Putraku Cygnusku

Aku mengapungkan diriku di tengah kolam renang, memperhatikan beberapa anak yang asyik bermain air di sisi terdangkal kolam. Orang tua mereka terlihat pula asyik berenang menyusuri sisi terpanjang kolam. Tangan berayun bergantian menggerakkan badan mereka menepis air. Menyenangkan memang suasana kolam di sore hari. Gelak tawa terdengar ramai. Beberapa orang terlihat duduk santai di sekitar kolam, ada yang terlihat sibuk membaca, ada pula yang asyik bermain dengan anak-anak mereka.

Aku berulang tahun ke-18 di hari ini. Seperti tradisi ulang tahunku sebelumnya, aku lebih senang untuk merayakannya sendirian. Kutenggelamkan kepalaku agar perasaanku bisa lebih tenang. Kukosongkan pikiran, kujauhkan dari masalah yang kuhadapi dalam kesibukanku sehari-hari. Sejuknya air langsung membuatku lupa akan segalanya. Aku pejamkan kedua mataku dan batinku pun mulai terasa tenang.

Aku biarkan diriku terapung di dalam air. Tubuhku terasa santai, hingga sebuah bisikan terdengar langsung di dalam hatiku.

Putraku, Aquariusku, Cygnusku, hari ini, di hari jadimu, kuberikan sebagian kekuatanku dalam dirimu. Tunjukkan kalau kamu lebih daripada sekedar manusia.”

Langsung aku tersedak. Bulir-bulir air keluar dari mulutku saat aku berjuang mengambil nafas. Air terasa mendingin, dan terus mendingin. Air bak berasa seperti es, membuatku tak kuasa bergerak. Kulitku terasa membeku. Aku pun cepat-cepat mengangkat tubuhku, dan mengeluarkan kepalaku dari kolam.

Aku menatap air di sekitarku yang kini berubah menjadi es. Angin dingin terasa menusuk kulitku yang telah membeku. Barulah aku tersadar, kemanakah suara gelak tawa ramai yang tadi kudengar? Mengapa angin dingin ini membawaku dalam dunia yang membisu?

Tak kuasa aku menatap sekelilingku. Mulutku hendak menjerit sekeras mungkin, tapi suaraku tak terdengar. Kengerian menusuk ulu hatiku, saat kulihat semua orang tua dan anak-anak yang berada di kolam renang dan sekitarnya membeku dalam bongkahan es.

“Oh Tuhan, siapakah aku..?”

Kolam Api

Kolam api terhampar luas. Merah menyala terang. Jilatan lidah api laksana ombak di laut. Kadang meninggi menyentuh kaki-kaki manusia yang terikat di atas tiang-tiang pancang yang berdiri di atas kolam. Jeritan siksaan terdengar memilukan. Bau busuk terbakar sungguh menusuk. Jembatan sempit namun panjang bergantung di atas kolam, ujungnya tak terlihat. Ribuan manusia antri di atasnya, menunggu giliran siksaan.

“Sebelum kita menerima siksaan serupa, bolehkah aku berkenalan dengan Anda?” tanya seorang pria berusia 40-an tahun. Badannya terlihat hancur hampir tak berbentuk. Wajahnya rusak penuh memar dan bekas darah. Ia menyapa orang di hadapannya.

ARRGGGHHH…“ suara teriakan keras terdengar dari kolam, diikuti dengan bau busuk belerang terbawa angin ke arah antrian.

“Oh, hai. Nama saya Feri,” pria berkacamata itu membalikkan badannya. Bajunya terlihat rapih, berpenampilan mentereng, meski terlihat bekas bercak darah di sekitar perutnya. “Anda siapa?”

“Nama saya Alfi,” katanya sambil menjabat tangan Feri.

“Feri, tidakkah Anda takut akan siksaan yang menanti kita?” tanya Alfi. Mulut Alfi terlihat bergumam di antara bengkak memar di sekitar wajahnya.

AARRGGGHHH…” kembali teriakan keras membahana.

“Hmm. Tidak juga,” jawab Feri datar. “Apa yang terjadi dengan wajah dan badan Anda?”

“Wajah dan badan saya rusak karena ditabrak habis oleh mobil,” jawab Alfi. “Mungkin supirnya mabuk. Badan saya terseret 100 meter sebelum akhirnya mobil itu menabrak tembok dengan saya terjepit di tengahnya.”

“Wow. Mengerikan,” masih tanpa ekspresi Feri berkomentar. “Lalu perbuatan apa yang membuat Anda terbawa ke neraka?”

“Itu ironisnya. Sebelum saya tertabrak mobil, saya memang baru saja menikam perut seorang pria.” Alfi menjawab dengan nafas memburu. “Ia berselingkuh dengan istri saya. Namun saya senang saat melihat ia mati kehabisan darah.”

