Jambi: Jembatan Gentala Arasy

DSCF3060

Hari Jumat hingga Senin sore kemarin saya berkesempatan untuk datang ke Jambi. Saat itu memang diundang untuk jadi salah satu pembicara yang berbagi cerita dengan topik Social Media for Social Good. Usai acara, tentunya dipakai untuk jalan-jalan dong.

Saya dan teman-teman dari KOPHI dan US Embassy (yang jadi penyelenggara acara) diajak oleh teman-teman baru dari Sahabat Ilmu Jambi (yang jadi panitia lokal), untuk berkeliling kota Jambi. Salah satunya adalah mampir ke tepian Sungai Batanghari.

Saat itulah baru saya tahu, kalau di Jambi punya icon baru yang akan menjadi kebanggaan kotanya. Namanya jembatan Gentala Arasy yang menghubungkan 2 bagian kota Jambi yang terpisah oleh salah satu sungai terbesar di Indonesia ini. Yang lebih mengejutkan lagi adalah, jembatan ini hanya khusus untuk pejalan kaki.

DSCF3057

Salah satu ujung jembatan berada tepat di depan Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jalan Sultan Thaha, Kecamatan Jambi Timur, dan ujung satunya berakhir di Menara Gentala Arasy di Seberang Kota Jambi, Kelurahan Arab Melayu, Kecamatan Pelayangan.

Saat saya datang kemarin, jembatan ini memang belum dibuka untuk umum. Katanya sih baru akan resmi dibuka nanti bulan Februari 2015. Karena jembatan belum dibuka, maka kami pun menyeberang menggunakan getek sewa. Cerita tentang penyeberangan ini nanti ya di postingan selanjutnya.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3090

Restoran Pizza di Jalan Sudirman Jogja

Salah satu hal di Jogja yang tak berubah sejak dulu adalah banyaknya spanduk dan billboard yang mengotori wajah kota. Di mana-mana terlihat iklan yang asal taruh saja. Banyak pula bangunan yang setelah dibangun justru (saya anggap) merusak wajah Jogja. Bangunan dengan fasade khas yang sebetulnya bisa membuat Jogja semakin unik dan khas, malah “dirusak” dengan bangunan modern yang malah membuat Jogja semakin mirip dengan kota-kota modern lainnya.

Kalau pemilik bangunan mungkin berpikir, semakin modern semakin keren. Kalau saya malah berpikir sebaliknya, semakin vintage semakin keren. Apalagi kalau saya melihat ada bangunan lama yang sudah beralih fungsi menjadi modern, tapi tetap bisa mempertahankan kekhasannya. Itu keren banget. Modern dan vintage jadi satu kesatuan.

Kemarin baru pertama kalinya saya mampir menjejakkan diri masuk ke restoran Pizza Hut di Jalan Sudirman Jogja. Restoran ini sebenarnya sudah lama sih, pindahan dari restoran yang sebelumnya berada di dekat monument Tugu Jogja. Yang bikin saya suka dengan restoran ini adalah bangunannya yang tetap mempertahankan bentuk aslinya. Bapak saya kemarin malah cerita, kalau bangunan ini dahulu banget adalah rumah temannya waktu kecil dulu. Entah pindah ke mana si teman sekarang.

Fasade bangunan tetap asli, dengan perbaikan di sana sini. Unsur modern yang menjadi branding Pizza Hut bisa diimplementasi menjadi bagian dari fasade. Ada modern dan ada vintage. Kalau melihat bangunan ini, jadi ingat restoran Pizza Hut serupa di daerah Senen Jakarta. Di sana, restoran ini menggunakan bangunan lama yang menjadi ekstensi mall atrium Senen.

Bagian dalam interior Pizza Hut Sudirman ini juga nggak kalah menarik. Ruang-ruang tetap dipertahankan sesuai aslinya, namun dicat modern sesuai kekhasan saat ini. Ada pula area terbuka yang memanfaatkan teras asli bangunan. Menyenangkan sekali melihat isinya.

Hmm.. seandainya semakin banyak brand besar yang berani merenovasi bangunan lama dan memanfaatkannya untuk fungsi baru tanpa merusak keasliannya, tentu wajah kota di Indonesia akan semakin baik.

Berkunjung ke “DoubleTree Hotel by Hilton” di Cikini

Beberapa hari lalu saya menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah hotel baru di daerah Cikini. Namanya “DoubleTree Hotel by Hilton” – iya namanya memang sepanjang itu, tapi singkatnya saya sebut DoubleTree saja ya. Lokasinya nggak jauh dari stasiun Cikini, antara McDonald’s dan bioskop Metropole. Lokasi bangunannya memang agak ke dalam, tapi tenang saja, gerbangnya tetap kelihatan dari jalan besar kok.

