Tentang 500px

IMG_0392

Blog ini sudah semakin jarang diupdate. Sebagian karena memang saya malas, sebagian alasan lainnya karena saya kini lebih fokus memanfaatkan situs 500px.com untuk memajang galeri foto terakhir saya. Kebetulan pula saat  itu ada diskon 50% untuk akun Awesome (yang paling mahal), sehingga akhirnya saya putuskan untuk berlangganan dan memanfaatkannya semaksimal mungkin.

500px.com bisa dibilang situs social network khusus untuk para fotografer semi pro dan pro, setidaknya untuk mereka yang tidak memotret menggunakan ponsel (meski tidak ada larangannya sih). Setiap foto yang diunggah bisa langsung otomatis diketahui metadata foto tersebut, seperti speed, diafragma, ISO, bukaan lensa, dll. Kita bisa vote, favoritkan, dan kirim komentar setiap foto. Semakin banyak foto kita mendapat likes (votes), semakin besar nilai Affection kita. Melalui 500px.com juga kita bisa mengkomersialkan karya kita, dari sekedar untuk diunduh ukuran wallpaper hingga cetak di kanvas.

Selain sebagai galeri foto, 500px.com juga menyediakan fitur Stories, yakni tempat kita menyajikan serangkaian foto dalam cerita. Stories tak beda dengan photo blog, dengan desain dan penempatan foto yang sudah diatur. Akhirnya saya merasa lebih nyaman menyampaikan photo blog di sana, daripada di blog ini.

Di 500px.com saya bisa ditemukan di sini:

IMG_0651

Kehidupan Kota Chengdu

Chengdu (dibaca Chengtu) adalah salah satu kota terbesar di China yang sudah pernah saya datangi setelah tahun lalu mampir ke Shenzhen. Chengdu memiliki bandar udara internasional yang menjadi gerbang turis domestik dan internasional ke daerah China utara.

Secara sepintas sih pengaturan kota Chengdu tak berbeda dengan Shenzhen. Pengalaman ruang saat saya berada di jalan tak berbeda antara Chengdu dan Shenzhen. Berlawanan dengan Indonesia, di China menyetir di sisi kanan jalan. Jalan rayanya lebar-lebar, bisa sampai tiga lajur. Jalur paling kanan selalu dipakai oleh bus umum. Masih ada pula jalur lambat untuk sepeda dan motor. Lalu masih ada lagi trotoar yang lebar dan nyaman. Kalau sepintas sih, ruang yang tercipta oleh jalan ini, di antara bangunan yang berseberangan, bisa mencapai 25-40 meter.

Kualitas bus umum yang saya lihat di Chengdu tak beda dengan Senzhen. Sama bagusnya. Nomor bus ditampilkan dalam LED, terlihat jelas di depan dan belakang bus. Jumlahnya lumayan banyak, karena saya sangat jarang melihat bus terlihat penuh. Bisa juga karena ada MRT yang menghubungkan setiap daerah di kota, sehingga orang tetap nyaman saat menggunakan transportasi umum bus atau MRT.

Kalau punya kelebihan uang, bisa pakai taksi yang juga sangat banyak. Semua taksi di Chengdu berwarna hijau. Ada argo yang dimulai dari ¥ 8 dan ada juga yang ¥ 9 (¥ 1 kurang lebih sekitar Rp.1.550,00). Kelipatan naiknya per ¥ 1. Memang lebih mahal daripada Jakarta. Wajar sih, karena harga bensin di sana pun lebih mahal daripada Jakarta. Yang termurah sekitar ¥ 9 per liter. Kalau melihat harganya, sepertinya bensin tidak mendapat subsidi dari pemerintah.

Mobil sebagai kendaraan pribadi terlihat banyak pula di Chengdu. Saya sempat merasakan macet saat berangkat dari pusat kota menuju bandara. Namun tentu skala macetnya di kota ini nggak bikin saya stres melihatnya, berbeda kalau saya terjebak di kemacetan Jakarta.

Alternatif kendaaan lain yang banyak digunakan adalah sepeda dan motor. Motor yang digunakan di pusat kota di China berbeda dengan yang biasa saya lihat di Jakarta. Bentuknya mungkin nggak beda dengan skuter matik yang sering ditemui di Jakarta. Yang berbeda adalah mesinnya. Motor-motor ini menggunakan batere, bukan bensin, yang harus diisi ulang setiap malam. Karena batere, maka motor-motor ini tidak bisa dipakai untuk jarak yang jauh. Penggunaan motor batere ini juga bisa ikut mengurangi polusi di China.

