Muktamar BYAR|PET dan Negro Boncel Award

Seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, di jumat malam sebelum Pesta Blogger berlangsung, teman-teman blogger BHI membuat acara Muktamar Blogger. Karena tahun ini, Pesta Blogger berubah namanya menjadi ON|OFF, maka wajarlah bila Muktamar Blogger pun ikutan tren dan mengubah namanya pula. Kini menjadi Muktamar Blogger BYAR|PET.

Acaranya? Ya seperti tahun-tahun dulu.. cuma ngobrol ngalur ngidul dengan teman-teman blogger lain. Undangannya untuk siapa saja, mau dari kota manapun silakan mampir, lalu berkenalan dan silaturahmi.

Tempatnya? Mengikuti tradisi teman-teman blogger BHI yang (dulu saat mereka masih muda semua), ngumpulnya Jumat malam di pelataran Plaza Indonesia. Pelataran loh ya, bukan di dalam mall-nya, karena berada di dalam mall itu nggak keren. 😀 Karena di depan Bunderan HI, maka mereka menamakan dirinya komunitas blogger BHI. BYAR|PET pun serupa, diadakannya di pelataran Plaza Indonesia. Acaranya sederhana saja. Toh yang penting ngumpul dan ngobrol-ngobrolnya.

Semalam itu BYAR|PET bikin award-awardan. Tiba-tiba ujug-ujug Cisca, Dila, saya, dan Paman Tyo diminta maju. Award yang namanya Negro Boncel Award ini diberikan kepada Cisca sebagai blogger pendatang baru terbaik, Dila sebagai tweple tergalau, saya sebagai tweple jago speak, dan Paman Tyo sebagai blogger rauwis-uwis. Halaaah.. 😀

Errr.. mengenai award-nya sendiri, saya kok ngeri ya ngelihatnya. Boneka ala Barbie disemir hitam, ditempel di atas kaleng oli bekas. Semua engselnya bisa diputar, dan bonekanya sudah diposekan dalam gerakan yang tak mungkin dilakukan manusia. Haha, mudah-mudahan nggak ada jelangkungnya :D. Oh ya, saya dapat kaos keren juga loh dari Paman Tyo.

Terima kasih loh Mas Bahtiar (juragan BHI), Paman Tyo, dan teman-teman BHI lainnya. Semoga saya dikaruniai jodoh ya, nggak cuma speak doang (loh kok curcol).

Sekarang, ini boneka enaknya saya apain ya?

Pejalan Kaki VS Pengemudi Motor

Hidup menjadi pejalan kaki di Jakarta itu memang nggak nyaman. Infrastruktur yang disiapkan Pemkot Jakarta lebih banyak menguntungkan pengendara motor daripada pejalan kaki. Trotoar untuk pejalan kaki tidak ada yang lebar. Kalaupun ada yang bagus seperti di beberapa area di dalam Mega Kuningan atau di Episentrum Kuningan, itu karena dikembangkan oleh swasta. Kalau standar yang dipakai Pemerintah yang biasa kita temukan di jalan-jalan protokol itu. Kecuali area jalan Thamrin dan Sudirman yang didesain khusus, standar trotoar di jalan-jalan lainnya menyedihkan.

Setiap ada perbaikan selokan, akan ada bagian dari trotoar yang dirusak. Sayangnya setelah itu, jarang ada yang mengembalikan kondisinya seperti semula. Akibatnya, lubang-lubang ditinggalkan di trotoar. Makanya, kalau berjalan kaki di trotoar, kita harus waspada melihat ke bawah. Menghindari beberapa lubang, bahkan kadang perlu harus sampai meloncat kesana kemari.

Sekalinya ada trotoar yang lebar dan nyaman seperti di Thamrin dan Sudirman, kita akan berhadapan dengan masalah lain. Banyak pedagang kaki lima dan motor parkir. Untuk para pedagang sih saya nggak terlalu mempermasalahkan ya. Meski seharusnya keberadaan mereka dikumpulkan di titik-titik tertentu saja, seperti di bawah jembatan penyeberangan namun diatur rapih dan bersih. Lagi pula, para pejalan kaki sekali-sekali butuh tempat untuk beristirahat sekalian minum dan makan.

Yang agak menyebalkan ya motor-motor yang parkir itu. Kalau memang jatah parkir yang diberikan gedung tidak cukup, ya sebaiknya jangan serakah melebar ke area publik. Ini bisa dilihat loh di beberapa bagian di Sudirman. Plus, sekarang dengan mewabahnya transportasi ojek, semakin banyak pula motor-motor parkir sembarangan di sekitaran halte atau jembatan penyeberangan. Ruang jalan bagi pejalan kaki menjadi semakin sempit karenanya.

