Rasanya Dapat Mention Bertubi Itu…

Pada tanggal 9 Juni kemarin, saya untuk kedua kalinya dapat “hadiah” dari @MentionKe. Seperti biasa, tweet kiriman dari akun itu, dengan menempelkan akun Twitter saya membuat tab mention saya di Tweetdeck dan Tweetbot banjir. Seperti dulu pertama kalinya saya dapat “hadiah” tanggal 10 Januari lalu, efek mention nggak berhenti berhari-hari. Bahkan setelah 11 hari berlalu, saya masih saja menerima efeknya. Untungnya saya tinggal mute keyword saja, biar nggak muncul lagi di tab mention saya.

Versi 10 Januari:

Versi 9 Juni:

Namun seumur-umur saya di Twitter, belum pernah saya dapat kejadian yang terjadi 18 Juni kemarin. Ceritanya pagi itu saya baca koran Kompas seperti biasa. Ada artikel yang menarik perhatian saya, tentang hitung-hitungan subsidi BBM. Lalu saya cari versi online-nya, dan kebetulan Kompas.com pun menyediakan artikel serupa. Seperti biasanya kalau saya melihat berita menarik, saya akan share dong di Twitter.

Ini tweetnya:

Ternyata banyak yang tertarik dengan tweet saya itu lalu melakukan Retweet (baik resmi maupun manual) dan menekan Favorit. Jujur saja, ini mungkin tweet pertama saya yang bisa mendapatkan lebih dari 500 Retweet resmi dan 125 Favorit. Saya nggak menghitung berapa banyak yang melakukan Retweet manual.

Saya kira, mungkin karena momennya tepat dan beritanya relevan, tweet ini mendapat banyak Retweet. Lalu saya cek juga ternyata juga banyak orang yang men-tweet tautan yang sama, namun tidak mendapatkan Retweet sebanyak ini. Di sini saya mengetahui kalau cara penulisan tweet menjadi penting untuk meraih perhatian orang. Kalau di iklan sih namanya Call to Action ya, yang akhirnya memicu orang untuk melakukan engagement terhadap iklan. Dengan memasukkan kata “mahasiswa”, “demo”, dan “melek” memicu orang untuk melakukan engagement.

Hal lain yang saya rasakan saat mendapat hujan Retweet ini adalah mendapatkan respon dari akun-akun Twitter yang emboh itu siapa lalu memberikan argument berbeda terhadap tautan saya. Bahkan sampai ada yang mengasih rentetan kultwit ke saya. Saya sih cenderung mengabaikan semua komentar dari mereka. Lagi pula saya hanya berbagi tautan, dan nggak juga menguasai topik yang dibahas. Nggak beda dengan seperti biasanya saya berbagi tautan video YouTube atau info tentang JKT48. Lucunya pula, saat saya mengecek beberapa akun yang rajin menguliahi saya itu, akun-akun itu relatif baru dan belum punya banyak follower.

Mungkin ini yang dirasakan para politisi di Twitter kali ya? Menyampaikan tentang suatu hal, lalu dihujani banyak kritikan dan kultwit. Capek nggak sih? Hihi tapi itu pilihan mereka sendiri saat berada di Twitter. Saya sih nggak kebayang kalau harus melayani mereka yang mengkritik dan menghujat.

Pilihan saya di Twitter? Hidup damai saja, karena pekerjaan di dunia nyata sudah cukup bikin stres. Nggak ingin berdebat. Twitter buat saya adalah sumber informasi, hiburan, dan mencari teman sebanyak mungkin. Bukan ngajak perang atau debat nggak jelas dengan orang yang tidak jelas identitasnya.

Salingsilang yang Bikin Iri Hati

Semua pasti sudah tahu kan, kalau salingsilang.com tutup? Pengumuman resminya bisa dibaca di blognya. Meski saya sudah lama kenal dengan pendiri dan pengelolanya, tapi jangan tanya saya mengapanya ya. Lebih baik langsung tanya saja ke pengelolanya.

