Nostalgia Melalui WhatsApp Group

Kini WhatsApp sudah menjadi aplikasi lumrah untuk berkomunikasi dengan banyak orang, menggantikan BBM yang pernah populer. Saya sendiri lebih banyak menggunakannya untuk berkomunikasi urusan pekerjaan.

Seiring digunakan makin banyak orang, group di WhatsApp saya pum bertambah. Setelah group pekerjaan, kini ada group keluarga dan alumni. Jujur hampir semua group itu tidak saya baca setiap saat. Group alumni apa lagi. Kontennya terlalu berisik. Saya bergabung demi menjalin silaturahmi saja. Ngobrol di sana pun sangat jarang.

Buat saya yang dihujani banyak konten dari banyak kanal social media, saya memang harus memilih mana yang lebih diutamakan. Namun tentunya ini berbeda dengan kedua orang tua saya. Baik Bapak dan Ibu saya bisa dibilang aktif di group WhatsApp keluarga dan alumninya masing-masing. Bagi mereka, komunikasi di group benar-benar mendekatkan mereka yang sudah lama terpisah oleh jarak dan waktu.

Lanjut dengerin cerita tentang Bapak saya

Bali hari ke-3, berwisata ke Tanjung Benoa, Garuda Wisnu Kencana, Dreamland, dan Uluwatu

Pagi ini sukses saya bangun pagi mendahului matahari. Masih jam 4 pagi, dan saya dan Bapak langsung menyiapkan “senjata” untuk berburu matahari di tepi pantai Sanur.

Saat itu langit di luar masih gelap. Agak mengkhawatirkan juga kalau kami harus menyusuri jalan yang sama ke daerah utama pantai Sanur seperti kemarin pagi tanpa penerangan. Bisa-bisa terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan. Untungnya orang hotel berbaik hati mengantar kami berdua pakai motor.

Dua motor pun bergerak menembus angin pagi hari yang dingin. Jalan menuju pantai Sanur menggunakan motor jauh lebih berputar. Tak sampai 5 menit kami sudah sampai di lokasi. Saya memberikan tip kepada dua orang hotel yang mengantar kami dan kami pun siap berburu.

Tripod dipasang dan kamera pun disiapkan. Masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum matahari muncul si ufuk timur. Rasa ngantuk pun lenyap sudah tergantikan dengan semangat menyambut hari terakhir berlibur di Bali.

Awan tipis menutupi matahari saat muncul si balik permukaan laut. Cahaya jingga terpantul di laut yang terlihat tenang di kejauhan. Perahu-perahu yang berlabuh di pantai Sanur terlihat sebagai siluet di depan sinar matahari. Beberapa orang terlihat sudah mulai bekerja. Banyak barang diangkut di pundak dan dibawa ke perahu. Barang-barang ini adalah modal usaha para pedagang yang berusaha di Pulau Lambongan, yang berjarak sekitar setengah jam dari Sanur.

Matahari pun semakin meninggi. Sinar terangnya semakin menghilangkan malam dan menggantinya dengan keriaan pagi hari. Mungkin karena ini hari minggu, banyak sekali warga Bali yang mulai membanjiri Sanur. Kebanyakan datang dengan motor, terlihat dari penuhnya motor di area parkir. Banyak juga yang datang dengan bersepeda. Sepeda terlihat diparkir di dekat pondok-pondok kecil yang berada di tepi laut. Ada pula yang terlihat bolak-balik melewati jalur pejalan kaki yang dibangun di tepi pantai.

Saat itu air laut terlihat surut, meninggalkan banyak kantung air. Beberapa anak terlihat bermain di kantung-kantung itu, seakan-akan sudah menjadi kolamnya sendiri. Beberapa perahu terlihat “terdampar” di atas pasir, menunggu saat malam nanti air kembali pasang dan menghanyutkannya kembali.

Matahari sudah mulai meninggi dan suasana pantai yang terlalu ramai tidak menarik lagi untuk dijadikan objek foto. Saya dan Bapak pun mencari tempat duduk yang nyaman untuk sarapan. Nggak mewah, hanya sebatang jagung bakar, mie instan dan teh. Lumayanlah untuk mengganjal perut.

Usai sarapan, saya dan Bapak kembali ke hotel. Seperti hari kemarin, kami harus berjalan jauh kembali menyusuri pantai ke aah utara. Bedanya, pagi ini matahari sudah terasa terik sekali, lumayan membuat wajah kami gosong saat berjalan kaki selama setengah jam.

Hari ini terakhir kami berada di Sanur. Usai kami berjalan-jalan hari ini, malamnya kami akan mencari penginapan di Kuta. Kami mencari yang lebih dekat ke bandara, karena kami harus kembali ke Jakarta esok pagi-pagi.

