Taman Cattleya

20120325-193342.jpg

Suatu pagi di hari Sabtu, keponakan saya tiba-tiba ingat pernah saya janjikan untuk jalan-jalan ke taman. Memang sewaktu dulu saya pernah menjemputnya di sekolah, perjalanan kami pulang melewati taman baru di Jakarta Barat. Namanya Taman Cattleya. Jangan tanya kenapa namanya susah dieja dan diingat. Entah kenapa namanya nggak Taman Katelia saja, yang meng-Indonesia.

Taman Cattleya ini berada di jalan S. Parman. Persisnya kalau dari arah Slipi menuju Grogol, ada di kiri jalan, tepat sebelum belokan ke jalan tol menuju Tangerang. Kalau naik bus, silakan naik bus apa saja yang menuju Grogol, nanti minta turun saja di perempatan Tomang. Bus Trans Jakarta juga lewat sih, tapi lokasi taman agak jauh kalau harus berjalan kaki dari halte terdekat, Harapan Kita, ke sini. Kalau mau bawa kendaraan pribadi juga nggak masalah, karena parkir di dalamnya luas, plus gratis pula.

Nah ceritanya saya akhirnya memenuhi janji saya, dengan mengantar keponakan saya berjalan-jalan ke taman ini. Meski setiap kali saya pulang dari kantor melewati taman ini, belum pernah sekalipun saya masuk menjelajah isinya.

Ternyata isinya sungguh mengagumkan. Taman Cattleya ini sudah penuh dengan pepohonan tinggi dan lebat. Area paving yang dibuat melandai mengikuti lansekap taman enak dipakai untuk berjalan kaki. Silakan kalau ada yang menggunakannya untuk berolahraga lari atau bersepeda mengelilingi taman.

Bangku-bangku taman juga banyak tersedia, meski agak sebal juga melihat sebagian darinya yang sudah dicoret-coret tangan jahil. Yang bikin saya terkesan, di tengah taman ini dibuat danau buatan. Agak-agak aneh juga sih tapi, tiba-tiba melihat rombongan anak-anak kecil yang tiba-tiba buka baju dan berendam di danau buatan ini. Meski danau ini keren, sayangnya ada sudut yang malah jadi tempat orang membuang sampah sembarangan. Agak geregetan jadi melihatnya.

Kalau jalan terus ke arah belakang taman, bisa ditemukan juga jalan pintas menuju perumahan kampung di belakang taman. Yang bikin pemandangan nggak sedap adalah adanya parit yang membatasi taman dan kampung yang penuh limbah cucian. Kayaknya saat pembangunan taman ini nggak diikuti dengan edukasi masyarakat di sekitarnya. Padahal kalau bisa ada rasa sama-sama saling memiliki, pasti dalam jangka panjang, taman ini akan tetap indah terjaga bersama.

Hal lain yang saya rasa kurang di taman ini adalah tidak adanya arena main anak. Padahal tempat main anak serupa bisa ditemukan di taman kota lainnya seperti Taman Honda Tebet dan Taman Situ Lembang Menteng. Keponakan saya pun akhirnya cuma bermain dengan berlari-lari saja keliling taman.

Sesaat ketika saya berjalan pulang keluar taman, saya menyadari satu hal lainnya yang terasa kurang. Saya tidak melihat atau mendengar suara burung sama sekali. Apakah mungkin karena memang belum ada pancingan makanan yang membuat para burung datang berdatangan?

Terlepas dari kekurangan yang saya rasakan, saya tetap merasa bersyukur akhirnya Jakarta Barat punya taman hijau yang layak dibanggakan. Hahaha, apalagi ini lokasinya nggak jauh dari rumah saya.

Semua orang kan butuh tempat untuk beristirahat dan melepas lelah. Daripada jalan-jalan ke mal yang berudara AC, tentu lebih sehat menghirup oksigen langsung di taman yang penuh dengan hijauan pohon.