Pastinya sulit membuat segala banyak aktivitas yang mereka lakukan, dari mengembangkan banyak website jaringan komunitas, membuat blog yang merekap kejadian social media lokal, membuat SXIndeks, hingga menyelenggarakan event besar seperti Social Media Festival, sembari menjaga bisnis agar tetap hidup. Saya yang melihat dari luar saja selalu bingung dan bertanya-tanya, model bisnisnya bagaimana sih? Apakah melalui event? Apakah nanti melalui traffic ke website jaringan komunitas mereka? Apakah dari berjualan data di SXIndeks? Semua pertanyaan itu hingga sekarang belum juga terjawab.

Sejak awal dulu muncul Politikana, Ngerumpi, Bicara Film, dan banyak lagi lainnya, saya mencoba kontribusi sebisa saya. Menyumbang konten, dengan tujuan menjalin network di sana, meski akhirnya tidak bisa banyak juga (mengisi konten di blog sendiri saja susah hihihi..).

Dulu kala, di blog media-ide.com, saya pernah membuat ranking Facebook brand page Indonesia. Dengan keterbatasan resource (alias hanya saya sendiri), saya membuatnya dalam bentuk infografis sederhana dengan data yang terbatas pula. Menyenangkan rasanya setelah itu Enda di Salingsilang memprakarsai pembuatan direktori Facebook page lokal yang dibagi dalam beberapa kategori.

Ada sedikit keirian sih saat itu, hihihi, tapi saya melihatnya dari sisi positif saja. Direktori Facebook page lokal itu bisa jauh lebih bermanfaat bagi banyak pemerhati social media. Kita bisa melihat pertumbuhan fans setiap Facebook page itu setiap hari. Sesuatu yang kini dibuat oleh Socialbakers di luar dengan lebih baik lagi. Saya juga yakin Socialbakers mengumpulkan data Facebook Page Indonesia pun dari situs Salingsilang, karena tidak mungkin mereka bisa mengkategorikan dan mengetahui brand Indonesia tanpa ada masukan dari orang Indonesia sendiri.

Hal lain yang bikin saya senang (dan juga iri) adalah keberadaan Obrolan Langsat (Obsat) yang digelar rutin oleh Salingsilang. Sebelum itu saya dan teman-teman setiap bulannya menggelar event kopdar membahas topik berbau digital dan social media melalui FreSh. Kalau FreSh dulu cuma bisa bikin 1-2 bulan sekali, Obsat malah bisa bikin 2 kali seminggu, dengan topik yang jauh lebih beragam.

Sejak setahun belakangan ini, saya dan teman-teman di FreSh sudah tak sempat lagi mengurus event bulanan, namun saya bersyukur tempat semacam Obsat masih tetap ada. Orang online di Indonesia butuh kopdar dan bertemu muka, dan saya senang kalau Obsat bisa ada dan bertahan. Semoga dengan tutupnya Salingsilang, tidak membuat kegiatan Obsat hilang.

Hal terakhir yang juga membuat saya tambah iri adalah keberadaan salingsilang.com. Hahahaha bagaimana tidak, sejak tahun 2005 saya menulis blog media-ide.com, dan selama beberapa tahun belakangan banyak membahas kasus social media lokal. Lalu tiba-tiba salingsilang.com muncul, membahas banyak artikel dan kejadian yang terkait dengan social media lokal setiap harinya, sementara saya sendiri hanya sanggup menulis paling banyak 8 artikel sebulan (itu pun belum tentu terwujud).

Di sisi lain saya senang juga dengan keberadaan salingsilang.com. Mereka punya resource yang banyak, yang bisa memantau banyak kejadian di social media yang pastinya luput dari pengamatan saya. Dari yang penting banget sampai yang nggak penting rajin ditulis. Yang menarik juga adalah keahlian para penulisnya. Awalnya semua tulisan di salingsilang.com terasa dangkal, karena hanya berupa liputan saja. Semakin ke belakang, semakin banyak penulis yang bisa mengulas lebih dalam kejadiannya. Tulisan menjadi semakin menarik untuk diikuti.

Tahu nggak, saat saya menyusun salindia Social Media Landscape 2012 itu, yang jadi rujuakan pertama kali adalah salingsilang.com. Saya menelusuri ulang dari bulan Januari 2012 hingga tulisan terakhir, ada kejadian menarik apa yang bisa saya masukkan dalam salindia. Setelah tahu, saya lanjutkan dengan membahasnya lebih dalam, dan menerjemahkannya dalam salindia.

