Kategori Foto Favorit

Setiap orang punya kesukaannya sendiri saat memoret. Ada yang suka foto fashion, ada yang suka landscape, ada yang suka foto travelling, dan ada banyak macam lainnya lagi. Lalu kategori fotografi seperti apa yang saya sukai? Hihi jawabannya bisa banyak, tapi saat ini saya fokus di 3 hal ini saja:

Travelling

Setidaknya setahun sekali saya menyempatkan waktu untuk travelling. Jalan-jalan khusus untuk liburan ya, bukan untuk pekerjaan. Kenyataannya kalau jalan-jalan untuk kepentingan pekerjaan, sangat kecil kemungkinannya saya bisa memotret santai.

Tahun 2013 dan 2014 saya sempat jalan-jalan keliling Jepang bersama teman. Sementara teman lainnya murni jalan-jalan, saya sendiri memang berniat untuk memotret. Karena sering berhenti dan mengambil gambar, terkadang teman jadi ikut menunggu. Hehehe maaf ya. Pernah juga di 2012 saya berjalan-jalan ke China. Kali ini satu rombongan berisi fotografer semua yang memang punya tujuan utama memotret di beberapa lokasi di China. Untuk lokasi di nusantara, saya setiap tahun selalu ke Jogja. Saya selalu mencari lokasi baru di Jogja dan sekitarnya yang asyik untuk dijadikan objek foto. Setiap tahunnya pasti akan ada saja titik wisata baru yang menarik.

IMG_0471

Hal paling menyenangkan saat memotret kala travelling adalah selalu menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang tak pernah saya temui di Jakarta, atau bahkan Indonesia. Ada kesenangan sendiri saat saya bisa memotret itu dan membaginya di media sosial. Khusus untuk wisata di Indonesia, saya malah senang bisa membagikan infonya ke banyak orang. Siapa tau saja makin banyak yang tertarik dan bisa meramaikan titik wisata tersebut.

IMG_4239

Modelling/Fashion

Setiap minggu di Jakarta hampir selalu ada event hunting motret model dengan beragam tema. Banyak info seperti ini bisa ditemukan di forum terkenal seperti fotografer.net atau di banyak group fotografi di Facebook. Biayanya beragam dari Rp.100.000 hingga Rp. 400.000, tergantung tingkat eksklusifitas dan model yang ikutan.

IMG_1492

Setiap penyelenggara event pemotretan model berupaya menampilkan hal yang unik. Kebanyakan model yang digunakan sudah profesional. Mereka sudah terbiasa berpose, berekspresi, dan membagi matanya untuk banyak fotografer yang mengelilinginya. Untuk kalian yang memang mau belajar memotret model, event seperti ini menjadi sarana baik untuk coba-coba. Kalian bisa belajar mengambil komposisi yang baik dan mengenali pose-pose yang ok untuk pemotretan.

IMG_5611

Ada juga event pemotretan model yang bersifat private. Modelnya mengenakan pakaian minim (atau bahkan mungkin tidak sama sekali, eh) dengan jumlah fotografer yang terbatas. Sayangnya event seperti ini sangat jarang dipublikasikan terbuka. Hanya bisa didapat dalam grup tertutup atau info mulut ke mulut saja.

Sebenarnya saya kurang terlalu suka memotret model seperti ini. Bukan nggak suka lihat para model berpose seksi ya, tapi saya kurang suka melihat ekspresi dan senyuman mereka yang template ala model. Tidak ada tawa. Tidak ada canda. Kurang ada cerita di dalamnya. Mungkin karena saya dan teman-teman pernah membuat photobook Re:ON Rise (kalau belum punya, silakan beli di Rakuten), yang setiap halamannya bercerita, saya kurang mendapatkan gregetnya kalau sekedar memotret model saja. Kapan-kapan saya akan cerita lebih lanjut deh tentang photobook ini.

