Tantangan: Berapa Teman Twitter yang Kamu Ingat?

Gara-gara tulisan saya sendiri di blog satunya, saya jadi kepikiran, berapa sih sebenarnya teman online yang memang saya ingat dan kenal. Kadang kalau ingat pun suka lupa namanya. Kalau kenal seberapa sering sih saya berinteraksi dengannya.

Nah, jadinya saya iseng nih untuk menguji ingatan saya sendiri. Saya sudah lakukan ini, dan kini mau menantang teman-teman online semua untuk berbuat serupa. Caranya:

  1. Ambillah beberapa lembar kertas A4 dan siapkan pena atau pensil.
  2. Tuliskan semua teman yang kamu kenal di Twitter dan pernah kamu jumpai di dunia nyata.
  3. Akun yang kamu tulis harus akun individu ya. Bukan akun grup, komunitas, brand, atau lembaga lainnya.
  4. Kamu harus menyebutkan id twitter teman kamu dengan benar. Kalau kamu sering ngobrol dengannya, seharusnya kamu ingat.
  5. Selama menuliskan di kertas, jangan menyentuh aplikasi Twitter sama sekali. Jangan ngebet lah ya.
  6. Waktu dibatasi hanya 30 menit.

Dalam waktu terbatas itu, berapa nama akun Twitter teman kamu yang berhasil kamu tulis?

Saya sendiri berhasil menuliskan 228 nama dalam 30 menit. Kalau ada waktu lebih, pasti saya masih bisa menuliskan lebih banyak lagi. Foto di bawah ini sebagai buktinya (di foto ini saya sempat menuliskan 2 akun komunitas, tapi sudah saya coret dari perhitungan, karena bukan akun individu).

Tips: ingatlah lingkaran terdekatmu, siapa saja yang berada di sana, lalu pindah ke lingkaran berikutnya dan lanjutkan serupa, atau ingatlah kopdar terakhir yang kamu datangi, siapa saja yang berada di sana.

8 tracks

Asyik juga inih sitenya. Kita bisa kompilasi lagu dan bikin mix versi kita. Lagunya bisa kita upload sendiri, atau kita cari di soundcloud. Ini mix pertama saya. Sebagian lagunya memang yang lagi saya putar berulang-ulang di iPhone saya. Kalau mix-nya ada beberapa yang diambil dari lagunya Yuki Kajiura (FictionJunction), ya karena memang itu favorit grup musik saya saat ini. Silakan simak ya! Kalau nggak suka ya nggak apa-apa juga kok 🙂

Pikir Ulang Sebelum Menyampaikan Sesuatu!

Terdengarnya mudah, namun nyatanya susah diwujudkan. Apalagi kalau ucapan mulut kita lebih cepat daripada proses pertimbangan di otak. Terkadang kita suka berucap spontan yang muncul di otak kita pertama kali. Refleks.

Seperti hal bodoh yang dulu pernah saya lakukan. Menjemput seorang teman perempuan yang sudah dandan manis dan cantik, namun ucapan yang keluar dari mulut tidak saya saring terlebih dahulu. Bukannya memuji dia tampak manis malah berucap, “bajunya dapat dari mana?” Sukses berat si teman langsung bete. Untungnya saya masih dimaafkan saat itu.

Berucap tanpa berpikir memang banyak bikin suasana menjadi tidak nyaman. Di Twitter hal ini sudah beberapa kali saya alami sendiri. Bahkan mengetik pun bisa tanpa berpikir panjang. Padahal kalau setelah saya ketik, saya masih bisa mengoreksi dan membaca ulang, sebelum akhirnya saya menekan tombol Enter. Jangan-jangan menekan tombol Enter secara otomatis pun bagian dari kebiasaan tanpa pikir panjang.

Yang terjadi berikutnya adalah saya dibuat repot oleh tweet saya sendiri. Banyak yang lalu mempertanyakan, mengkritik, minta agar saya memperjelas maksud saya. Satu tweet tanpa berpikir pun akhirnya diikuti dengan banyak tweet untuk memperjelas. Tadinya ingin menikmati hari tanpa beban pikiran, malah bikin otak dan hati nggak tenang. Membalas tweet satu persatu, mengulang-ulang maksud tweet, sambil berusaha menjaga agar kalimat berikutnya yang tertulis itu tidak menyinggung sungguh membuat diri menjadi stres.

Tungku api bisa semakin panas, kalau tidak segera dipadamkan. Hal paling sederhana yang bisa saya lakukan hanyalah berucap maaf. Maaf kalau maksud tweet saya tadi menyinggung orang lain. Maaf kalau ada kata yang dimaknai berbeda oleh orang lain.

Seratus empat puluh karakter memang kadang tidak memadai untuk menyampaikan pesan yang dipahami secara sama oleh ribuan otak lainnya. Ucapan maaf yang tulus (seharusnya) bisa menenangkan hati dan otak yang terlanjur panas. Untungnya hingga saat ini setiap ucapan maaf saya selalu dimengerti oleh pihak yang pernah tersinggung. Kalau tidak? Hmm.. Saya tak tahu akan harus bersikap apa lagi.

Sejak kesalahan yang pernah saya lakukan itu, saya jadi selalu berpikir dua kali sebelum akhirnya saya menekan tombol Enter. Entah sudah berapa kali akhirnya saya membatalkan tweet yang sudah saya rangkai dengan indah. Saya mencoba melihat dulu, apakah tweet ini akan menyinggung pihak lain? Apakah perlu saya bahasakan ulang supaya tidak timbul mispersepsi? Apakah saya menggunakan kata yang mungkin (tanpa sengaja) malah menghina orang lain? Repot ya? Lebih baik repot di awal sebelum pusing seharian karena mengurus penjelasan untuk sebuah tweet.

Nah, seandainya saja tombol Enter juga bisa diciptakan untuk membatasi omongan mulut saya ini.