Jambi: Rumah Batu

DSCF3254

Rumah Batu berada di daerah Seberang di Jambi. Lebih tepatnya sih di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi. Kalau jalan kaki dari Menara Gentala Arasy sih bisa.. hehe tapi jauh juga. Jadi mending ke sananya pakai kendaraan.

Dari tepian jalan memang tidak kelihatan. Penandanya hanya papan kecil yang menunjukkan kalau ada bangunan bernama Rumah Batu yang kini menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi. Awalnya saya membayangkan, kalau Rumah Batu itu adalah rumah yang masih terlihat seperti rumah sebenarnya, namun setelah melihat kondisinya, rumahnya sudah mengenaskan. Entah kenapa pihak Pemda Jambi tidak merenovasinya, dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Yang ada ini didiamkan saja. Jendela yang sudah banyak yang hilang. Atap banyak yang bolong. Bahkan untuk berteduh di kala hujan pun sepertinya sudah tidak memungkinkan.

DSCF3255

Menurut cerita, rumah ini dahulu adalah milik Said Idrus bin Hasan Al Djufri, atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Wiro Kusumo. Ia adalah seorang keturunan Arab yang mendapat kedudukan penting di Kesultanan Jambi, hingga ia wafat di tahun 1901. Rumah itu kemudian dihuni oleh keturunannya.

Apa sih yang membuat rumah ini menjadi cagar budaya? Dari dekorasi di gerbang dan pintu masuknya memang terlihat kalau desain rumah ini merupakan perpaduan dari budaya lokal, Cina, dan Eropa. Unsur lokal berupa rumah panggung (seperti banyak rumah lainnya di daerah Seberang, Jambi). Unsur Cina terlihat dari bentuk atap, gapura, dan ornamen dinding yang berbentuk naga, awan, bunga, dan arca singa. Lalu unsur Eropa terlihat dari tiang-tiang panggung yang terbuat dari bata dan semen.

Di hadapan rumah ini terhampar area rumput yang cukup luas. Sepertinya meski rumah ini sudah terlihat mengenaskan, masih tetap menarik bila dijadikan lokasi pemotretan. Kata teman sih, memang sudah cukup banyak fotografer dan modelnya yang mengambil rumah ini sebagai lokasinya.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3260

Jambi: Menara Gentala Arasy

DSCF3136

Menara Gentala Arasy ini berada di ujung jembatan yang saya ceritakan di 2 tulisan sebelumnya. Saat saya mampir ke sana, kelihatan interiornya masih dibenahi. Katanya sih nanti akan dipakai sebagai museum. Hehehe awalnya saya kira ini mesjid dari kejauhan.

Ujung jembatan pejalan kaki itu langsung menempel di area dak di lantai dua menara ini. Di dak ini, saya bisa melihat rumah-rumah warga Jambi yang berada di sekitar, di daerah Seberang. Terlihat berbeda banget dengan suasana pusat kota Jambi yang terpisah dengan Sungai Batanghari ini.

DSCF3137

Di Seberang memang masih dipertahankan keaslian daerah Jambi. Rumah-rumahnya masih berupa panggung. Tidak ada pertokan besar seperti Alfamart atau restoran mewah di sini. Yang ada hanya warung biasa. Budaya di daerah Seberang pun masih dipertahankan seperti aslinya. Saat sore masih terlihat warga yang bergerak berkumpul untuk mengaji bersama. Masih pula ada kegiatan masak dan makan bersama-sama. Sesuatu yang bahkan sudah tak terlihat lagi di pusat kota Jambi.

Katanya, malah ada beberapa warga yang memutuskan untuk tetap tinggal di Seberang, demi tidak kehilangan akar budayanya, walau setiap hari mereka harus bekerja di pusat kota Jambi. Bahasa daerah yang digunakan di Jambi ternyata sangat beragam. Mereka yang tinggal di Seberang memiliki ciri khas bahasanya sendiri pula.

Di daerah Seberang, sekitar 1-1,5 kilometer (kurang tau persisnya berapa), dari Menara Gentala Arasy, terdapat Rumah Batu, yang merupakan salah satu cagar budaya Jambi. Kayak gimana sih Rumah Batu itu? Nanti ya di tulisan selanjutnya.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3145

Jambi: Jembatan Gentala Arasy

DSCF3060

Hari Jumat hingga Senin sore kemarin saya berkesempatan untuk datang ke Jambi. Saat itu memang diundang untuk jadi salah satu pembicara yang berbagi cerita dengan topik Social Media for Social Good. Usai acara, tentunya dipakai untuk jalan-jalan dong.