Hal lain yang membuat saya heran pula adalah, apakah banyak dari pengemudi motor ini yang tidak bisa bersabar? Mereka, bersama para pengemudi mobil sudah mendapat jatah jalan raya. Ya memang kadang jalan raya yang dilewati itu macet. Macet juga kan karena salah para pengemudi motor dan mobil sendiri. Saat macet, para pengemudi motor yang nggak bisa bersabar ini suka mengambil jatah para pejalan kaki. Mereka naik trotoar, dan tanpa rasa bersalah membunyikan klakson mengusir orang-orang yang menghalanginya. Seakan-akan semua bagian jalan di Jakarta ini adalah milik mereka sendiri.

Saya sudah beberapa kali mengalami kejadian di atas. Kalau saya melihat ada motor yang naik di atas trotoar, maka saya akan mencoba menghalang-halanginya. Jalan ke kiri ke kanan supaya si motor nggak bisa lewat. Saya mencoba memancing kekesalan si pengemudi motor, sehingga akhirnya ia pun membunyikan klaksonnya. Saat itulah saya lalu berbalik dan membentak mereka, “Emang ini jalannya siapa???” Puas rasanya.

Seakan-akan trotoar tidak cukup, beberapa pengemudi motor pun mencoba menguasai level yang lebih tinggi, yakni jembatan penyeberangan. Beberapa jembatan penyeberangan di Jakarta menyediakan ramp. Niatnya sih memang untuk membantu mereka yang menggunakan kursi roda atau gerobak. Kenyataannya, yang menggunakannya adalah motor. Mereka naik jembatan penyeberangan karena malas mencari putaran di ujung jalan.

Para pengemudi motor itu benar-benar niat. Di jembatan penyeberangan di depan Rumah Sakit Harapan Kita, bagian rampnya sudah dihalangi oleh blok beton tinggi yang biasanya dipakai polisi untuk membatasi jalan. Kiri kanannya yang berupa pijakan tangga tidak dihalangi, sehingga pejalan kaki masih bisa melewatinya. Namun itu ternyata tak menghalangi para pengemudi motor. Mereka turun dari motornya, lalu mengangkat sedikit demi sedikit motornya melewati pijakan tangga, lalu memindahkannya ke ramp. Setiap kali saya melihat ini saya cuma bisa geleng-geleng saja. Pernah sih ada yang mencoba dan nyangkut. Saya cuma biarkan saja dan memandang senyum sinis kepada pengemudi motor tersebut.

Saya akan menghormati para pengemudi motor kalau mereka mau menghormati yang juga berjalan kaki. Caranya sebetulnya sederhana. Gunakanlah jalan yang sudah disiapkan masing-masing. Jalan raya untuk pengemudi motor. Trotoar dan jembatan penyeberangan adalah jatahnya pejalan kaki. Ingatlah kalau kalian pengemudi motor jauh lebih beruntung. Punya jalan yang bagus dan nyaman untuk berkendara. Kalaupun macet itupun karena ulah kalian sendiri bukan? Janganlah trotoar pun menjadi arena kekuasaan kalian. Pejalan kaki pun rindu akan rasa nyaman dan aman saat mengarungi Jakarta.

Ikutan Eksperimen Flashmob

Hari Jumat malam lalu, terkait dengan Sumpah Pemuda, saya tertarik untuk ikutan acara yang saya tahu infonya hanya dari Facebook. Ini baru sebenar-benarnya flashmob, karena semua yang ikut serta benar-benar atas keinginan sendiri dan tanpa bayaran. Sebenarnya saya suka malas mengikuti acara yang ujung-ujungnya ditunggangi brand. Makanya saya coba tanya sana sini dulu, memastikan kalau perhelatan flashmob ini tidak disponsori brand tertentu. Sejauh yang saya tahu saat itu, memang tidak ada.

Di flashmob ini, semua peserta yang mau ikutan harus terlebih dahulu mengunduh MP3 berdurasi 25 menit. Kita hanya boleh memutar MP3 ini pukul 19:00 tepat di Central Park. Selama 25 menit itu, nantinya akan ada petunjuk melalui rekaman MP3 kegiatan apa yang harus kami lakukan. Peserta yang datang harus mengenakan kaos putih dan merah, sesuai tanggal kelahirannya di angka ganjil atau genap. Peserta juga harus membawa senter dan membawa jaket atau rompi untuk menutupi kaos yang kita pakai.

Barisan Merah dan Putih

Di Central Park saya bertemu dengan Rahne dan Muty (dan temannya yang saya lupa namanya). Ternyata hanya bermodal undangan di Facebook, yang disebar dari mulut ke mulut, banyak sekali yang berdatangan. Hujan rintik-rintik nggak membuat minat para peserta mengendur.