Sekarang semua informasi salingsilang.com dan website keluarnya sudah ditutup. Saya berterima kasih sekali untuk semua informasi dan kesempatan yang diberikan. Yang berlalu sudahlah berlalu. Pastinya akan masih banyak lagi situs informasi social media lagi yang pasti akan bermunculan. Hilangnya satu situs adalah kesempatan bagi situs lainnya untuk maju mengisi. Sekarang, apakah Anda mau ikut mengisi kekosongan itu?

Instagram Ramai Lagi Ya?

Dari kemarin jagad internet ribut tentang Terms of Service (ToS) yang berubah di Instagram. Pastinya banyak yang males untuk membacanya, karena seperti biasa ToS itu nggak ada yang pendek. Kalau males (seperti saya yang juga males), mending baca ringkasannya di tulisan berikut:

Lalu seteleh kehebohan dalam sehari kemarin, Instagram memperjelas maksudnya di blognya.

Setiap kita menggunakan aplikasi atau servis online (atau manapun sih sebetulnya) kita terikat dengan aturan main di dalamnya. Kalau nggak keberatan ya silakan digunakan. Kalau memang keberatan ya nggak usah setuju dan nggak usah dipakai. Setiap layanan gratis tentu ada konsekuensi yang harus diterima oleh pengguna. Facebook gratis, tapi kita akan berhadapan dengan iklan di sidebar kanan. Twitter gratis, tapi kita akan berhadapan dengan Promoted Tweets (meski masih belum umum dipakai di Indonesia).

Demikian pula dengan Instagram. Sebagai sebuah perusahaan, tentu wajar kalau ia ingin mengambil keuntungan dari layanannya. Oleh karena itu, Instagram mengubah ToS-nya, karena ada kebutuhan untuk menayangkan iklan promosi di dalamnya. Bentuknya kayak gimana, memang belum ada yang tahu. Namun, perubahan ToS ini menjadi salah satu point untuk memuluskan kebutuhan mereka untuk iklan promosi. Bisa jadi, ini bisa jadi loh (masih asumsi), foto yang pengguna unggah di Instagram akan muncul sebagai iklan untuk promosi tema tertentu.

Hal serupa sudah dilakukan oleh Facebook. Kalau di Facebook, brand page bisa mempromosikan dirinya di Facebook Social Ads. Saat promosi ini muncul, kita bisa melihat nama teman kita yang sudah me-like Facebook brand page itu. Ide bodoh-bodohannya adalah, “Ini loh teman kamu sudah me-like page kami. Kamu nggak tertarik untuk me-like juga?” Ini sempat diprotes banyak orang, karena Facebook memanfaatkan nama pengguna untuk mempromosikan suatu iklan. Namun, iklan seperti ini masih tetap berjalan hingga sekarang.

Konsep promosi seperti Facebook ini yang mungkin akan diterapkan di Instagram, bedanya mungkin dalam konteks foto. Formatnya kayak bagaimana, belum ada yang tahu.

Kira-kira banyak nggak sih yang akan keluar dari Instagram karena ToS ini? Kemarin Gen Kanai dari Mozilla sudah menyatakan akan keluar. Lalu kali ini National Geographics juga menyatakan akan menunda postingan terlebih dahulu sampai ada kejelasan baru. Milis iPhonesia pun ramai ngobrolin ini, dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Beberapa pengguna Instagram lama, terutama yang hobbyist serius atau fotografer semi pro, mulai mencoba alternatif lain. Teman-teman street photographer sejak beberapa bulan lalu sudah aktif di EyeEm, dan kayaknya ini menjadi pilihan terbaik setelah Instagram. Aplikasi ini tersedia untuk iOS, Android, dan Windows Phone. Hahaha, saya pun akhirnya mengunduh dan mendaftar di sana pula. Silakan follow saya ya di www.eyeem.com/pitra. Karakteristik UI-nya berbeda dengan Instagram tapi nggak kalah uniknya.

