Bermain dengan Lensa Helios

Sekitar 2 minggu lalu saya iseng beli mainan baru (halah, iseng). Mainan itu berjudul lensa manual Helios 44-2 58 mm. Lensa lama buatan Rusia ini memang sudah tidak diproduksi lagi. Orang biasanya mencari dari lapak barang second. Saya menemukan lensa ini di toko MasterLensa.com di STC Senayan lantai 1. Ternyata di sana banyak sekali dijual lensa manual second. Plus, kalau kalian butuh lensa manual kalian diservis, juga bisa datang ke sana.  Saya membeli lensa Helios 44-2 58 mm seharga Rp. 800.000,00 + mount + cap, sehingga total Rp. 900.000,00.

IMG_20150926_115451_HDR

Hari Sabtu lalu saya mencoba lensa ini dengan memotret Kei Andinta. Fokus lensa Helios dilakukan dengan cara manual, alias berdasarkan kepekaan mata melihat di viewfinder. Tidak ada motor yang biasanya membantu menemukan titik fokus saat memotret. Susah? Hahaha… Banget, kalau memang belum terbiasa. Alhasil, di awal-awal banyak jepretan saya yang tidak fokus.

Lensa Helios ini memang murni lensa manual, dengan segala ketidaksempurnaannya. Namun ketidaksempurnaan ini yang malah membuatnya menjadi unik. Misalnya, saat menampilkan bokeh di background, perhatikan tepian hasil foto deh. Akan terlihat agak swirly (berputar) bentuk bokeh-nya. Atau kadang suka terlihat bocoran cahaya saat memotret subjek dengan kondisi backlight.

Kemarin sore saya sempat mampir ke Frisian Flag Cafe, sebuah kafe temporer untuk promosi Susu Bendera, di halaman depan fX Sudirman. Saya sempat memotret beberapa objek di sana dengan menggunakan lensa Helios ini. Galeri keseluruhan foto-foto di Frisian Flag Cafe ini bisa dicek di galeri Flickr ini.

IMG_7601

IMG_7611

IMG_7606

IMG_7615

IMG_7599

IMG_7616

IMG_7619

Bricks Versi Indonesia Ala Emco Brix

Kalian pasti tahu Lego kan? Lego memang leading brand untuk permainan berbasis bricks. Beberapa tahun belakangan ini makin banyak merk lain yang terjun di kategori sama, dengan harga yang jauh lebih miring. Kebanyakan merk-merk ini berasal dari Tiongkok (apa sih yang nggak bisa dibuat di sana?). Sebut saja merk Decool, SY, Lele, Wange, Sluban, dan masih banyak lagi. Masing-masing merk mengeluarkan serinya sendiri. Ada yang meniru Lego, namun banyak juga yang berinovasi dengan memasuki segmen yang tidak ada di Lego, seperti seri militer misalnya.

Ada satu merk bricks yang belakangan ini menjadi perhatian saya. Nama merknya Emco. Merk ini dijual resmi di banyak toko mainan di Jakarta. Saya bahkan mengira kalau ini merk dari luar yang diimpor ke Indonesia. Seri Dino Brix dari Emco Brix yang dijual saat event toys fair beberapa bulan lalu menyadarkan saya akan keberadaan merk ini. Desainnya bagus dan punya part yang unik. Saya sempat membeli semua seri dan memajangnya di rumah.

image

Tadi siang saya sempat mampir ke Mall Kota Kasablanka (Kokas). Emco Brix ternyata buka booth di lobi mal. Lumayan besar juga booth-nya. Di sini Emco menampilkan produk terbaru mereka, seri khusus Indonesia. Sebelumnya saya pernah lihat contoh produknya saat pameran mainan beberapa bulan lalu. Namun belum ada yang dijual saat itu.

image

Seri khusus Indonesia ini menampilkan beberapa macam desain. Yang jadi unggulan adalah Monumen Nasional (harga Rp.299.000,-). Lalu ada Metro Mini (harga Rp.199.000,-). Selanjutnya ada Bajaj warna biru dan merah (harga masing-masing Rp.69.000,-). Ada juga Pangkalan Ojek (harga Rp. 69.000,-). Sebetulnya masih ada lagi Pedagang Kaki Lima, tapi produknya belum ada di rak. Menarik sih ide produk yang disajikan. Lalu bagaimana dengan kualitas produknya sendiri?

image

Saya bersama keponakan saya yang berusia 7 tahun baru sempat memasang Monumen Nasional. Saya baru tahu kalau ternyata produk ini hanya dibuat terbatas 3.000 unit. Ada sertifikat yang menyertai produk dengan nomor urut.

