Kenalan Baru di Facebook

Aku baru berkenalan dengan seorang perempuan cantik di Facebook. Namanya Nadila. Orangnya sungguh ramah. Ia selalu bercerita tentang diri dan keluarganya kepadaku. Aku suka sekali melihat gayanya saat berfoto di Facebook. Selalu terlihat cantik dengan gaun dan sepatu mahalnya. Nadila memang dari keluarga kaya. Foto hunian megahnya ia pajang berkali-kali di Facebook. Nadila memang sering berfoto di hampir semua sudut rumahnya. Beragam dekorasi mahal menghiasi isi ruang rumahnya.

Nadila bisa dibilang orang yang sangat eksis di media sosial. Facebook, Twitter, Foursquare, nggak pernah lepas darinya. Setiap saat ia tak penah lupa meng-update statusnya. Aku pun mengikuti aktivitasnya dimana-mana. Aku tahu kapan ia belanja baju baru di Zara atau Metro. Aku juga tahu kapan ia berburu sepatu boot di toko-toko online. Setiap kali belanja baru, Nadila tak lupa memfoto dirinya. Puluhan fotonya bisa banyak kujumpai di Twitpic. Aku juga tahu persis di mana rumahnya, karena Nadila selalu tak lupa checkin di Foursquare saat ia sampai di rumah. Bisa dibilang, Nadila ini satu-satunya orang yang kukenal yang sangat eksis di internet.

Nadila pernah bercerita kepadaku kalau ia dan keluarganya selalu berlibur ke luar negeri di akhir tahun. Tahun lalu ke Hong Kong, tahun sebelumnya ke Jerman, tahun sebelumnya lagi ke Inggris. Setiap kali ia bercerita, aku hanya bisa berdecak kagum. Betapa beruntungnya seorang Nadila. Punya kesempatan menjelajah dunia tanpa ada batasan dana.

Akhir tahun ini Nadila berencana pergi ke Australia. Tiket sudah dibeli. Saat tadi kami chat, Nadila cerita kalau penjaga rumahnya akhir tahun ini pulang kampung. Hingga saat ini keluarganya belum menemukan penggantinya. Ia bertanya kepadaku, apakah aku punya kenalan yang bisa membantu. Aku bilang, “Ada! Nanti aku carikan.” Aku pun tersenyum senang bisa membantu Nadila.

Seselesainya kami chat, aku segera menelepon temanku.

“Bro, ada target baru nih. Rumahnya di Pondok Indah, kosong akhir tahun ini. Orangnya tajir berat. Banyak barang bagus yang bisa kita garap. Elo entar gw samarin jadi penjaga rumahnya ya!”

Lamunan Terakhir

Perempuan itu masih saja duduk sendiri. Tangannya menggenggam secangkir kopi hangat di hadapannya. Sesekali jemarinya bergerak memutari tepian cangkir, sementara matanya menatap menjauh. Lamunan pikiran membawanya berimajinasi. Berharap lamunan itu akan membuatnya terkenang akan masa lalunya.

Perempuan itu sungguh menikmati suasana. Kafe bernuansa kecoklatan, dikelilingi oleh buku-buku, seakan-akan menciptakan ruang pribadi untuk dirinya melamun. Alunan musik lembut sayup-sayup terdengar, menambah keasyikannya menyendiri.

Perempuan itu memandang ke luar jendela. Bulan bersinar terang. Kabut tipis terlihat menerawang di batas langit, membuat warna langit terlihat mengungu. Waktu tanpa terasa berjalan bagi perempuan itu. Lamunannya terus membawa dirinya kemanapun yang ia inginkan. Tanpa batas. Hingga jam besar di kafe berdentang lima kali.

Perempuan itu pun sadar kalau ia sudah terlalu lama hanyut dalam lamunan. Warna langit mulai berubah. Ungu perlahan tegantikan oleh cahaya jingga. Diteguknya sisa kopi. Ia membuka jendela, membiarkan cahaya matahari masuk dan perlahan menghangatkan kulitnya.

“Terima kasih ya atas kenangan manis yang telah Kau berikan kepadaku selama ratusan tahun ini.”

Di dekat jendela kini teronggok kumpulan abu yang langsung terbersir oleh hembusan angin pagi.