Kalau kamu, kapan kamu terakhir datang ke taman kota?

Piknik di Taman Tebet

Kayaknya belum lama ada piknikasik di Taman Senopati, kok sekarang sudah piknik lagi ya? Ya memang rencananya sebulan sekali sih. Katanya kali ini serempak di banyak kota. Piknikasik di Jakarta diselenggarakan di Taman Tebet – Honda. Sempet ragu juga untuk berangkat, karena hujan deras mendera seharian penuh. Hujan pun baru menghilang setelah jam 10, dan saya pun baru berangkat jam 12 siang. Hahaha, telat ajalah pokoknya.

Pernah dengar sih tentang taman ini. Setidaknya pernah ada yang berkomentar tentang keberadaan taman ini di tulisan ini. Hehehe, makanya baru tahu. Cek googling sejenak, ternyata taman ini sudah ada sejak setahun lalu. Saya tahu sih memang sejak dulu di antara perbatasan Tebet Barat dan Tebet Timur itu ada area hijau luas. Namun baru ngeh kalau salah satu bagiannya telah direnovasi menjadi taman yang lebih nyaman. Mungkin karena renovasinya disponsori oleh Honda, makanya nama tamannya menggunakan nama Honda.

Sesampainya di Taman Tebet – Honda ini langit sudah terang, setelah hujan mengguyur seharian. Para peserta piknikasik sudah nongkrong lama sambil ngobrol ngalur ngidul seperti biasanya. Silaturahmi sejenak, berkenalan dengan yang belum kenal, menyapa yang sudah kenal.

Saya sempat berkeliling mengamati siapa saja yang datang ke taman ini. Asyik juga, ada sekumpulan anak yang belajar beraksi sepeda di area perkerasan luas yang berada di tengah taman. Kayaknya semalam ada acara pula di taman ini, karena saya melihat kursi-kursi yang ditumpuk di bawah tenda.

Saya melewati jembatan dengan air sungai kecil di bawahnya. Wah, asyik juga. Sungainya bersih dan nggak bau. Saya pun melihat beberapa orang yang asyik mojok. Ada pula entah kelompok apa yang sedang melakukan pemanasan lari keliling taman. Di salah satu area juga terlihat tempat bermain anak.

Yang unik adalah, pedagang kaki lama hanya berjualan di luar taman, tak jauh di pintu masuk. Tidak ada yang masuk ke taman menawarkan dagangannya. Entahlah apa karena ini dilarang atau tidak. Namun di sudut lain taman, saya melihat seorang ibu yang berjualan nasi dan minuman. Tempat untuk ibu ini memang sengaja disiapkan lokasinya. Jadi tidak berdagang liar seperti yang biasa kita lihat di trotoar-trotoar jalan di Jakarta.

Taman Tebet – Honda ini asyik. Beruntunglah warga Tebet punya tempat seperti ini untuk melepas lelah dan pikiran. Mudah-mudahan sih akan semakin banyak tempat seperti ini di seputar Jakarta. Tempat yang bukan sekedar area hijau, tapi juga menjadi tempat warga berkumpul dan bersosialisasi.

Video Pembela Hak Pejalan Kaki

Lihat dulu deh video di atas!

Sungguh salut bener saya melihat sikap si ibu itu! Ia dengan cueknya menyuruh semua pengemudi motor roda dua untuk minggir dari atas trotoar. Si ibu niat. Ia terus menyusuri trotoar, menegur satu persatu setiap pengemudi motor untuk turun. Seperti biasa, ada pengemudi motor yang nggak mau terima disuruh-suruh, tapi akhirnya mengalah juga dan turun.

Salut saya. Kalau yang di video itu saya, paling saya cuma bertahan menegur 1-2 motor pertama. Kalau terlalu banyak seperti di atas, saya sudah pasti menyerah. Meski pasti hati ini akan dongkol pisan.

