Hiburan ala Bus Kota

“Aku mau jadi teroris saja. Aku mau bom bunuh diri.”

“Janganlah kau jadi teroris. Buat apa juga? Kau akan mati pula nanti. Banyak orang tak berdosa bisa ikut menjadi korban.”

“Ah, tak ada orang yang tak berdosa. Lagi pula, kalau aku mati, tak ada juga yang peduli padaku. Aku ini kan bukan orang siapa-siapa.”

“Janganlah kau begitu. Lebih baik kita bikin Persatuan Copet saja.”

Percakapan di atas terjadi di dalam bus Kampung Rambutan – Grogol yang saya naiki saat pulang tadi. Dua orang (yang tampaknya seperti) mahasiswa bermain aksi drama sambil bergelantungan di bus kota. Mereka berdua mengenakan kacamata gaul. Salah satunya terlihat sesekali memainkan suling, untuk melengkapi cerita drama berdurasi sekitar 10 menit itu. Mereka memang tidak terlihat seperti anak jalanan pada umumnya.

Saat aksi drama selesai, salah satunya mengeluarkan kertas yang digulung membentuk kerucut bak tempat menyimpan kacang rebus. Ia beredar dari depan ke belakang berharap ada yang menyumbang. Saya pun ikut memberi donasi, sekedar sebagai tanda apresiasi. Meski sebetulnya konten yang dibawakan garing, tapi setidaknya mereka berdua mencoba membawakan sesuatu yang berbeda di dalam bus. Saya sempat menguping saat mereka berdua berdiri di belakang menunggu bus untuk berhenti. Mereka berdua mengevaluasi performa mereka. Luar biasa.

Tak lama setelah mereka turun, dua orang remaja lain berganti mengisi “panggung” bus. Kalau yang seperti mereka berdua memang bikin orang malas untuk mengapresiasi. Isinya standar, mengaku sebagai anak jalanan yang butuh makan, lalu daripada merampok dan mencuri, lebih baik meminta-minta di bus kota. Jujur saja, saya paling malas melihat yang seperti ini. Bilang butuh makan, tapi di dalam bus malah terlihat merokok. Bilang nggak akan berbuat jahat, tapi membangun persepsi yang tidak enak di mata penumpang, dengan memamerkan tato yang memenuhi masing-masing tangannya.

Dulu malah saya pernah kebagian yang lebih parah lagi. Cerita yang dibawakan tak beda dengan dua remaja di atas, namun yang dipertunjukkan adalah permainan pisau. Saat itu ada dua remaja dengan gaya yang tak beda jauh dengan yang tadi saya lihat. Mereka memain-mainkan pisau silet di lidah dan tangan mereka. Nggak terlihat luka, tapi tetap saja seram yang melihatnya. Yang terngiang di otak saat melihat itu adalah, ini kalau nggak dikasih duit, pisaunya bakal dipakai untuk mengancam nggak ya? Akhirnya saya coba untuk tidak memberikan mereka sepeser pun. Untungnya tidak terjadi apa-apa.

Di antara semua performa yang pernah saya lihat di dalam bus, yang paling unik adalah pertunjukan sulap. Serius, beneran sulap. Menghibur pula. Seorang bapak usia 40 tahunan membawa sejumlah alat peraga di plastik untuk keperluan sulap. Salah satunya adalah sebuah bohlam lampu, yang bisa menyala hanya dengan ia pegang. Kesannya tangannya mengandung listrik, sehingga bohlam bisa menyala.

Saya sudah agak lupa dua pertunjukan sulap lainnya. Yang masih saya ingat, si bapak tetap berusaha bermain sulap di tengah desakan penumpang yang berdiri. Saya juga lihat kalau dia niat dalam menyiapkan segala sesuatunya. Wah, kalau performanya seperti ini, saya pasti apresiasi banget. Memang, jangan bandingkan dengan para jagoan sulap di televisi ya. Namun setidaknya, si bapak sudah berusaha lebih untuk menghibur penumpang, daripada sekedar teriak-teriak nggak jelas bak preman, atau bernyanyi sumbang bak pengamen lainnya.

Itu sebagian cerita pengalaman saya saat “menikmati hiburan” ala bus kota. Apakah kamu punya cerita juga?

60 Menit

50 60 menit

Tanggal hari ini 26 Maret 2011, pukul 20:30 – 21:30 waktu setempat, secara serentak seluruh bumi melakukan Earth Hour, kegiatan tahunan memadamkan listrik selama 60 menit. Untuk “perayaan” ini, banyak kegiatan di pusat kota yang mendukung kegiatan pemadaman ini. Ada yang berpendapat Earth Hour tidak ada gunanya, kalau perilaku orang tidak ikut berubah karenanya. Ada yang berpendapat Earth Hour hanya sebagai ajang popularitas pihak korporasi tertentu untuk menunjukkan kesan kepedulian. Ada yang berpendapat kegiatan Earth Hour yang harus dilaksanakan sebagai perayaan, lengkap dengan konser musik dan hiburan pendukung.

Bagi saya pribadi, Earth Hour sebenarnya hanya sebagai pengingat diri kalau kita harus lebih banyak berhemat. Hemat menggunakan listrik, hemat dalam menggunakan bahan bakar fosil.  Hemat yang sebetulnya bisa menguntungkan diri sendiri dari sisi ekonomis. Nggak usah jauh-jauh memikirkan bumi deh. Dengan kita hidup lebih hemat dalam menggunakan listrik dan lebih banyak menggunakan kendaraan umum, bumi ikut tertolong dengan sendirinya kok. Saya sudah sebulan lebih ini menghindari menggunakan kendaraan pribadi kalau berkendaraan sendirian. Selain mengurangi stres diri karena kemacetan, juga dalam jangka panjang menghemat ongkos bensin pertamax dan pemeliharaan kendaran.

Malam Earth Hour ini saya datang untuk kedua kalinya di kegiatan yang diselenggarakan Coca-Cola. Beberapa teman sempat saya foto di kegelapan malam selama 60 menit ini. Dari kiri ke kanan: @leonisecret, @natalixia, dan @nanathnadia. Modalnya hanya cahaya lilin, ISO 1000, dan menahan nafas agar tidak bergeming saat menjepretkan rana.