Perbedaan

Sejak aku lahir, aku tak pernah keluar rumah. Aku juga tak pernah melihat orang tuaku membuka pintu rumah. Jendela rumah kami selalu tertutup rapat. Kami semua selalu tinggal dalam gelap. Orang tuaku tak pernah membiarkanku keluar dari rumah selama 8 tahun ini. Mereka selalu bilang, kami sekeluarga berbeda dengan orang kebanyakan. Kalau ada dari kami yang terlihat oleh warga sekitar, mereka tak akan sungkan-sungkannya memburu dan membunuh kami semua.

Aku sendiri heran, apa sih sebetulnya yang membuat orang lain bisa membenci kami? Apakah karena warna kulit kami? Memang kulit kami sungguh pucat, tapi itu karena kami tak pernah melihat sinar matahari. Kalau aku berkaca, kecuali warna kulit, aku tak melihat hal yang aneh dari diri kami. Aku rasa, aku tak berbeda dengan manusia lainnya.

Lama-lama rasa penasaran dalam diriku pun memuncak. Malam ini aku mengambil resiko. Aku putuskan untuk keluar dari rumah. Aku buka pintu perlahan-lahan, sambil memastikan kedua orang tuaku tidak terbangun. Kututup pintu, dan aku pun melangkah menjauh dari rumah. Jantungku berdegup. Rasa penasaran sungguh menutupi rasa takutku. Betapa senangnya aku kini bisa melihat cahaya rembulan.

Aku mengusap-usap mata membiasakan diri untuk bisa melihat jauh. Mataku masih tidak fokus karena terbiasa melihat dalam gelap. Aku memandang lurus ke depan dan melihat sebuah cahaya api yang tak terlalu jelas. Rasa penasaran ini mengalahkan jantungku yang berdegup kencang. Penasaran aku berjalan mendekati sumber cahaya itu. Aku berjalan sambil terus membiasakan penglihatan mataku. Tiba-tika aku langsung terkejut oleh teriakan.

“Mata Dua!! Masih ada Mata Dua di kampung kita! Serbu! Bunuh!!”

Mataku langsung terfokus pada cahaya obor yang ternyata dipegang oleh seseorang. Aku tersentak saat melihat wajahnya. Aku refleks berlari. Orang itu hanya memiliki satu mata, bundar di tengah kepala.

Pasar Bendungan Hilir

06 pasar bendungan hilir

Setiap tahunnya saat bulan Ramadan, banyak pasar dadakan bermunculan di Jakarta. Di Bendungan Hilir (Benhil) memang sudah ada pasar, namun setiap kali bulan puasa, dibuat area tambahan untuk dipakai para penjual di pasar menjajakan dagangannya saat mendekati waktu buka puasa.  Saya memfoto ini sekitar pukul 4 sore saat banyak sekali pedagang berkumpul di area tambahan itu. Jujur saja, memfotonya pun agak-agak asalan. Kamera saya pegang di depan dada, lalu menjepret kira-kira ke objek foto yang saya mau. Cara yang sebenarnya membuang banyak jepretan foto, karena saya tidak mengkekernya terlebih dahulu. Di tengah kepadatan pasar yang penuh manusia, agak susah bagi saya untuk bisa berdiri di tempat lalu mengambil sudut foto. Hihihi, belum lagi kalau ketahuan oleh yang difoto. Agak-agak nggak enak. Jadinya foto ini dibuat dengan asal tembak saja dari kamera yang saya pegang di dada.

Lucunya, beberapa hari kemudian saya mendapat info dari teman, kalau Boston Big Pictures menawarkan kepada seluruh fotografer amatir di dunia untuk membuat foto liputan tentang bulan Ramadan. Saya kirimkan 2 foto, salah satunya foto di atas. Tanpa terduga, foto yang dijepret dengan sedikit asal ini malah masuk sebagai salah satu dari 41 total foto. Bersyukur juga ada karya foto saya yang abal-abal ini masuk sebagai 1 dari 5 foto yang dipilih dari Indonesia.

Galeri lebih lengkap tentang ini bisa dilihat di situs blog satunya.

Sholat Ied

 

Idul Fitri 1431 H jatuh pada Jumat,  10 September 2010. Saya seperti tahun-tahun sebelumnya, bersama keluarga besar menjalankan ibadah Sholat Ied di lapangan SMKN 7, Gowongan Kidul. Lokasi ini memang dekat dengan rumah keluarga saya di Jogja. Suasana ibadah Sholat Ied tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setiap orang bisa mendapatkan transkrip khotbah, yang dibacakan oleh Khotib seusai Sholat Ied. Khotbat diakhiri dengan kami semua bersalam-salaman satu dengan dengan lainnya diiringi gema takbir berkumandang dari speaker mesjid terdekat.