Yang sudah lama bergelut di bidang berbagi foto online mulai berpikir untuk kembali ke Flickr. Meski sayangnya di Flickr versi gratis hanya dibatasi untuk melihat 200 foto terakhir. Untuk mendapatkan pengalaman lebih asyik, memang harus bayar versi Pro-nya. Namun Fickr juga nggak lepas dari masalah, karena ToS-nya mengikat untuk dipakai di semua channel Yahoo! Namun setidaknya, bila foto kita di Flickr akan dipakai (bahkan hanya untuk dipajang di home page-nya), tim Flickr akan memberitahukan ke kita terlebih dahulu,

Alternatif lainnya, ini yang saya juga pakai, adalah 500px.com. Berbeda dengan Instagram dan EyeEm, situs ini lebih difokuskan untuk para fotografer semi pro dan pro. Buat saya pribadi, foto-foto populer dan terbaru di situs ini jauh bisa memberikan inspirasi daripada foto-foto populer di Instagram (yang isinya kebanyakan gambar kucing, makanan, dan foto narsis). Ada pula kesempatan untuk mengkomersialkan foto yang kita upload. Bisa kita jual sebagai digital download atau dijual dalam bentuk print di canvas. Lumayan nambahin uang (kalau berhasil menjual ya). Sekalian promosi, silakan cek galeri saya di www.500px.com/pitra yaaa!

Jadi, semua kembali ke kebijakan kalian masing-masing. Saya sih yakin, untuk yang menggunakan Instagram hanya untuk mengirim foto hobby, nggak akan ada keberatan. Lain soal memang untuk mereka yang benar-benar serius berkarya di fotografi. ToS versi terbaru ini tentu akan terdengar sangat sensitif.

Kena Lagi.. Kena Lagi..

Sejak beberapa hari lalu, saya sebenarnya menemukan beberapa keanehan di beberapa blog saya yang berbasis WordPress. Jadi, kalau saya bikin link postingan terbaru, lalu saya share link-nya ke Facebook/Twitter, maka orang-orang yang membaca dan mengklik link itu, akan terlempar ke situs lain.

Hal ini juga terjadi pada situs kantor saya (yang juga menggunakan engine blog WordPress). Kalau kita mengklik link situs kantor saya itu di Google, maka akan dilempar ke situs lain. Hmm, saya awalnya berpikir ini masalah di Google, yang mungkin saja salah mengindeks halaman. Beberapa hari kemudian tanda-tanda ini masih saya abaikan, karena pekerjaan kantor yang menumpuk.

Sampai akhirnya saya ada waktu luang untuk mengecek. Saya coba unduh satu blog dulu ke lokal. Daaaan…. betul dong. Ternyata blog WordPress ini tersusupi script malware. Semua file dengan tanda pembuka <?php tersusupi script ini:

eval(base64_decode(“DQplcnJvcl9yZXBvcnRpbmcoMCk7DQ… dst”));

Saya hanya mengambil nafas panjang, lalu mengunduh semua blog dan situs yang menggunakan engine WordPress. Ternyata, semua file dengan ekstensi .php kena semua dengan script itu. Ini pengalaman saya yang ketiga berhadapan dengan hal seperti ini. Pertama kali dulu, blog media-ide.com pernah di-hack dengan ada yang mengganti file index.php di theme-nya. Lalu kedua kalinya, blog ini di-hack juga dengan menyisipkan script serupa di atas, namun saat itu yang kena hanyalah folder theme dan plugin. Kali ini ternyata lebih masif. Yang kena adalah semua file .php.

Dengan sabar dan hati-hati saya hapus semua script malware itu dari semua blog dan situs saya. Makan waktu memang. Akhirnya tinggal 1 blog yang belum saya bersihkan, sampai tiba-tiba pagi tadi Bluehost (penyedia jasa hosting dedicated yang saya pakai) men-suspend domain utama. Daar, mati semua. Nggak ada yang bisa diakses. Bluehost lalu menginformasikan kalau file-file yang ada di server disusupi malware. Ini harus dibersihkan dulu, sebelum nanti Bluehost mengakhiri suspend-nya.

Ternyata oh ternyata… Yang kena bukan hanya situs berbasis WordPress saja. Lebih tepatnya semua file dengan ekstensi .php di server terkena. Untunglah semua berhasil diselamatkan. Sekalian pula saya sapu bersih-bersih file dan aplikasi yang tak lagi terpakai.