Pertama kali saya masuk, yang saya suka adalah pohon besar yang sepertinya sudah lama ada. Saya sempat tanyakan tentang pohon ini ke pihak hotel. Pohon trembesi ini katanya sudah berusia lebih dari 60 tahun, dan memang sengaja tidak dipotong. Yang ada, jalur sirkulasi menuju hotel dan bangunan yang menyesuaikan dengan lokasi pohon. Yang lucu adalah, DoubleTree ini adalah hotel yang tersebar di banyak negara, namun yang punya pohon asli seperti nama hotelnya hanyalah hotel yang berada di Jakarta ini. Di Tiongkok sih katanya juga ada pohon di depan hotel, namun itu pun pohon buatan. Bukan asli dari alamnya.

DoubleTree Hotel by Hilton di malam hari
DoubleTree Hotel by Hilton di malam hari

Karena memang tujuan saya ke hotel ini hanyalah berkunjung, dan bukan menginap, saya pun sempat diajak berputar-putar keliling hotel. Ketika kalian menjadi tamu hotel, kalian akan mendapatkan cookie khas DoubleTree by Hilton. Saya waktu itu sempat mampir ke beberapa kamarnya, dari yang biasa hingga yang superior. Duh, yang superior suite luas banget ya, lengkap dengan balkon, ruang tamu, dan ruang kerja. Jadi kalau dari luar hotel kita melihat ada fasade yang menonjol, nah di situlah beberapa lokasi kamar eksekutifnya.

Superior Suite
Superior Suite
Superior Suite
Superior Suite
Kolam renang dilihat dari ketinggian hotel
Kolam renang dilihat dari ketinggian hotel

Untuk membangun loyalitas konsumen, DoubleTree menawarkan tamu untuk mendapatkan dan menebus poin untuk menginap melalui program Hilton HHonors. Tamu yang menginap pertama di Indonesia akan mendapatkan 1.000 bonus poin per malam untuk menginap minimal tiga malam. Kamar-kamar untuk Hilton HHonors tersedia di satu lantai tersendiri. Di lantai itu juga ada lounge bersama yang bisa diakses bebas oleh tamu di lantai tersebut.

Menjelang Maghrib, saya bersama beberapa teman lain yang diundang, diajak untuk menikmati sajian berbuka di Open Restaurant, yang berada di lantai terbawah, bersebelahan dengan kolam renang dan ballroom. Open Restaurant ini memiliki 3 show kitchen: masakan Indonesia, Asia, dan Barat. Beberapa sajian spesial andalan yang wajib dicoba adalah Pizza Rendang, Turkish Meze Platter, dan bebek panggang. Oh iya, dessert-nya juga luar biasa.

Salah satu sudut Open Restaurant
Salah satu sudut Open Restaurant
Pesan mie yuk!
Pesan mie yuk!

Momen buka puasa memang menyenangkan. Apalagi kalau sampai mengenyangkan, tentu semakin mengesakan. Jadilah akhirnya saya mencoba hampir semua sajian prasmanan di Open Restaurant. Selain makanan andalan yang sudah saya sebut di atas, saya sempat mencoba  mie kocok (bisa pilih jenis mie-nya), sate sapi (ada juga sate kambing dan sate ayam… bumbunya enak), dan sushi. Masih ada sih banyak menu lainnya, tapi perut ini sudah keburu kenyang, padahal mencobanya pun sedikit-sedikit (tapi ditotal banyak juga).

Kalau ada yang mau coba mampir atau mau lihat-lihat DoubleTree Hotel by Hilton, kalian bisa cek website-nya dulu. Usahakan mampir deh, cobain Open Restaurant-nya. Recommended kok. Sayangnya hotel ini belum punya akun social media yang bisa dicolek, tapi sementara ini mampir lihat website-nya dulu aja ya.

Dessert
Dessert
Turkish Meze Platter
Turkish Meze Platter
Sushi
Sushi
Pizza Rendang
Pizza Rendang
Mie Kocok
Mie Kocok
Ayam Kuah Bugis
Ayam Kuah Bugis

5 Tempat Paling Menyenangkan di Jakarta

Saya tinggal di Jakarta sudah sejak lahir (mungkin dikurangi sekitar 10 tahun saat saya kuliah di Bandung). Kalau dibilang Jakarta kota yang menyenangkan sih nggak juga. Waktu saya masih kecil sih memang masih bisa dibilang menyenangkan. Nggak ada macet, udara masih enak, kalau ke luar rumah, masih bisa melihat langit Jakarta yang biru. Namun itu kan masa lalu. Sekarang, mau nggak mau saya harus mencoba menyukai kota ini, walau sebenarnya kota ini sudah nggak ramah lagi bagi warganya. Lagi pula, pendapatan saya sepenuhnya didapat dari kota ini. Keluarga saya pun juga di sini. Seharusnya itu menjadi alasan utama bagi saya untuk tetap menyenangi Jakarta.

