Jalan-jalan ke Kotagede

​Setiap tahun saya mampir ke Jogja tapi nggak pernah mampir ke daerah Kotagede. Mungkin karena saya bukan pemburu kerajinan perak, sehingga saya kurang berminat datang belanja ke daerah ini.

Namun kemarin sore saya iseng saja jalan-jalan ke Kotagede. Toh hanya setengah jam dari rumah. Tujuan saya, makam raja Mataram yang berlokasi tak jauh dari Pasar Kotagede. Dengan modal Google Maps akhirnya saya tiba di tujuan. Sayang sekali sepanjang perjalanan, saya tidak melihat informasi penunjuk wisata yang jelas. Pastinya akan menyulitkan bagi turis yang hendak datang untuk melihat.

DSCF5763
Menuju Makam Raja-raja Mataram

Jalan-jalan Menyusuri Pecinan Jakarta

Bulan lalu saya pernah ikut jalan-jalan menyusuri Cikini bareng @JKTGoodGuide. Hari Senin pas libur hari raya Imlek ini, saya pun kembali ikutan. Kali ini rute yang ditempuh adalah menyusuri daerah China Town (Pecinan)-nya Jakarta, alias Glodok dan sekitarnya.

DSCF3767

Kami berkumpul pukul 9 pagi di 7-Eleven Hotel Novotel Gajah Mada. Lokasinya tidak jauh dari halte bus Olimo. Setelah berkumpul, rombongan dipecah menjadi 3 kelompok, dengan kelompok saya yang dipimpin Mas Farid berangkat lebih dulu. Masih satu kompleks dengan Novotel, tepat di belakangnya terlihat bangunan cagar budaya dengan gaya arsitektur Tionghoa. Papan bertulisan Candra Naya terpajang di atas pintu utama. Rumah ini dahulu adalah kediaman Mayor Khouw Kim An. Bentuk atap rumah ini terlihat melengkung bergaya Tionghoa dengan kedua ujungnya terbelah dua, sering disebut dengan “Ekor Walet.” Bentukan atap ini menunjukkan strata sosial penghuninya.

DSCF3764

DSCF3780

Cerita masih panjang. Lanjut yuk!

Jambi: Candi Muara Jambi

DSCF3207

Saat hari terakhir saya di Jambi, saya menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu warisan budaya yang kini menjadi cagar budaya nasional, yakni Candi Muara Jambi. Hari itu saya diantar dua orang teman dari komunitas Sahabat Ilmu Jambi. Mumpung ada kendaraan, hahaha..

Lokasinya memang di luar kota Jambi, sekitar 30 menit dari pusat kota. Untuk Jambi 30 menit itu lumayan jauh loh. Perjalanan melewati jembatan yang menyeberangi Sungai Batanghari dan melewati beberapa perkebunan sawit.

Mungkin karena saat itu hari Senin, tidak banyak wisatawan yang berkunjung. Parkiran kendaraan terlihat kosong. Saya dikenalkan dengan seorang pengrajin batu yang memiliki bengkel di area parkir kompleks candi. Batu akik memang lagi tren ya. Si pengrajin cerita kalau ia dapat banyak order ratusan batu akik dari Jakarta.

Tiket masuk ke kompleks candi murah. Rp. 5.000,00. Hihihi tapi meski murah, saya malah dibebaskan untuk masuk. Teman saya yang di Jambi ini memang kenal banyak dengan masyarakat Jambi. Ia ternyata sering juga mengantar tamu ke berbagai tempat wisata.

DSCF3218

Jangan bayangkan Candi Muara Jambi seperti Candi Boko, Prambanan, Borobudur, atau candi-candi lainnya di Jawa ya. Mungkin sudah banyak yang tau juga, kalau candi-candi di kompleks ini bukan dibangun dengan bahan batu, tapi dengan bahan batu bata.

Saya bilang candi-candi, karena memang kompleks ini memiliki candi yang bertebaran luas di seluruh kompleksnya. Lokasi antara candi pun banyak yang berjauhan. Makanya tersedia banyak penyewaan sepeda di sana.

Karena waktu yang terbatas, saya hanya mengunjungi beberapa candi saja. Candi yang tersebar di sekitar area masuk, dan Candi Astano yang agak jauh, yang harus ditempuh sejauh 800 meter dengan berjalan kaki. Lumayan ya?

Katanya di musim hujan, di sekitar candi ini akan terlihat air mengalir di paritnya. Sayangnya, saat itu parit terlihat kering. Namun ada hal yang menarik di Candi Astano. Di sekitar candi terlihat banyak bunga kuning mekar. Langsung saja dong ini saya dokumentasikan.

