Faint★Star di Tokyo Hits! Live Jakarta

cover_CD_01

Makin sering aja ya event Jejepangan di Jakarta, dengan skala yang berbeda-beda. Semalam saya datang ke event yang diselenggarakan oleh Tokyo Hits! Live di Loop Station Mahakam, Jakarta. Event ini merupakan kelanjutan event bernama serupa yang diselenggarakan di Loop Station Bandung. Penyelenggaraan event musik ini memang bertujuan untuk mempromosikan duo pop dari Jepang bernama Faint★Star (namanya memang pake bintang di tengah). Event semalam dibuka oleh idol muda Marthina Meliana dan grup DJ bernama Red Shift. Anggap aja kayak event di kafe-kafe, yang nonton bebas ke sana ke mari, karena memang tidak terlalu penuh.

Duo pop Faint★Star ini bernama Hina dan Yuria. Saya baru tau kalau mereka setahun belakangan ini rajin banget dateng ke Indonesia. Ceritanya berawal sejak mereka membagikan video trailer tanggal 29 Desember 2013 di YouTube, yang ternyata ditonton 3.000 kali hingga akhir tahun, dan kebanyakan penontonnya adalah dari Indonesia dan Taiwan.

Mereka merilis single perdananya di musim panas 2014, dan pertama kali mempromosikannya di Indonesia saat Ennichisai 2015. Sejak saat itu mereka sudah datang ke event Jejepangan di Jogja, Jakarta, Bandung, lalu kemarin ke Jakarta lagi. Saat perform di event Fesbukan 4 di Unpad Bandung kemarin, mereka bahkan mengenakan seragam Persib. 😀

Mungkin karena Faint★Star mengganggap Indonesia sebagai target pasar yang penting, mereka sampai membuatkan video klip lagu Lips!! dengan menampilkan visual saat kunjungan mereka ke Ennichisai. Mereka juga menambahkan teks bahasa Indonesia untuk 2 video klip. Bahkan CD single dan album mereka pun ada yang dijual dengan versi bahasa Indonesia. CD ini mereka publikasikan dan jual sendiri, tidak berpartner dengan label rekaman lokal.

Mereka sepertinya merasa hal itu belum cukup. Di bulan November nanti Faint★Star akan muncul dalam format komik yang dipublikasikan di majalah komik re:ON, dan akan dirilis di event Indonesia Comic Con.

Berikut ini beberapa foto Hina dan Yuria saat mereka perform semalam di Loop Station.

Faint★Star

Faint★Star

Faint★Star

Faint★Star

Faint★Star

Faint★Star

Bonus, beberapa foto Marthina Meliana dan Red Shift saat membuka event semalam. Lebih lengkapnya silakan cek album Flickr ini ya.

Red Shift

Red Shift

Marthina Meliana

Marthina Meliana

Rochi no Hori V

Nama eventnya susah amat sih diinget, Rochi no Hori. Sejak kemarin selalu salah tulis. Event Jejepangan ini digelar tahunan oleh SMA 67 yang berlokasi di Halim Perdanakusuma. Lumayan jauh dari pusat kota Jakarta. Tahun ini adalah tahun kelima diselenggarakannya event ini. Saya datang ke sini hari Sabtu kemarin karena memang berniat untuk memotret yang menjadi bintang tamunya: Popstripe, HoneybeaT, dan Lumina Scarlet.

Siang itu luar biasa panasnya. Panggung berada di tengah lapangan basket. Asli lah pokoknya para penonton dijemur di tengah teriknya matahari. Untuk ukuran acara Jejepangan, sayangnya tak terlalu banyak yang datang. Saya bisa leluasa mondar-mandir pindah tempat saat memotret.

Popstripe dijadwalkan jam 11:15 namun baru perform usai break siang, jam 12:15. Popstripe semestinya terdiri dari 7 orang, namun hanya 6 orang saja yang perform saat itu. Salah satunya adalah Rica Leyona, yang graduate dari JKT48 setahun yang lalu. Personil lainnya adalah: Kartika Intan A.L (Tika), Mohamad Ramlan Hidayat (Alan), Mega Indriani (Ega), Andini Kyou Pane (Tresh), Mohamad Rizqi (Kyu), dan Puspandini. Tika tidak ikut perform kemarin. Popstripe biasanya membawakan cover lagu-lagu pop Jepang.

IMG_8727

IMG_8718

IMG_8759

Selanjutnya perform dari band HoneybeaT, membawakan beberapa lagu cover dan juga lagu-lagu mereka sendiri. HoneybeaT terdiri dari: Nita Akhsana (vokalis dan melodyhorn), Catur Cahya (gitar dan synth), Kautsar (keyboard), Gema Mahardhika (bass), dan Andos Madjid (drums). Coba deh simak Soundcloud mereka. Asyik banget lagu-lagunya. Mereka juga membawakan single terbaru mereka, Laras Ambisi, yang baru banget mereka rilis online kemarin. Di tengah perform mereka juga membagikan beberapa CD album mereka… dengan cara dilempar ke penonton.