Dokumentasi pemasangannya cukup jelas dan mudah dimengerti. Namun bagi keponakan saya (yang sudah terbiasa memasang Lego sendiri), ada beberapa visual yang membingungkan. Jadi, pastikan ada yang mendampingi kalau anak Anda yang berniat memasangnya sendiri.

Yang membuat Lego unggul adalah kualitas bahan bricks-nya. Saat ditempel akan langsung melekat erat, sehingga bisa menguatkan satu sama lainnya. Saat saya tadi memasang Monumen Nasional, kelekatan bricks menjadi masalah tersendiri. Beberapa harus ditekan cukup keras supaya akhirnya bisa menempel rapat. Bricks panjang dengan lebar hanya 1 grid adalah yang paling sulit untuk dilekatkan. Keponakan saya pun ikut merasakan sulitnya karena jempolnya belum cukup kuat untuk menekannya supaya bisa menempel dengan bricks di bawahnya.

image

Desain Monumen Nasional berbeda skala dengan Bajaj, Metromini, dan Pangkalan Ojek. Buat saya hal ini tidak menjadi masalah sebetulnya, hanya saja akhirnya tidak bisa dijejerkan dengan koleksi bangunan yang sudah saya punya. Namun untuk ukuran bangunan berskala mini, desain Monumen Nasional ini sudah lumayan bagus.

Yang saya sama sekali tidak suka dari Emco Brix ini adalah desain mini figure-nya. Saya paham kalau Emco Brix tidak bisa membuat desain yang persis dengan Lego, karena terkait masalah hak cipta. Namun pemilihan warna baju dan kulit mini figure yang saya dapatkan dari Monumen Nasional sungguh jelek. Begitu saya lihat, langsung saya singkirkan jauh-jauh. Lebih baik saya membeli mini figure City versi SY atau Lele untuk nanti saya gabungkan di sini.

Dengan segala kekurangannya saat ini, setidaknya saya salut dengan inisiatif Emco Brix untuk membuat produk yang erat dengan konteks budaya lokal. Saya sangat berharap akan ada lebih banyak lagi seri seperti ini, dengan tentunya ada perbaikan kualitas produk ya.

image

Pameran Emco Brix di Kokas masih akan berlangsung hingga tanggal 23 Agustus. Selain seri Indonesia, juga ada banyak seri lainnya, seperti Robo, Military, City, dll. Meski saya heran, kenapa seri Dino Brix (yang pernah saya beli dulu, dan saya sangat suka) kok malah nggak ada ya. Di pameran ini juga dijual bricks dalam bentuk plastikan. Pilih saja bricks yang kalian mau, lalu nanti akan ditimbang. Per 1 gram dikenakan harga Rp.800,- dengan ketentuan pembelian minimal sebanyak 50 gram. Varian bricks juga jauh lebih beragam dibanding saat dijual di pameran mainan beberapa bulan lalu. Kini variasi warnanya pun lebih banyak dan lebih enak dilihat.

Jadi sempatkan mampir ke sana untuk lihat-lihat ya!
image

Pengguna Grab Taxi

Sudah dua kali naik taksi Express gw melihat pak supir ternyata pengguna aplikasi Grab Taxi. Gw sendiri belum pernah pakai, meski pernah dengar mekanismenya app-nya sebelumnya. Kesempatan ini nggak gw lewatkan dong untuk ngobrol-ngobrol dengan si pak supir, untuk dapet insight dari sudut pandang mereka.

Pada kesempatan pertama dulu, gw sempat dapet cerita dari pak supir mengenai mekanisme ordernya. Gw pesan melalui aplikasi Grab Taxi. Lalu nanti taksi terdekat yang berada di posisi gw akan merespon. Si supir akan memencet tombol terima order. Bila ada banyak supir yang mencet bersamaan, maka akan dipilih taksi yang paling dekat dengan posisi gw. Si supir yang dapet order ini nanti akan dapat bonus Rp.20.000 dari Grab Taxi, sementara supir-supir lain yang masih di area dekat dan ikut memencet tombol terima order, namun gagal dapet, masih menerima bonus Rp.5.000. Hmmm, lumayan banget kan?