Jam 19:00 tepat kami semua memainkan MP3 di ponsel kami masing-masing. Petunjuk di MP3 mengajak kami semua untuk freeze (diam di tempat), jongkok, meloncat-loncat, mengayun-ayunkan senter ke langit, membentuk bendera Merah Putih berdasarkan kaos yang kami pakai, menyanyikan beberapa lagu wajib, hingga membaca bersama Sumpah Pemuda.

Muty, Rahne, dan temannya Muty

Sayangnya memang meski melalui Facebook, kita sudah diminta untuk mencocokkan waktu di jam kita masing-masing, kenyataannya di lapangan, sinkronisasi susah dilakukan. Saya misalnya, telat memencet tombol play, sehingga ketinggalan dibanding peserta lainnya. Di tengah-tengah aksi flashmob, saya akhirnya mempercepat petunjuk supaya bisa sinkron dengan peserta lainnya.

Di akhir acara, flashmob ini sungguh menyenangkan. Fun yang jelas. Saking besarnya energi para peserta yang ikutan berpartisipasi, hingga acara flashmob berakhir pun, mereka masih asyik berkumpul beramai-ramai spontan di tengah taman di Central Park.

Hmm.. buat saya yang ikut merasakan langsung di dalamnya, aksi flashmob ini sungguh eksperimen sosial yang sangat menarik. Betapa banyaknya orang yang antusias ikutan, meski dalam kemisterian tindakan apa yang harus dilakukan di lapangan. Kegiatan ini pun tanpa promosi heboh, namun bisa mendatangkan lebih dari 100 orang untuk terlibat aktif berpartisipasi.

Siapa yang sudah pernah ikutan flashmob serupa sebelumnya?

Foto-foto usai bubaran flashmob

Berjalan Kaki di Jakarta

Beberapa hari lalu, sekitar jam 7 malam, saya berjalan menuju FX di Sudirman. Tahu dong banyaknya galian saluran air di sana? Nah, koran-koran kan ngeributin jalan yang jadi macet, karena sebagian jalur lambat terambil jatahnya gara-gara galian. Seharusnya para pengguna trotoar pun protes pula. Lah, gimana nggak? Urukan galian itu kan ditimbunnya di atas trotoar jalan.

Jalur pedestrian di Jalan Sudirman depan area Senayan kan termasuk yang lumayan lebar. Nah, gara-gara galian itu, jatah pejalan kaki jadi menyempit. Belum lagi, kala itu pasca hujan. Tanah-tanah tumpukan galian membuat jalan menjadi becek dan licin. Nggak kebayang sih itu, pasti nanti trotoarnya rusak pasca proyek galian saluran air itu selesai.

Sempitnya pedestrian karena timbunan tanah akibat galian

Ya ya ya, saya sih sudah tahu (dan mencoba maklum) kalau kaum pejalan kaki di Jakarta itu prioritas kesekian, setelah kendaraan bermotor. Bujet infrastruktur lebih kelihatan untuk pembangunan jalan tol dan jembatan, dan jarang terlihat dipakai untuk membuat para pejalan kaki menjadi lebih aman dan nyaman. Boro-boro memikirkan para disabilitas, para pejalan kaki biasa saja harus waspada kalau melangkah. Siapa yang pernah tersandung di trotoar? Atau malah-malah jangan-jangan pernah ada yang masuk ke lubang di trotoar lagi? Untungnya saya belum pernah sih terjatuh ke dalam lubang, tapi kalau tersandung, entah sudah berapa kali.

Kalau sudah begini, jujur saja, saya iri banget dengan pedestrianisasi yang dibangun di Hongkong, Singapura, atau Jerman. Bahkan saat saya ke Shenzhen, Cina, saja, yang awalnya saya kira kondisinya nggak berbeda dengan Jakarta, ternyata jauh lebih nyaman berjalan kaki di sana daripada di kota ini.

Galian dan perbaikan pasti selalu ada, karena toh infrastruktur butuh perawatan. Bedanya adalah, kalau di Hongkong atau Singapura, kontraktor yang melakukan perbaikan harus menyiapkan jalur alternatif untuk para pejalan kaki. Nggak boleh ada kejadian, para pejalan kaki harus berjalan di atas jalan raya. Jalur alternatif ini (meski hanya menggunakan papan-papan tripleks) tetap dibangun dengan mempertimbangkan para disabilitas. Tetap ada ramp, saat peralihan dari trotoar ke zebra cross. Kalau proses pembangunan itu mengganggu arus lalu lintas dan penyeberangan pejalan kaki, maka akan ada tim kontraktor yang menjaga di semua sudut perempatan, dan ikut mengarahkan ketertiban lalu lintas. Intinya, perbaikan trotoar atau jalan nggak boleh menghilangkan jalur pergerakan manusia dan kenyamanan yang sudah ada sebelumnya.