IMG_8806

IMG_8827

IMG_8833

Lumina Scarlet lanjut mengisi stage. Sayang hanya 4 dari 5 member Lumina Scarlet yang perform: Nime, Yuchan, Utat, dan Sachi. Nao berhalangan hadir, namun hal ini tidak mengurangi semangat mereka untuk menampilkan yang terbaik. Seperti biasanya, Lumina Scarlet mengcover lagu-lagu Jepang, sambil menyisipkan lagu mereka sendiri, Scarlet Melody, di tengah-tengah.

IMG_8922

IMG_8957

IMG_8968

IMG_8865

IMG_8918

Usai Lumina Scarlet perform, acara masih terus berlangsung hingga sore. Namun saya memilih untuk langsung pulang, karena toh tidak ada lagi yang saya tunggu di acara ini.

Foto-foto Popstripe, HoneybeaT, dan Lumina Scarlet di Rochi no Hori V bisa dicek di album Flickr ini.

Selfie di Atas Panggung

Kalau sering lihat aksi performer di stage, salah satu yang umumnya mereka lakukan adalah selfie di stage. Waktunya bisa di tengah-tengah mereka membawakan lagu, atau paling sering sih di saat menutup acara. Saya juga suka motretin aksi selfie ini. Tujuannya? Hihihi biar bisa dibandingin atas bawah seperti foto-foto berikut ini.

Yona dan Lidya JKT48

IMG_3335

Isyana Sarasvati

IMG_6554

Thank you Indo Jazz Festival 2015 & @isyanation_ you guys JAZZ (HAHA)! Kidding, you guys ROCK! ?? #IndoJazzFest2015

A photo posted by ISYANA SARASVATI ? (@isyanasarasvati) on

Baim Wong dan JKT48

IMG_5381

jkt 48 ✌?️

A photo posted by baim wong (@baimwong) on

Kezia Karamoy dan Cherrybelle

IMG_8574

Silent Siren

IMG_2454

Mencoba Fisheye Zoom dari Tokina

Kemarin teman saya sekantor baru belanja lensa Tokina 10-17 mm f 3.5-4.5 untuk Canon. Lensa ini masuk kategori fisheye, tapi bisa di-zoom. Seperti lensa fisheye lainnya, garis lurus akan dibuat menjadi kurva. Semakin kecil angka mm-nya, semakin besar distorsinya. Teman saya beli lensa ini untuk dipakai memotret bawah air, dan memang biasanya lensa fisheye yang dipakai untuk kebutuhan itu.

IMG_20151023_071603_HDR

Saya sendiri masih punya satu lensa manual fisheye merk Samyang 8 mm. Distorsinya lebih besar lagi daripada versi Tokina. Lensa ini akhirnya jarang dipakai. Kegunaannya memang hanya untuk gimmick, dan pelengkap tambahan saat pemotretan. Aneh banget rasanya kalau saya pakai untuk memotret rutin sehari-hari.

Biasanya lensa fisheye kurang cocok untuk kamera full frame. Pasti akan terlihat vignette di sudut-sudutnya. Biasanya akan saya crop hasil fotonya saat pengeditan. Untuk lensa Tokina 10-17 mm sendiri, ketika dipakai di kamera full frame, di putaran 10 mm vignette akan terlihat, namun saat di 17 mm vignette akan hilang.  Saat di 17 mm, f maksimal hanya bisa di 4.5, sehingga kurang pas bila dipakai untuk memotret di dalam ruangan yang agak gelap.

Berikut ini foto-foto Aya Anjani saat perform di Master Gaming Series 2015 kemarin yang menggunakan lensa fisheye Tokina di atas. Kalau mau lihat foto-foto Aya lainnya (yang tidak melulu fisheye), bisa dicek di album Flickr ini.

IMG_8653

IMG_8658

IMG_8695

IMG_8656

Titik Pengambilan Foto Saat Memotret Stage

Memotret stage tanpa akses media punya tantangannya sendiri. Saya bukan orang media, dan hampir nggak pernah punya akses khusus ke media pit. Saya sama seperti penonton lainnya, yang kebetulan membawa kamera untuk memotret artis yang perform di stage.

Bagi saya yang aksesnya sama dengan penonton lainnya, ada dua macam pendekatan memotret tergantung subjeknya, apakah itu JKT48 (dan idol group lain) atau artis/band lainnya. Haha, pembedaannya begitu banget ya.

Untuk gambaran dulu nih. Yang suka meramaikan JKT48 saat live itu lebih dari 50%-nya bawa kamera. Mereka memang datang untuk memotret. Jumlahnya makin ke sini makin banyak, sementara jumlah fans umum yang memang datang untuk menonton mereka live entah kenapa semakin sedikit. Para fotografer penggemar JKT48 ini sudah hadir 1-1,5 jam sebelum jadwal live. Datang lebih cepat demi posisi yang enak, seperti titik tengah paling depan. Kalau sudah duduk diam di titik itu, terutama di deretan depan, sangat kecil kemungkinannya untuk bisa pindah-pindah. Rugi posisi, dan pastinya kalau cari posisi lain, sudah dikuasai oleh orang lain. Alhasil, gambar yang dihasilkan kebanyakan memang berasal dari titik yang sama.

