Nasib Makhluk Kerdil

Aku bersembunyi dalam gelap, merapat erat ke dinding. Denyitan kayu terdengar saat aku bersandar. Lubang terang menganga di hadapanku. Menggodaku untuk keluar mencari makanan. Sudah cukup lama aku berada dalam gelap. Makanan kini sudah tak tersisa. Paling-paling remah kecil tercecer di lantai, bercampur basah genangan, sisa-sisa yang tak layak untuk dimakan.

Aku berjalan mendekati cahaya. Merayap perlahan, mencoba mendengar bunyi di luar, berharap para raksasa itu sedang pergi. Suasana kali ini terdengar tenang. Mungkin kini saatnya aku memberanikan diri.

Aku mengintip ke luar lubang. Aku keluarkan kepalaku. Mataku menyusuri ruang luar. Ke kiri, kanan, atas, bawah. Aman, tak terlihat satupun raksasa. Para raksasa itu selalu menyimpan makanan lezat. Melihatnya sungguh mengundang selera. Sayangnya, mereka tak peduli akan kami, makhluk yang kerdil di mata mereka. Makhluk yang dianggap sampah, selalu dikejar dan dimatikan. Kami tak pernah mendapat makan. Demi kelangsungan hidup, kamipun terpaksa mencuri makanan mereka.

Baiklah, saatnya aku beraksi. Mataku menatap lurus ke tempat penyimpanan makanan. Aku bisa mencapainya cepat dalam hitungan detik. Aku mengambil ancang-ancang, dan berlari kencang. Mataku bergerak cepat melirik ke sekitar ruangan. Waspada, karena para raksasa bisa saja datang sewaktu-waktu.

Tiba-tiba hentaman keras mengguncang terdengar di belakang. Aku sempat terlompat kaget. Astaga, salah satu raksasa itu muncul! Aku mulai panik. Pilihanku tinggal dua. Mempercepat lariku ke tempat makanan, atau berbalik arah, kembali ke tempat persembunyian. Mungkin ini pilihan yang salah, tapi akhirnya dengan cepat aku putuskan. Aku lapar. Aku harus makan. Aku pun menambah kecepatan dan bergerak ke tempat penyimpanan makanan.

Hentaman demi hentaman terdengar. Si raksasa melihatku, dan kini langsung mengejarku. Langkahnya yang besar semakin mendekatiku. Secepat-cepatnya aku berlari, si raksasa bisa mengejarku. Ia cukup melangkahkan kakinya beberapa kali sebelum akhirnya berdiri di hadapanku. Jalanku tertutup. Aku pun kembali panik. Rasa laparku mendadak hilang, berganti dengan rasa takut luar biasa.

Aku benar-benar tak bisa berpikir. Pikiranku hanya satu, menghindar, menghindar, dan menghindar, saat si raksasa mulai berusaha menginjakku. Setiap hentaman kakinya membuat permukaan bergoyang, membuatku kadang terlempar. Ampun, akankah aku menjemput kematianku di sini? Aku benar-benar takut luar biasa.

Hingga akhirnya bayangan besar jatuh persis di atasku. Aku tak lagi bisa berkutik. Seketika saja semuanya gelap.

“PREEEK…”

“Akhirnya, kecoak busuk ini berhasil juga kubunuh. Sejak kemarin kecoak brengsek ini selalu mengotori makanan kita,” sayup-sayup suara si raksasa terdengar sebelum aku akhirnya pergi selamanya meninggalkan dunia.

Janji Untuk Bersama

“Aku nggak mau ikut denganmu, Mas!” tukas Maya sambil melaju mobilnya di jalur tol Kota – Tanjung Priok, yang berada sekitar 50 meter dari permukaan tanah. Saat itu tengah malam, jalan tol pun terlihat lengang. Kecepatan laju mobil mencapai 80 km/jam.

“Maya, ayolah ikut denganku. Kamu masih cinta kepadaku, kan?” tanyaku yang duduk di bangku sebelah pengemudi.

“Masa kita sudah lama berlalu, Mas,” kata Maya. Matanya terus menatap ke jalan. Ia tak berani menatapku. “Kamu tahu, Mas. Hatiku sangat terluka saat kamu dulu pergi meninggalkanku. Aku tak ingin mengalaminya untuk kedua kali.”

“Maya, aku mau mengajakmu ke tempat-tempat indah, yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya,” aku terus membujuknya. “Kalau kamu ikut denganku, aku jamin kita tak akan berpisah kembali.”

“Mas, kamu gila ya?” kata Maya. Klakson bermain saat Maya menyusul sebuah truk besar dari sisi kanan. “Bagaimana mungkin aku tinggalkan semua kehidupanku di sini? Tidak, Mas. Tidak. Aku tidak mau.”

“Maya, kamu ingat kan janji kita dulu?” tanyaku. “Betapapun lamanya waktu memisahkan kita, aku berjanji akan selalu kembali untukmu. Kini aku datang kepadamu untuk menepati janjiku.”

Maya hanya terdiam. Hatinya galau, ia tak bisa berpikir jernih. Maya teringat saat dulu aku mengutarakan janjiku. Tanpa sadar, kepalanya tertunduk. Air mata mengalir membasahi pipinya. Maya menghela nafas. Ia tak ingin kesedihan lamanya terungkit kembali. Sejenak Maya memejamkan matanya, lalu mencoba mengembalikan fokus perhatiannya ke kendali mobil. Namun terlambat, kekalutan batinnya selama 10 detik membawanya bencana.