Sekitar pukul 11:00 jemputan pun datang. Kali ini ganti lagi supir yang akan mengantar kami. Namanya Pak Komang, yang ternyata adalah kakak kandung Pak Oka, yang mengantar kami di hari pertama. Rute hari ini adalah melihat Tanjung Benoa, Garuda Wisnu Kencana, pantai Dreamland dan Padang-padang, melihat tari Kecak di Uluwatu, dan makan malam di Jimbaran.

Niatnya di Tanjung Benoa cuma mau ingin lihat suasana saja. Ternyata melihat puluhan parasailing yang bertebaran di langit menggoda hati juga. Terakhir kali saya mencoba parasailing adalah tahun 1997, dan saat itu parasailing hanya bisa ditemukan di pantai Sanur. Agak kaget juga setelah tahu sekarang per sekali naik Rp.80.000,00. Nggak mau ditawar pula. Mungkin karena ini hari minggu ya? Ya sudahlah, daripada menyesal kemudian karena tak mencoba, saya pun membayarnya.

Saya dipakaikan baju pengaman, dan sarung tangan warna biru di tangan kanan dan warna merah di kiri tangan. Seorang pemandu mengingatkan agar nanti saya melihat aba-aba bendera yang ia berikan, dan mendengarkan petunjuk dari pengeras suara. Saya lalu diminta untuk berpegangan pada warna yang sesuai dengan warna sarung tangan, sambil para pemandu itu mengaitkan parasut ke baju pengaman saya. Parasut ini terikat ke perahu boat yang siap melaju kencang.

Aba-aba pun diberikan dan saya berlari. Parasut yang ditarik oleh perahu boat mengangkat saya ke angkasa. Seketika saya sudah berada sekitar 10 meter dari permukaan laut, dan melihat air laut yang dangkal. Perahu boat berputar dan parasut saya pun ikut berputar berkeliling. Saya begitu menikmati pemandangan dari atas udara sampai abai akan petunjuk yang diteriakkan di pengeras suara. Saya diminta untuk menarik pegangan berwarna biru sekencang mungkin. Gunakan dua tangan kalau perlu, katanya. Parasut pun membelok kembali ke arah pantai. Saya lalu diminta untuk melepas pegangan, dan seketika parasut pun menurun. Karena belum terbiasa, sayapun mendarat dengan pantat, dan bukan kaki. Saya pun mengembalikan baju pengaman an sarung tangan.

Tanjung Benoa memang pusatnya wisata keluarga. Selain parasailing, kalau mau bisa juga mencoba banana boat dan jet ski. Kalau mau loh, kalau saya sih memutuskan untuk lanjut bergerak ke tempat lain.

Selanjutnya Pak Komang mengantar kami ke kompleks Garuda Wisnu Kencana. Saya memang belum pernah melihat patung raksasa (yang nggak pernah selesai itu) di lokasi ini secara langsung, meski dulu sudah pernah melihat potongannya di studio pembuatnya, Nyoman Nuarta, di Bandung lebih dari 10 tahun lalu.

Lokasi Garuda Wisnu Kencana banyak memiliji tempat terbuka. Batu-batu alam raksasa setinggi lebih dari 10 meter menjadi elemen desain arsitekturnya. Tempat ini memang keren banget untuk dijadikan latar sesi pemotretan model. Sayangnya nggak ada model saat itu. Jadi ya saya akhirnya hanya menikmati ruangan-ruangan luar raksasa yang tercipta di dalamnya.

Di area kedatangan (sekaligus pintu keluar) terlihat berjejer toko-toko cenderamata dan kain. Juga ada dua tempat makan yang masing-masing punya kelasnya sendiri. Mau pilih yang buffet dengan harga cukup mahal, atau yang terkumpul ala pujasera dengan harga relatif murah. Yang lucunya, yang terkumpul di pujasera ini semuanya adalah jajanan khas Bandung, dari nasi timbel, mie ayam, hingga es dawet. Beberapa karyawannya pun terdengar bercakap-cakap dalam bahasa Sunda. Mungkin saja, Nyoman Nuarta, meski asli Bali, tak ingin lepas dari suasana Bandung tempat ia tinggal kini. Saya dan Bapak pun makan siang di sini.

Garuda Wisnu Kencana ini juga memiliki amphitheater yang keren. Setiap harinya mulai pukul 14:00 akan selalu ada pertunjukan seni di sini. Saya dan Bapak tak bisa menunggu hingga pertunjukan dimulai, karena masih banyak tempat yang ingin kami datangi setelah ini.

Pak Komang lalu mengantar kami ke tujuan berikutnya, pantai Dreamland. Lokasinya berada di dalam kompleks perumahan yang masih sangat baru, Pecatu Indah Resort. Kompleks ini lebih mengingatkan saya akan hunian kompleks megah semacam Pantai Indah Kapuk di Jakarta. Sangat jauh dari nuansa Bali, karena sudah terasa banget nuansa komersialismenya. Saat ini sudah ada padang golf, hotel mewah, dan pusat rekreasi air, namun hanya sedikit saja yang sudah membangun hunian di kompleks ini.

