Memotret Panggung dengan Fujifilm X100S

Coba baca artikel menarik ini deh, tentang kecintaan seseorang akan kamera DSLR-nya lalu bimbang menggunakan kamera mirrorless, tapi akhirnya lebih sering pakai DSLR-nya kembali. Apa yang saya rasakan mungkin nggak jauh berbeda dengan itu.

Sudah lama banget saya pakai Canon 5D Mark II. Kamera ini dengan beberapa lensa yang saya punya sudah sering menemani saya memotret berbagai situasi. Kalau untuk jalan-jalan, memang saya bisa pilih antara 5D saya atau kamera mirrorless Fujifilm X100S saya. Demi kepraktisan biasanya saya cenderung membawa yang mirrorless. Namun kalau untuk kebutuhan motret stage, sudah pasti saya memilih 5D, karena saya butuh lensa zoom untuk itu. Kamera X100S hanya memiliki lensa fix 23 mm yang tidak bisa diganti-ganti.

Lalu apakah X100S tidak bisa dipakai untuk memotret stage? Itu yang saya tantang ke diri saya sendiri kemarin. Kebetulan hari Selasa, 7 Juli 2015 kemarin ada event buka puasa bersama aplikasi Yogrt. Di event ini ada acara ngobrol-ngobrol bareng Raditya Dika, dan ditutup oleh performance grup GAC (Gamal Audrey Cantika). Saya coba memotret aksi GAC dengan X100S.

Kesimpulan yang bisa saya ambil sementara ini:

  • Lensa X100S kan fix, hanya 23 mm, jadi cuma bisa untuk pengambilan jarak dekat. Untuk kondisi stage ala di kafe atau bar sih masih bisa motret pakai ini. Namun untuk memotret stage besar yang biasanya dibatasi oleh media pit, yang akan didapat hanya gambar wide, tidak bisa fokus ke salah satu personil.
  • Jumlah penonton juga berpengaruh. Karena event Yogrt ini bersifat undangan terbatas, maka yang menonton juga tidak banyak. Saya bisa bebas bergerak ke sana ke mari, bahkan bisa mendekati GAC. Jadi tidak masalah memotret mereka dengan lensa fix 23 mm.
  • X100S memiliki bukaan hingga f 2, tapi akhirnya jarang saya pakai. Saya tetap pakai f 4, karena saya khawatir tidak bisa mendapatkan fokus. Apalagi kondisi pencahayaan gelap, bisa menyulitkan auto focus.
  • Saat memotret saya mencoba tanpa built-in flash dan dengan built-in flash X100S. Ternyata hasilnya lebih bagus dengan built-in flash. Terlalu gelap bila tanpa flash. Sebenarnya memang sangat tidak dianjurkan memotret stage dengan flash, karena bisa mengganggu performance musisi. Namun karena ini event undangan terbatas, saya membenarkan diri saya sendiri untuk memotret menggunakan flash. Hahaha sebaiknya jangan ditiru sih ya. Kalau ini di event besar, sudah pasti saya akan urung menyalakan flash sih.
  • Salah satu kesalahan saya kemarin adalah menggunakan ISO 6400. Tadinya saya pakai ISO 6400 demi mengejar tanpa flash. Lalu setelah akhirnya saya putuskan pakai flash, saya lupa menurunkannya. Kalau sudah pakai flash, sebetulnya pakai ISO 400 atau 800 mungkin juga sudah cukup. Konsekuensi penggunaan ISO tinggi adalah noise foto akan lebih terlihat.

Lalu bagaimana hasil-hasil foto GAC di Yogrt? Berikut ini beberapa foto pilihan. Untuk lebih lengkapnya, silakan cek galeri Flickr saya di sini.

DSCF3454

DSCF3466

DSCF3445

DSCF3449

DSCF3489

Premiere Pendekar Tongkat Emas

Pagi tadi gw dan beberapa teman berkesempatan untuk datang ke pemutaran premiere Pendekar Tongkat Emas. Sebelumnya gw sudah pernah lihat preview trailernya saat event Hellofest, dan langsung penasaran tentang filmnya.

Lalu kayak gimana filmnya? Hahaha gak mungkin gw spoil ceritanya di sini. Bisa dimusuhin banyak orang nanti gw. Namun gw bisa share beberapa hal berikut, supaya elo tertarik untuk nonton filmnya:

1. Scenery film ini keren banget. Gak nyangka ada scenery seperti ini di bumi Indonesia. Miles Production memang dari dulu paling jago nemuin lokasi yang unik dan eksotik di negeri ini. Lokasi shooting di tanah Sumba. Kalau dilihat dari behind the scene-nya sih, diambil di lokasi yang memang belum banyak terjamah manusia. Konsekuensinya, memang biaya produksinya jadi mahal (katanya).

2. Setting. Kalo nggak salah, semua setting film ini dibangun sendiri, dan bukan mengandalkan bangunan yang sudah ada. Gw kebayang sih, kalau setelah film ini rilis, setting film ini malah bisa dijadikan tempat wisata, dan bisa menarik pendapatan wisata bagi masyarakat Sumba.

