Mencoba Fisheye Zoom dari Tokina

Kemarin teman saya sekantor baru belanja lensa Tokina 10-17 mm f 3.5-4.5 untuk Canon. Lensa ini masuk kategori fisheye, tapi bisa di-zoom. Seperti lensa fisheye lainnya, garis lurus akan dibuat menjadi kurva. Semakin kecil angka mm-nya, semakin besar distorsinya. Teman saya beli lensa ini untuk dipakai memotret bawah air, dan memang biasanya lensa fisheye yang dipakai untuk kebutuhan itu.

IMG_20151023_071603_HDR

Saya sendiri masih punya satu lensa manual fisheye merk Samyang 8 mm. Distorsinya lebih besar lagi daripada versi Tokina. Lensa ini akhirnya jarang dipakai. Kegunaannya memang hanya untuk gimmick, dan pelengkap tambahan saat pemotretan. Aneh banget rasanya kalau saya pakai untuk memotret rutin sehari-hari.

Biasanya lensa fisheye kurang cocok untuk kamera full frame. Pasti akan terlihat vignette di sudut-sudutnya. Biasanya akan saya crop hasil fotonya saat pengeditan. Untuk lensa Tokina 10-17 mm sendiri, ketika dipakai di kamera full frame, di putaran 10 mm vignette akan terlihat, namun saat di 17 mm vignette akan hilang.  Saat di 17 mm, f maksimal hanya bisa di 4.5, sehingga kurang pas bila dipakai untuk memotret di dalam ruangan yang agak gelap.

Berikut ini foto-foto Aya Anjani saat perform di Master Gaming Series 2015 kemarin yang menggunakan lensa fisheye Tokina di atas. Kalau mau lihat foto-foto Aya lainnya (yang tidak melulu fisheye), bisa dicek di album Flickr ini.

IMG_8653

IMG_8658

IMG_8695

IMG_8656

Titik Pengambilan Foto Saat Memotret Stage

Memotret stage tanpa akses media punya tantangannya sendiri. Saya bukan orang media, dan hampir nggak pernah punya akses khusus ke media pit. Saya sama seperti penonton lainnya, yang kebetulan membawa kamera untuk memotret artis yang perform di stage.

Bagi saya yang aksesnya sama dengan penonton lainnya, ada dua macam pendekatan memotret tergantung subjeknya, apakah itu JKT48 (dan idol group lain) atau artis/band lainnya. Haha, pembedaannya begitu banget ya.

Untuk gambaran dulu nih. Yang suka meramaikan JKT48 saat live itu lebih dari 50%-nya bawa kamera. Mereka memang datang untuk memotret. Jumlahnya makin ke sini makin banyak, sementara jumlah fans umum yang memang datang untuk menonton mereka live entah kenapa semakin sedikit. Para fotografer penggemar JKT48 ini sudah hadir 1-1,5 jam sebelum jadwal live. Datang lebih cepat demi posisi yang enak, seperti titik tengah paling depan. Kalau sudah duduk diam di titik itu, terutama di deretan depan, sangat kecil kemungkinannya untuk bisa pindah-pindah. Rugi posisi, dan pastinya kalau cari posisi lain, sudah dikuasai oleh orang lain. Alhasil, gambar yang dihasilkan kebanyakan memang berasal dari titik yang sama.

Memotret dari titik yang sama sebetulnya tidak terlalu masalah juga bila subjeknya JKT48. Yang difoto ada banyak pilihannya, 16 member. Saat mereka perform, blocking mereka pun berpindah tergantung lagu yang dibawakan. Biasanya sih meski saya diam di titik yang sama, saya tetap bisa kebagian memotret setiap member. Akan lebih enak memang kalau bisa punya lensa tele 200 mm atau 300 mm, karena akan bisa lebih maksimal mendapatkan jepretan setiap member.

IMG_2063

IMG_9175

Kalau kebetulan saya bisa dapat posisi di titik nol (tengah), dan di paling depan, pasti saya nggak akan melewatkan untuk memotret wide, supaya bisa mendapatkan seluruh member dalam satu frame. Apalagi biasanya idol group punya pose andalan saat penutupan sebuah lagu, yang sangat menarik bila diambil dari titik nol. Kalau pun tidak berhasil dapat di paling depan, tapi panggung yang digunakan tinggi, saya malah akan memilih untuk mundur. Tetap di titik nol, tapi saya berdiri agak jauh di belakang. Biasanya saya akan menggunakan bangku lipat dan berdiri di atasnya. Ini yang saya lakukan waktu saya memotret JKT48 dan Dempagumi, Inc di Countdown Asia Festival beberapa bulan lalu.