Saya pernah mampir ke pantai Dreamland sekitar akhir 2010 lalu, dan kini sudah sedikit berbeda. Dahulu saya bisa bebas parkir di atas pantai, namun kini semua parkir mobil diarahkan ke pusat rekreasi. Dari sana kami bisa menggunakan shuttle gratis yang rutin bolak-balik ke pantai. Jalan turun menuju pantai Dreamland pun telah berubah. Kini sudah ada tangga beton yang dibangun rapih, sementara dulu hanyalah tanah berbatu kasar saja.

Yang tetap sama adalah keindahannya. Pantai ini memiliki ombak yang cukup besar sehingga disukai wisatawan asing. Banyak yang mengadu kelihaian bermain selancar mengikuti ombak. Pasirnya pun bersih, mengalahkan keindahan pantai Sanur dan Kuta. Banyak orang asing berjemur menikmati matahari yang saat itu sudah tinggi. Entah kenapa mereka suka berjemur di siang yang terik ini. Panas banget soalnya. Kalau saya sih senang-senang saja, bisa melihat bikini bertebaran di pantai.

Kami hanya sejenak di pantai Dreamland, sebelum kami melanjutkan perjalanan ke pantai Padang-padang, yang tak jauh dari sana. Dreamland dan Padang-padang sebenarnya masih satu garis pantai, meski masing-masing memiliki akses masuk yang berbeda.

Untuk sampai ke pantai Padang-padang, saya dan Bapak harus berjalan turun melewati anak-anak tangga yang agak curam. Kami juga harus melewati jalan sempit yang diapit bebatuan karang di kiri kanan kami. Untuk melewatinya, kami harus bergantian dengan para pengunjung yang pergi meninggalkan pantai.

Pantai ini tak kalah indahnya memang dengan pantai Dreamland. Pasir yang putih dan bersih, serta ombak yang kencang, memang menarik banyak wisatawan asing. Hanya bedanya, di pantai ini banyak wisatawan asing yang juga mengajak anak-anak mereka. Saya melihat beberapa anak asyik membangun istana pasir. Ada pula yang berdiri di tepi pantai menunggu sisa ombak menyambar kakinya. Ekspresi keceriaan terpancar si wajah mereka.

Baik pantai Dreamland maupun Padang-padang memang hanyalah pantai yang sempit. Kurang dari 5 menit, saya sudah bisa menyusuri seluruh pesisirnya. Enaknya memang, pantai-pantai ini tak seramai Sanur dan Kuta. Mudah-mudahan saja keindahan pantai-pantai ini bisa bertahan lama, dan menjadi pilihan alternatif bagi wisatawan yang ingin menyendiri. Sebenarnya masih ada lagi satu pantai yang berada di garis yang sama. Namanya Blue Point. Kami tak sempat mampir ke sana, namun kalau mendengar cerita Pak Komang, karakteristik pantainya tak berbeda jauh dengan Dreamland dan Padang-padang.

Pak Komang lalu lanjut mengantar kami lagi terus ke dataran yang lebih tinggi. Pura Uluwatu ternyata tak jauh dari pantai-pantai ini. Di sini kami ingin melihat keindahan tari Kecak berlatar belakang matahari terbenam. Pagelaran tari ini diselenggarakan setiap hari pukul 18:00. Biaya masuk ke Pura Uluwatu tidak mahal, hanya Rp.3.000,00, namun biaya masuk untuk melihat pertunjukan tarinya lumayan menguras kocek dompet, Rp.80.000. Dengan harga ini, semoga saja pertunjukannya jauh lebih keren daripada tari Kecak yang saya tonton kemarin sore. Sebelum masuk, para penjaga memberikan kami kain. Untuk yang mengenakan celana panjang, diberikan kain kuning yang harus diikatkan di pinggang. Sementara untuk yang mengenakan celana pendek, diberikan kain panjang berwarna ungu untuk menutupi bagian bawah kaki.

Kami sudah masuk ke Puri Uluwatu sebelum pukul 17:00. Para penjaga mengingatkan saya untuk menyimpan kacamata dan topi. Di sekitar Puri Uluwatu ini ada banyak monyet liar. Berbeda dengan di Ubud, monyet-monyet di Uluwatu ini jahil. Mereka bisa dengan gampangnya merebut aksesoris yang dipakai pengunjung. Saat mendekati puri pun, saya melihat seekor monyet yang menyambar topi salah satu wisatawan asing. Si monyet langsung lari membawa topi tersebut ke atas atap salah satu bangunan. Saya hanya tertawa saja melihatnya. Mudah-mudahan si empunya topi sudah mengikhlaskannya.