3. Action silat. Film ini sekitar 70-80% isinya adegan laga. Namun jangan bandingkan dengan Raid ya. Ini laga genre yang beda lagi. Kualitas berantemnya sangat keren. Hahaha dan gak perlu tuh ada efek bedak putih dan efek sinar saat berantem (kayak di sinetron).

4. Film ini murni fiksi, bersetting di tanah antah berantah. Gw gak perlu tau ini ceritanya di Indonesia atau bukan, di masa lalu atau bukan. Pokoknya film ini punya universe-nya sendiri. Meskipun demikian, corak budaya lokal kita tetap terasa di film ini. Nanti perhatikan deh betapa banyaknya elemen tekstur Sumba di film ini.

5. Sinematografinya bikin takjub kepala. Hampir semua cut-nya, kalau kita pencet tombol pause, sudah jadi banget tuh jadi suatu jepretan karya fotografi yang keren. Gw menemukan beberapa cut yang agak aneh sih transisi tone warnanya, tapi itu sangat minor dibandingkan overall seluruh filmnya.

6. Tara Basro.. Iya Tara Basro!

Hahahaha, mungkin itu 5+1 hal yang bikin gw tertarik saat menonton film ini.

Foto di bawah ini diambil usai pemutaran premiere filmnya.

Brengsek nih Nicsap.. sampai nanya gini ke gw coba, “Wah.. fans-nya Tara Basro ya? Yaa, Tara-nya nggak dateng hari ini..”
Gw cuma terdiam -__-

Tulisan ini juga bisa ditemukan di Google Plus.

Foto pinjam dari Rahne Putri.

pendekar tongkat emas 1

Preview Pendekar Tongkat Emas

Hari Minggu kemarin, saya mampir ke event Hellofest di Tennis Indoor Senayan. Sore hari memang ada presentasi dari Mira Lesmana dan Riri Riza tentang film terbaru mereka, Pendekar Tongkat Emas. Saat itu diputar juga teaser, trailer 2 menit, preview potongan film 2 menit, dan 3 behind the scene video-nya.

Setting-nya keren banget. Siapa yang menyangka tanah Sumba seindah itu. Proses shooting katanya mencapai 3 bulan, dan ongkos produksinya katanya mencapai 25 milyar. Weh, ini sih film lokal termahal hingga saat ini.

Mira juga bercerita kalau untuk memperkaya film ini, juga akan dirilis mobile game, yang diproduksi oleh Altermyth. Komiknya pun juga sudah ada, diterbitkan oleh MnC. Di Hellofest kemarin juga dijual buku behind the scene-nya secara terbatas. Hehehe, tapi saya nggak ikut beli sih.

Di event Hellofest kemarin juga muncul Reza Rahadian, Tara Basro (ya ampun, cakep bangeeet), Nicholas Saputra, dan Eva Celia, lengkap dengan kostum yang mereka kenakan di film. Mereka bercerita tentang pengalaman mereka selama proses produksi. Reza dan Tara bahkan berbagi cerita kalau sudah tak terhitung jumlahnya mereka berdua jatuh dari kuda selama proses produksi.

Filmnya kayak gimana? Haha saya sih pengin banget nonton. Lihat trailer-nya bikin ngiler soalnya. * menunggu sabar *

Galeri fotonya bisa dicek di album Flickr ini.

Postingan asli bisa dilihat di Google Plus.

IMG_8957

IMG_8956

IMG_8942

IMG_8944

Java Jazz Festival 2011

48 java jazz festival 2011 1

Foto-foto berikut ini adalah sebagian cuplikan foto yang saya ambil di hari kedua dan ketiga Java Jazz Festival 2011. Yang pertama (di atas) adalah Robert Glasper Experiment (rambutnya lucu ya?). Yang berikutnya saya asli tidak tahu, tapi ia jago banget main saxophone. Lalu di bawahnya adalah Ruben Hein, yang piawai dalam vokal dan piano. Ia berasal dari Norwegia. Musiknya mengingatkan saya akan John Meyer. Yang terakhir adalah salah satu personil Kilimanjaro, grup jazz senior dari Amerika Serikat.

48 java jazz festival 2011 4
48 java jazz festival 2011 3
48 java jazz festival 2011 2

Andien

47 andien

Di konser Java Jazz Festival 2011 hari kedua, saya sempat menyaksikan konser Andien. Sesuatu yang saya lewatkan saat menyaksikannya tahun lalu (karena telat dan ruangan sudah terlampau penuh). Di tahun ini, saya masih bisa berada di paling depan, ikut memfoto bersama barisan fotografer lainnya. Meskipun demikian, secepat-cepatnya kita sampai di lokasi, tetap saja sukar menentukan titik mana yang paling pas untuk foto, karena berebut dulu-duluan dengan barisan fotografer yang berbarengan ada di sana. Sialnya, dari titik saya berdiri, pemandangan Andien terhalangi oleh meja dengan botol air untuk minum si Andien. Itulah salah satu contoh hambatan tak terduga saat kita berada di lapangan. f 4.2, 1/50, ISO 1000.