Sayangnya kelakuan pengemudinya nggak beda jauh dengan di Jakarta. Beberapa kali saya lihat motor yang naik ke trotoar, lalu ke jembatan penyeberangan, atau bergerak berlawanan arah. Yang saya bingung, sepertinya motor ini lebih diperlakukan sebagai sepeda daripada kendaraan bermotor. Jadi saat mereka naik trotoar, atau ikut menyeberang di zebra cross, atau nggak pakai helm, seperti sudah menjadi hal yang lumrah.

Saya sempat merasakan jalan-jalan di trotoar tengah kota. Yang bikin suka kaget di sini adalah suka tiba-tibanya motor muncul melewati saya di trotoar. Karena menggunakan batere, motor-motor ini tidak terdengar bunyi mesinnya. Mendadak lewat menyelonong saja.

Menyeberang jalan di zebra cross yang sudah memberi kita lampu hijau, tidak berarti kita aman saat menyeberang. Saya tetap harus melihat ke kiri dan ke kanan, karena suka tiba-tiba muncul motor yang berbelok dari arah tujuan lain, melewati zebra cross. Kalau nggak terbiasa mungkin akan cepat stress. Namun tetap sih nggak akan bisa membuat saya stress seperti yang saya alami setiap hari di Jakarta.

Kalau untuk urusan trotoar sih, Chengdu nggak kalah dengan kota lainnya. Lebar, nyaman, enak dipakai berjalan sambil membawa benda beroda seperti koper atau troli. Taman juga mudah ditemukan, dengan banyak tempat duduk, tempat bermain anak, dan tempat sosialisasi warga. Taman di sudut blok yang saya lewati bahkan menyediakan dua meja tenis, dengan warga yang asyik bergantian bermain.

Trotoar ini sebenarnya tak hanya ditemukan di kota besar. Kota-kota kecil yang sempat saya lewati di China utara juga punya trotoar yang nyaman. Taman kecil dengan tempat duduk juga mudah ditemukan di kota kecil. Warga memanfaatkan taman dan trotoar sebagai tempat berinteraksi. Bahkan saya melihat beberapa meja makan sengaja ada yang ditaruh di trotoar, untuk mereka makan bersama-sama.

Chengdu memang kota modern yang didesain benar untuk kebutuhan warganya. Sungguh iri rasanya punya kota dengan desain seperti ini. Jakarta memang sudah terlalu parah dan salah sejak awal. Kadang saya suka berpikir, mending Jakarta dihancurkan, dan buat kota baru di tempat lain saja dengan desain perencanaan yang jauh lebih benar. Siapa tahu malah dengan cara itu, kehidupan warganya bisa jadi jauh lebih manusiawi. Siapa tahu loh…

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

Yang Menakjubkan dari China

Seperti di tulisan sebelumnya, khusus untuk urusan toilet, negeri ini memang terkenal akan kejorokannya. Belum lagi perilaku kebanyakan dari warga China yang suka meludah sembarangan. Terlepas dari dua hal itu, apa yang saya lihat dan alami selama perjalanan saya keliling propinsi Sichuan, lebih banyak malah yang bikin saya berdecak kagum.

 

Budaya

Upaya yang dilakukan China untuk tetap mempertahankan dan mencintai budayanya sendiri sungguh luar biasa. Dahulu waktu saya ke Shenzhen, saya sempat menonton teater pertunjukan modern, namun tetap mempertahankan ciri khas budaya asalnya melalui kostum tradisional yang dikenakan para penarinya.

Terakhir kemarin waktu saya ke Jiuzhaigou, saya mendatangi teater yang memang dibangun khusus untuk performa seni. Meski tak secanggih di Shenzhen, namun desain stage teater di Jiuzhaigou ini tetap keren. Ceritanya diambil dari cerita rakyat yang terkenal di China utara, namun disajikan dalam bentuk tarian modern. Sebagian bahasa dalam performa tarian menggunakan bahasa daerah setempat, meski dialog yang dipakai tetap menggunakan bahasa Mandarin. Yang lebih keren, semua pemainnya adalah anak muda.

Bangsa China termasuk yang sangat bangga dengan kekuatan bangsanya sendiri. Namun kebanggaan ini kadang memang keterlaluan. Dalam hal bahasa, meski mereka diajarkan bahasa Inggris di sekolah, dan hampir semua petunjuk fasilitas umum menggunakan bahasa Inggris, tidak berarti membuat mereka bisa atau mau belajar bahasa Inggris lebih dalam. Atau apakah bisa jadi karena bahasa Mandarin yang mereka gunakan sehari-hari ini bisa membuat mereka bertahan kala berada di negara lain? Di mana sih di belahan bumi ini yang tidak ada warga keturunan China yang tak bisa bahasa Mandarin?