Dugaan saya sih, injeksi script malware ini masuk melalui timthumb.php (yang memang terpasang di beberapa blog saya). Dari sini lalu berkembang melebar ke lainnya. Caranya bagaimana? Saya pun nggak tahu pastinya. Sudah kayak semacam virus saja, yang melebar menginfeksi semua file yang berada di akun server yang sama.

Sebenarnya sejak kejadian terkena hack kedua kalinya itu, saya sudah pasang pengamanan yang lumayan kencang di blog saya. Meski sayangnya saya hanya pasang di satu blog, padahal bisa saja si malware ini masuk dari blog lainnya. Akhirnya hari ini, semua situs dan blog dengan engine WordPress yang aktif di server ini sudah saya lengkapi dengan plugin-plugin ini:

1. TAC (Theme Authenticity Checker)

Ini untuk mengecek apakah file theme yang kita pakai terinjeksi script yang mencurigakan atau tidak.

2. Timthumb Scanner

Ini untuk mengecek apakah timthumb.php yang saya gunakan ini sudah versi terbaru atau belum. Kalau belum, maka plugin ini akan langsung meng-update secara otomatis.

3. Exploit Scanner

Ini untuk mengecek total semua file .php yang berada di dalam blog. Plugin ini akan menandai semua file yang dianggap mencurigakan. Harus berhati-hati saat membaca laporan hasil pindah plugin ini, karena tidak semua yang terpindai itu adalah script malware. Ada banyak file yang sebenarnya aman, tapi ikut terbaca oleh plugin ini.

4. WordPress Firewall 2

Plugin ini akan menyetop semua aksi injeksi terhadap URL blog, lalu akan mengirimkan laporannya ke email kita setiap kali terjadi serangan. Saya sudah lama pakai ini dan karena ini saya pun tahu kalau blog saya pernah diserang bertubi-tubi oleh bot. Baca emailnya memang bisa bikin keringat dingin sih. Namun justru setiap email yang saya terima itu adalah pertanda kalau plugin ini telah berhasil menyetop serangan yang terjadi.

5. WSD Security

Ini plugin wajib yang juga perlu ada. Melalui plugin ini saya bisa memahami kelemahan apa saja yang ada di engine WordPress, dan plugin ini memberi petunjuk langkah-langkah apa yang harus diantisipasi, seperti misalnya: mengganti user login dengan apapun selain “admin” atau mengganti penamaan table di database, supaya tidak standar dan lebih aman terhadap serangan.

6. BPS Security

Saya baru tahu ada plugin ini. Dua faktor utama yang membuat blog WordPress rentan terhadap serangan adalah timthumb.php (kalau ada) dan .htaccess. Standar .htaccess dari WordPress belum bisa dibilang aman. Plugin ini akan membantu manajemen .htaccess di folder root dan di folder wp-admin. Plugin ini yang akan menjaga serangan terhadap blog dari IP address yang tidak bertanggung jawab. Karena saya pun nggak paham banget cara membaca .htaccess, jadi ya saya pakai saja versi default yang ditawarkan plugin ini (dan itu panjang banget isi .htaccess-nya).

Nah, apakah setelah ini blog saya aman dari serangan? Hihihi, kita tunggu saja ya. Susahnya menggunakan WordPress itu ya memang harus rajin update, dan jangan sampai terlambat. Ya tapi kalau sudah dengan cara ini, masih diserang juga ya berarti memang penyerangnya yang jago banget.

Nampang di Telios TV

Waktu event ON|OFF Pesta Blogger 2011 kemarin, saya sempat diinterview oleh Telios TV loh. Topiknya seputaran dunia blog, tentunya. Telios TV adalah semacam TV online dengan konten-konten berdurasi pendek yang khusus mereka kembangkan sendiri. Materinya saat ini masih mengandalkan konten dari komunitas-komunitas. Kebetulan saat ON|OFF ini, Telios TV menjadi media partnernya. Karena videonya nggak bisa di-embed, jadi mending lihat langsung di websitenya saja ya. Ini nih linknya.