Saya dan teman-teman dari KOPHI dan US Embassy (yang jadi penyelenggara acara) diajak oleh teman-teman baru dari Sahabat Ilmu Jambi (yang jadi panitia lokal), untuk berkeliling kota Jambi. Salah satunya adalah mampir ke tepian Sungai Batanghari.

Saat itulah baru saya tahu, kalau di Jambi punya icon baru yang akan menjadi kebanggaan kotanya. Namanya jembatan Gentala Arasy yang menghubungkan 2 bagian kota Jambi yang terpisah oleh salah satu sungai terbesar di Indonesia ini. Yang lebih mengejutkan lagi adalah, jembatan ini hanya khusus untuk pejalan kaki.

DSCF3057

Salah satu ujung jembatan berada tepat di depan Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jalan Sultan Thaha, Kecamatan Jambi Timur, dan ujung satunya berakhir di Menara Gentala Arasy di Seberang Kota Jambi, Kelurahan Arab Melayu, Kecamatan Pelayangan.

Saat saya datang kemarin, jembatan ini memang belum dibuka untuk umum. Katanya sih baru akan resmi dibuka nanti bulan Februari 2015. Karena jembatan belum dibuka, maka kami pun menyeberang menggunakan getek sewa. Cerita tentang penyeberangan ini nanti ya di postingan selanjutnya.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3090

Liburan di Gunung Parang, Purwakarta

Sejak beberapa minggu lalu, saya (mencoba) meniatkan untuk bisa berlibur meninggalkan Jakarta ke manapaun, setidaknya sebulan sekali. Hihi liburan lokal saja deh, nggak usah ke luar negeri seperti sebelumnya. Makanya waktu teman saya di Facebook, Anggun Himawan, membuat undangan terbuka untuk berjalan-jalan ke Gunung Parang, Purwakarta di akhir minggu, saya nggak pikir panjang lagi. Saya langsung ikutan. Nggak tau apa itu Gunung Parang sih sebetulnya. Yang penting liburannya, dan harga patungannya yang di bawah Rp. 400.000,00.

Lalu dua minggu lalu, tepatnya tanggal 28-29 Agustus 2014, perjalanan ke Gunung Parang pun dimulai. Rombongan terdiri dari 8 orang, termasuk Anggun dan Catur, keduanya yang memimpin rombongan ini. Sisa 6 orang lainnya, termasuk saya, berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada seorang ibu ekspat yang biasanya mengurus hotel di salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Ibu ini sudah menjelajah lebih dari 80 negara, dan selalu menikmati liburan penuh petualangan. Ada pula seorang karyawan asal Taiwan yang berdomisili di Serpong, dan belum banyak berjalan-jalan di Indonesia. Enam orang lainnya, termasuk saya, pekerja kantoran pada umumnya, yang mendambakan sekali-sekali menjauh dari Jakarta.

Perjalanan melewati tol Jakarta – Cileunyi, dan keluar di Purwakarta. Kami mampir sejenak sarapan di Sate Maranggi. Busyet, terakhir kali saya mampir ke tempat yang menjual sate terenak di Purwakarta ini adalah saat kuliah. Dulu tol Jakarta – Bandung belum ada, sehingga rumah makan Sate Maranggi ini selalu ramai, karena menjadi tempat singgah wajib bagi pengemudi sebelum melanjutkan perjalanan. Sate ini terkenal karena semua bumbunya diresapkan dalam dagingnya saat dibakar. Sate ini pun tidak menggunakan bumbu kacang atau kecap seperti layaknya sate lainnya. Inilah yang menjadi kekhasannya.

DSCF1890
Sate Maranggi

Usai sarapan, kami kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba di tepian kota Purwakarta. Anggun, sebagai pengemudi, lalu membelokkan mobilnya ke sebuah jalan kecil. Kami melewati jalan pedesaan yang beraspal, lalu berbatu. Sesekali kami berhenti, melihat rombongan sapi yang berjalan lewat atau menyaksikan anak-anak pedesaan yang asyik berenang di kolam alam yang penuh lumpur. Buat mereka, hiburan seperti ini sangat menyenangkan usai pulang sekolah. Mereka pun bisa menjadi anak bandel pula. Hahaha, kalau ada orang tua yang mencari mereka, anak-anak ini lalu membenamkan kepalanya  ke dalam air, supaya tidak ketahuan.