 

Konstruksi

Pernah lihat video rekor konstruksi bangunan 6 lantai di China yang diselesaikan hanya dalam 24 jam? Waktu melihat video itu, saya menganggapnya sebagai hal yang mustahil. Namun setelah saya melihat langsung konstruksi yang mereka lakukan di daerah rural (bukan kota ya, karena di kota adalah hal biasa) di Sichuan, saya menjadi yakin kalau para engineer China ini memang sangat luar biasa.

Propinsi Sichuan terdiri dari banyak sekali gunung dan sungai. Zaman dahulu adalah hal yang mustahil untuk bisa menghubungkan warga yang tersebar di setiap lereng gunung. Sekarang, hampir semua gunung ini bisa dilewati dengan kendaraan. Jalan yang berliku-liku mengelilingi setiap lerengnya. Saya sendiri bisa sampai ke puncak gunung Yakexia setinggi 4.743 meter dengan menggunakan bus.

Sekarang semakin banyak kota dengan skala yang cukup besar berada di antara gunung. Penduduknya pun padat. Untuk pergi dari kota ke kota tidak perlu naik dan turun gunung lagi, karena kini banyak gunung yang sudah bisa ditembus dengan terowongan. Panjang terowongan bervariasi. Yang paling panjang yang saya rasakan kemarin adalah menembus sejauh 2 km di bawah gunung. Yang menakjubkan lagi, di dalam terowongan ini bisa ditemukan banyak persimpangan, yang mungkin menembus ke arah kota lain. Banyak jalan di dalam terowongan yang kini masih dalam proses pengerjaan, namun saya yakin tahun depan semua konstruksi ini pasti sudah beres.

Selain negeri terowongan, China juga negeri jembatan. Sungai yang lebar di antara lereng gunung di Sichuan memang bisa menjadi pemisah. Jembatan dengan skala raksasa banyak dibangun untuk menghubungkannya. Ketinggian jembatan bisa mencapai 200-300 meter di atas sungai yang deras. Banyak jembatan ini yang didesain unik, sehingga bisa dibedakan dengan jembatan lainnya.

Dalam perjalanan pulang kembali ke kota Chengdu, bus saya melewati tepian kota Menghuo. Ingat kota Gotham di trilogi film Batman terakhir? Kota Gotham versi itu adalah pulau yang terhubung oleh banyak jembatan. Nah, kota Menghuo mirip seperti itu. Separuh kota ini dikelilingi oleh sungai lebar yang deras. Banyak jembatan dibuat untuk menghubungkan kota Menghuo dengan sisi kehidupan di seberang jembatan.

Dengan banyaknya sungai di antara lereng gunung, tentunya sayang kalau tidak dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air. Sungai yang berada di antara ceruk lereng sudah banyak yang mulai dibendung. Bendungan ini sekaligus menjadi tenaga pembangkit. Sisi atas bendungan diubah menjadi danau luas dengan pemukiman warga di sekelilingnya.

Dalam perjalanan saya menyusuri Sichuan, saya melihat mulai banyak jalan dibuat jauh tinggi di atas jalan yang sedang saya lalui. Jembatan baru pun dibuat menghubungkan jalan di atas saya dengan jalan di lereng seberangnya. Tak jauh dari lokasi ini sudah mulai banyak bangunan hunian baru namun masih kosong.

Ternyata, daerah yang saya lewati ini nanti akan direndam menjadi waduk baru. Jalan dipindahkan ke atas. Penduduk yang rumahnya nanti akan terbenam dipindahkan ke daerah hunian baru. Sepertinya bukan kali ini saja, satu desa dipindahkan oleh pemerintah China ke lokasi baru. Biasanya di lokasi baru ini, mereka malah sudah disiapkan rumah dengan seluruh perabotnya. Mereka tinggal bawa badan dan pindah saja.

 

Pengelolaan Tempat Wisata

Empat tempat wisata utama di Sichuan sudah saya datangi: Jiuzhaigou, HuangLong, Siguniang, dan Hailuogou. Semua tempat itu, meski masing-masng berskala berbeda, punya karakter pengelolaan yang sama.

a. Mobil pribadi dan bus tidak bisa masuk ke lokasi.

Setelah melalui loket tiket, pengunjung harus menggunakan bus internal yang disediakan oleh tempat wisata. Biaya bus ini tentu dikenakan sebagai biaya tambahan bagi pengunjung. Busnya sendiri nyaman dan jumlahnya banyak, sehingga meski dalam kondisi tempat wisata penuh, jumlah bus tidak pernah kekurangan. Dengan filter seperti ini, kondisi lingkungan tempat wisata akan lebih terjaga, karena semua dalam batasan kendali pengelola.

b. Tiket ada pedagang liar di dalam lokasi.

