Pertunjukan Pendek Balet “Megatruh”

Hari ini saya diundang Ballet.id untuk datang ke press conference pagelaran balet “Once” yang akan diselenggarakan tanggal 6-7 Agustus 2016 ini. Pagelaran balet ini akan dibawakan oleh West Australian Ballet, dengan para balerina Indonesian Youth Ensemble yang telah diaudisi tanggal 19 Juni 2016 lalu.

_MG_0700
Kenalan dengan Juliet Burnett

Menggunakan Gojek di Jogja

​Sebagai pengguna aktif Gojek di Jakarta, senang juga saya saat melihat ada Gojek pula di Jogja. Meski sepemandangan mata tidak sebanyak Jakarta, tapi keberadaannya dibutuhkan.

Transportasi umum di Jogja memang ada, tapi masih belum terasa praktis. Bus Trans Jogja kini sudah diganti baru, persis sama dengan bus mini Trans Jakarta yang menggantikan Kopaja AC. Jalan di Jogja banyak yang satu arah, sehingga apa yang dilewati bus saat berangkat, maka saat pulang, jalan itu tidak lagi dilewati bus yang sama.

Pilihan alternatif andalan adalah becak, namun saya termasuk orang yang agak malas kalau urusan tawar-menawar, karena saya kurang tahu harga standar per jarak tertentunya berapa.

IMG_20160703_171534

Jalan-jalan dengan Gojek

Tempat Memotret di PIK

Salah satu hal merepotkan kalau memotret di Jakarta adalah nggak banyak lokasi yang bagus (yang gratis atau bayarnya murah). Atau kalau tempatnya bagus, ternyata tidak boleh motret (misalnya di beberapa mall). Semakin sering memotret, pastinya ingin mencari tempat yang unik, yang belum banyak dipakai untuk pemotretan sebelumnya.

Nah, ini yang susah. Saya paling menghindari foto di Kota Tua. Bukan karena tidak suka tempatnya, tapi karena sudah banyak yang memotret di sana. Hanya sayangnya, belum ada lokasi lain di Jakarta yang kuat unsur kolonialnya selain di Kota Tua.

Untuk daerah utara Jakarta, sebagai alternatif pilihan, kalian bisa mencoba di Ancol dan Sunda Kelapa. Kalau masih terlalu umum, coba bergerak sedikit menuju Pantai Indah Kapuk. Di sana ada beberapa spot yang bagus. Berikut ini spot yang pernah saya pakai untuk pemotretan.

1. Taman Wisata Alam Angke Kapuk


Seperti apa tempatnya?

Ketika Gojek Mencoba Jalan Alternatif

Saya pengguna aktif Gojek. Kalau butuh gerak cepat, atau terlalu capai, atau sudah terlalu malam untuk naik bus, pilihan terbaik saat ini mungkin adalah Gojek. Nah, terkadang si pengemudi Gojek suka kreatif. Ada yang suka menawarkan untuk melalui jalan alternatif. Artinya siap-siaplah untuk dibawa masuk gang kampung yang belum pernah dilewati sebelumnya. Biasanya setiap kali si pengemudi menawarkan jalan alternatif, saya selalu mengiyakan, demi menambah pengalaman perjalanan.

Kejadian serupa terjadi di hari Sabtu malam kemarin. Usai acara di Istora Senayan, saya menggunakan Gojek untuk pulang ke rumah di daerah Tomang. Senayan ke Tomang itu jelas-jelas melewati jalan besar, Sudirman – Gatot Subroto – S.Parman – Tomang Raya. Memang ada bagian yang kadang macet, tapi kalau malam hari, untuk ukuran motor, sebetulnya bisa dibilang lancar. Makanya saya heran, ketika kali ini si pengemudi Gojek menawarkan untuk lewat jalan alternatif. Demi pengalaman baru, saya iyakan saja. Saya penasaran akan dibawa lewat mana.
Baca lanjutannya biar nggak penasaran

Menikmati Kemacetan di Bus Trans Jakarta

Malam itu hujan turun cukup deras. Petir menggelegar menyambar tanpa henti. Meski ini bukan hari Jumat, kemacetan Jakarta sudah terasa.

Saya menunggu bus Trans Jakarta koridor 9 di halte Kuningan Timur. Sangat lama. Benar-benar lama. Saya hitung lebih dari 40 menit hingga akhirnya terlihat bus muncul di penghujung jalan. Sebelumnya sudah ada yang lewat sih. Agak kosong. Ternyata kosongnya beralasan. Bus itu hanya akan berjalan hingga Senayan.

Bus Scania baru akhirnya mengantar saya pulang. Sayang kegembiraan ini hanya bertahan sekejap. Bus terlihat tidak bergerak di tengah kemacetan. Apa kabar cerita jalur bus Trans Jakarta yang bebas dari kendaraan bermotor lain? Hanya perkataan humas yang sangat sulit dibuktikan realitanya.

IMG_20160315_192038
Makin nikmat saat terkena macet