Memotret dari titik yang sama sebetulnya tidak terlalu masalah juga bila subjeknya JKT48. Yang difoto ada banyak pilihannya, 16 member. Saat mereka perform, blocking mereka pun berpindah tergantung lagu yang dibawakan. Biasanya sih meski saya diam di titik yang sama, saya tetap bisa kebagian memotret setiap member. Akan lebih enak memang kalau bisa punya lensa tele 200 mm atau 300 mm, karena akan bisa lebih maksimal mendapatkan jepretan setiap member.

IMG_2063

IMG_9175

Kalau kebetulan saya bisa dapat posisi di titik nol (tengah), dan di paling depan, pasti saya nggak akan melewatkan untuk memotret wide, supaya bisa mendapatkan seluruh member dalam satu frame. Apalagi biasanya idol group punya pose andalan saat penutupan sebuah lagu, yang sangat menarik bila diambil dari titik nol. Kalau pun tidak berhasil dapat di paling depan, tapi panggung yang digunakan tinggi, saya malah akan memilih untuk mundur. Tetap di titik nol, tapi saya berdiri agak jauh di belakang. Biasanya saya akan menggunakan bangku lipat dan berdiri di atasnya. Ini yang saya lakukan waktu saya memotret JKT48 dan Dempagumi, Inc di Countdown Asia Festival beberapa bulan lalu.

IMG_1051

IMG_1304

Jadi saat memotret JKT48 dan idol group, ada dua pilihan yang harus diambil. Memutuskan mengambil wide dengan berdiri di titik nol agak belakang, atau memutuskan mengambil detil 1-3 member dalam satu frame, dengan berdiri bebas di manapun (kalau bisa di barisan paling depan). Saya tidak bisa memilih dua sekaligus karena saya sulit meninggalkan posisi saat JKT48 sudah perform.

Nah, untuk memotret artis lainnya di luar JKT48 dan idol group, seperti band atau penyanyi solo, pendekatan saya lebih fleksibel. Mereka umumnya hampir selalu diam di satu posisi. Kalau pun bergerak, lingkupnya tidak banyak. Mereka juga tidak menggunakan koreografi, sehingga pose yang terlihat hampir selalu sama. Kalau saya hanya diam di satu titik, variasi hasil jepretan tidak akan bisa banyak. Untuk memotret mereka, saya tidak akan mengejar titik nol. Malah kadang saya datang ketika mereka sudah perform di stage.

IMG_7961

IMG_6508

Berdasarkan pengalaman, mereka yang datang untuk khusus memotret band atau artis solo tidak sebanyak JKT48. Kalau pun ada kamera, yang terlihat adalah ponsel, tablet, dan tongsisnya. Mereka umumnya tidak terlalu mengejar untuk berdiri sedekat mungkin dengan stage. Jarak antara penonton pun renggang, meski memadat begitu semakin mendekati titik tengah. Artinya, saya lebih leluasa untuk bergerak ke berbagai titik. Kadang saya ke sayap kiri, kadang saya ke sayap kanan. Saya malah cenderung menghindari memotret dari tengah, karena biasanya wajah si artis akan terlihat tertutup mic. Kalau dari agak samping, mic tidak lagi menjadi penghalang. Tinggal menunggu momen si artis menengokkan kepalanya ke arah samping, lalu saya potret.

IMG_8344

Saat memotret band atau artis solo, untuk memperkaya sudut pandang, biasanya saya akan mencoba mengambil suasana penontonnya. Terkadang menceritakan suasana penonton juga bisa jadi asyik. Sudut pandang pemotretan seperti ini belum pernah saya lakukan saat memotret JKT48 atau idol group lainnya, karena biasanya saya lebih fokus mengambil gambar mereka saat melakukan gerakan koreografi. Bukannya nggak mau, tapi kasusnya kembali seperti saya sebutkan di atas. Rasanya sayang meninggalkan titik yang untuk mendapatkannya saya sudah harus di lokasi 1-1,5 jam sebelumnya. Hahaha, dilema ya.

IMG_6616

IMG_7685

Mungkin cerita di atas bisa lebih memberikan gambaran kenapa saya, dan mungkin banyak teman lainnya, jarang bisa berbagi foto JKT48 yang berisi 16 orang terlihat semua. Umumnya hasil jepretan fokus pada 1-2 member saja. Namun apa yang tidak bisa saya lakukan saat memotret JKT48, setidaknya saya coba lakukan saat memotret band atau artis solo. Biar hasil fotonya nggak berkesan seperti “pas foto” semua. Hahaha… 🙂