Pedagang umum hanya bisa mendatangi pengunjung di sekitar lokasi pembelian tiket. Mereka tidak bisa mengakses masuk lebih dari itu. Semua pedagang yang berada di dalam lokasi wisata sudah ditempatkan di lokasi-lokasi yang ditentukan. Khusus Jiuzhaigou dan HuangLong, malah sama sekali tidak ditemukan pedagang liar di luar lokasi wisata. Sepanjang perjalanan dari penjualan tiket masuk hingga ke tempat parkir terlihat bersih dari gangguan pedagang liar.

c. Ada jalan setapak yang didesain khusus.

Di China, semua jalan setapak di dalam tempat wisata dibuat standar sama. Hampir semuanya menggunakan papan kayu yang dibangun di atas plat baja. Jalan setapak papan ini dibuat lebih tinggi daripada tanah dan sungai. Ada bahkan jalan setapak yang lewat menyeberangi sungai, sehingga pengunjung bisa merasakan melewati air di sisi kiri dan kanannya. Ada beberapa jalan setapak yang dibuat miring, meski kebanyakan menggunakan anak tangga. Ukuran anak tangga pun standar sama semua, sehingga pengunjung nyaman berjalan di atasnya. Melalui jalan setapak ini, pengunjung juga dijaga supaya tidak bersentuhan langsung dengan air, apalagi sampai memasukkan bagian tubuh ke dalam air. Mereka menjaga lingkungan tempat wisata senatural mungkin.

d. Jam buka tetap.

Setiap tempat wisata ini buka jam 8 pagi dan tutup jam 5 sore. Meski resmi tutup jam 5, mereka masih menunggu pengunjung yang belum keluar. Biasanya akan selalu ada tim yang menyusuri dan mengingatkan waktu kunjungan. Tidak ada yang diperbolehkan untuk menginap di dalam tempat wisata.

e. Kebersihan (hampir) selalu terjaga.

Di setiap tempat wisata ini pengunjung dilarang merokok (padahal ini tempat terbuka, dan udara selalu dingin). Berdasarkan pengamatan saya, tidak ada yang berani melanggar ketentuan ini. Entah karena mereka takut, atau karena mereka sadar akan bahaya merokok terhadap resiko kebakaran hutan di tempat wisata.

Tempat sampah banyak tersedia dimana-mana. Akan selalu ada petugas yang menyusuri jalan setapak, memungut sampah yang tercecer jatuh. Mereka bahkan sudah siap dengan jaring kalau mereka menemukan sampah yang terjatuh ke sungai atau danau.

Yang paling penting di tempat wisata ini adalah keberadaan toilet dengan jarak memadai, mengingat udara China yang dingin akan membuat pengunjung mudah kebelet pipis. Untuk Jiuzahigou, di setiap titik wisata disediakan toilet. Untuk HuangLong, yang merupakan satu jalur setapak utuh sepanjang lebih dari 7 km, setiap sekitar 500 m akan ada toilet. Yang paling sengsara adalah Siguniang, yang minim toilet. Sudah minim, buruk sekali desain toiletnya.

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

Kisah Toilet di China

Yang paling melegenda memang masalah kebersihan toilet. Saya sudah pernah dua kali ke China. Pertama kali dulu ke Shenzhen, salah satu kota terbesar di China. Makan di restoran yang bagus bukan berarti toiletnya bersih. Namun hal itu masih jauh lebih mendingan daripada yang saya alami saat kunjungan saya ke China yang kedua, mengelilingi propinsi Sichuan.

Bersama rombongan fotografer, saya mengunjungi banyak tempat wisata menarik. Dalam perjalanan, di tengah kebelet ingin pipisnya karena udara yang dingin, kami pun mampir ke beragam jenis toilet, baik itu di tempat wisata, tempat makan, perhentian pom bensin, hingga toilet umum tepi jalan.

Hasilnya? Memang nggak bisa disamaratakan sih. Saya bisa menemukan toilet yang sangat bersih dengan air yang mengalir. Namun saya bisa hampir muntah melihat bekas onggokan pup tertumpuk di atas toilet, entah dari kapan, tanpa ada air untuk menyiram.