Stage/Konser

Kategori fotografi ini yang paling sering saya lakukan belakangan ini. Yang mungkin banyak teman saya sudah tahu, saya sering banget memotret JKT48 saat mereka live performance. Di sini saya memang bergabung dalam komunitas IdolGrapherID yang sebagian besar anggotanya selalu kelihatan memotret JKT48 di manapun di Jakarta dan sekitarnya. Biasanya setelah selesai memotret, malamnya foto-foto itu langsung sudah ada yang membagikannya di media sosial.

IMG_5823

Saya sendiri tidak melulu memotret JKT48. Saya juga masih suka memotret Teenebelle, Cherrybelle, Lumina Scarlet, dan banyak lainnya. Kalau ada idol group atau band Jepang yang muncul di event Jejepangan yang kini makin banyak di Jakarta, saya coba menyempatkan untuk datang dan ikut memotret. Terakhir ini saya sempat pula datang ke Indonesian Jazz Festival demi bisa melihat dan memotret Isyana Sarasvati dan Be3. Yang belum kesampaian, tapi saya tunggu-tunggu saat ini adalah memotret aksi live Raisa.

IMG_6507

Memotret stage itu sangat menantang, bahkan menurut saya lebih menantang dibanding dua kategori di atas. Tidak semua stage disertai dengan lighting yang keren. Tidak semua stage pun memiliki podium yang tinggi. Kerumunan orang yang datang ke stage pun bisa beragam tergantung event-nya.

Paling beruntung memang kalau stage dilengkapi lighting keren ala event sekelas Java Jazz atau Indonesian Jazz Festival. Lampu di belakang artis berwarna-warni terang, namun wajah dan figur si artis masih terlihat jelas. Memotret seperti ini tidak akan membutuhkan waktu lama saat proses editing.

IMG_6407

Sayangnya lighting seperti itu tak bisa ditemui di atrium mall. Baik JKT48, Teenebelle, atau Cherrybelle sering manggung di mall. Untuk memberi kesan “keren” biasanya mall akan menambahkan lampu warna-warni yang diarahkan ke bagian depan wajah dan badan artis. Meski kelihatannya menarik kalau dilihat mata, namun lighting seperti itu bencana bagi fotografer. Warna kulit si artis akan hilang tertutup tembakan lampu. Belum tentu foto seperti ini bisa dikoreksi saat editing. Contoh seperti ini saya hadapi saat memotret JKT48 di Mall Emporium Pluit dan Cherrybelle di Pluit Junction. Beberapa foto terpaksa saya ubah menjadi hitam putih karena saya tidak berhasil mengedit warna kulitnya.

IMG_3923

Selain 3 kategori foto favorit di atas, saya juga suka memotret apapun sih. Rasanya aneh kalau dalam seminggu tidak memencet shutter kamera sama sekali. Serasa ada yang kurang. Jadi, saya selalu mencari sesuatu yang menarik untuk difoto. Bila dalam seminggu itu saya tidak menemukan subjek pemotretan yang masuk 3 kategori favorit di atas, pasti saya akan mencoba eksplorasi hal lain, misalnya: memotret mainan atau keluarga saya sendiri.

Kalau kalian sendiri, suka memotret apa saja?

 

Workflow Editing Foto

Setiap orang mungkin punya pengalamannya sendiri-sendiri dalam melakukan proses paska produksi pemotretan. Tergantung kebiasaannya masing-masing. Nah, kali ini saya akan cerita workflow versi saya.

Umumnya setiap proyek pemotretan saya buatkan folder dengan format [tahun][bulan][hari][nama event foto], misalnya: 2015.08.30 – Indonesian Jazz Festival. Saat nanti saya punya banyak proyek foto, maka saya akan bisa melihat urutannya berdasarkan tanggal.

image

Di dalam folder tersebut, saya membuat 3 folder baru, yaitu:

  • original: berisikan semua file RAW dan JPG yang murni hasil pemotretan. Ini yang saya copy langsung dari memory card kamera.
  • final: berisikan file final resolusi tinggi yang sudah mengalami proses editing di aplikasi Lightroom dan Photoshop. File ini saya siapkan seandainya sewaktu-waktu saya mau cetak atau kebutuhan lainnya. Semua file di folder ini tanpa watermark.
  • thumb: berisikan file resolusi web dari versi final. File ini sudah cukup jelas untuk dilihat di online namun kualitasnya tidak terlalu bagus kalau dicetak. Semua file di folder ini mencantumkan watermark.