DSCF1922
Kolam alam

Akhirnya kami tiba di Badega Gunung Parang, sebuah kompleks yang menjadi basecamp wisata di lokasi ini. Badega ini merupakan proyek swadaya warga sekitar. Mereka yang membangun sendiri dengan modal bambu, batu, dan pasir yang ada di alam. Setiap orang bisa menginap di sini, menikmati sarapan sederhana kampung yang sehat, sebelum melakukan wisata trekking atau panjang tebing Gunung Parang. Di kalangan para pendaki tebing, gunung ini memang cukup terkenal karena kesulitannya. Kami berdelapan bukanlah para pemanjat tebing. Jadi kami paling hanya akan mengikuti wisata trekking melalui jalur yang lebih mudah.

DSCF1933
Badega Gunung Parang

Di hari Sabtu siang itu, usai istirahat sejenak dan makan siang, kami berjalan-jalan ke sawah-sawah di sekitar. Melewati sawah yang sudah kering dan berjalan di pembatas sawah yang masih basah. Sampai akhirnya kami tiba di lokasi dengan batu gunung yang sangat besar di antara hamparan sawah terbuka. Seorang warga desa yang menjadi pemandu kami, dengan mudahnya memanjat batu raksasa itu tanpa hambatan sama sekali. Hahaha kami yang mencoba agak was-was juga pas naiknya, karena ternyata tinggi sekali.

DSCF2002
Batu raksasa di tengah sawah

Sore hari kami melanjutkan perjalanan ke makam megalithikum. Terdapat sebuah gubuk di dekat makam. Bila ada tamu, gubuk ini bisa dimanfaatkan mereka untuk beristirahat. Seorang warga yang memang menjadi penjaga makam bercerita tentang asal muasal makam tersebut. Disebut megalithikum karena tidak ada warga desa yang tahu asal muasal makam ini. Saat ditemukan, tidak ada identitas apapun. Katanya makam ini sudah berusia ratusan tahun. Makam-makam ini sekarang dirawat oleh warga. Posisi batu makam tetap dibiarkan apa adanya, namun kini pohon-pohon sejuk dibuat menghiasi makam. Si penjaga makam lalu mengantarkan kami ke salah satu mata air di desa ini. Sumber mata air ini yang mengairi banyak sawah warga dan juga menjadi sumber air bagi kehidupan warga.

DSCF2022
Makam Megalithikum

Keesokan paginya acara trekking mendaki Gunung Parang pun dimulai. Awalnya saya mengira trekking ini benar-benar santai, dengan jalan yang lumayan landai. Ternyata, bagian landainya cuma sekitar 70%. Sisanya harus ditempuh dengan memanjat batu-batuan. Nggak esktrim sih tapi tetap saja lumayan tinggi juga. Pas naik, yang terpikirkan adalah, “ini ntar gimana turunnya ya?” Hahaha beneran. Soalnya kalau saya melihat ke bawah, itu kok ya lumayan ngeri ya. Lalu mau tahu bagaimana nanti kami turunnya? Pakai pantat dong. Duduk, glesor, merosot, duduk, glesor, merosot, dan terus ulangi di bagian yang curam.

DSCF2061
Gunung Parang yang akan didaki

Perjalanan dengan trekking ini melewati pohon-pohon tua nan besar, dengan akar yang menjalar kemana-mana. Lumayan keren ini sebetulnya untuk objek foto. Ada beberapa tempat landai yang cukup luas, sehingga memungkinkan kami untuk istirahat sejenak. Sayangnya di tempat-tempat ini, ada saja perilaku pendaki yang tak bertanggung jawab. Beberapa sampah botol terlihat berserakan. Beberapa batu pun terlihat dicat dengan nama, sebagai tanda eksistensi diri kalau sudah mencapai titik ini. Menyebalkan memang.

DSCF2114
Pohon-pohon tua sepanjang jalur trekking

Hampir pukul 12 siang, dan kami belum juga sampai di puncaknya. Beberapa teman serombongan menyatakan ketidaksanggupannya lagi melanjutkan perjalanan. Si pemandu pun tidak mau mengambil resiko dengan meninggalkan mereka yang tidak sanggup. Baginya, semua naik bersama, atau semua turun bersama. Tidak boleh terpisah-pisah. Akhirnya diputuskan untuk turun gunung. Meski kami tidak mencapai puncak, namun tidak masalah. Lebih baik semua orang bisa menikmatinya dengan tersenyum tanpa ada kejadian yang tidak menyenangkan.