Terkait dengan hal tersebut, sebagai bagian dari flashmob blogging #SemingguSatu, topik yang diangkat minggu ini adalah adakah tempat-tempat menyenangkan bagi saya di kota saya ini? Cuma diminta 5 tempat saja sih, tapi jujur saya susah banget mikirnya. Namun ini dia, 5 tempat, tanpa urutan prioritas mana yang paling menyenangkan dan mana yang tidak:

1. Pacific Place

Saat ini buat saya, tempat ini jadi semacam sentra bisnis. Paling sering ketemuan rapat ya di situ. Apalagi memang klien saya berkantor di gedung perkantoran di sebelahnya. Tempat ini paling ngelotok deh. Dari kafe ke kafe, dari restoran ke restoran, dari food court hingga kantin karyawan, kayaknya sudah hampir pernah dicoba semua. Lokasinya di tengah kota, kalau saya pulang, saya nggak perlu pusing juga. Tinggal jalan kaki ke Sudirman, naik bus yang menuju Poris Plawad atau pakai Kopaja AC. Atau pilihan lain, saya berjalan kaki menyusuri tepian Semanggi hingga Gatot Subroto, lalu naik bus ke arah Grogol dari sana.

2. Taman-taman kota

Jakarta memang nggak punya banyak taman kota, tapi bukan berarti nggak punya taman kota yang bagus. Biasanya tiap akhir minggu selalu ramai dengan warga yang entah datang dari mana saja. Saya sendiri tidak punya taman kota favorit. Namun saya suka mampir, apalagi sebulan sekali selalu ada kegiatan @piknikasik yang berpiknik di banyak taman kota secara bergantian, saya mencoba untuk selalu datang. Selain Taman Ayodya dan Taman Menteng yang memang populer, masih banyak taman-taman lain. Kalau yang sudah sempat saya datangi dan ulas, bisa cek Taman CattleyaTaman Honda TebetTaman Situ Lembang, dan yang berada di dalam mal, Central Park.

3. Kolam renang Simpruk

Saya suka berenang. Saya coba seminggu sekali untuk selalu mampir di kolam renang Simpruk. Kenapa di sini? Sejak kecil saya sudah berenang di sini. Pernah ikut pelatihan renang untuk kompetisi juga di sini. Bayar masuknya murah. Kolamnya pun bisa dibilang cukup bersih. Saya nggak terlalu suka berenang di hotel atau di tempat fitness atau semacamnya, karena nggak “nendang” akibat ukuran kolam renangnya biasanya kecil. Di Simpruk ini memang kolam renangnya berukuran olimpik, dan sering juga dipakai untuk kompetisi renang nasional. Makanya kalau saya mau berenang 800 – 1.000 meter setiap minggunya, enak banget.

4. JKT48 Theater

Sayangnya JKT48 Theater ini bisa dibilang belum permanen, namun bisa dipastikan sebulan sekali ada 3-4 kali pertunjukan grup idol JKT48. Menghibur banget, seketika bisa hilang semua beban pikiran selama menyaksikannya. Sayangnya memang agak sulit mendapatkan tiketnya setiap bulan. Butuh keberuntungan, atau kalau dalam kasus saya, butuh teman orang agency dan sponsor untuk bisa ikutan nonton di dalamnya. Tentang JKT48 Theater ini sudah pernah saya bahas di tulisan ini.

5. Bioskop

Bioskop yang manapun sebetulnya tidak masalah. Mau nonton dengan siapapun juga tidak masalah. Kalau bareng teman ramai-ramai mungkin menyenangkan kalau bisa menontonnya di FX atau Grand Indonesia. Kalau sendirian, saya lebih suka menontonnya di Hollywood KC, pada hari kerja, karena murah meriah. Biasanya saya lakukan kalau memang lagi nggak ada pekerjaan, tapi belum ingin pulang ke rumah.

Tulisan dari teman-teman blogger lainnya: SuprieAlya, dan Karmin,

Starbucks di Pagi Buta

55 starbucks di pagi buta

Beberapa hari ini di Twitter semakin banyak permainan foto yang mengasyikkan. Awalnya para pengguna iPhone meramaikan #30HariInstagram. Selama 30 hari, pengguna iPhone diminta menjepretkan gambar sesuai tema saat itu. Lalu mulai Senin kemarin, pengguna Android nggak mau kalah, dengan memulai #30HariVignette. Vignette adalah aplikasi filter foto yang bisa diunduh di Android Market dengan gratis. Ada pula versi Vignette Pro, berbayar, yang memungkinkan kita mengedit gambar dengan ukuran lebih besar.

Foto ini saya ambil dengan Samsung Galaxy Tab dan Vignette Pro. Efek yang dipilih adalah platinotype, dan menggunakan metode grid, sehingga memungkinkan menjepret foto 4 kali berturut-turut dan akan ditata letak otomatis 2×2 seperti di atas. Starbucks di Mal Taman Anggrek ini saya foto sekitar pukul 03:30 pagi, saat tim kantor saya sedang menyiapkan aplikasi game untuk event sebuah brand di atriumnya. Makanya Starbucks bisa terlihat sepi.