Lalu gw juga tanya ke si pak supir, ikutan program Grab Taxi sesulit apa? Katanya nggak susah. Tinggal apply ke kantor Grab Taxi, periksa dokumen, foto, maka akan langsung jadi partner Grab Taxi. Kalau si pak supir nggak punya hape android, maka ia bisa menyicil ke Grab Taxi android Acer seharga 1 juta rupiah. Si pak supir harus bayar Rp.100.000 di awal, lalu di bulan kedua, setiap harinya akan dipotong Rp.10.000 dari komisi selama 3 bulan. Kalau sudah punya hape android sih, tinggal minta diinstalkan aplikasinya saja.

Si pak supir juga cerita tentang Easy Taxi, yang saat ini bisa dibilang kompetitornya Grab Taxi. Model bisnisnya serupa, tapi bonus yang diberikan Easy Taxi berupa sembako di akhir bulan bila mencapai target rupiah tertentu.

Yang saya bingung adalah, kalau Grab Taxi memberikan kemudahan untuk konsumen, dan juga untuk supir taksi, lalu dari mana aplikasi ini mendapatkan revenue? Supir taksi yang menjadi pengguna aplikasi Grab Taxi tidak ada kewajiban menyetor apapun (kecuali kalau beli hape android di atas ya). Mereka malah dapet bonus.

Si pak supir sepertinya juga memikirkan hal yang sama. Saat ia menanyakan ini ke pihak Grab Taxi, jawaban yang ia terima adalah klise. “Bapak nggak usah memikirkan Grab Taxi dapet profit dari mana. Bapak juga nggak pusing bertanya dari mana Facebook dapet uang kan?”

Pengalaman bertemu kedua kalinya dengan supir taksi pengguna Grab Taxi adalah pagi tadi. Saat saat masuk, si pak supir langsung memberikan kartu dengan nomor kode unik Grab Taxi. Si pak supir nanya apakah gw sudah menginstall aplikasi ini belum. Gw jawab belum, tapi bolehlah gw install sambil jalan.

Namun karena ukuran file yang cukup besar (hampir 10 MB), ternyata hape android ini nggak mengizinkan gw untuk mengunduhnya melalui jaringan 3G. Harus di wi-fi. Tanpa gw duga, si pak supir malah menawarkan, “Pak, pake wi-fi saya aja nih untuk download-nya.” Lalu dia menyalakan modem Bolt-nya.

“Eh buset, niat amat sih ni supir taksi,” pikir gw. Lalu gw pun men-download app-nya. Si pak supir lalu terus memandu pengisian, termasuk di mana harus mengisi kode voucher yang tadi ia berikan ke gw saat masuk.

Lalu ia meminta gw untuk mensimulasikan order taksi. Ia pun meminggirkan taksinya dulu supaya gw bisa mendapatkan posisi GPS yang tetap. Setelah 3 kali mencoba, akhirnya yang keluar adalah taksi dengan kode yang gw tumpangi. Setelah saya approve dan booking (ceritanya booking, padahal sih sudah di dalam taksi), baru saya tanya lagi ke pak supir.

“Pak, emang dapet bonus apa sih? Kok kayaknya niat banget minta saya registrasi?”

“Buat penumpang kan bonus Rp.15.000 dari voucher. Nah, buat saya dapet bonus Rp.20.000,” katanya.

Owalah, pantesan aja. Sambil jalan dia juga cerita kalau ada temannya yang bahkan punya tabungan komisi di Grab Taxi sampai 9 juta rupiah. Edun, bisa jadi bonus tambahan ini sih. Pantesan banyak supir taksi yang pengin ikutan.

Gw tanya, selain Express, supir taksi mana lagi yang ikutan program Grab Taxi? Dia jawab, yang paling banyak sih memang Express dan Gamya. Supir Blue Bird juga ada sih, tapi ngumpet-ngumpet. Mereka nggak boleh pakai karena kan Blue Bird sudah punya sistem order digitalnya sendiri.

Si pak supir taksi yang ini juga merasakan kebingungan serupa dengan pak supir taksi yang dulu gw temui. Dari mana Grab Taxi dapat keuntungannya ya kalau setiap saat selalu ngasih bonus ke konsumen dan supir taksi? Ya gw cuma bisa jawab, paling ya selama ini dari investornya dulu. Nggak tau deh tapi bisa sampai kapan ya bertahan. Oh iya, si pak supir juga cerita kalau Easy Taxi ternyata sudah nggak ada lagi. Jadi pilihannya sekarang tinggal Grab Taxi (atau Uber Taxi, tapi ini sih beda kategori ya).

