinya dapat “hadiah” dari @MentionKe. Seperti biasa, tweet kiriman dari akun itu, dengan menempelkan akun Twitter saya membuat tab mention saya di Tweetdeck dan Tweetbot banjir. Seperti dulu pertama kalinya saya dapat “hadiah” tanggal 10 Januari lalu, efek mention nggak berhenti berhari-hari. Bahkan setelah 11 hari berlalu, saya masih saja menerima efeknya. Untungnya saya tinggal mute keyword saja, biar nggak muncul lagi di tab mention saya.

Versi 10 Januari:

Versi 9 Juni:

Namun seumur-umur saya di Twitter, belum pernah saya dapat kejadian yang terjadi 18 Juni kemarin. Ceritanya pagi itu saya baca koran Kompas seperti biasa. Ada artikel yang menarik perhatian saya, tentang hitung-hitungan subsidi BBM. Lalu saya cari versi online-nya, dan kebetulan Kompas.com pun menyediakan artikel serupa. Seperti biasanya kalau saya melihat berita menarik, saya akan share dong di Twitter.

Ini tweetnya:

Ternyata banyak yang tertarik dengan tweet saya itu lalu melakukan Retweet (baik resmi maupun manual) dan menekan Favorit. Jujur saja, ini mungkin tweet pertama saya yang bisa mendapatkan lebih dari 500 Retweet resmi dan 125 Favorit. Saya nggak menghitung berapa banyak yang melakukan Retweet manual.

Saya kira, mungkin karena momennya tepat dan beritanya relevan, tweet ini mendapat banyak Retweet. Lalu saya cek juga ternyata juga banyak orang yang men-tweet tautan yang sama, namun tidak mendapatkan Retweet sebanyak ini. Di sini saya mengetahui kalau cara penulisan tweet menjadi penting untuk meraih perhatian orang. Kalau di iklan sih namanya Call to Action ya, yang akhirnya memicu orang untuk melakukan engagement terhadap iklan. Dengan memasukkan kata “mahasiswa”, “demo”, dan “melek” memicu orang untuk melakukan engagement.

Hal lain yang saya rasakan saat mendapat hujan Retweet ini adalah mendapatkan respon dari akun-akun Twitter yang emboh itu siapa lalu memberikan argument berbeda terhadap tautan saya. Bahkan sampai ada yang mengasih rentetan kultwit ke saya. Saya sih cenderung mengabaikan semua komentar dari mereka. Lagi pula saya hanya berbagi tautan, dan nggak juga menguasai topik yang dibahas. Nggak beda dengan seperti biasanya saya berbagi tautan video YouTube atau info tentang JKT48. Lucunya pula, saat saya mengecek beberapa akun yang rajin menguliahi saya itu, akun-akun itu relatif baru dan belum punya banyak follower.

Mungkin ini yang dirasakan para politisi di Twitter kali ya? Menyampaikan tentang suatu hal, lalu dihujani banyak kritikan dan kultwit. Capek nggak sih? Hihi tapi itu pilihan mereka sendiri saat berada di Twitter. Saya sih nggak kebayang kalau harus melayani mereka yang mengkritik dan menghujat.

Pilihan saya di Twitter? Hidup damai saja, karena pekerjaan di dunia nyata sudah cukup bikin stres. Nggak ingin berdebat. Twitter buat saya adalah sumber informasi, hiburan, dan mencari teman sebanyak mungkin. Bukan ngajak perang atau debat nggak jelas dengan orang yang tidak jelas identitasnya.

Salingsilang yang Bikin Iri Hati

Semua pasti sudah tahu kan, kalau salingsilang.com tutup? Pengumuman resminya bisa dibaca di blognya. Meski saya sudah lama kenal dengan pendiri dan pengelolanya, tapi jangan tanya saya mengapanya ya. Lebih baik langsung tanya saja ke pengelolanya.

Pastinya sulit membuat segala banyak aktivitas yang mereka lakukan, dari mengembangkan banyak website jaringan komunitas, membuat blog yang merekap kejadian social media lokal, membuat SXIndeks, hingga menyelenggarakan event besar seperti Social Media Festival, sembari menjaga bisnis agar tetap hidup. Saya yang melihat dari luar saja selalu bingung dan bertanya-tanya, model bisnisnya bagaimana sih? Apakah melalui event? Apakah nanti melalui traffic ke website jaringan komunitas mereka? Apakah dari berjualan data di SXIndeks? Semua pertanyaan itu hingga sekarang belum juga terjawab.