Saya dan Bapak lalu bergegas berjalan menuju area amphitheater. Ruangan terbuka berbentuk lingkaran ini dikelilingi setengahnya oleh bangku berundak. Sisi lain dari lingkaran langsung menghadap ke arah laut. Menariknya, di sisi ini terdapat gapura mini, dengan terbenamnya matahari jatuh persis di antara gapura ini. Sungguh menakjubkan, membangun amphitheater yang mempertimbangkan elemen sinar matahari sebagai bagian dari desain.

Masih banyak bangku kosong. Saya pun memilih persis di seberang gapura, supaya saya bisa melihat dengan jelas terbenamnya matahari. Sayangnya deretan bangku paling bawah sudah ditempati, padahal itu posisi paling pas untuk mengambil gambar.

Pukul 18:00 tepat pertunjukan pun dimulai. Amphitheater benar-benar penuh. Bahkan penyelenggara terpaksa menambahkan bangku-bangku plastik untuk menampung luapnya pengunjung. Lebih dari 500 orang yang datang dari berbagai bangsa memenuhi amphitheater. Padatmenunggu atraksi Kecak yang katanya istimewa.

Pagelaran tari Kecak di Uluwatu ini ternyata benar-benar luar biasa. Tarian ini menggabungkan kuat tari tradisional Kecak Bali dan improvisasi interaksi dengan penonton. Sambutan yang bernada guyon sempat disampaikan dalam bahasa Jepang. Kebetulan saat itu memang banyak sekali turis Jepang yang menyaksikan acara ini. Kemunculan tokoh Hanoman pun sungguh menghibur. Ia tiba-tiba sudah duduk di balik bangku penonton, lalu melewati beberapa penonton sambil menggaruk-garuk kepala mereka. Saya tersenyum ketika melihat seorang anak kecil yang duduk di depan saya melambaikan tangan ke Hanoman. Si Hanoman pun kembali melambaikan tangannya dengan ramah.

Pertunjukan terus berlanjut diikuti dengan terbenamnya matahari di latar belakang. Pemandangannya sungguh luar biasa. Lampu penerangan amphitheater pun mulai dinyalakan. Penonton berulang kali berdecak kagum dan bertepuk tangan. Puncaknya adalah Sanghyang Api, saat Hanoman terikat di tengah panggung dikelilingi api besar menyala. Ia berhasil membebaskan diri dan keluar melompati api. Ia lalu berlari dan dengan kedua kaki telanjangnya menepis dan memadamkan api. Adegan ini diikuti dengan tepuk tangan penonton yang membahana.

Pagelaran tari Kecak ini pun berakhir pukul 20:00 lewat. Penonton turun dengan hati-hati karena suasana sudah cukup gelap. Saat keluar kami pun mengembalikan kain yang mengikat pinggang kami. Malam ini saya sungguh terpuaskan melihat atraksi tari tradisional Bali yang bisa dikemas dengan cara yang sangat menghibur. Hmm, andaikan saja tari-tari dari daerah lain di Indonesia bisa dibuat model yang serupa, tentu akan semakin menarik minat wisatawan yang berkunjung ke daerahnya.

Malam ini adalah malam saya dan Bapak terakhir ke Bali. Nggak afdol rasanya kalau belum menikmati seafood Jimbaran. Pak Komang pun langsung mengantar kami ke sana. Kami sudah cukup lelah sehingga tak berlama-lama di Jimbaran. Usai menikmati cumi asam manis dan udang lada hitam, kami pun beranjak mencari penginapan dan istirahat.

Sebenarnya kami belum tahu mau menginap di mana malam ini. Yang jelas inginnya sih bisa dapat penginapan di sekitar Kuta, supaya tidak jauh saat kami berangkat ke bandara esok pagi.  Lagi pula mencari taksi di Kuta jauh lebih mudah daripada mencarinya di tempat kami menginap semalam sebelumnya di Sanur.

Kami pun menyusuri Jl. Raya Kuta. Hotel yang pertama kali kami datangi ternyata sudah penuh. Lalu kami melewati hotel yang tampak terlihat sederhana. Namanya Hotel Darmadi, dan ternyata masih banyak kamar kosong. Tinggal pilih mau yang sekedar kamar, kamar dengan kipas angin, atau kamar dengan AC. Harganya bervariasi dari Rp.150.000,00 sampai dengan Rp.300.000,00. Kualitas kamarnya memang sekedarnya. Dua tempat tidur dengan selimutnya, televisi kecil, handuk (harus diminta) dan teh panas di pagi hari. Yah kalau memang kamar cuma untuk sekedar numpang tidur, bisa dibilang sudah cukup memadai.

Saya dan Bapak pun langsung merebahkan diri di tempat tidur. Esok pagi saja kami bersiap dan beres-beres sebelum berangkat ke bandara Ngurah Rai menuju kembali ke kota Jakarta.

Keesokan paginya, kami berangkat meninggalkan hotel dengan taksi. Seperti saya duga, nggak sulit mencari taksi di Jl. Raya Kuta. Tinggal cegat yang lewar, lalu berangkat. Kami mampir sejenak di pusat oleh-oleh Rama Krisna, membeli berbagai makanan, sebelum lanjut ke bandara.