Sekedar tips, kalau nanti ada di antara kalian yang mau mampir ke kompleks Candi Muara Jambi, pastikan datang sepagi mungkin. Sewa sepeda, lalu jalan-jalanlah ke seluruh kompleksnya. Kalau kata wikipedia nih, luas kompleks ini 12 km persegi, dengan panjang lebih dari 7 kilometer.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3233

Jambi: Rumah Batu

DSCF3254

Rumah Batu berada di daerah Seberang di Jambi. Lebih tepatnya sih di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi. Kalau jalan kaki dari Menara Gentala Arasy sih bisa.. hehe tapi jauh juga. Jadi mending ke sananya pakai kendaraan.

Dari tepian jalan memang tidak kelihatan. Penandanya hanya papan kecil yang menunjukkan kalau ada bangunan bernama Rumah Batu yang kini menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi. Awalnya saya membayangkan, kalau Rumah Batu itu adalah rumah yang masih terlihat seperti rumah sebenarnya, namun setelah melihat kondisinya, rumahnya sudah mengenaskan. Entah kenapa pihak Pemda Jambi tidak merenovasinya, dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Yang ada ini didiamkan saja. Jendela yang sudah banyak yang hilang. Atap banyak yang bolong. Bahkan untuk berteduh di kala hujan pun sepertinya sudah tidak memungkinkan.

DSCF3255

Menurut cerita, rumah ini dahulu adalah milik Said Idrus bin Hasan Al Djufri, atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Wiro Kusumo. Ia adalah seorang keturunan Arab yang mendapat kedudukan penting di Kesultanan Jambi, hingga ia wafat di tahun 1901. Rumah itu kemudian dihuni oleh keturunannya.

Apa sih yang membuat rumah ini menjadi cagar budaya? Dari dekorasi di gerbang dan pintu masuknya memang terlihat kalau desain rumah ini merupakan perpaduan dari budaya lokal, Cina, dan Eropa. Unsur lokal berupa rumah panggung (seperti banyak rumah lainnya di daerah Seberang, Jambi). Unsur Cina terlihat dari bentuk atap, gapura, dan ornamen dinding yang berbentuk naga, awan, bunga, dan arca singa. Lalu unsur Eropa terlihat dari tiang-tiang panggung yang terbuat dari bata dan semen.

Di hadapan rumah ini terhampar area rumput yang cukup luas. Sepertinya meski rumah ini sudah terlihat mengenaskan, masih tetap menarik bila dijadikan lokasi pemotretan. Kata teman sih, memang sudah cukup banyak fotografer dan modelnya yang mengambil rumah ini sebagai lokasinya.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3260

Jambi: Menara Gentala Arasy

DSCF3136

Menara Gentala Arasy ini berada di ujung jembatan yang saya ceritakan di 2 tulisan sebelumnya. Saat saya mampir ke sana, kelihatan interiornya masih dibenahi. Katanya sih nanti akan dipakai sebagai museum. Hehehe awalnya saya kira ini mesjid dari kejauhan.

Ujung jembatan pejalan kaki itu langsung menempel di area dak di lantai dua menara ini. Di dak ini, saya bisa melihat rumah-rumah warga Jambi yang berada di sekitar, di daerah Seberang. Terlihat berbeda banget dengan suasana pusat kota Jambi yang terpisah dengan Sungai Batanghari ini.

DSCF3137

Di Seberang memang masih dipertahankan keaslian daerah Jambi. Rumah-rumahnya masih berupa panggung. Tidak ada pertokan besar seperti Alfamart atau restoran mewah di sini. Yang ada hanya warung biasa. Budaya di daerah Seberang pun masih dipertahankan seperti aslinya. Saat sore masih terlihat warga yang bergerak berkumpul untuk mengaji bersama. Masih pula ada kegiatan masak dan makan bersama-sama. Sesuatu yang bahkan sudah tak terlihat lagi di pusat kota Jambi.

Katanya, malah ada beberapa warga yang memutuskan untuk tetap tinggal di Seberang, demi tidak kehilangan akar budayanya, walau setiap hari mereka harus bekerja di pusat kota Jambi. Bahasa daerah yang digunakan di Jambi ternyata sangat beragam. Mereka yang tinggal di Seberang memiliki ciri khas bahasanya sendiri pula.

Di daerah Seberang, sekitar 1-1,5 kilometer (kurang tau persisnya berapa), dari Menara Gentala Arasy, terdapat Rumah Batu, yang merupakan salah satu cagar budaya Jambi. Kayak gimana sih Rumah Batu itu? Nanti ya di tulisan selanjutnya.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3145