Sejak awal dulu muncul Politikana, Ngerumpi, Bicara Film, dan banyak lagi lainnya, saya mencoba kontribusi sebisa saya. Menyumbang konten, dengan tujuan menjalin network di sana, meski akhirnya tidak bisa banyak juga (mengisi konten di blog sendiri saja susah hihihi..).

Dulu kala, di blog media-ide.com, saya pernah membuat ranking Facebook brand page Indonesia. Dengan keterbatasan resource (alias hanya saya sendiri), saya membuatnya dalam bentuk infografis sederhana dengan data yang terbatas pula. Menyenangkan rasanya setelah itu Enda di Salingsilang memprakarsai pembuatan direktori Facebook page lokal yang dibagi dalam beberapa kategori.

Ada sedikit keirian sih saat itu, hihihi, tapi saya melihatnya dari sisi positif saja. Direktori Facebook page lokal itu bisa jauh lebih bermanfaat bagi banyak pemerhati social media. Kita bisa melihat pertumbuhan fans setiap Facebook page itu setiap hari. Sesuatu yang kini dibuat oleh Socialbakers di luar dengan lebih baik lagi. Saya juga yakin Socialbakers mengumpulkan data Facebook Page Indonesia pun dari situs Salingsilang, karena tidak mungkin mereka bisa mengkategorikan dan mengetahui brand Indonesia tanpa ada masukan dari orang Indonesia sendiri.

Hal lain yang bikin saya senang (dan juga iri) adalah keberadaan Obrolan Langsat (Obsat) yang digelar rutin oleh Salingsilang. Sebelum itu saya dan teman-teman setiap bulannya menggelar event kopdar membahas topik berbau digital dan social media melalui FreSh. Kalau FreSh dulu cuma bisa bikin 1-2 bulan sekali, Obsat malah bisa bikin 2 kali seminggu, dengan topik yang jauh lebih beragam.

Sejak setahun belakangan ini, saya dan teman-teman di FreSh sudah tak sempat lagi mengurus event bulanan, namun saya bersyukur tempat semacam Obsat masih tetap ada. Orang online di Indonesia butuh kopdar dan bertemu muka, dan saya senang kalau Obsat bisa ada dan bertahan. Semoga dengan tutupnya Salingsilang, tidak membuat kegiatan Obsat hilang.

Hal terakhir yang juga membuat saya tambah iri adalah keberadaan salingsilang.com. Hahahaha bagaimana tidak, sejak tahun 2005 saya menulis blog media-ide.com, dan selama beberapa tahun belakangan banyak membahas kasus social media lokal. Lalu tiba-tiba salingsilang.com muncul, membahas banyak artikel dan kejadian yang terkait dengan social media lokal setiap harinya, sementara saya sendiri hanya sanggup menulis paling banyak 8 artikel sebulan (itu pun belum tentu terwujud).

Di sisi lain saya senang juga dengan keberadaan salingsilang.com. Mereka punya resource yang banyak, yang bisa memantau banyak kejadian di social media yang pastinya luput dari pengamatan saya. Dari yang penting banget sampai yang nggak penting rajin ditulis. Yang menarik juga adalah keahlian para penulisnya. Awalnya semua tulisan di salingsilang.com terasa dangkal, karena hanya berupa liputan saja. Semakin ke belakang, semakin banyak penulis yang bisa mengulas lebih dalam kejadiannya. Tulisan menjadi semakin menarik untuk diikuti.

Tahu nggak, saat saya menyusun salindia Social Media Landscape 2012 itu, yang jadi rujuakan pertama kali adalah salingsilang.com. Saya menelusuri ulang dari bulan Januari 2012 hingga tulisan terakhir, ada kejadian menarik apa yang bisa saya masukkan dalam salindia. Setelah tahu, saya lanjutkan dengan membahasnya lebih dalam, dan menerjemahkannya dalam salindia.

Sekarang semua informasi salingsilang.com dan website keluarnya sudah ditutup. Saya berterima kasih sekali untuk semua informasi dan kesempatan yang diberikan. Yang berlalu sudahlah berlalu. Pastinya akan masih banyak lagi situs informasi social media lagi yang pasti akan bermunculan. Hilangnya satu situs adalah kesempatan bagi situs lainnya untuk maju mengisi. Sekarang, apakah Anda mau ikut mengisi kekosongan itu?