Menyenangkan juga bisa berlibur sejenak seperti ini, sebelum akhirnya kembali aktif terbenam kembali dalam kesibukan diri di kota Jakarta.

Sampai jumpa di liburan selanjutnya ya!

Bali hari ke-2, berjalan-jalan ke Ubud, Tegalalang, dan Monkey Forest

Niat untuk bangun mendahului matahari terbit ternyata gagal. Cahaya matahari sudah mulai terlihat ketika saya terbangun. Bapak ternyata sudah lebih dahulu bangun. Saya lalu mengajak Bapak jalan-jalan ke arah pantai. Terlewatnya matahari terbit tak mengurungkan kami untuk tetap berjalan-jalan mencari objek lainnya di pantai Sanur.

Benar memang, tepian pantai bisa dicapai hanya dengan jalan sekitar 5 menit dari hotel. Yang tidak kami duga adalah, pantai Sanur yang kami temui adalah yang berada di sisi utara, sementara pusat keramaian dan objek menarik, berada agak jauh di selatan.

Jadilah kami berdua berjalan menyusuri pantai. Uniknya, sudah disiapkan jalan dengan perkerasan paving rapih di pesisir pantai. Terlihat banyak orang bersepeda dan berjogging menyusuri perkerasan ini. Rupanya jalur ini memang jadi salah satu pilihan untuk berolahraga di pagi hari.

Kami berjalan menyusuri perkerasan ini sambil mengambil gambar yang sekiranya menarik. Matahari terlihat tak jauh di atas permukaan air. Berkas sinarnya mewarnai sebagian permukaan laut. Beberapa orang terlihat duduk santai sambil menikmati naiknya matahari.

Sekitar setengah jam kami menyusuri tepian pantai hingga akhirnya kami menemui banyak perahu dan boat berlabuh di pantai. Beberapa boat ini ternyata bisa dipakai untuk mengantar kita dari Sanur ke Lembongan dan Nusa Penida. Kalau mau, bisa berangkat pukul 8:00 dari Sanur dan kembali dari Lembongan atau Nusa Penida pukul 15:00. Biayanya Rp.60.000,00 per sekali perjalanan. Itu kalau mau loh. Saya sih nggak, karena saya sudah punya rencana lain hari ini.

Lumayan banyak objek foto yang saya ambil pagi ini di Sanur. Saya dan Bapak mencari sarapan ringan di tepi pantai. Nggak dijamin enak sih, tapi setidaknya perut ini terisi. Kalau perut kosong, bisa bahaya ini kalau nanti jalan kaki pulang ke hotel.

Menarik sebetulnya melihat kehidupan Sanur di pagi hari. Banyak pedagang bersiap menjajakan  dagangannya di tepi pantai. Sepasang suami istri dan anaknya terlihat bekerja sama membangun istana pasir. Rombongan anak asyik mandi dan bermain air laut. Beberapa orang berpakaian adat Bali terlihat khusyuk sembahyang di tepi pantai. Serta para surfer mulai bersiap untuk menghadapi ombak pantai.

Kami berjalan kaki kembali ke hotel. Beristirahat sejenak sebelum acara jalan-jalan hari kedua di Bali ini dimulai. Semalam, kami sudah meminta Pak Oka untuk menjemput lagi, dan mengantar kami ke Ubud, Tegalalang, Sukawati, dan terakhir melihat pertunjukan Kecak dan Sanghyang Api. Sesuai kesepakatan, biaya yang harus dikeluarkan untuk itu sejumlah Rp.250.000,00.

Sekitar pukul 11:00 jemputan sudah datang. Kali ini ternyata bukan Pak Oka. Masih dari pengelola tour yang sama, ia digantikan oleh Pak Dharma. Berbeda dengan supir sebelumnya, Pak Dharma ini lebih sedikit berbicara. Wawasannya pun tidak seluas supir sebelumnya. Hihi tapi ya masa mau protes. Yang penting asal cara menyetirnya aman, terima saja deh.

Mobil pun bergerak langsung ke arah Ubud. Sebelum berputar-putar lebih lanjut, kami diantar ke Joni Resto di daerah Peliatan, Ubud. Rupanya ini memang tempat makan langganan para wisatawan. Menunya lumayan enak, dari citarasa Indonesia hingga Eropa. Pemandangan yang ditawarkan adalah sawah, meski nggak bagus-bagus amat. Harganya sih yang memang tidak terlalu nyaman. Per orang untuk makan dan minum bisa habis sekitar Rp.110.000,00.

Sekitar tiga bulan lalu, saya sudah pernah mampir ke Ubud. Saat itu saya sempat menikmati makan siang di restoran Bebek Bengil. Citarasa bebeknya memang enak. Kalau boleh dibandingkan dengan Bebek Bengil yang juga berada si Ubud, saya pribadi sih lebih menyukai Bebek Bengil daripada Joni Resto.