AARRGGGHHH… AARRGGGHHH…” kali ini tedengar beberapa orang yang berteriak kesakitan berbarengan.

“Kalau Anda, apa yang membawa Anda ke neraka?” tanya Alfi penasaran.

“Dulu saya hidup sebagai kepala mafia. Selalu tersenyum saat melihat orang lain menderita.” Feri bercerita datar. Sejenak ia memandang tiang-tiang di atas kolam api. “Namun hidup saya tiba-tiba berakhir saat ada seorang maniak yang membunuh saya.”

“Hmm..” Alfi hanya bisa mendehem.

“Seorang maniak yang menuduh saya menyeleweng dengan istrinya. Seorang maniak yang berakhir mati tragis tertabrak sebuah mobil,” lanjut Feri.

“Maksud Anda?” nafas Alfi memburu.

“Ya, Andalah yang membunuh saya!” ujar Feri. “Saat Anda meninggalkan saya di lorong gelap itu, saya masih sempat mengontak anak buah saya untuk mengurus Anda, sebelum akhirnya saya meninggal kehabisan darah.”

AARRGGGHHH…” teriakan keras kembali terdengar di belakang.

Alfi terkesima. Ia langsung mengambil ancang-ancang, sedikit mundur mendekati tepian jembatan. Ia bersiap menghadapi kemungkinan yang terjadi. Sebaliknya, Feri tetap terlihat tenang.

“Sudahlah, kita bukan di dunia lagi sekarang. Kita nikmati saja siksaan api neraka ini bersama-sama. Lagi pula sekarang kita statusnya sama, yakni sama-sama pembunuh. Kita anggap saja kosong-kosong, bagaimana?”

Feri mengulurkan tangannya. Alfi sedikit ragu, meski dalam hatinya merasakan ada kebenaran di balik kata-kata Feri. Alfi pun akhirnya ikut mengulurkan tangannya, menjabat kembali tangan Feri. Di luar dugaan, Feri memelintir tangan Alfi, menendang lututnya, dan dengan cepat mendorong tubuh Alfi hingga terjatuh dari jembatan.

AARRGGGHHH…” kali ini yang terdengar bukan suara orang tersiksa, melainkan suara Alfi yang terjatuh ke dalam kolam api.

“Hahaha… Menyenangkan juga rasanya ya kalau bisa membunuh 2 kali seseorang,” Feri tersenyum lalu melanjutkan antrian siksaan.

Dira Sugandi

09 dira sugandi

Untuk memfoto konser memang susah-susah mudah. Akan menjadi lebih mudah kalau konsernya memang konser besar yang penuh dengan pencahayaan warna-warni di atas panggung. Cahaya warna-warni ini akan membantu memberikan backlight figur penyanyinya.

Kalau saya, setiap kali memfoto aksi artis di konser, saya selalu set pengukuan kamera secara manual. Fungsi Auto atau Program selalu ngawur setiap kali saya memfoto di area gelap, apalagi yang cahayanya berubah sewaktu-waktu seperti konser. Set di ISO tinggi, biasanya sih di ISO 800 (kalau nggak bisa juga, ISO 1000), lalu set kecepatan di 1/60, dan diafragma 5.6. Oh ya, fotolah pada saat ada cahaya berwarna di belakang figur artis, supaya muncul warna cerah di belakang figur.

Yang lebih susah adalah mencari momen yang tepat, yang benar-benar bisa menunjukkan ekspresi wajah dan gestur si artis. Foto Dira Sugandi ini diambil saat Java Jazz Festival 2010.

09 dira sugandi 2

76 Tahun Sekali

1986, di sebuah warung tegal.

Fani terlihat sibuk melayani pelanggannya. Wajar saja, waktu sudah menjelang makan siang, apalagi warteg milik keluarganya ini adalah warteg terfavorit di tepian jalan Ciputat Raya. Meski panas, tak ber-AC, warteg ini memang terkenal karena menunya yang sangat bervariasi dan harganya yang murah. Fani pun dikenal sebagai orang jujur dan pekerja keras, hal penting yang membuat semua pelanggan tetap percaya kepadanya.

Pengunjung warteg ditemani oleh suara dari televisi yang menayangkan berita siang. Pembawa berita bercerita kalau malam itu komet Halley akan kembali melintas mendekati bumi. Komet yang hanya muncul setiap 76 tahun sekali ini agak sulit dilihat oleh mata, karena posisinya kini berada di balik matahari. Namun pastinya akan menjadi studi para astronom sedunia untuk pembelajaran fenomena alam semesta.

Seorang pemuda terlihat memasuki warteg, dan langsung terpaku akan berita di televisi.

