Jalan-jalan Menyusuri Pecinan Jakarta

Bulan lalu saya pernah ikut jalan-jalan menyusuri Cikini bareng @JKTGoodGuide. Hari Senin pas libur hari raya Imlek ini, saya pun kembali ikutan. Kali ini rute yang ditempuh adalah menyusuri daerah China Town (Pecinan)-nya Jakarta, alias Glodok dan sekitarnya.

DSCF3767

Kami berkumpul pukul 9 pagi di 7-Eleven Hotel Novotel Gajah Mada. Lokasinya tidak jauh dari halte bus Olimo. Setelah berkumpul, rombongan dipecah menjadi 3 kelompok, dengan kelompok saya yang dipimpin Mas Farid berangkat lebih dulu. Masih satu kompleks dengan Novotel, tepat di belakangnya terlihat bangunan cagar budaya dengan gaya arsitektur Tionghoa. Papan bertulisan Candra Naya terpajang di atas pintu utama. Rumah ini dahulu adalah kediaman Mayor Khouw Kim An. Bentuk atap rumah ini terlihat melengkung bergaya Tionghoa dengan kedua ujungnya terbelah dua, sering disebut dengan “Ekor Walet.” Bentukan atap ini menunjukkan strata sosial penghuninya.

DSCF3764

DSCF3780

Cerita masih panjang. Lanjut yuk!

Jalan-jalan Menyusuri Cikini

1452833876284

Hari minggu kemarin saya ikutan event jalan-jalan yang diselenggarakan oleh @JKTGoodGuide. Rute jalan-jalan (dengan kaki ya) ini menyusuri Cikini. Event ini gratis, meski diharapkan kalau kalian puas dengan guide yang diberikan, kalian bisa memberinya tips.

Selain rute Cikini, ternyata @JKTGoodGuide sebelumnya juga sudah pernah mengadakan event serupa dengan rute pusat kota Jakarta, kota tua, Pecinan Glodok, dan Menteng. Semuanya kawasan historis yang punya cerita. Para guide ini mengaku kalau mereka bukan historian. Jadi mereka tidak paham dengan detil cerita yang terjadi di suatu situs. Namun setelah mendengar mereka bercerita, jelas mereka lebih banyak tahu daripada saya hahaha..

Terus jalan-jalannya kayak gimana?

Memotret di Petak Sembilan

Kebiasaan setiap hari libur Imlek selama beberapa tahun belakangan ini adalah berjalan-jalan ke Petak Sembilan, Glodok, Kota, Jakarta. Setiap tahun saat Imlek, Vihara Dharma Bhakti, vihara tertua di Jakarta yang berlokasi di daerah ini selalu penuh dengan kedatangan umatnya untuk berdoa. Vihara ini juga bebas diakses oleh umum, jadi semua orang boleh masuk kapan saja.

Kalau mau mampir ke sini, kalian bisa menggunakan bus Trans Jakarta koridor 1, lalu turun di halte Glodok. Lalu berjalanlah menyeberang ke arah Jl. Gajah Mada. Ada jalan kecil masuk tak jauh dari tangga penyeberangan di halte tersebut. Lalu masuk saja terus ke dalam. Di ujung jalan akan langsung terlihat Vihara ini. Di dekat Vihara ini juga ada satu Vihara lain yang lebih kecil, yang juga ramai dikunjungi. Ada pula bangunan gereja lama Santa Maria de Fatima yang kini masih terus dipakai untuk ibadah. Uniknya, eksterior dan interior gereja ini masih kental dengan unsur etnik Cina. Kalau mau detil cerita tentang sejarah bangunan-bangunan ini, bisa baca tulisan lama teman saya di blognya.

Kalau kalian ke sini di hari raya Imlek, yang datang memenuhi lokasi memang bukan hanya mereka yang beribadah. Banyak juga kru media dan mereka yang hobi fotografi (termasuk saya). Belum lagi pekerja di Vihara yang sibuk mondar-mandir menyiapkan kebutuhan ibadah. Pesan saya sih, kalau memang niat motret di sini, jangan sampai mengganggu mereka ya.

Berikut ini beberapa foto hasil jepretan kemarin siang di Petak Sembilan. Lebih lengkapnya bisa langsung kunjungi galeri Flickr ini.

IMG_4175

IMG_4115

IMG_4130

IMG_4230

Jambi: Candi Muara Jambi

DSCF3207

Saat hari terakhir saya di Jambi, saya menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu warisan budaya yang kini menjadi cagar budaya nasional, yakni Candi Muara Jambi. Hari itu saya diantar dua orang teman dari komunitas Sahabat Ilmu Jambi. Mumpung ada kendaraan, hahaha..

Lokasinya memang di luar kota Jambi, sekitar 30 menit dari pusat kota. Untuk Jambi 30 menit itu lumayan jauh loh. Perjalanan melewati jembatan yang menyeberangi Sungai Batanghari dan melewati beberapa perkebunan sawit.

Mungkin karena saat itu hari Senin, tidak banyak wisatawan yang berkunjung. Parkiran kendaraan terlihat kosong. Saya dikenalkan dengan seorang pengrajin batu yang memiliki bengkel di area parkir kompleks candi. Batu akik memang lagi tren ya. Si pengrajin cerita kalau ia dapat banyak order ratusan batu akik dari Jakarta.

Tiket masuk ke kompleks candi murah. Rp. 5.000,00. Hihihi tapi meski murah, saya malah dibebaskan untuk masuk. Teman saya yang di Jambi ini memang kenal banyak dengan masyarakat Jambi. Ia ternyata sering juga mengantar tamu ke berbagai tempat wisata.

DSCF3218

Jangan bayangkan Candi Muara Jambi seperti Candi Boko, Prambanan, Borobudur, atau candi-candi lainnya di Jawa ya. Mungkin sudah banyak yang tau juga, kalau candi-candi di kompleks ini bukan dibangun dengan bahan batu, tapi dengan bahan batu bata.

Saya bilang candi-candi, karena memang kompleks ini memiliki candi yang bertebaran luas di seluruh kompleksnya. Lokasi antara candi pun banyak yang berjauhan. Makanya tersedia banyak penyewaan sepeda di sana.

Karena waktu yang terbatas, saya hanya mengunjungi beberapa candi saja. Candi yang tersebar di sekitar area masuk, dan Candi Astano yang agak jauh, yang harus ditempuh sejauh 800 meter dengan berjalan kaki. Lumayan ya?

Katanya di musim hujan, di sekitar candi ini akan terlihat air mengalir di paritnya. Sayangnya, saat itu parit terlihat kering. Namun ada hal yang menarik di Candi Astano. Di sekitar candi terlihat banyak bunga kuning mekar. Langsung saja dong ini saya dokumentasikan.

Sekedar tips, kalau nanti ada di antara kalian yang mau mampir ke kompleks Candi Muara Jambi, pastikan datang sepagi mungkin. Sewa sepeda, lalu jalan-jalanlah ke seluruh kompleksnya. Kalau kata wikipedia nih, luas kompleks ini 12 km persegi, dengan panjang lebih dari 7 kilometer.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3233