Proses editing pun dimulai dengan menggunakan aplikasi Lightroom. Saya buka semua file di folder original, lalu saya pun mulai mengedit tone dan cropping foto. Saya sendiri sudah memiliki preset tone favorit dengan beberapa kondisi pencahayaan pemotretan. Penggunaan preset ini mempercepat proses editing, dan sangat bermanfaat saat menghadapi proyek yang memiliki ratusan foto dalam suatu kondisi pencahayaan serupa. Biasanya saya tinggal apply preset, lalu melakukan adjustment sedikit saja.

Hehe itu teorinya ya. Kenyataan di lapangan berbeda. Sangat jarang saya mendapatkan kondisi pencahayaan yang sama, terutama kalau yang menjadi subjek pemotretan adalah aksi di stage. Terkadang saya juga ingin bereksperimen menampilkan tone foto yang berbeda. Makanya tidak pernah ada rumusan tone yang pasti. Preset tone saya di Lightroom pun akhirnya makin lama makin banyak.

Saya juga bukan orang yang sangat perfeksionis bahwa hasil editing akhir foto memiliki komposisi yang tidak jauh berbeda dengan saat saya menjepretkannya. Foto yang saya jepretkan landscape, saat editing akhir bisa saja saya crop menjadi portrait. Komposisi subjek yang di kanan, bisa saja menjadi di tengah setelah saya crop banyak sisi kirinya. Hanya saya perlu ingat konsekuensinya, ukuran foto akhir akan menjadi lebih kecil daripada sebelumnya.

Semua foto yang sudah saya edit tone dan cropping di Lightroom saya ekspor ke JPG resolusi tinggi 300 dpi. Saya simpan di folder final. Selanjutnya saya buka Photoshop untuk melakukan editing tambahan. Saat saya memotret seorang member JKT48 di stage saat mereka bergerak, terkadang setelah saya crop fotonya, masih menyisakan potongan tangan/jari/kaki/badan nongol di tepi foto. Kalau memang memungkinkan, potongan yang nongol ini saya hilangkan di Photoshop. Kadang saya juga masih suka melakukan adjustment tone tambahan di Photoshop bila ternyata hasil ekspor dari Lightroom kurang memuaskan.

IMG_6188

Versi asli foto Ghaida dan Dhike di atas ada potongan badan member lainnya di sebelah kanan. Di Photoshop saya sengaja hapus supaya Ghaida dan Dhike terlihat menonjol.

Untuk editing di Photoshop yang sangat kompleks, saya akan menyimpan foto dalam versi PSD yang masih ber-layer. Namun kalau editing yang saya lakukan itu mudah, biasanya langsung saya save dalam format JPG 12 300 dpi, menimpa file JPG final hasil ekspor dari Lightroom.

File ukuran web dengan watermark juga saya buat di Photoshop. File ukuran web yang saya buat adalah 1200 pixel untuk sisi terpanjang, dengan resolusi 72 dpi. Setelah itu baru saya tambahkan watermark. Ada dua macam watermark yang saya pakai. Yang sederhana, cukup dengan nama saya di pojok kanan bawah. Ada pula watermark yang menampilkan versi lengkap dengan nama event dan tanggal. Selanjutnya saya save foto ini di folder thumb.

Semua file foto ini saya backup di hard disk eksternal khusus untuk foto. Tidak saya campur dengan file lainnya. Untuk menjaga keamanan data, hard disk eksternal ini hampir tidak pernah saya angkat dan pindah-pindah. Saya juga melakukan backup data JPG versi final dan thumb di Flickr. Yang versi thumb ini yang bisa kalian lihat secara terbuka di Flickr saya, sementara versi finalnya saya private, hanya saya yang bisa mengaksesnya.

