sen·su·ous

“I believe in the imagination. What I cannot see is infinitely more important than what I can see.” ~Duane Michals, Real Dreams.

That quote probably would represent the photo galleries below. Taken few months ago on the islands at northern part of Jakarta. See more of them at this Flickr gallery. You need to have a Flickr account first before accessing the gallery. And please check your back, don’t let your boss or your parents see this one.

IMG_5429

IMG_7203

IMG_7105

IMG_5587

Life with XL

Sudah entah berapa tahun lamanya saya menggunakan nomor XL. Mungkin saking lamanya kali ya. Secara perlahan, identitas nomor XL ini mulai menggantikan nomor lama saya, mengingat hanya nomor ini sajalah yang saya pakai untuk kebutuhan akses data. Artinya, semua akses komunikasi mobile saya melalui email, WhatsApp, Line, Twitter, dan Facebook, hanya nomor XL ini sajalah yang saya pakai.

Dulu saya agak enggan memberikan nomor yang saya pakai untuk WhatsApp ke klien. Nomor ini hanya saya berikan ke keluarga dan teman-teman dekat saja. Saya selalu berupaya memberikan nomor lama saya ke klien, sehingga mereka hanya bisa mengontak saya melalui SMS. Hahaha, tapi akhirnya saya yang menyerah terhadap kecepatan zaman. Beberapa klien (yang baik) saya bagi nomor XL saya. Komunikasi melalui chat di WhatsApp nggak dipungkiri lebih cepat dan praktis. Di sisi buruknya, kalau dapet omelan juga jadi lebih cepat ya hahaha…

Saya termasuk pengkonsumsi internet yang cukup berat, bahkan mungkin bisa dibilang adiktif. Adalah suatu keajaiban jika saat saya di luar rumah atau kantor, dan saya tidak sedang melakukan aktivitas khusus, mata saya tidak menatap ponsel lebih dari 5 menit. Jari-jari saya menggeser layar ponsel, mengganti-ganti antara Twitter, WhatsApp, Line, Facebook, Instagram, dan Flickr. Padahal ujung-ujungnya saya hanya men-scroll dan membaca, tapi tidak mem-post sesuatu. Apalagi bila ada cerita atau berita menarik yang menjadi percakapan di Twitter. Sepertinya kalau percapakannya sudah terjadi lewat dari satu jam, sudah menjadi hal yang basi untuk diikuti.

Saya bisa menggunakan koneksi kabel yang cepat baik di rumah atau kantor. Namun saat di perjalanan, andalan saya hanya satu ponsel yang menggunakan koneksi XL, yang mau nggak mau harus saya terima dalam kondisi apapun (kayak jodoh aja ya). Saat dalam perjalanan naik bus Trans Jakarta dari rumah ke kantor pun saya sudah hapal titik mana yang sinyal XL-nya kuat, dan titik mana yang tidak ada data masuk sama sekali. Biasanya saat mendekati jembatan Semanggi, saya menghentikan aktivitas saya di depan ponsel, karena di situlah titik terlemah sinyal XL selama perjalanan saya. Melewati jembatan Semanggi, sinyal XL akan kembali menguat.

Hingga saat ini saya selalu rutin menggunakan paket HotRod 3G+ bulanan 3 GB seharga Rp. 49.000. Ini sudah sangat cukup (sebetulnya), karena ini hanya dipakai saat saya mobile. Kenyataannya sih, baru sampai 3 minggu sekarang sudah selalu kehabisan kuota. Lebih dari 80% pemakaian data saya ada di aplikasi Twitter. Bisa jadi ini akibat semakin banyaknya konten visual di Twitter, terutama semakin didukungnya fitur Animated GIF dan video di Twitter.

Saya jarang membeli paket bulanan 5,1 GB seharga Rp 99.000, karena dengan nilai rupiah yang hampir sama, lebih baik saya membeli paket 2 x 3 GB daripada 5,1 GB. Hihihi betul kan? Pembelian paket 5,1 GB baru saya lakukan bila saya membutuhkan akses roaming di luar negeri. Karena kalau hanya untuk perjalanan 1-2 hari, masih lebih murah dan praktis menggunakan nomor XL (terutama untuk negara-negara yang operatornya sudah bekerja sama dengan XL dan Axiata group ya).