Sebenarnya kenapa sih para pengemudi motor banyak yang bandel seperti ini? Padahal mereka sudah dapat jalan raya. Jalan yang mereka kuasai sendiri bersama mobil roda empat. Jalan yang biaya pembangunannya saja jauh lebih mahal daripada untuk para pejalan kaki.

Saya duga, alasannya adalah karena memang pada dasarnya mereka punya kebiasaan buruk.

  • Kebiasaan ingin cepat kesana kemari, sampai jalur bus Trans Jakarta ikutan dibabat.
  • Kebiasaan nggak sabar saat berada dalam antrian lampu merah, dan tak memberi kesempatan orang lewat menyeberang jalan.
  • Kebiasaan mengambil jalan pintas lewat gang kampung.
  • Kebiasaan ingin cepat berputar arah, lalu seenaknya naik jembatan penyeberangan.
  • Kebiasaan naik trotoar lalu bergerak berlawanan arah dengan laju pergerakan kendaraan lain.
  • Kebiasaan parkir sembarangan di trotoar.
  • Kebiasaan mengklakson siapa saja yang menghalanginya (meskipun si motor sedang berada di trotoar atau jembatan penyeberangan).

Ada yang mau memberi masukan tambahan?

Saya yang kemana-mana suka berjalan kaki terus terang sebal dengan kelakukan para pengemudi motor di atas. Dengan kemampuan yang terbatas, yang bisa saya lakukan biasanya hanya:

  • Menghalangi motor yang berjalan di trotoar dengan berjalan santai berbelok ke kiri dan ke kanan.
  • Kalau trotoar sempit, saya suka berjalan di tepiannya. Pasti ada bagian tubuh saya yang menghalangi motor yang berusaha lewat. Namun saya cuek saja. Biarin saja si motor yang bersabar.
  • Kalau sampai si pengemudi motor mengklakson, adalah kesempatan bagi saya untuk teriak, “Emang elo kira ini jalan siapa?”
  • Kalau naik ojek, ingatkan si supir ojek untuk nggak naik ke atas trotoar, demi memotong jalan pintas. Kalau memang harus berputar untuk sampai ke tujuan, ya berputarlah.
  • Saya suka menyiapkan kamera kalau naik jembatan penyeberangan. Begitu ada motor yang naik sembarangan, potretlah.

Nah kalau kamu sendiri bagaimana? Sebagai pejalan kaki, apakah kamu gusar dengan pengemudi motor tak bertanggung jawab seperti di atas?

Relaksasi Diri di Taman

Saya (dan pastinya jutaan orang lainnya) merindukan bisa menghilangkan kepenatan di sebuah taman kota. Duduk tenang menikmati udara segar, di bawah kerindangan pohon, sembari mendengarkan gemericik air kolam tak jauh dari sana. Sesekali tersenyum saat melihat burung-burung gereja mendarat dan mencari makan di tanah. Sesekali pula tersenyum saat melihat anak-anak kecil beraktivitas di taman, ditemani orang tuanya tak jauh di kejauhan. Seakan-akan hiruk pikuk dan stres yang dibawa oleh kehidupan kota bisa hilang, walaupun hanya sejenak.

Di Jakarta sayangnya taman (yang sekaligus menjadi paru-paru kota) masih sangat terbatas. Yang benar-benar memadai dan bisa dikatakan sebagai taman yang pantas, paling hanya Taman Menteng, Taman Ayodya, dan Taman Surapati. Terlalu sedikit dibandingkan kota Jakarta yang terlalu luas. Sebenarnya masih banyak taman kecil lainnya di Jakarta. Meski saya lebih suka menyebutnya sebagai lahan hijau saja sih, karena isinya cuma pohon dan bangku, tanpa ada aktivitas di dalamnya.