Usai makan siang, Pak Dharma mengantar kami ke tujuan berikutnya, yakni Tegalalang. Di sini kami bisa melihat sawah khas Bali yang tersusun secara terasering. Keindahan sawah ini diikuti dengan pertumbuhan kafe, restoran, serta toko suvenir yang menghadap langsung ke arah sawah. Ada beberapa titik menarik yang mengharuskan saya untuk akhirnya “nyelonong” masuk ke dalam kafe untuk mengambil gambar.

Mobil-mobil berjejer di pinggir jalan raya. Mereka menunggu para tamu asing dan lokal yang sedang menikmati keindahan sawah ini sambil minum dan rehat di kafe-kafe dan restoran itu.

Saya baru menyadari, ternyata para pemandu tour banyak yang menguasai bahasa lain selain Inggris. Saya melihat seorang pemandu yang lihai berbicara bahasa Jepang terhadap turis-turis yang dipandunya. Saya juga sempat melihat pemandu yang menguasai bahasa Spanyol. Luar biasa memang. Beberapa pedagang juga sudah menguasai beberapa bahasa asing. Minimal mereka mampu menyebutkan angka dalam beragam bahasa. Lumayanlah, untuk modal tawar-menawar dengan konsumen.

Pak Dharma lalu mengantar kami ke tujuan berikutnya, Monkey Forest, yang juga berlokasi di Ubud. Berbeda dengan di Uluwatu, monyet di Ubud ini tidak liar. Hutan ini dipelihara oleh penguasa Ubud. Monyet-monyetnya diberi makan rutin. Saat saya datang, terlihat penjaga membagikan potongan ubi dan jagung. Seketika itu pula puluhan monyet berkumpul mendekat. Mereka tidak berebut. Menunggu sabar sampai potongan ubi dan jagung itu dilempar ke arahnya. Pemandangan yang menarik memang, melihat alam bisa hidup serasi dengan manusia.

Suasana langsung berubah begitu kami kembali  melanjutkan perjalanan. Jalan yang melintas Monkey Forest macet. Suatu hal yang tidak biasa memang menemukan kemacetan di Ubud. Mungkin karena ini akhir pekan, sehingga frekuensi pengunjung meningkat? Entahlah. Yang jelas jalur satu arah yang kami lewati bergerak dengan sangat lambat.

Lolos dari kemacetan, kami langsung bergerak ke arah Pasar Sukawati. Katanya Sukawati ini memang khas menawarkan hiasan dan kerajinan Bali. Yang saya lihat, kebanyakan barang tang dijual adalah kain, lukisan, dan ornamen hiasan. Sayangnya saya sendiri tidak terlalu tertarik untuk membeli apapun. Bapak sendiri pun hanya membelikan baju dan daster untuk Ibu dan keponakan saya. Kecuali cemilan makanan, kami tidak membeli barang apapun untuk kami sendiri. Buat saya pribadi, saya lebih suka mengenang sebuah perjalanan wisata melalui cerita dan foto. Buat saya teks dan gambar akan lebih mengingatkan detil perjalanan yang terlupakan dari memori.

Usai dari Sukawati, Pak Dharma mengantar kami kembali turun ke arah Sanur. Perjalanan yang agak panjang ini membuat saya sempat tertidur. Hari masih menjelang sore, saat kami diantar menuju pagelaran Tari Kecak Uma Dewi tak jauh dari Sanur. Tiket pertunjukannya seharga Rp.60.000,00.

Menarik juga Bali masih punya pagelaran budaya yang diselenggarakan rutin setiap hari. Tempatnya memang tidak terlalu wah, penerangannya terbatas. Namun di sinilah tempat budaya Bali diteruskan kepada generasi mudanya. Saya jadi ingat cerita Pak Oka, yang mengantar kami kemarin. Hingga saat ini, tarian Bali masih diajarkan ke anak-anak, sehingga bisa dibilang tak ada orang Bali yang tak tahu tarian Bali. Yang menjadi penari di pagelaran Tari Kecak ini pun semuanya anak-anak muda.

Acara berakhir sekitar pukul 19:00. Pak Dharma pun mengantar kami kembali ke hotel. Saya pun membayar biaya perjalanan hari ini (termasuk sewa mobil, bensin, dan pengemudi) sejumlah Rp.250.000,00. Tidak terlalu mahal lah ya.

Hari kedua di Bali ini bisa berjalan dengan cukup mengasyikkan. Besok kami sudah menentukan jadwal selanjutnya. Rencananya kami akan mengulang berburu matahari terbit lagi, lalu siangnya akan berjalan-jalan ke Tanjung Benoa, Garuda Wisnu Kencana, pantai Dreamland dan sekitarnya, menonton Tari Kecak saat matahari terbenam di Uluwatu, dan makan malam di Jimbaran. Semoga saja saya bisa bangun pagi.