Pastinya semua orang memiliki workflow berbeda dalam melakukan proses editing foto, karena kebutuhannya pun pasti berbeda. Nah kalau workflow versi kalian seperti apa?

IMG_6406

Terpikat Teenebelle

Mungkin banyak yang sudah tau dari postingan awal-awal di blog ini kalau saya suka ngulas JKT48. Namun akhirnya setelah 3 tahun akhirnya saya merasa sampai di titik jenuh. Kalau dulu saya suka mengikuti setiap kejutannya, sekarang semua kejutan itu malah menjadi rutinitas berulang, yang kurang membuat saya tertarik lagi. Theater dengan setlist baru pun belum membuat saya untuk langsung menontonnya. Obrolan di fandom pun sudah tidak semenyenangkan dulu. Satu-satunya hal yang membuat saya masih suka grup ini hanyalah ketika ada kesempatan bagi saya untuk memotret mereka saat live performance. Sepertinya hanya itu.

Berawal dari event JXperience setahun lalu di Summarecon Mal Bekasi, saya berkenalan dengan grup-grup idol alternatif lain yang menarik. Salah satunya Lumina Scarlet yang ternyata punya basis fans yang sangat loyal dan hard core. Ada pula Wish yang sudah punya banyak lagu original tapi sayangnya belum pernah dapat kesempatan eksposur lebih luas.

Makin ke sini saya makin banyak kenal dengan grup idol alternatif lokal. Meski mereka punya cukup banyak fans, namun sayangnya memang belum ada yang kuat secara kapital dan jaringan promosi untuk menandingi JKT48. Padahal banyak di antara mereka yang berkualitas bagus.

IMG_0092
Teenebelle

Lalu datang HK Fest beberapa bulan lalu. Kebetulan saya kenal dengan penyelenggaranya. Plus saya suka dengan visi event ini, untuk mengumpulkan dan mengenalkan beragam grup idol alternatif ini di satu tempat. Sesuatu yang belum pernah dilakukan di banyak event Jejepangan lainnya. Makanya dulu saya sukarela bantu mereka sebisa mungkin (bahkan sampai tumben-tumbennya saya melewatkan konser JKT48). Detil tentang acara ini bisa dibaca di postingan saya yang ini.

IMG_0312
Rika

Di HK Fest itu untuk pertama kalinya saya mengenal Teenebelle. Grup berisikan 9 gadis muda ini adalah bentukan dari CBM, yang juga menaungi Cherrybelle. Melihat mereka membawakan beberapa lagu secara live dengan suara yang bagus, membuat saya kagum. Apalagi saat melihat salah satu personilnya ikut bermain keyboard. Sejak hari itu, saya mencoba mengenal lebih jauh personil Teenebelle. Ada Rika yang tertua sekaligus merangkap sebagai Leader di grup. Ada Yoriko yang termuda, tapi paling jago berbahasa Inggris. Ada Adel dan Abel yang ikut memperkuat warna suara grup. Lalu ada Paulina (Olin), Kikies, Livia (Pia), Shieren (Cileng), dan Fannie (Cipan) yang membuat warna grup ini lengkap dari unsur suara dan wajah.

IMG_0282
Yori

Setiap kali Teenebelle perform, saya mencoba menyempatkan diri untuk datang, melihat, dan memotret. Ketika mereka menjadi pembuka event Indonesia Balloon Art Festival di Citraland, saya datang. Lalu ketika mereka juga menjadi pembuka event NgaShow Sariayu di Gandaria City, saya juga datang. Beberapa kali juga saya datang memotret mereka saat live di Dahsyat. Setiap kali saya datang, saya mencoba mengajak teman-teman IdolGrapherID untuk ikutan datang dan memotret. Ternyata semakin lama semakin banyak yang tertarik datang untuk memotret. Saya percaya kalau hasil foto itu bisa mengobati rasa kangen, terutama untuk fans yang belum berkesempatan melihat Teenebelle langsung. Makanya, semakin banyak yang memotret dan membagi hasilnya di social media, secara nggak langsung akan membuat nama Teenebelle dikenal lebih banyak orang, sekaligus menjadi obat kangen bagi fans lamanya.

