Pikir Ulang Sebelum Menyampaikan Sesuatu!

Terdengarnya mudah, namun nyatanya susah diwujudkan. Apalagi kalau ucapan mulut kita lebih cepat daripada proses pertimbangan di otak. Terkadang kita suka berucap spontan yang muncul di otak kita pertama kali. Refleks.

Seperti hal bodoh yang dulu pernah saya lakukan. Menjemput seorang teman perempuan yang sudah dandan manis dan cantik, namun ucapan yang keluar dari mulut tidak saya saring terlebih dahulu. Bukannya memuji dia tampak manis malah berucap, “bajunya dapat dari mana?” Sukses berat si teman langsung bete. Untungnya saya masih dimaafkan saat itu.

Berucap tanpa berpikir memang banyak bikin suasana menjadi tidak nyaman. Di Twitter hal ini sudah beberapa kali saya alami sendiri. Bahkan mengetik pun bisa tanpa berpikir panjang. Padahal kalau setelah saya ketik, saya masih bisa mengoreksi dan membaca ulang, sebelum akhirnya saya menekan tombol Enter. Jangan-jangan menekan tombol Enter secara otomatis pun bagian dari kebiasaan tanpa pikir panjang.

Yang terjadi berikutnya adalah saya dibuat repot oleh tweet saya sendiri. Banyak yang lalu mempertanyakan, mengkritik, minta agar saya memperjelas maksud saya. Satu tweet tanpa berpikir pun akhirnya diikuti dengan banyak tweet untuk memperjelas. Tadinya ingin menikmati hari tanpa beban pikiran, malah bikin otak dan hati nggak tenang. Membalas tweet satu persatu, mengulang-ulang maksud tweet, sambil berusaha menjaga agar kalimat berikutnya yang tertulis itu tidak menyinggung sungguh membuat diri menjadi stres.

Tungku api bisa semakin panas, kalau tidak segera dipadamkan. Hal paling sederhana yang bisa saya lakukan hanyalah berucap maaf. Maaf kalau maksud tweet saya tadi menyinggung orang lain. Maaf kalau ada kata yang dimaknai berbeda oleh orang lain.

Seratus empat puluh karakter memang kadang tidak memadai untuk menyampaikan pesan yang dipahami secara sama oleh ribuan otak lainnya. Ucapan maaf yang tulus (seharusnya) bisa menenangkan hati dan otak yang terlanjur panas. Untungnya hingga saat ini setiap ucapan maaf saya selalu dimengerti oleh pihak yang pernah tersinggung. Kalau tidak? Hmm.. Saya tak tahu akan harus bersikap apa lagi.

Sejak kesalahan yang pernah saya lakukan itu, saya jadi selalu berpikir dua kali sebelum akhirnya saya menekan tombol Enter. Entah sudah berapa kali akhirnya saya membatalkan tweet yang sudah saya rangkai dengan indah. Saya mencoba melihat dulu, apakah tweet ini akan menyinggung pihak lain? Apakah perlu saya bahasakan ulang supaya tidak timbul mispersepsi? Apakah saya menggunakan kata yang mungkin (tanpa sengaja) malah menghina orang lain? Repot ya? Lebih baik repot di awal sebelum pusing seharian karena mengurus penjelasan untuk sebuah tweet.

Nah, seandainya saja tombol Enter juga bisa diciptakan untuk membatasi omongan mulut saya ini.