“Mas mau pakai apa?” tanya Fani mengejutkan lamunan pemuda tersebut.

“Eh maaf Mbak,” jawab si pemuda. “Aku minta nasinya setengah saja. Lalu sayur asem. Minta teri dan telor dadar juga ya.”

“Minumnya apa, Mas?” tanya Fani sambil mengisi piring dengan menu pesanan dari rak kaca di hadapannya.

“Es teh manis saja, Mbak. Soalnya udaranya panas banget.”

Pemuda itu duduk di bangku yang berada persis depan rak kaca makanan. Ia menerima es teh manis buatan Fani.

“Terima kasih, Mbak. Wuih, wartegnya ramai sekali ya?”

“Iya, Mas. Setiap siang selalu seperti ini. Mungkin karena banyak pelanggan yang sudah lama, bahkan sejak ibu saya yang dulu mengelolanya.”

Fani menjawab pertanyaan pemuda itu dengan ramah, namun tangannya tetap sigap mengambilkan menu untuk pelanggan lainnya.

“Ibunya di mana sekarang, Mbak?” tanya si pemuda sambil asyik menyuap nasi dari piringnya.

“Ibu saya sudah meninggal dua tahun lalu, Mas. Sekarang saya yang mengelola warteg ini,” jawab Fani.

“Oh, maaf Mbak, saya nggak tahu…” pemuda itu menunduk. Ia melihat Fani mengenakan leontin perak berbentuk lingkaran. Ada grafiran mirip tulisan di atasnya.

“Nggak apa-apa kok, Mas,” Fani tetap tersenyum.

“Maaf, Mbak, kalau saya terdengar mengganggu. Saya tadi memperhatikan leontin yang Mbak pakai. Apakah Mbak tahu tulisan yang tergrafir di atasnya?”

Tiba-tiba Fani menaruh piring yang sedari tadi ia pegang. Ia lalu memegang leontin yang dikalungkannya setiap hari.

“Kenapa memangnya, Mas?” Fani mulai curiga.

“Saya sempat belajar Bahasa Sumeria, Mbak. Sepertinya tulisan di leontin itu huruf Sumeria.”

Fani agak ragu dengan perkataan pemuda itu, meski di balik batinnya ia punya rasa penasaran. Leontin ini adalah peninggalan ibunya, dan neneknya lagi sebelum itu. Saat ibunya meninggal, leontin ini menjadi miliknya, seperti ibunya mendapatkan warisan leontin ini dari nenek Fani. Ibunya sendiri cuma berpesan agar Fani selalu mengenakannya setiap saat. Hingga kini Fani sendiri tidak pernah paham arti coretan grafir di leontin itu.

“Dilihat dari sini saja ya, Mas,” Fani menunjukkan leontin itu di depan wajah si pemuda.

“DAMKIANNA,” kata si pemuda.

“Kenapa, Mas?” tanya Fani.

“Damkianna. Itu tulisan di leontin Mbak. Terjemahan bebasnya ‘Putri Bumi dan Surga’. Mbak punya leontin unik, mengingat sudah tidak ada lagi bangsa di bumi ini yang menggunakan Bahasa Sumeria. Jaga baik-baik ya, Mbak.”

“Hmm, terima kasih, Mas,” Fani penasaran, apa maksud kata-kata itu bagi dirinya ya? Kenapa neneknya, lalu ibunya mewariskan leontin ini kepadanya, tanpa pernah menjelaskan artinya?

“Oh ya, jadi berapa ini semua?” si pemuda itu mengagetkan Fani dari lamunan.

“Sebentar, nasi, sayur, teri, telor dadar ya? Seribu dua ratus rupiah, Mas.”

Pemuda itu mengeluarkan uang dari dompetnya dan berjalan ke luar warteg.

“Terima kasih ya, Mbak. Sukses untuk wartegnya,” kata si pemuda sambil tersenyum senang.

“Kembali, Mas. Mampir-mampir lagi ya…” seru Fani.

Di luar warteg, pemuda itu menatap sekali lagi ke arah Fani, lalu lanjut melangkahkan kaki. Ia membuka kerah bajunya dan mengeluarkan leontin berwarna perak dari baliknya. Leontin ini persis serupa dengan yang tadi dikenakan oleh Fani. Sambil memegang erat leontin, pemuda itu berkata perlahan.

“Nia, cucu kita telah dewasa sekarang. Meski aku cuma bisa ke bumi setiap 76 tahun sekali, aku senang generasi penerus kita lahir sebagai generasi yang jujur dan pekerja keras. Bumi ternyata masih punya harapan.”

Pemuda itu melirik kembali ke arah warteg, lalu sekilas cahaya terang menyelimutinya.

“Terima kasih, Fani,” dan pemuda itu pun lenyap.