IMG_0273
Adel

Di antara sekian banyak perform Teenebelle, yang paling keren adalah event yang saya datangi hari Minggu kemarin. Teenebelle berkolaborasi dengan event fashion show yang diselenggarakan oleh Lippo Mall Kemang dalam rangkaian ulang tahun mall ini yang ketiga. Panggung berupa catwalk yang sekaligus menjadi tempat peragaan busana pria, perempuan, dan anak-anak. Aksi peragaan busana pun dibuat dengan fun. Para model pria melakukan atraksi modern dance. Lalu ada pula para model perempuan yang murah senyum, sambil membawakan balon merah. Untuk peragaan busana anak, model yang dipilih adalah anak-anak selebriti seperti Rossa, Indy Barends, dan Mona Ratuliu.

IMG_0280
Abel

Sesekali peragaan busana diselingi oleh perform Teenebelle yang membawakan secara keseluruhan 6 lagu secara live. Lagu yang mereka bawakan adalah: Cinta Monyet, Mimpi, Let It Go, Pelangi, Tersenyumlah, dan Happy Friends. Semua lagu, kecuali Let It Go, diambil dari mini album perdana mereka. Untuk sebuah pertunjukan yang diselenggarakan di dalam mall, pencahayaan panggung catwalk sangat luar biasa. Putih terang, dengan sesekali efek warna biru untuk memperkuat tone. Selama perform, member Teenebelle sesekali berkumpul di belakang, lalu sesekali mereka serempak maju dan menghibur pengunjung yang berada di kiri dan kanan catwalk. Penampilan mereka memang luar biasa. Banyak pengunjung mall berhenti dan ikut menyaksikan mereka. Para selebriti yang hadir saat itu juga terlihat terpukau melihat mereka.

IMG_0211
Fannie

Semoga saja berikutnya Teenebelle bisa mendapat kesempatan perform spesial seperti kemarin. Apalagi bisa disaksikan langsung oleh musisi sesenior Rossa. Kebanyakan member Teenebella memang masih di bawah 18 tahun, tapi mereka punya talenta yang luar biasa.

Jadi yuk, sesekali cobain datang lihat Teenebelle. Orang Jawa bilang, “Seeing is Believing.” Jadi mendingan kalian lihat langsung sendiri. Seperti banyak anak IdolGrapherID lainnya, saya yakin kalian akan tertarik, dan penasaran untuk melihat mereka lagi dan terus lagi.

Foto-foto Teenebelle di Lippo Mall Kemang lainnya bisa dicek di galeri Flickr ini.

IMG_0228
Paulina

IMG_0330
Kikies

IMG_0325
Shieren

IMG_0174
Livia

Bricks Versi Indonesia Ala Emco Brix

Kalian pasti tahu Lego kan? Lego memang leading brand untuk permainan berbasis bricks. Beberapa tahun belakangan ini makin banyak merk lain yang terjun di kategori sama, dengan harga yang jauh lebih miring. Kebanyakan merk-merk ini berasal dari Tiongkok (apa sih yang nggak bisa dibuat di sana?). Sebut saja merk Decool, SY, Lele, Wange, Sluban, dan masih banyak lagi. Masing-masing merk mengeluarkan serinya sendiri. Ada yang meniru Lego, namun banyak juga yang berinovasi dengan memasuki segmen yang tidak ada di Lego, seperti seri militer misalnya.