Kalian pernah punya pengalaman dengan Grab Taxi juga?

Tulisan ini juga bisa ditemukan di Google Plus.

Berkunjung ke “DoubleTree Hotel by Hilton” di Cikini

Beberapa hari lalu saya menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah hotel baru di daerah Cikini. Namanya “DoubleTree Hotel by Hilton” – iya namanya memang sepanjang itu, tapi singkatnya saya sebut DoubleTree saja ya. Lokasinya nggak jauh dari stasiun Cikini, antara McDonald’s dan bioskop Metropole. Lokasi bangunannya memang agak ke dalam, tapi tenang saja, gerbangnya tetap kelihatan dari jalan besar kok.

Pertama kali saya masuk, yang saya suka adalah pohon besar yang sepertinya sudah lama ada. Saya sempat tanyakan tentang pohon ini ke pihak hotel. Pohon trembesi ini katanya sudah berusia lebih dari 60 tahun, dan memang sengaja tidak dipotong. Yang ada, jalur sirkulasi menuju hotel dan bangunan yang menyesuaikan dengan lokasi pohon. Yang lucu adalah, DoubleTree ini adalah hotel yang tersebar di banyak negara, namun yang punya pohon asli seperti nama hotelnya hanyalah hotel yang berada di Jakarta ini. Di Tiongkok sih katanya juga ada pohon di depan hotel, namun itu pun pohon buatan. Bukan asli dari alamnya.

DoubleTree Hotel by Hilton di malam hari
DoubleTree Hotel by Hilton di malam hari

Karena memang tujuan saya ke hotel ini hanyalah berkunjung, dan bukan menginap, saya pun sempat diajak berputar-putar keliling hotel. Ketika kalian menjadi tamu hotel, kalian akan mendapatkan cookie khas DoubleTree by Hilton. Saya waktu itu sempat mampir ke beberapa kamarnya, dari yang biasa hingga yang superior. Duh, yang superior suite luas banget ya, lengkap dengan balkon, ruang tamu, dan ruang kerja. Jadi kalau dari luar hotel kita melihat ada fasade yang menonjol, nah di situlah beberapa lokasi kamar eksekutifnya.

Superior Suite
Superior Suite
Superior Suite
Superior Suite
Kolam renang dilihat dari ketinggian hotel
Kolam renang dilihat dari ketinggian hotel

Untuk membangun loyalitas konsumen, DoubleTree menawarkan tamu untuk mendapatkan dan menebus poin untuk menginap melalui program Hilton HHonors. Tamu yang menginap pertama di Indonesia akan mendapatkan 1.000 bonus poin per malam untuk menginap minimal tiga malam. Kamar-kamar untuk Hilton HHonors tersedia di satu lantai tersendiri. Di lantai itu juga ada lounge bersama yang bisa diakses bebas oleh tamu di lantai tersebut.

Menjelang Maghrib, saya bersama beberapa teman lain yang diundang, diajak untuk menikmati sajian berbuka di Open Restaurant, yang berada di lantai terbawah, bersebelahan dengan kolam renang dan ballroom. Open Restaurant ini memiliki 3 show kitchen: masakan Indonesia, Asia, dan Barat. Beberapa sajian spesial andalan yang wajib dicoba adalah Pizza Rendang, Turkish Meze Platter, dan bebek panggang. Oh iya, dessert-nya juga luar biasa.

Salah satu sudut Open Restaurant
Salah satu sudut Open Restaurant
Pesan mie yuk!
Pesan mie yuk!

Momen buka puasa memang menyenangkan. Apalagi kalau sampai mengenyangkan, tentu semakin mengesakan. Jadilah akhirnya saya mencoba hampir semua sajian prasmanan di Open Restaurant. Selain makanan andalan yang sudah saya sebut di atas, saya sempat mencoba  mie kocok (bisa pilih jenis mie-nya), sate sapi (ada juga sate kambing dan sate ayam… bumbunya enak), dan sushi. Masih ada sih banyak menu lainnya, tapi perut ini sudah keburu kenyang, padahal mencobanya pun sedikit-sedikit (tapi ditotal banyak juga).

Kalau ada yang mau coba mampir atau mau lihat-lihat DoubleTree Hotel by Hilton, kalian bisa cek website-nya dulu. Usahakan mampir deh, cobain Open Restaurant-nya. Recommended kok. Sayangnya hotel ini belum punya akun social media yang bisa dicolek, tapi sementara ini mampir lihat website-nya dulu aja ya.