Kayaknya, sepanjang para pejabat nggak pernah merasakan kehidupan para pejalan kaki di Jakarta, kebutuhan akan keamanan dan kenyamanan berjalan kaki di atas itu hanya akan jadi mimpi saja.

Nikmatnya berjalan kaki di Mampang Prapatan

Pilihan dalam Kemacetan Jakarta

Siapa yang nggak capai mengarungi lalu lintas Jakarta setiap hari? Pergi berangkat ke kantor dihadang macet. Pulang kembali lagi dihadang macet. Mau lewat tol juga nggak terlalu banyak berbeda. Ongkos tol dalam kota sudah naik menjadi Rp.7.000,00 sekarang. Harga naik tapi kualitas layanan tak berubah. Jumlah mobil di Jakarta memang sudah terlalu banyak, melebihi kapasitas kemampuan jalan yang ada.

Entah siapa yang mau disalahkan. Mau menyalahkan Gubernur DKI juga percuma. Masalah transportasi di Jakarta sudah terlalu kompleks untuk dipecahkan. Jumlah bus Trans Jakarta kurang. Angkutan umum lain pun jjauh dari rasa aman dan nyaman. Saya yakin, kalaupun Ali Sadikin masih hidup dan menjabat sebagai Gubernur, nggak akan seketika itu pula masalah transportasi akan hilang.

Paling enak sih sebetulnya saya menyalahkan diri saya sendiri saja. Kenapa juga saya bawa mobil kemana-mana? Bikin jalan Jakarta yang sudah penuh menjadi semakin penuh. Saya memang nyaman di dalam mobil yang ber-AC dingin. Namun kaki saya juga pegal setengah mati menginjak gas dan rem bergantian. Mau kemana-mana naik mobil memang gampang. Lah ya tinggal menyetir saja kan? Nggak perlu mikir ganti bus Trans Jakarta dan mengantri panjang di halte transitnya. Hanya perlu siap mental dan strategi untuk memilih jalan yang macetnya mendingan.

Buat saya pribadi, ada hal tambahan yang harus diperhatikan saat menyetir. Mobil saya sudah tua. Sudah lebih dari 15 tahun saya membawanya. Saya selalu was-was setiap kali menyetir. Takut kalau radiatornya kembali bermasalah. Kipas mati atau radiator bocor di tengah kemacetan itu sungguh menyiksa. Pernah suatu waktu suhu mobil saya meningkat cepat saat terkena kemacetan parah di depan gedung MPR/DPR. Mau minggir susah. Mau tetap jalan jelas nggak mungkin. Intinya saya jadi punya tanggungan tambahan saat saya bepergian di Jakarta. Tanggungan yang bukan bikin masalah jadi sederhana, malah bisa bikin mumet kepala.

Jakarta sudah terlambat lebih dari 20 tahun untuk keluar dari masalah kemacetan, dan sepertinya tidak akan ada solusi instan untuk memecahkannya. Daripada terus mengeluh, lebih baik saya ikut menyumbang bagian dalam pemecahannya.

Sudah beberapa bulan ini saya pun lebih memilih menggunakan bus Trans Jakarta, Kopaja, bus umum, hingga kalau terpaksa ojek dan taksi. Memang nggak ada yang senyaman, seaman, dan semenyenangkan saat saya menggunakan transportasi umum di negara lain. Sebelumnya saya sudah merasakan nikmatnya berkelana hanya menggunakan angkutan umum di negeri Jerman, Hong Kong, dan Singapura. Jauh banget memang kalau saya membandingkan Jakarta dengan tiga negara itu.

Dengan kondisi ini saya pun punya dua pilihan. Satu, menyetir mobil sendiri dan stres saat menghadapi kemacetan. Dua, sebisa mungkin menggunakan angkutan umum yang masih jauh dari rasa nyaman. Keduanya tidak ada yang enak. Namun kalau boleh memilih yang mendingan, maka saya akan mengambil pilihan kedua. Kalau itu artinya saya harus berdesak-desakan, antri panjang di halte, mendengarkan beragam pengamen di bus, maka buat saya itu adalah pilihan yang lebih melegakan hati, daripada saya stres punya tanggungan mobil yang tak bisa bergerak kala macet merajalela.

Tidak berarti saya lalu tak menggunakan mobil sama sekali ya. Saya masih suka menyetir di akhir pekan. Minimal untuk menjaga supaya mesin mobil tetap awet. Minimal untuk bisa mendengarkan musik mengalun tanpa terganggu bisingnya suara jalan.

Itu pilihan saya untuk menghadapi keruwetan Jakarta. Kalau pilihan kamu?