Saya mungkin termasuk orang yang agak susah untuk mengganti nomor. Buat saya, mengganti nomor telpon bisa menghilangkan kesempatan yang akan muncul. Jadi hingga saat ini sepertinya saya masih akan terus menggunakan nomor XL. Saya yakin semua operator, mau warna apapun, punya kekuatan dan kelemahan. Tidak ada operator yang bisa kuat di semua lini. Yang ada hanyalah, kekuatan apa yang dimiliki si operator yang memang cocok dengan kebutuhan kita saat ini.  Buat kebutuhan saya saat ini, apa yang ditawarkan XL melalui paket datanya sudah sangat memadai.

Semoga saja di tahun ke-19-nya ini, XL Axiata bisa semakin kuat. Selamat ulang tahun XL Axiata!

DSCF2852

Bermain dengan Lensa Helios

Sekitar 2 minggu lalu saya iseng beli mainan baru (halah, iseng). Mainan itu berjudul lensa manual Helios 44-2 58 mm. Lensa lama buatan Rusia ini memang sudah tidak diproduksi lagi. Orang biasanya mencari dari lapak barang second. Saya menemukan lensa ini di toko MasterLensa.com di STC Senayan lantai 1. Ternyata di sana banyak sekali dijual lensa manual second. Plus, kalau kalian butuh lensa manual kalian diservis, juga bisa datang ke sana.  Saya membeli lensa Helios 44-2 58 mm seharga Rp. 800.000,00 + mount + cap, sehingga total Rp. 900.000,00.

IMG_20150926_115451_HDR

Hari Sabtu lalu saya mencoba lensa ini dengan memotret Kei Andinta. Fokus lensa Helios dilakukan dengan cara manual, alias berdasarkan kepekaan mata melihat di viewfinder. Tidak ada motor yang biasanya membantu menemukan titik fokus saat memotret. Susah? Hahaha… Banget, kalau memang belum terbiasa. Alhasil, di awal-awal banyak jepretan saya yang tidak fokus.

Lensa Helios ini memang murni lensa manual, dengan segala ketidaksempurnaannya. Namun ketidaksempurnaan ini yang malah membuatnya menjadi unik. Misalnya, saat menampilkan bokeh di background, perhatikan tepian hasil foto deh. Akan terlihat agak swirly (berputar) bentuk bokeh-nya. Atau kadang suka terlihat bocoran cahaya saat memotret subjek dengan kondisi backlight.

Kemarin sore saya sempat mampir ke Frisian Flag Cafe, sebuah kafe temporer untuk promosi Susu Bendera, di halaman depan fX Sudirman. Saya sempat memotret beberapa objek di sana dengan menggunakan lensa Helios ini. Galeri keseluruhan foto-foto di Frisian Flag Cafe ini bisa dicek di galeri Flickr ini.

IMG_7601

IMG_7611

IMG_7606

IMG_7615

IMG_7599

IMG_7616

IMG_7619

Alasan Saya Memotret

Sejak beberapa bulan terakhir ini di setiap akhir minggu, saya hampir selalu mendatangi beragam event untuk memotret aksi live apapun. Biasanya prioritasnya memang memotret aksi live JKT48, tapi kalau itu tidak ada, saya akan mencari info acara apa saja yang ada di akhir minggu itu dan siapa artisnya. Kalau buat saya menarik dan jaraknya terjangkau, pasti akan saya coba datangi.

Saya suka memotret. Rasanya aneh memang kalau tidak menggunakan kamera di akhir minggu. Mungkin ada yang ingin tahu, kenapa saya sampai segitunya aktif memotret event live di akhir minggu. Saya bisa jabarkan dalam 3 alasan:

IMG_2433

1. Latihan

Setiap kali saya aktif memotret, saya mencoba selalu mempertajam skill dan intuisi saya. Mencoba eksperimen dalam mengambil sudut pemotretan. Melatih diri mengukur pencahayaan secara manual. Latihan mengenali pola gerakan subjek yang dipotret, dan mengambil shot di saat yang pas. Yang paling penting, bisa semakin kenal dengan kamera dan lensa saya sendiri, mengetahui kelemahan dan kelebihannya. Seperti kita mengendarai mobil atau sepeda, saya mencoba supaya kamera saya bisa menjadi perpanjangan badan saya sendiri, yang saya kenal dan bisa rasakan saat saya pakai.

IMG_8604

Mengolah hasil jepretan di komputer juga bagian dari ajang melatih diri. Saya selalu kagum dengan variasi tone warna yang dibuat banyak fotografer lain. Ada masanya saya selalu mencoba membuat mirip dengan itu (meski biasanya jarang berhasil). Ada masanya saya akhirnya menemukan tone warna yang khas, yang akhirnya suka saya pakai berulang. Ada masanya saya mencoba eksperimen tone warna yang berbeda (yang kadang hasilnya nggak melulu selalu enak dilihat sih).