Dessert
Dessert
Turkish Meze Platter
Turkish Meze Platter
Sushi
Sushi
Pizza Rendang
Pizza Rendang
Mie Kocok
Mie Kocok
Ayam Kuah Bugis
Ayam Kuah Bugis

Belajar dari Konsep JKT48

Sudah beberapa kali saya menulis tentang JKT48 di blog ini, baik itu murni sebagai fans, atau karena memang kagum dengan pemasarannya yang unik. Bulan Februari dulu saking penasarannya dengan reaksi para fans, akhirnya saya mencoba membuat survei singkat dengan mereka sebagai respondennya. Detil tentang survei ini bisa dibaca di blog satunya.

Setelah survei itu berakhir, pembelajaran saya terhadap strategi yang mereka lakukan masih berlanjut. Saya sempat berdiskusi juga dengan beberapa teman yang berlatar belakang advertising, yang juga mengikuti perkembangan JKT48. Berikut ini beberapa poin yang saya tangkap dari apa yang telah mereka lakukan, dan hal-hal yang pernah kami diskusikan.

Storytelling

Hal menarik dari AKB48 dan diadaptasi di JKT48 adalah membangun cerita, yang dilengkapi dengan kejutan. Di AKB48 misalnya. Cerita tentang member terpopuler mereka, Maeda Atsuko, terlihat banget dibangun. Mulai dari pengumuman kalau ia akan lulus, yang bikin member lain kaget dan menangis, karena mereka tidak ada yang tahu. Hingga konser terbesar AKB48 di Tokyo Dome dengan satu hari terasa banget dikhususkan untuk Maeda.

Di JKT48 sendiri, meski skalanya tidak semasif AKB48, cerita seperti itu sudah mulai terasa dibangun beberapa bulan belakangan ini. Kejutan diberikan di akhir setiap pertunjukan yang dianggap khusus. Isu dihembus dengan adanya single baru, tapi dibuat tetap misterius single apa yang dimaksud. Fans dibiarkan penasaran supaya pembicaraan di social media terus berlangsung.

Saat konser spesial Heavy Rotation akhirnya disebutkan kalau yang dimaksud adalah single River, misalnya. Atau saat tiba-tiba diumumkan show JKT48 Trainee akan berakhir. Seketika saja booking tiket di show terakhir di hari Minggu kemarin meningkat tajam mencapai 5.000 pemesanan. Padahal sebelumnya, kalau mau nonton JKT48 Trainee bisa dibilang sangat gampang, karena tak banyak yang melakukan booking.

Cerita akan selalu dimunculkan di setiap eventnya, demi memancing rasa penasaran fans untuk melihat show-show dan kejutan berikutnya. Semakin penasaran, semakin ramai dibicarakan di social media.

Everlasting Brand

Ada yang pernah bertanya ke saya, apakah grup JKT48 ini bisa bertahan lama? Apa yang terjadi kalau member yang paling populer keluar, apakah grup ini bubar? Hal yang lumrah memang mendengar kalau ada grup musisi yang cekcok, tak lama kemudian grup itu bubar jalan. Atau saat vokalis sebuah grup hengkang, meski grup itu sudah digantikan dengan vokalis lain, tetap terasa ada rasa yang berbeda. Grup ini memang sangat tergantung dengan individunya. Lalu apakah JKT48 akan demikian juga?

Saya belum bisa menjawabnya ya. Namun kalau saya amati brand AKB48 di Jepang sana tetap bisa hidup sejak dibentuk pertama kali tahun 2005. Bahkan sampai member paling populernya (yang saya duga juga ikut mendukung popularitas AKB48 belakangan ini), Maeda Atsuko lulus (atau keluar), ternyata brand AKB48 tetap hidup. Tidak ada tanda-tanda ditinggalkan oleh fans-nya.

Menjelang Maeda Atsuko lulus, Team 4 AKB48 yang sudah mandiri tiba-tiba dibubarkan dan dilebur dalam 3 team utama. Beberapa member muda tiba-tiba diangkat dan dikenalkan dengan banyak cara. Ada Paruru (Haruka Shimazaki) yang tiba-tiba didaulat jadi center, muncul di banyak video klip, dan bahkan bersama generasi muda lainnya main di film seri Majisuka Gakuen 3. Wajah-wajah mereka ditampilkan sesering mungkin, untuk menggaet fans-fans baru. Akhirnya brand AKB48 pun bisa tetap hidup dengan wajah-wajah muda dimunculkan.