IMG_1051

IMG_1304

Jadi saat memotret JKT48 dan idol group, ada dua pilihan yang harus diambil. Memutuskan mengambil wide dengan berdiri di titik nol agak belakang, atau memutuskan mengambil detil 1-3 member dalam satu frame, dengan berdiri bebas di manapun (kalau bisa di barisan paling depan). Saya tidak bisa memilih dua sekaligus karena saya sulit meninggalkan posisi saat JKT48 sudah perform.

Nah, untuk memotret artis lainnya di luar JKT48 dan idol group, seperti band atau penyanyi solo, pendekatan saya lebih fleksibel. Mereka umumnya hampir selalu diam di satu posisi. Kalau pun bergerak, lingkupnya tidak banyak. Mereka juga tidak menggunakan koreografi, sehingga pose yang terlihat hampir selalu sama. Kalau saya hanya diam di satu titik, variasi hasil jepretan tidak akan bisa banyak. Untuk memotret mereka, saya tidak akan mengejar titik nol. Malah kadang saya datang ketika mereka sudah perform di stage.

IMG_7961

IMG_6508

Berdasarkan pengalaman, mereka yang datang untuk khusus memotret band atau artis solo tidak sebanyak JKT48. Kalau pun ada kamera, yang terlihat adalah ponsel, tablet, dan tongsisnya. Mereka umumnya tidak terlalu mengejar untuk berdiri sedekat mungkin dengan stage. Jarak antara penonton pun renggang, meski memadat begitu semakin mendekati titik tengah. Artinya, saya lebih leluasa untuk bergerak ke berbagai titik. Kadang saya ke sayap kiri, kadang saya ke sayap kanan. Saya malah cenderung menghindari memotret dari tengah, karena biasanya wajah si artis akan terlihat tertutup mic. Kalau dari agak samping, mic tidak lagi menjadi penghalang. Tinggal menunggu momen si artis menengokkan kepalanya ke arah samping, lalu saya potret.

IMG_8344

Saat memotret band atau artis solo, untuk memperkaya sudut pandang, biasanya saya akan mencoba mengambil suasana penontonnya. Terkadang menceritakan suasana penonton juga bisa jadi asyik. Sudut pandang pemotretan seperti ini belum pernah saya lakukan saat memotret JKT48 atau idol group lainnya, karena biasanya saya lebih fokus mengambil gambar mereka saat melakukan gerakan koreografi. Bukannya nggak mau, tapi kasusnya kembali seperti saya sebutkan di atas. Rasanya sayang meninggalkan titik yang untuk mendapatkannya saya sudah harus di lokasi 1-1,5 jam sebelumnya. Hahaha, dilema ya.

IMG_6616

IMG_7685

Mungkin cerita di atas bisa lebih memberikan gambaran kenapa saya, dan mungkin banyak teman lainnya, jarang bisa berbagi foto JKT48 yang berisi 16 orang terlihat semua. Umumnya hasil jepretan fokus pada 1-2 member saja. Namun apa yang tidak bisa saya lakukan saat memotret JKT48, setidaknya saya coba lakukan saat memotret band atau artis solo. Biar hasil fotonya nggak berkesan seperti “pas foto” semua. Hahaha… 🙂

sen·su·ous 2

Siang tadi saya mengikuti event foto hunting model di MGK Kemayoran (ini mall sepi amat ya?). Judul hunting kali ini adalah “Sexy Bikini Carwash at Shopping Center” karena memang diadakannya di dalam mall. Awalnya saya sempat mengira event-nya dilakukan di ruang luar mall, namun ternyata diselenggarakan di lantai atas mall yang memang kosong.

Selain memotret model dengan gaya umum (yang menampilkan pose dan ekspresi wajah model), kali ini saya coba sekalian eksplorasi cropping. Saya berusaha menyajikan foto yang tanpa memperlihatkan wajah model, atau hanya memperlihatkan sebagian anatomi tubuh saja. Biarkan sisa imajinasi yang bermain. Foto-foto versi cropping ini sudah ditambahkan ke album sen·su·ous di Flickr. Untuk mengaksesnya, kalian harus login di Flickr dan menonaktifkan safe search di setting.

Berikut adalah beberapa preview fotonya.