Pembelajaran ini saya yakin tidak akan selesai. Setiap kali usai memotret dan mengedit foto, saya selalu membandingkan dengan hasil jepretan teman yang memotret subjek sama. Pasti akan ada jepretan mereka yang bisa menjadi pembelajaran buat saya.

IMG_5350

2. Kenalan

Memotret itu salah satu medium yang bisa dipakai untuk berkenalan. Jadi inget dulu banget waktu sering datang ke pameran mobil. Memotret SPG lalu minta ID Facebook-nya untuk nanti saya tag fotonya. Modus banget ya.. Haha tapi itu beneran cara yang ampuh untuk kenalan. Dengan cara serupa saya pun akhirnya bisa berkenalan dengan beberapa performer di panggung. Saya berkenalan dengan anak-anak Lumina Scarlet melalui foto. Saya lalu jadi dikenal anak-anak Teenebelle juga karena foto. Saya kenal Hiroaki Kato pun melalui foto.

IMG_3380

Caranya sebetulnya mudah, siapa tau mau niru. Rajin-rajinlah datang ke event musik (yang kamu sukai). Foto musisi/performer yang kamu sukai. Bikin foto sebagus mungkin, dan sebanyak mungkin. Lalu segeralah pulang dan edit foto. Share hasil foto kamu di Twitter sambil mention musisi/performer itu. Kalau bisa sih, jadilah yang pertama yang men-share foto di Twitter. Lalu berdoa, siapa tau beruntung foto kamu mendapat apresiasi dari musisi/performer tersebut. Manfaatkan apresiasi itu untuk langsung ngobrol dan berkenalan dengan mereka di Twitter. Ulangi cara tersebut di event berikutnya. Biasanya, konsistensi akan mendapatkan imbalan setimpal.

Melalui kegiatan memotret saya juga berkenalan dengan banyak teman fotografer yang memiliki hobi serupa. Biasanya kami sepakatan untuk datang barengan ke event dan motret bareng. Atau ada juga yang tidak saya kenal dekat, tapi sering ketemu di event, jadinya malah ngobrol bareng dan saling tukar informasi mengenai musisi/performer yang akan difoto.

IMG_2015

3. Kesempatan

Sejak bertahun-tahun lalu saya memulai nulis blog saya berpegang pada prinsip yang sama, “Ngebloglah karena memang ingin menulis dan berbagi, bukan karena ingin mendapatkan imbalan. Namun percayalah, biasanya rejeki akan datang dengan sendirinya seiring rajinnya kita berbagi.” Hal sama saya terapkan juga dengan saya memotret. Saya melakukannya karena saya senang. Saya membagi hasilnya di Twitter biar banyak orang yang melihat, dan siapa tau ikut senang melihatnya. Kalau ada yang minta foto versi resolusi tinggi untuk kebutuhan fanbase musisi/performer itu, saya dengan senang hati mengirimkannya. Sepanjang foto itu digunakan untuk membantu mengangkat nama musisi/performer itu, saya sama sekali tidak akan keberatan.

IMG_8386

Untuk di Twitter saya memang selalu mencantumkan watermark. Namun sudah beberapa kali saya mengirimkan foto resolusi tinggi tanpa watermark ke musisi/performer, bila mereka memang memintanya. Saya tidak meminta apa-apa kecuali nama saya dituliskan sebagai fotografernya. Buat saya, hal itu sudah cukup.

Lalu kesempatan apa sih yang saya harapkan dari aktivitas memotret live ini? Salah satunya adalah saya ingin sekali-sekali diajak terlibat menjadi fotografer resmi salah satu musisi/performer. Lebih bersyukur lagi bila ternyata ia adalah musisi/performer yang juga saya sukai. Ternyata kesempatan itu datang juga. Saat ini hampir setiap akhir minggu saya jalan keliling kota mendokumentasikan audisi salah satu girl band ternama Indonesia. Semoga saja ini menjadi awal baik dari kesempatan-kesempatan lainnya yang lebih besar.

IMG_7961

Motret di Jak-Japan Matsuri

Event tahunan Jak-Japan Matsuri kali ini berjalan mirip tahun lalu. Diawali dengan event Japan Week di Plaza Senayan (6-12 September 2015), lalu ditutup di Parkir Timur Senayan tanggal 13 September 2013. Sejak seminggu sebelumnya saya sudah mengetahui jadwal hariannya, jadi saya sudah merencanakan untuk datang di hari apa saja. Hehehe ujung-ujungnya malah saya datang hampir setiap hari.