Saya yakin JKT48 akan melakukan hal serupa bila suatu waktu nanti Melody, Nabilah, Kinal, Shania, atau member lainnya harus lulus dan mencari kesempatan lain. Manajemen pasti sudah akan menyiapkan antisipasi member-member generasi berikutnya untuk menggantikannya.

Gimmicks

Saya dulu termasuk yang nggak pernah percaya kalau jualan merchandise resmi itu bisa laku di Indonesia, karena ujung-ujungnya orang akan cari bajakannya. Sampai akhirnya saya mengalami sendiri sistem penjualan yang dilakukan oleh manajemen JKT48.

Melihat sendiri fans meramaikan booth merchandise di teater saja sudah luar biasa. Melihat fans bertukar koleksi merchandise photo pack, dan bahkan menjualnya dengan harga tinggi, demi bisa menonton teater juga sudah hal yang biasa. Hal ajaib seperti merchandise kaos dengan desain oleh member sendiri (yang jujur saja menurut saya desainnya nggak banget ituh) pun laku dibeli oleh fans.

Di tulisan sebelumnya saya cerita kalau saya antri membeli CD single River yang rilis minggu lalu. Antrian yang nggak diduga ternyata berlangsung selama hampir 5 jam. Melelahkan dan menyebalkan pastinya. Namun semua orang yang antri pada saat itu sudah nggak peduli lagi. Semua dilakukan demi gimmick tiket handshake 1 Juni mendatang. Demi handshake pula ada yang membeli 5 CD, 10 CD, bahkan 50 CD.

Tujuan membeli CD bukan lagi untuk menikmati lagu, namun untuk mengumpulkan gimmick. Karena kalau untuk sekedar menikmati lagu, tak lama setelah single rilis, MP3-nya sudah langsung beredar di jagad internet. Fans nggak lagi membeli CD karena suka dengan lagunya, namun karena ada hal menarik lainnya yang jadi perhatian fans.

Organic Fans

Seorang teman ada yang pernah bertanya juga, itu fans-nya beneran bukan sih? Fans-nya dibentuk oleh Dentsu sebagai agency-nya JKT48 bukan? Saya jelaskan ke teman saya itu, kalau setahu yang saya kenal, fans JKT48 benar-benar asli dan terbentuk secara organik. Banyak dari mereka yang benar-benar mendukung member dengan beragam cara. Baik itu sekedar datang nonton pertunjukan live-nya, nonton di teater, beli merchandise, atau bahkan memberikan gift dan fan letter sebagai bukti dukungannya.

Awalnya saya menduga kalau mayoritas fans JKT48 adalah penyuka AKB48 juga sebelumnya. Ternyata dari survei yang saya sebar waktu itu, malah kebanyakan dari mereka nggak terlalu tahu apa itu AKB48. Kalau pun tahu, nggak pernah dengar lagu mereka juga.

Keberadaan teater tetap di FX-lah yang menjadi penarik utamanya. Fans-fans baru bermunculan karena mendengar cerita menarik dari teman-temannya yang sudah pernah berkunjung ke teaternya. Teater menjadi sanctuary bagi mereka. Kafe dan food court di FX menjadi tempat berkumpul menjelang dan setelah teater. Yang dibicarakan? Ya tentang JKT48.

Saya awalnya mengira perkembangan fans yang organik ini hanya terjadi di Jabodetabek, karena kedekatan aksesnya ke teater. Namun hal luar biasa terjadi saat JKT48 beberapa bulan lalu manggung di Jogja. Saya tidak di sana, namun dari video rekaman fans yang beredar di YouTube, antusias fans JKT48 di sana luar biasa. Ratusan lightstick menyala memenuhi stadion yang dipakai konser. Mereka pun kompak meneriakkan chant mix saat lagu dibawakan. Luar biasa.

Saya yakin di luar hasil survei dan pengamatan yang saya tulis di postingan ini, akan banyak hal luar biasa lagi yang akan mereka lakukan di masa datang. Sesuatu yang mengejutkan, yang membuat para fans hanya bisa berdecak kagum. Saya akan masih terus mengikuti perkembangan JKT48 dan strateginya. Bila ada temuan baru, pastinya akan saya tulis kembali di blog ini.

Baca juga tulisan Widi Asmoro yang membahas pemasaran JKT48 di blognya.