IMG_8270

IMG_8326

IMG_8340

IMG_8410

IMG_8462

Bee dan Yohana

Hari Minggu kemarin saya bersama beberapa teman ikut meramaikan event hunting di Taman Langsat, untuk penggalangan dana bantuan untuk seorang rekan fotografer bernama Denta Ramdani Siregar. Saya baru pertama kalinya ikutan event hunting bertema seperti ini. Fotografer yang ikutan diminta untuk memberikan donasi minimal Rp. 100.000,00. Banyak model yang juga berdatangan. Mereka berpartisipasi menjadi model tanpa dibayar. Semua dana yang terkumpul akan langsung didonasikan ke yang bersangkutan. Dengar-dengar dari salah satu model, katanya berhasil terkumpul dana 40 juta rupiah.

Sepanjang hari Minggu itu, sejak jam 10:00 hingga sore hari, banyak model dan fotografer yang datang dan pergi. Silakan datang dan lakukan aktivitas foto, tanpa ada batasan waktu dan sesi. Sepanjang yang difoto masih kuat, dan yang memotret juga masih kuat, silakan saja lanjut terus. Saya sendiri hanya memotret hingga jam 13:00. Saat saya pulang, masih terlihat banyak sekali fotografer dan model tersebar di beragam penjuru Taman Langsat.

Meski banyak model yang bisa dipilih, tidak banyak yang kena di hati saya untuk memotretnya. Namanya motret suka-suka kan tetap dong pakai hati. Kalau nggak sreg, nanti motretnya jadi nggak niat. Hahaha..

IMG_7836

IMG_7849

IMG_7884

Akhirnya saya menemukan satu model yang saya sangat suka karakteristik wajahnya. Ia menyebut namanya Bee. Lumayan banyak shot saya habiskan untuk memotret Bee. Anaknya juga asyik. Senyum dengan gigi yang terlihat sedikit itulah yang bikin saya (dan juga banyak fotografer lain) tertarik untuk memotretnya. Nama lengkapnya Beckha Widya. Ia baru kembali lagi di dunia model setelah vakum 2 tahun.

Usai cukup banyak memotret Bee, saya kembali berkeliling. Hingga akhirnya saya melihat beberapa fotografer melakukan pemotretan di salah satu jembatan kecil di taman. Nama modelnya Yohana Kristiani. Senyum tipis dan tubuhnya yang langsing memang menarik perhatian. Apalagi ia sempat mengenakan kacamata saat pemotretan. Siapa sih yang nggak luluh lihat perempuan manis berkacamata?

IMG_8017

IMG_7992

IMG_8029

Saya menggunakan lensa manual Helios untuk sebagian besar shot pemotretan. Hitung-hitung buat nambah jam terbang penggunaan. Repotnya kamera Canon adalah sulit melihat ketajaman fokus melalui viewfinder. Orang-orang sih menyarankan untuk melihatnya melalui live view dan di-zoom 10x. Kalau untuk motret landscape yang diam saja sih nggak masalah pakai cara itu, tapi kalau untuk motret subjek yang bergerak kan repot kalau harus pakai live view. Akhirnya saya mengandalkan mata saja. Hahaha alhasil ya begitu deh, ada banyak yang tidak fokus. Paling sulit itu mengukur fokus bila subjek berada lebih dari 2 meter, karena nggak terlalu jelas di viewfinder.

Untuk seluruh foto Bee bisa dicek di album Flickr ini, dan untuk seluruh foto Yohana juga bisa dicek di album Flickr ini.

AYA Anjani – 『Hei』

Wah, teman saya yang cantik (banget) ini baru saja merilis video klip lagu terbarunya di YouTube. Namanya Aya Anjani, dan lagu barunya berjudul 『Hei』(kayaknya mesti pake buka tutup kurung biar seperti lagu-lagu Jepang :D).

Video klip 『Hei』ini katanya diproduksi selama 3 hari dengan mengarungi sudut-sudut Serpong dan Jakarta. Kalau dilihat, setting videonya banyak banget. Yang di Jakarta mencakup jalan Sudirman, stasiun Sudirman, Pasar Baru, Kota sisi Toko Merah, Kota sisi dekat Rumah Akar, kereta Commuter Line, jembatan penyeberangan busway,  dan entah apa lagi.

Lagunya sendiri catchy. Saya sudah pernah beberapa kali melihat Aya perform live, dan suaranya yang khas ini cocok banget buat lagu ini. Kalian bisa membeli lagunya juga di iTunes. Kalau menurut kalian sendiri gimana?

Buat pelengkap, biar postingan ini ada gambarnya, berikut ini foto-foto kak Aya saat minggu kemarin perform di Korea Festival 2015 di Mal Ciputra Jakarta.

IMG_7678

IMG_7660

IMG_7681

IMG_7699