Senin malam di jadwal ada Aya Anjani. Perempuan cantik ini saya kenal di Twitter. Biasanya dia bareng grupnya, Choco Miruku, namun kali ini Aya bermain gitar solo sekaligus amenyanyi. Selain membawakan lagu-lagu cover, Aya membawakan satu lagu ciptaanya sendiri yang berjudul “Darling Selalu.”

IMG_7619

Selasa sore saya kembali datang ke Plaza Senayan. Kali ini saya melihat Angelina Hirawan menyanyikan beberapa lagu Jepang yang sebagian liriknya ia terjemahkan sendiri ke bahasa Indonesia. Tahun lalu saya pernah melihat aksi Angelina di event Plaza Blok M Matsuri, lalu beberapa bulan lalu di event Sakura Matsuri. Terakhir kali saya melihatnya sebagai MC di event Countdown Asia Festival.

IMG_7691

Rabu sore lagi-lagi saya datang. Kali ini saya menyaksikan duet Hiroaki Kato dan Rica Leyona di panggung. Mereka berdua juga yang nantinya menjadi MC di event penutupan Jak-Japan Matsuri. Seperti biasa, Hiro bernyanyi sambil bermain gitar, lagu-lagu pop Indonesia yang sebagian liriknya ia ubah ke dalam bahasa Jepang. Rica ikut membantu vokal dalam beberapa lagunya.

IMG_7866

IMG_7884

Hari Kamis sore saya melihat Aya Anjani di panggung untuk kedua kalinya. Kali ini Aya berduet dengan Ega yang bermain gitar. Kalau sering datang ke event Jejepangan, pasti familiar akan wajah Ega, karena ia memang sering muncul mengisi acara.

IMG_7966

IMG_8013

Setelah itu saya melihat seorang gadis asal Pekalongan yang pertama kalinya mentas di Jakarta. Namanya Chasandra Florence. Ia membawakan beberapa lagu Jepang. Dari gestur tubuhnya terlihat sekali kalau ia masih terlihat canggung di atas panggung. Namun untuk sebuah pengalaman pertama, tentunya usahanya layak mendapat apresiasi.

IMG_8028

Di hari Jumat yang menjadi pengisi acara adalah JKT48. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, audiens hari itu sangat ramai. Semua bangku penuh. Saya saja ikut duduk di lantai. Kalau di hari-hari sebelumnya, saya bisa bebas pindah posisi saat memotret, maka di hari Jumat, saya terpaksa diam di titik tengah depan. Kalau saya pindah-pindah, nanti malah mengganggu penonton lainnya (yang juga ikut memotret).

Sebenarnya acara JKT48 di hari ini agak membosankan. Enam member yang datang saat itu: Haruka, Shania, Ayana, Naomi, Jeje, dan Desy malah keasyikan sendiri ngomong di panggung. Mereka cerita tentang pengalaman saat shooting di Jepang untuk program acara Yokoso JKT48. Ngobrol-ngobrol ini diakhiri dengan mereka membawakan 4 lagu.

IMG_8073

IMG_8186

Saya tidak datang ke Plaza Senayan di hari Sabtu, namun saya datang saat acara penutupannya hari Minggu di Parkir Timur Senayan. Saya datang sore pas Hiroaki Kato membawakan lagu-lagunya di panggung. Hiro ditemani Rica Leyona menjadi MC-nya.

Sore hingga malam itu saya juga menyaksikan (dan memotret) Yumi, Jakarta Keion Club, tarian tradisional Betawi, Mayumi Itsuwa, J-Rocks, dan ditutup oleh JKT48. Pencahayaan malam itu cukup menarik, terutama saat penampilan J-Rocks. Mayumi Itsuwa yang terkenal di tahun 1980-an membawakan lagu klasiknya, Kokoro no Tomo, diiringi oleh J-Rocks dan paduan suara. Pencahayaan panggung saat JKT48 cukup lumayan, meski sayang terlihat gelap di sayap kanan.

IMG_8346

IMG_8360

IMG_8385

IMG_8426

IMG_8444

IMG_8502

IMG_8765

Event Jak-Japan Matsuri tahun 2015 ini terasa lebih baik dibandingkan tahun lalu yang sempat diguyur hujan saat sore. Pencahayaan panggung pun lebih baik dibanding tahun lalu yang sangat gelap. Semoga saja event tahun depan bisa lebih keren lagi daripada tahun ini.

Cek keseluruhan foto Jak-Japan Matsuri 2015 di album Flickr ini. Khusus untuk JKT48 bisa dicek di album Flickr ini dan ini.