Bali hari ke-1, mengunjungi Taman Ayun, Puri Ulun Danu, dan Tanah Lot

Ceritanya saya dan bapak saya hari ini berlibur ke Bali tanpa perencanaan matang. Semua berawal kala saya berburu tiket murah hampir setahun lalu. Jadwal tiket itu memang menentukan kapan saya “harus” liburan.

Meski kepastian keberangkatan sudah saya pegang lama, tetap saja tidak membuat saya siap dengan segalanya. Saya berpikirnya, sudahlah lihat nanti saja sesampainya di Bali. Mau berjalan-jalan ke mana pun belum kepikiran. Nanti spontan sajalah. Lagi pula kali ini saya hanya bersama Bapak saya yang sudah cukup terbiasa jalan-jalan tanpa banyak mikir harus menginap di mana, makan apa, atau mandi di mana.

Sampailah kami tadi pagi di bandara Ngurah Rai. Saya ingat ada banyak brosur tour di bandara. Kami ambil beberapa, sambil membahas rencana selanjutnya. Apapun tempat yang akan dilewati, satu hal sudah pasti, Bapak saya ingin menikmati matahari terbenam di Tanah Lot. Oh ya, saya dan Bapak saya doyan motret. Kategori tempat wisata yang bagus berdasarkan versi kami adalah yang menarik untuk dijadikan objek foto.

Cap cip cup, kembang kuncup. Tak tik tuk, asal tunjuk. Mungkin begitulah kasarnya kami membandingkan berbagai brosur itu. Kami memilah paket yang berakhir di Tanah Lot, yang menyertakan mobil dan supirnya. Akhirnya saya menelepon ke salah satu kontak di banyak brosur itu. Sewa mobil (termasuk bensin) dan supir seharga Rp.325.000,00 yang akan langsung menjemput kami di bandara, lalu akan mengantar kami ke Taman Ayun, ke Ulan Danu, Bedugul, dan terakhir ke Tanah Lot.

Agak was-was juga sih, karena yang akan mengantar kami bukanlah orang yang kami kenal. Ya semoga sajalah supirnya baik. Kalau ternyata tidak menyenangkan, tentulah sepanjang perjalanan kami pun menjadi tidak menyenangkan.

Untunglah perasaan was-was itu hilang setelah Pak Oka, si supir itu datang menjemput. Orangnya ramah, cukup punya banyak cerita tentang Bali. Ia juga seorang Hindu yang sangat cinta akan Bali. Mungkin karena ia juga menyambi sebagai tour guide, ia bisa sangat luwes dalam bercerita. Kalau ada yang mau ke Bali dan butuh diantar kemana-mana, nanti saya kasih kontaknya deh.

Karena ia banyak cerita, jadi kami punya beberapa bayangan akan pergi ke mana esok hari. Pak Oka juga menawarkan beberapa alternatif penginapan yang bersih, tapi dengan harga miring. Tinggal mau pilih di daerah mana: Kuta, Sanur, atau Denpasar? Kami belum bisa memberikan jawaban. Kita lihat sajalah nanti sore. Ternyata Pak Oka juga sudah beberapa kali mengantar rombongan fotografer, sehingga punya bayangan tempat-tempat yang menarik bagi kami.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, tibalah kami di Pura Taman Ayun. Lokasinya sejauh 18 km dari Denpasar. Tepatnya di Kabupaten Mengwi, Badung. Pura ini dikelilingi oleh taman dan sungai. Seperti pura pada umumnya, kami tidak bisa masuk ke dalamnya. Kami hanya bisa berjalan di sekelilingnya. Objek yang menarik sebetulnya untuk dipotret, seandainya saja langit saat itu tidak mendung.

Sekitar setengah jam saya dan Bapak menghabiskan waktu untuk memotret sebelum kami melanjutkan perjalanan kembali ke Bedugul. Rencananya kami akan ke Ulun Danu, melihat pura yang berada di tengah danau itu. Bapak sudah pernah ke sana beberapa tahun lalu, sementara saya belum.

Kami sempat singgah sejenak di rumah makan Saras untuk makan siang. Udaranya sungguh asyik. Bedugul yang berada sekitar 1.000 meter dari laut memiliki udara yang sejuk. Angin semilir menemani kami semua makan siang. Sayangnya harga menu makanan yang disajikan terlihat mahal untuk kelas rumah makan ini. Rasa masakannya pun tidak terlalu spesial. Yang penting, kami kenyang, dan siap melanjutkan perjalanan kembali.

Puri Ulun Danu memang menjadi salah satu tempat wisata pilihan di Bali. Turis asing dan lokal memenuhi tempat ini. Udara sejuk dan kabut tipis menemani pura yang menakjubkan itu. Kalau mau berkeliling danau, ada yang menyewakan perahu dan boat, meski saya sih lebih tertarik untuk menikmati keindahan ini dari tepiannya saja.