Kami pun turun melewati jalur trekking yang sama. Sesampainya di kompleks Badega, kami mandi, istirahat sejenak, makan siang, sebelum melanjutkan perjalanan pulang kembali ke kota Jakarta.

Terima kasih juga untuk Anggun dan Catur yang mengatur perjalanan ini. Kalau kalian tertarik, kalian bisa jenguk website DesaDeso.com milik mereka. Mereka setiap bulan selalu bikin acara liburan lokal ke desa-desa menarik yang tak jauh dari Jakarta. Liburan lokal semacam ini cocok banget untuk warga Jakarta yang sesekali ingin menghirup udara segar tanpa polusi, tapi hanya punya waktu di hari Sabtu dan Minggu saja.

Foto-foto lengkap tentang liburan ke Gunung Parang bisa dilihat di galeri Flickr ini, atau lihat salindianya saja di bawah ini.

[fshow photosetid=72157647110305420]

Pantai Jogan

Daerah Gunung Kidul, yang berlokasi tak jauh dari kota Jogja memang memiliki keindahan tersendiri. Sekitar sepuluh tahun lalu, daerah ini belum sadar kalau memiliki pantai yang bisa dijual sebagai objek wisata. Belakangan ini, Gunung Kidul dengan pantai yang berjejer banyaknya di sisi selatan Pulau Jawa ini semakin penuh dengan pengunjung. Sebut saja Pantai Indrayanti, Pantai Baron, Pantai Ngobaran, Pantai Pok Tunggal, dan masih banyak lainnya.

Setiap kali saya kembali ke Jogja saat libur Lebaran, saya selalu mencoba menyempatkan diri mampir ke salah satu pantainya. Kalau bisa sih mampirnya ke pantai yang belum terlalu populer, tapi memang keren. Dua tahun lalu saya mampir ke Pantai Pok Tunggal. Saat itu masih sepi. Nggak usah jauh-jauh ke Bali untuk mencari pantai berpasir putih, karena di Pantai Pok Tunggal ini, pasir putih bersih tebal berlimpah ruah. Tahun lalu saya mampir ke Pantai Ngobaran, yang berada di tepi tebing, dengan pura di atasnya. Memang sih tidak sebesar Pura Uluwatu di Bali ya, tapi tetap menarik. Kalau jalan sedikit dari sini, saya bisa melihat pantai berpasir bersih dengan terumbu karang terlihat tak jauh dari pantai.

Nah, pada libur lebaran kemarin, saya mampir ke Pantai Jogan. Lokasinya (kalau nggak salah, habis disupirin sih ke sininya) lebih ke timur dibandingkan pantai-pantai lainnya. Dari atas tebing akan terlihat air terjun kecil tumpah langsung ke karang-karang di bawahnya, yang berbatasan dengan laut. Katanya, kalau datang saat musim hujan, air terjun ini akan mengalir deras. Sayangnya, saat saya lihat kemarin, air terjunnya tidak terasa spesial, karena hanya sedikit air yang terlihat mengalir.

Butuh tantangan tersendiri untuk bisa turun ke pantai. Tidak ada tangga. Satu-satunya jalan adalah dengan melompati pijakan-pijakan batu besar sambil berpegangan dengan pembatas bambu. Bapak saya pun tidak berani turun, karena khawatir jatuh. Haha, saya pun agak khawatir juga saat turun pertama kali. Terpaksa kamera dimasukkan semua terlebih dahulu ke tas, sebelum bisa turun perlahan-lahan ke arah pantai.

Pantai Jogan penuh dengan bebatuan, dengan air laut menyeruak mengalir di antaranya. Suka terlihat beberapa kepiting kecil bergerak di antara batu dan air. Beberapa anak terlihat mandi di bawah curahan air terjun kecil. Saya menunggu matahari tenggelam sembari mengambil gambar di pantai. Sayangnya horison tertutup awan, sehingga terbenamnya matahari tak terlalu terlihat.

Untuk mencapai Pantai Jogan dari Jogja saya menghabiskan waktu 2,5 jam dengan mobil. Kembali ke Jogja lagi butuh waktu 4 jam, karena macet. Saat libur lebaran kala itu, banyak sekali warga Jogja yang mengejar melihat tenggelamnya matahari di pantai selatan. Konsekuensinya adalah macet saat malam ketika mereka semua kembali ke Jogja. Ya, tapi sekali dalam setahun, dinikmati sajalah ya.

Foto-foto lengkap liburan ke Jogja bisa dicek di galeri album Flickr ini.

IMG_5014

DSCF1170

DSCF1169

DSCF1173

IMG_5039