Tak jauh dari rumah saya di Tomang, tepatnya di persimpangan S. Parman dan jalan tol ke arah Tangerang, sebenarnya ada area hijau luas pula. Saat ini pohonnya memang belum terlalu rindang, namun menariknya sudah banyak digunakan warga sekitar untuk berkumpul. Nggak jarang saya melihat anak-anak kecil bermain bola di sana. Lumayan sebetulnya.

Ada pula taman keren yang memang dibuat oleh swasta. Salah satunya di pojokan bulevar Kelapa Gading. Saya belum pernah masuk ke dalamnya sih, tapi memang terlihat dari luar taman ini luas banget. Ada arena bermain untuk anak pula. Sudah pernah ada yang mencoba masuk dan merasakan di dalamnya?

Taman keren lainnya, Tribeca Park, menjadi satu kesatuan dengan pusat perbelanjaan Central Park. Dulu pertama kali Central Park ini dibangun, saya sebal karena akses untuk pejalan kaki dari jalan raya sangatlah tidak menyenangkan. Sempit dan tidak manusiawi. Namun ternyata pertokoan ini menyediakan jalur masuk lain, yakni melalui perpanjangan jembatan busway yang langsung masuk ke area lahannya. Pejalan kaki yang datang dengan bus Trans Jakarta bisa langsung masuk ke pertokoan melalui jembatan ini.

Kemarin sore saya berjalan-jalan ke taman ini. Siapa tahu ada acara Imlek yang bisa dilihat dan dipotret. Baru kali ini saya memperhatikan kalau taman ini benar-benar berfungsi selayaknya benar sebuah taman kota. Ratusan orang, tanpa batasan suku dan usia, asyik nongkrong di taman ini (meski seperti biasanya pertokoan di Jakarta, untuk masuk ke areanya harus melalui pemeriksaan tim security).

Terlihat banyak anak yang berdiri di tepi kolam, memberi makan ikan-ikan yang luar biasa banyaknya di sana. Ada pula yang asyik berlari-larian di auditorium terbuka (sebelum nanti malam akan dipakai untuk acara). Ada pula sekumpulan anak SMP yang mengambil salah satu sudut taman untuk latihan joget. Semua jalan di taman ini dibuat landai, sehingga para pengguna kursi roda bisa dengan nyaman berjalan-jalan di dalam taman.

Tempat sampah tersedia dimana-mana dan gampang diakses. Terlihat pula beberapa orang security yang berjalan keliling menjaga agar pengunjung tetap merasa aman. Hiasan-hiasan lampu menerangi taman ini saat malam menjelang, sehingga taman tetap terlihat terang. Semakin terang, tentu perasaan aman dan nyaman semakin terasa.

Sore hari kemarin angin bertiup sangat kencang di taman ini. Mungkin ini konsekuensi membangun ruang terbuka di antara gedung tinggi. Seorang petugas security kemarin bercerita kepada saya, kalau dulu di taman ini disediakan terpal-terpal pelindung. Namun kini terpal-terpal itu telah dicabut, karena kencangnya angin sudah beberapa kali meniup lepas terpal tersebut.

Kebetulan karena kemarin juga perayaan Tahun Baru Imlek 2563, saya mendapatkan kejutan yang luar biasa. Sekitar pukul 19:30 kembang api dinyalakan di tengah-tengah Tribeca Park. Selama nonstop 8 menit, saya menyaksikan kembang api menerangi malam di atas taman. Ini bukan pertama kalinya saya melihat kembang api semegah ini di Central Park. Terakhir saya melihatnya adalah saat tahun baru 1 Januari 2012 kemarin. Namun tetap saja, pemandangan indah seperti ini selalu mengesankan untuk dilihat kembali.