Semakin lama kabut tipis semakin turun ke permukaan laut. Perahu yang semula terlihat di ujung danau kini semakin tertutup oleh kabut putih. Tetesan embun sesekali jatuh membasahi permukaan tanah. Saatnya bagi saya dan Bapak untuk pergi dari sini untuk lanjut pergi ke tempat wisata lain.

Perjalanan saya terakhir di hari ini adalah ke Tanah Lot. Lumayan jauh juga dari Bedugul. Selama perjalanan saya sempat beberapa kali tertidur. Enaknya pergi diantar supir seperti ini, saya tidak pusing mencari-cari jalan dan bisa istirahat kalau capai.

Tanah Lot memang ramai. Penuh wisatawan luar dan dalam negeri. Yang lucunya adalah, sebagian dari mereka saya kenali saat mereka tadi juga berada di Taman Ayun dan Puri Ulun Danu. Rupanya wisata harian yang ditawarkan banyak tour punya trayek yang serupa.

Saat itu matahari mulai miring, hampir jatuh di permukaan laut. Mungkin sekitar setengah jam lagi matahari akan terbenam. Saat itulah yang ditunggu-tunggu pengunjung, menikmati indahnya matahari terbenam di balik siluet puri raksasa yang berada di tepian laut ini.

Beberapa orang, termasuk saya, mengambil posisi di atas tebing, di deretan bangku-bangku di depan kafe dan rumah makan. Lokasi ini memang paling pas untuk menangkap momen terbenamnya matahari.

Banyak orang lainnya terlihat berkumpul di tepian pantai. Air saat itu sedang surut, sehingga banyak orang bisa mendekat ke tepian pura. Menariknya, daratan pasir pantai terlihat banyak paling-palung kecil berisi air, yang menampilkan refleksi orang-orang yang lewat di depannya.

Saya dan Bapak pun menyiapkan kamera sembari menunggu matahari turun mendekati permukaan laut. Kami menikmati suguhan kelapa muda segar sambil sesekali menjepretkan kamera kami masing-masing.

Memang indah menikmati matahari terbenam di Tanah Lot. Untunglah langit cukup cerah dan tak ada hujan. Meski sayang masih ada sedikit awan menutupi pandangan matahari saat jatuh di balik permukaan air.

Terbenamnya matahari menandai berakhirnya wisata hari ini di tanah Bali. Saya dan Bapak pun kembali ke arah kota. Pak Oka, sang supir mengantarkan kami ke daerah Sanur. Hingga saat ini saya dan Bapak pun belum tahu mau menginap di mana. Saya cuma memberi ancer-ancer perkiraan harga saja. Biarlah Pak Oka mengantarkan ke tempat yang ia rekomendasikan. Lagi pula tidak terlalu penting hotel apa yang dipilih, karena toh hanya akan dipakai untuk menginap dan mandi.

Pak Oka akhirnya mengantarkan kami ke Hotel Gedong Ayu, di Jl. Padang Galak Kesiman. Entahlah itu di bagian mana di Sanur. Saat itu sudah terlalu gelap untuk saya menentukan orientasi. Yang jelas, pantai hanya 5 menit jalan kaki dari situ. Untuk kualitas hotelnya, ya dibilang bagus ya nggak juga ya. Kamarnya luas dengan kamar mandi tentunya, meski kualitas kamar mandinya nggak bagus-bagus amat. Namun kami terima saja setelah si pengelola mau menerima harga yang kami tawarkan, Rp.500.000,00 untuk 2 malam. Hihi mau menginap saja kok pakai tawar-menawar.

Hari itu sudah cukup melelahkan. Selepas mandi, saya dan Bapak mencari makan malam di warung sebelah hotel. Bukan warung spesial, tapi setidaknya harganya masuk akal, tak seperti saat kami makan siang tadi. Tak lama kami pun kembali ke hotel dan langsung tidur. Semoga saja hari sabtu besok sama menyenangkannya dengan hari ini.

Tanah Impian

36 tanah impian

“Dreamland” merupakan sebutan untuk salah satu pantai di Bali. Lokasinya tak jauh dari Pantai Bingin. Pasirnya putih, ombaknya cukup kencang, juga menjadi surga bagi para peselancar. Berbeda dengan Pantai Bingin yang masih berisikan bangunan asli, di Dreamland sudah dibangun villa dan pusat komersial, meski kayaknya kok masih setengah selesai. Untuk masuk ke area ini, siapkan uang Rp.15.000 untuk mobil. Dari tempat parkir, kita masih harus berjalan kaki turun melewati jalanan berbatu (meski masih masuk akal dibandingkan menuju pantai Bingin). Modelnya: @colonelseven. f 6.3, 1/800, ISO 100. Galeri foto lainnya bisa dilihat di sini.