Ada satu merk bricks yang belakangan ini menjadi perhatian saya. Nama merknya Emco. Merk ini dijual resmi di banyak toko mainan di Jakarta. Saya bahkan mengira kalau ini merk dari luar yang diimpor ke Indonesia. Seri Dino Brix dari Emco Brix yang dijual saat event toys fair beberapa bulan lalu menyadarkan saya akan keberadaan merk ini. Desainnya bagus dan punya part yang unik. Saya sempat membeli semua seri dan memajangnya di rumah.

image

Tadi siang saya sempat mampir ke Mall Kota Kasablanka (Kokas). Emco Brix ternyata buka booth di lobi mal. Lumayan besar juga booth-nya. Di sini Emco menampilkan produk terbaru mereka, seri khusus Indonesia. Sebelumnya saya pernah lihat contoh produknya saat pameran mainan beberapa bulan lalu. Namun belum ada yang dijual saat itu.

image

Seri khusus Indonesia ini menampilkan beberapa macam desain. Yang jadi unggulan adalah Monumen Nasional (harga Rp.299.000,-). Lalu ada Metro Mini (harga Rp.199.000,-). Selanjutnya ada Bajaj warna biru dan merah (harga masing-masing Rp.69.000,-). Ada juga Pangkalan Ojek (harga Rp. 69.000,-). Sebetulnya masih ada lagi Pedagang Kaki Lima, tapi produknya belum ada di rak. Menarik sih ide produk yang disajikan. Lalu bagaimana dengan kualitas produknya sendiri?

image

Saya bersama keponakan saya yang berusia 7 tahun baru sempat memasang Monumen Nasional. Saya baru tahu kalau ternyata produk ini hanya dibuat terbatas 3.000 unit. Ada sertifikat yang menyertai produk dengan nomor urut.

Dokumentasi pemasangannya cukup jelas dan mudah dimengerti. Namun bagi keponakan saya (yang sudah terbiasa memasang Lego sendiri), ada beberapa visual yang membingungkan. Jadi, pastikan ada yang mendampingi kalau anak Anda yang berniat memasangnya sendiri.

Yang membuat Lego unggul adalah kualitas bahan bricks-nya. Saat ditempel akan langsung melekat erat, sehingga bisa menguatkan satu sama lainnya. Saat saya tadi memasang Monumen Nasional, kelekatan bricks menjadi masalah tersendiri. Beberapa harus ditekan cukup keras supaya akhirnya bisa menempel rapat. Bricks panjang dengan lebar hanya 1 grid adalah yang paling sulit untuk dilekatkan. Keponakan saya pun ikut merasakan sulitnya karena jempolnya belum cukup kuat untuk menekannya supaya bisa menempel dengan bricks di bawahnya.

image

Desain Monumen Nasional berbeda skala dengan Bajaj, Metromini, dan Pangkalan Ojek. Buat saya hal ini tidak menjadi masalah sebetulnya, hanya saja akhirnya tidak bisa dijejerkan dengan koleksi bangunan yang sudah saya punya. Namun untuk ukuran bangunan berskala mini, desain Monumen Nasional ini sudah lumayan bagus.

Yang saya sama sekali tidak suka dari Emco Brix ini adalah desain mini figure-nya. Saya paham kalau Emco Brix tidak bisa membuat desain yang persis dengan Lego, karena terkait masalah hak cipta. Namun pemilihan warna baju dan kulit mini figure yang saya dapatkan dari Monumen Nasional sungguh jelek. Begitu saya lihat, langsung saya singkirkan jauh-jauh. Lebih baik saya membeli mini figure City versi SY atau Lele untuk nanti saya gabungkan di sini.

Dengan segala kekurangannya saat ini, setidaknya saya salut dengan inisiatif Emco Brix untuk membuat produk yang erat dengan konteks budaya lokal. Saya sangat berharap akan ada lebih banyak lagi seri seperti ini, dengan tentunya ada perbaikan kualitas produk ya.

image

Pameran Emco Brix di Kokas masih akan berlangsung hingga tanggal 23 Agustus. Selain seri Indonesia, juga ada banyak seri lainnya, seperti Robo, Military, City, dll. Meski saya heran, kenapa seri Dino Brix (yang pernah saya beli dulu, dan saya sangat suka) kok malah nggak ada ya. Di pameran ini juga dijual bricks dalam bentuk plastikan. Pilih saja bricks yang kalian mau, lalu nanti akan ditimbang. Per 1 gram dikenakan harga Rp.800,- dengan ketentuan pembelian minimal sebanyak 50 gram. Varian bricks juga jauh lebih beragam dibanding saat dijual di pameran mainan beberapa bulan lalu. Kini variasi warnanya pun lebih banyak dan lebih enak dilihat.

