Berkreasi di Steller

Blog ini kok makin jarang update ya, padahal tulisan di draft menumpuk. Ternyata waktu juga yang menjadi batasannya. Hidup aktif di social media setelah dipotong waktu produktif untuk kerja, ternyata tidak banyak. Haha itu pun masih harus dialokasikan untuk keluarga dan hobi saya lainnya.

Sekarang waktu yang tidak banyak itu dipotong lagi dengan kehadiran Steller. Aplikasi ini baru dirilis di Indonesia seminggu yang lalu. Terima kasih untuk kak Pinot dan kak Dita yang rajin mempromosikan aplikasi menarik ini.

Sebenarnya fungsi bercerita dari Steller ini nggak jauh berbeda dengan Slideshare. Hanya saja, di Steller kita bisa membuatnya sendiri, sementara Slideshare mengutamakan hanya pada penyajian akhirnya. Steller telah menyiapkan beberapa template dengan desain font dan grafis yang menarik. Pengguna bisa mengunggah gambar, video, atau sekedar bercerita dengan teks. Saat ini aplikasi ini tersedia resmi di Appstore (untuk iOS) dan masih beta untuk Android. Saya yang pengguna Xiaomi Mi3 masih belum bisa menggunakannya.

steller01
Lanjut baca cerita tentang Steller

Alasan Penyebaran Hoax

Kalau dulu penyebaran hoax terjadi di BBM Group, kalau sekarang terjadinya di WhatsApp Group, terutama di group keluarga dan alumni. Kira-kira kenapa ya ini selalu terjadi? Kenapa kejadian ini terjadi pula di banyak group lainnya, yang bahkan tidak bersinggungan dengan group keluarga dan alumni saya?

Kalau saya amati, pelaku penyebaran hoax biasanya mereka yang baru berinteraksi di ranah internet sejak era BBM ada. Masih terbilang baru. Sementara mereka yang juga aktif di social media, suka memantau berita, rajin mencari sesuatu di Google, relatif akan memfilter dulu yang mereka baca. Buat mereka (termasuk saya sendiri) sudah terlalu banyak menerima informasi setiap saat. Mekanisme otak saya secara otomatis akan memfilter yang menurut saya penting. Apalagi saat melihat hasil copas di WhatsApp, saya langsung skip tanpa membaca isinya, karena kebanyakan tidak relevan dengan kebutuhan saya.

hoax pack
Jadi kira-kira apa yang membuat hoax menyebar?

Arah Kisah Kita

Hari Jumat minggu lalu, saya dan beberapa rekan blogger diundang ke event Opera Indonesia. Brand ini baru saja merilis film pendek di YouTube berjudul Arah Kisah Kita. Pemerannya Genrifinadi Pamungkas (Okta Andromedha, penulis buku) dan Clairine Clay (Olivia Samudera, pencinta sejarah). Film pendek yang disutradarai Salman Aristo, dan ditulis oleh Gina S. Noer dan Diva Apresya ini terasa banget digarap serius. Meski sudah muncul di YouTube sejak beberapa minggu, namun saya baru sempat lihat di hari itu.


Lanjut lihat sekuelnya

#MotretIdol

Beberapa hari lalu saya mendapat badge dari wordpress.com kalau saya sudah 8 tahun sejak saya mendaftarkan id saya di sana (meski saya sebenarnya sudah ngeblog sejak Juli 2005). Orang-orang dulu banyak mengenal saya karena blog media-ide.com yang membahas seputar dunia kreatif dan social media. Hahaha jangan dicek blognya, sekarang sudah nggak pernah di-update lagi.

Sejak 2013 saya melihat sudah makin banyak praktisi digital dan social media. Banyak dari mereka yang lebih banyak punya ilmu dibanding saya. Lebih baik menyediakan tempat buat mereka bertanya dan berbagi. Makanya untuk topik social media, saya sudah jarang (baca: malas) menulis. lebih cenderung mengajak mereka untuk bergabung di Facebook Group Social Media Strategist Club saja. Hahaha biar “memaksa” mereka yang pintar-pintar untuk mau berbagi.

Saya sempat vakum ngeblog karena saya bingung mencari tema baru, di luar dunia social media. Hingga akhirnya saya kepikiran untuk mengembangkan kembali blog personal saya ini saja, namun dengan topik yang saya suka dan saya jalani setiap minggunya, memotret stage. Seperti teman-teman tahu, sudah lebih dari 3 tahun saya suka memotret stage, khususnya idol. Blog ini pun saya benahi, saya rapihkan kembali kategori dan tag. Saya rapihkan juga semua konten foto saya di Flickr. Instagram saya yang sudah vakum lama pun saya hidupkan kembali, dengan fokus foto-foto yang saya anggap terbaik saat memotret.

Sempat ngobrol dengan Alex @aMrazing di Twitter mengenai konten Instagram, dan dia menyarankan saya untuk pakai hashtag #motretidol saja, karena toh memang saya sukanya memotret idol. Hashtag ini masih saya pakai terus di Instagram. Jangan berpikir sempit kalau kata “idol” itu harus JKT48 ya. Itu hanya bahasa marketing mereka saja. Buat saya, “idol” itu ya idola, artinya bisa siapa saja yang memang saya sukai.

Lanjut baca tentang #motretidol

Different Values from Different Communities of My Followers