Mobil kami masih melaju kencang. Maya tak sempat lagi mengerem saat mobil berayun ke kiri dan menabrak batas jalan. Dengan kecepatan 100 km/jam, mobil kami langsung terlempar ke luar jalan tol, terbang 50 meter di atas tanah, sebelum menghujam kencang kepala terlebih dahulu. Tak sempat keluar jeritan sama sekali dari mulut kami.

Badan Maya hancur terjepit di antara badan mobil. Sungguh aku tak tega melihatnya, namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku melayang, menembus bangkai mobil yang ringsek dari depan hingga belakang. Aku angkat diriku, agak jauh melayang di atas mobil. Aku kini hanya bisa menunggu.

“Mas…? Mas…?”

Suara Maya! Sesosok tubuh perempuan berwarna putih transparan terlihat keluar menembus badan mobil. Aku tersenyum lebar. Aku melayang turun menyambut tangan Maya.

“Sekarang, apakah kamu sudah siap untuk pergi bersamaku?” kataku sambil menggandeng erat kedua tangan Maya.

“Kali ini aku siap, Mas,” kata Maya. “Ajak aku ke tempat-tempat indah yang pernah Mas kunjungi ya..”

“Tentu,” aku mengecup kening Maya. Kurangkulkan tanganku di pinggangnya, dan kami berdua pun melayang tinggi menembus langit malam.

Madam Penguasa

Perempuan itu tersenyum tipis. Matanya mengerling setajam elang. Wajahnya yang tertutup bedak tebal menutupi usianya yang sudah kepala empat. Bangku kayu jati tua menahan tubuhnya yang terduduk rileks. Asap tipis mengepul dari ujung rokok yang dipegangnya. Tato naga hijau terlukis di sekujur tangannya yang terlihat keras. Anak buahnya memanggilnya dengan sebutan Madam. Ada rasa kepemimpinan sekaligus hawa teror terasa dari gerak tubuhnya. Si perempuan menatap ke bingkai jendela yang terbuka lebar.

“CTAAAAR!!!”

Sabuk rotan itu memecut punggung seorang pria di halaman depan. Si perempuan kembali melemparkan senyum dari balik jendela. Tatapan matanya terlihat senang saat si pria menjerit kesakitan.

“AARGGHH.. Tidak, tidak…”

Si algojo pemegang sabuk rotan kembali mengambil aba-aba. Ia mengayunkan tangannya dan sekali lagi sabuk rotan itu berpecutan keras dengan punggung si pria.

“CTAAAAR!!!”

Si pria terduduk lemas. Kedua tangannya masing-masing terikat kencang di lintangan balok kayu. Ia sudah tak bisa menjerit.Yang bisa ia lakukan hanyalah memanfaatkan sisa tenaganya untuk mengambil nafas.

Si perempuan berdiri dari bangku jatinya. Sambil mengisap panjang rokoknya, ia menyampaikan bahasa isyarat dengan tangan kanannya. Asap mengepul dari mulutnya, diikuti dengan senyuman senang.

Di halaman depan, si algojo menganggukkan kepalanya. Ia lalu memainkan sabuk rotan, memecut-mecutkannya ke lantai dengan keras. Bunyinya sungguh menggeretakkan gigi. Si algojo lalu mengayunkan sabuk rotan di atas kepalanya, memutar-mutarnya beberapa kali sebelum mendaratkan pecutannya kembali ke si pria. Kali ini sasarannya bukan ke punggung, tapi langsung ke belakang kepala si pria.

“CTAAAAR!!!”

Si pria langsung jatuh tersungkur. Tak ada suara keluar dari mulutnya saat pecutan sabuk rotan terakhir itu merobek kepalanya. Darah mengalir membanjiri tanah.

Dari balik jendela, si perempuan dengan spontannya tertawa keras. Nada sadis suaranya terasa mengiris ulu hati saat tawanya berkumandang.

“Hahahahahaha… Selamat jalan suamiku! Semoga di neraka sana, kamu bisa sengsara bersama dengan selingkuhanmu! Hahahahahahaa…”

Si algojo menjatuhkan sabuk rotannya. Ia pun tersenyum senang. Dalam hatinya ia bergumam.

“Madam penguasa berhasil percaya akan hasutanku. Kini cinta Madam selamanya hanya untukku seorang.”

Ciwidey

12 ciwidey

Saat pulang dari kawasan wisata Kawah Putih, jangan buru-buru ngebut turun. Perhatikan deh di sisi kanan, nanti akan ada satu spot dimana kita bisa melihat lembah dan pegunungan di sekitar Ciwidey. Biasanya spot ini dipakai untuk nongkrong. Kalau langit cerah (seperti di foto), kita bisa melihat siluet gunung berlapis-lapis dengan kabut asap di kejauhan. Dijepret dengan f 5.3, 1/640, ISO 100.

Situ Patenggang

11 situ patenggang

Masih di hari yang sama, setelah saya dan keluarga ke Kawah Putih, kami lalu lanjut ke Situ Patenggang, yang berlokasi sekitar 10 menit dari sana. Pagi masih cerah, langit biru tak berawan, dan mentari bersinar. Waktu itu masih belum pukul 8 pagi, dan kami pun sudah berada di atas perahu sewa, mengelilingi telaga yang kini sedang penuh air. Sudah beberapa kali sebetulnya saya ke sini, tapi belum pernah saya datang saat kondisi cuaca sebagus ini. Biasanya selalu mendung, gerimis, atau musim kemarau saat air surut.

Baru kali ini juga saya tahu, kalau ada pengemudi perahu yang masih anak kecil. Dengan lihainya ia mendayung dan mengarahkan perahunya. Pastinya ia juga sudah hapal titik-titik mana di sekitar telaga yang penuh batu atau dangkal.

11 situ patenggang 2