Jadi sempatkan mampir ke sana untuk lihat-lihat ya!
image

Memotret Panggung dengan Fujifilm X100S

Coba baca artikel menarik ini deh, tentang kecintaan seseorang akan kamera DSLR-nya lalu bimbang menggunakan kamera mirrorless, tapi akhirnya lebih sering pakai DSLR-nya kembali. Apa yang saya rasakan mungkin nggak jauh berbeda dengan itu.

Sudah lama banget saya pakai Canon 5D Mark II. Kamera ini dengan beberapa lensa yang saya punya sudah sering menemani saya memotret berbagai situasi. Kalau untuk jalan-jalan, memang saya bisa pilih antara 5D saya atau kamera mirrorless Fujifilm X100S saya. Demi kepraktisan biasanya saya cenderung membawa yang mirrorless. Namun kalau untuk kebutuhan motret stage, sudah pasti saya memilih 5D, karena saya butuh lensa zoom untuk itu. Kamera X100S hanya memiliki lensa fix 23 mm yang tidak bisa diganti-ganti.

Lalu apakah X100S tidak bisa dipakai untuk memotret stage? Itu yang saya tantang ke diri saya sendiri kemarin. Kebetulan hari Selasa, 7 Juli 2015 kemarin ada event buka puasa bersama aplikasi Yogrt. Di event ini ada acara ngobrol-ngobrol bareng Raditya Dika, dan ditutup oleh performance grup GAC (Gamal Audrey Cantika). Saya coba memotret aksi GAC dengan X100S.

Kesimpulan yang bisa saya ambil sementara ini:

  • Lensa X100S kan fix, hanya 23 mm, jadi cuma bisa untuk pengambilan jarak dekat. Untuk kondisi stage ala di kafe atau bar sih masih bisa motret pakai ini. Namun untuk memotret stage besar yang biasanya dibatasi oleh media pit, yang akan didapat hanya gambar wide, tidak bisa fokus ke salah satu personil.
  • Jumlah penonton juga berpengaruh. Karena event Yogrt ini bersifat undangan terbatas, maka yang menonton juga tidak banyak. Saya bisa bebas bergerak ke sana ke mari, bahkan bisa mendekati GAC. Jadi tidak masalah memotret mereka dengan lensa fix 23 mm.
  • X100S memiliki bukaan hingga f 2, tapi akhirnya jarang saya pakai. Saya tetap pakai f 4, karena saya khawatir tidak bisa mendapatkan fokus. Apalagi kondisi pencahayaan gelap, bisa menyulitkan auto focus.
  • Saat memotret saya mencoba tanpa built-in flash dan dengan built-in flash X100S. Ternyata hasilnya lebih bagus dengan built-in flash. Terlalu gelap bila tanpa flash. Sebenarnya memang sangat tidak dianjurkan memotret stage dengan flash, karena bisa mengganggu performance musisi. Namun karena ini event undangan terbatas, saya membenarkan diri saya sendiri untuk memotret menggunakan flash. Hahaha sebaiknya jangan ditiru sih ya. Kalau ini di event besar, sudah pasti saya akan urung menyalakan flash sih.
  • Salah satu kesalahan saya kemarin adalah menggunakan ISO 6400. Tadinya saya pakai ISO 6400 demi mengejar tanpa flash. Lalu setelah akhirnya saya putuskan pakai flash, saya lupa menurunkannya. Kalau sudah pakai flash, sebetulnya pakai ISO 400 atau 800 mungkin juga sudah cukup. Konsekuensi penggunaan ISO tinggi adalah noise foto akan lebih terlihat.

Lalu bagaimana hasil-hasil foto GAC di Yogrt? Berikut ini beberapa foto pilihan. Untuk lebih lengkapnya, silakan cek galeri Flickr saya di sini.

DSCF3454

DSCF3466

DSCF3445

DSCF3449

DSCF3489