Seandainya saja ada kewajiban bagi setiap pusat perbelanjaan untuk membangun area terbuka seperti yang dilakukan Central Park. Asyik kan? Yang hobi belanja bisa tetap belanja, namun ia juga bisa menghirup udara segar di taman seusai belanja. Lalu sediakan kafe dan restoran di tepian taman (seperti yang dilakukan pula oleh Central Park), supaya yang nongkrong bersantai di taman pun ikut terdorong untuk ikut melakukan pembelian. Sama-sama untung. Taman haruslah menjadi bagian dari fitur pusat perbelanjaan, dan bukan menjadi beban tanggungan belaka.

Saya yakin warga Jakarta butuh tempat seperti ini lebih banyak. Butuh taman. Butuh tempat berkumpul. Butuh lokasi untuk menenangkan pikiran, yang murah dan tak jauh dari rumah. Taman yang bukan sekedar lahan hijau dengan pohon-pohon. Namun taman yang hidup, yang penuh aktivitas, yang membuat orang merasa memiliki, dan yang menimbulkan rasa kangen untuk mendatanginya kembali.

Hujan dan Billboard

Siang tadi hujan turun sangat deras, diikuti angin kencang. Saya sempat basah kuyup sejenak tadi sesaat sebelum masuk taksi di kala hujan menderas tiba-tiba. Sorenya, sekembalinya saya meeting di Senayan, hujan sudah berhenti. Seperti biasanya, hujan deras dan angin kencang mendadak, akan diikuti dengan kemacetan Jakarta yang menggila.

Hari ini pun tidak berbeda dengan hari-hari serupa dahulu. Mobil tak bergerak dimana-mana, karena muncul banyak genangan dadakan. Saya berada di bus Trans Jakarta menuju arah Tomang pun ikut berhenti. Jalur bus dipenuhi oleh mobil yang ikut berdesak-desakan. Perjalanan yang sangat lama, hanya dari Semanggi hingga Rumah Sakit Harapan Kita.

Sesampainya di halte tujuan, saya melihat angin kencang telah menghajar 2 billboard. Di seberang Harapan Kita, dan yang berada persis di depannya. Tiang raksasa penyangga tak berkutik. Billboard roboh menimpa dan ikut menghancurkan pohon di sebelahnya. Kemacetan terjadi karena mengevakuasi billboard dan potongan pohon jelas bukan hal yang mudah.

Malam ini saya membaca tweet @ndorokakung ini:

Seketika saya teringat dengan cerita tentang kota Sao Paulo di Brazil. Kota ini menjadi kota satu-satunya di dunia, yang bukan bagian dari negara komunis, yang melakukan pembersihan iklan ruang luar besar-besaran. Walikota Gilberto Kassab menjelaskan, kalau polusi tidak hanya dari udara, air, dan suara, tapi juga visual. Oleh karena itu polusi semacam ini harus diperangi. Baca saja tulisan tentang Sao Paulo ini lebih jauh.

Ternyata pembersihan polusi visual ini didukung penuh warga kota. Boro-boro billboard raksasa, menempel plamfet di dinding saja sudah pasti dikenakan denda. Mau lihat seperti apa kota Sao Paulo tanpa iklan luar sama sekali? Coba lihat saja video berikut.

Kalau sudah melihat ini, pasti langsung iri. Kota bisa bersih dari billboard pengganggu visual. Sebenarnya bukan berarti iklan ruang luar tidak perlu ada, tapi kalau melihat di Jakarta, uanglah yang sepertinya berbicara. Billboard bisa ditemukan di manapun, dengan desain seadanya, tanpa memperhatikan lingkungan sekitarnya. Entahlah apakah Dinas Tata Kota dan Dinas Pertamanan punya panduan tentang ini. Kalaupun memang ada, entah apakah ini mereka pedulikan atau tidak.

Kalau billboard dibangun dengan batasan yang lebih ketat (bahkan kalau perlu nggak perlu ada), mungkin kejadian semacam di atas tidak akan terjadi. Plus, mata kita pun jadi lebih sehat memandang jauh tanpa distraksi visual berbagai warna dan terang cahaya di hadapan kita.