Umumnya, tempat makan memiliki toilet yang cukup bersih. Tempat makan di tepi jalan yang di depannya banyak pedagang berjualan, umumnya memiliki toilet umum. Di tempat ini, biasanya banyak bus wisata parkir. Cek saja apakah ada bus wisata yang sedang dicuci di situ. Kalau ada, berarti tempat makan itu punya air berlimpah. Biasanya untuk ke toilet akan dikutip ¥ 1 (1 Yuan adalah sekitar Rp.1.500,00). Tiga kali saya mampir ke toilet seperti ini, dan umumnya bersih.

Kalau kita di Indonesia, kita pasti mencari pom bensin, karena umumnya toilet di dalamnya bersih. Jangan berpikir seperti ini di China. Bisa jadi toilet di pom bensin adalah toilet terjorok yang pernah ada. Sichuan di bulan November sangatlah dingin. Mungkin karena dingin, banyak penduduk yang malas bersentuhan dengan air. Akibatnya, jarang ada yang menyiram sisa pipis dan pupnya. Herannya, setiap pom bensin ada yang jaga loh. Entah kenapa tidak ada sistem yang mengatur kebersihannya.

Cukup sering saya menemukan toilet kotor seperti ini. Untuk pria masih mending sih, bisa menggunakan urinoir untuk pipis. Saya nggak kebayang apa yang harus dilakukan perempuan bila ada yang kebelet pipis di toilet seperti ini.

Tidak semua tempat wisata memiliki toilet bersih. Jiuzhaigou memiliki toilet yang tersebar di setiap titik wisatanya yang banyak. Umumnya toilet di sini cukup bersih. Mereka membuat toilet yang ramah lingkungan. Air wastafel pun masih menyala.

Di HuangLong tidak sebaik Jiuzhagou. Meski memiliki sistem toilet serupa, namun banyak toilet yang tak memiliki air. Saya sempat berada di toilet menjelang pukul 17:00 saat tempat wisata ini mulai ditutup. Tiba-tiba saja semua lampu mati, exhaust-pun mati. Tentunya, setelah saya keluar, masih akan ada orang yang datang menggunakan toilet. Nggak kebayang, baunya toilet esok pagi saat tempat wisata ini kembali dibuka.

Di Siguniang saya merasakan pengalaman luar biasa. Toilet di gerbang masuk sangat-sangatlah bersih. Mungkin karena memang jarang dipakai. Namun saat saya berjalan di dalam hutannya, saya hanya menemukan satu buah toilet. Toilet di sini lebih mirip kandang. Kenyataannya, memang di bawah toilet ini adalah kandang sapi. Baunya luar biasa. Di toilet ini pun tidak ada kakus atau urinoir. Hanya ada lubang terbuka dengan, sehingga kotoran akan jatuh ke kandang sapi di bawahnya. Lain kali, kalau ke sini lagi dan kebelet, lebih baik pipis langsung di hutannya saja deh.

Tempat wisata Hailuogou nggak kalah menariknya. Toilet umum yang berada tak jauh dari stasiun keberangkatan kereta gantung luar biasa jorok. Terdapat satu deretan toilet, ada yang hanya berisi urinoir khusus laki-laki, dan ada yang berisi kakus yang bisa digunakan untuk laki-laki dan perempuan. Saat saya melewati yang berisi kakus, terlihat onggokan pup memenuhi toilet. Untungnya di toilet yang berisi urinoir, meski tidak terlalu bersih, masih bisa dipakai. Yang saya heran, saya melihat perempuan lokal yang masuk ke toilet yang penuh pup di kakusnya itu. Saya nggak kebayang bagaimana ya caranya dia bisa bertahan menggunakannya?

Oh iya, di beberapa toilet umum, terutama di pom bensin, saya menemukan sesuatu yang lucu. Di toilet pria, semua ruang kecil yang berisi kakus tidak ada yang memiliki pintu. Jadi nih, kalau misalnya saya pipis di urinoir di hadapannya, saat saya membalikkan kepala, saya bisa melihat orang-orang yang lagi berpose pup. Huuh, untung saja pemandangan itu tidak terjadi. Lalu saya melirik mampir ke toilet perempuan. Ternyata juga serupa. Setiap kakusnya tidak ada yang memiliki pintu. Jadi kalau ada perempuan yang mau pipis, bisa dilihat oleh perempuan-perempuan lainnya yang masuk ke toilet. Asyik gak?

Berhadapan dengan kondisi di atas, lalu antisipasi apa yang sebaiknya dilakukan?

  1. Siapkan tissue basah sendiri. Kalau nggak ada air, setidaknya bisa menggunakan tissue yang kita bawa sendiri.
  2. Selalu pup di pagi hari. Bahaya kalau sampai kebelet di tengah jalan.
  3. Kalau udara dingin seperti sekarang, nggak mungkin dong menahan pipis seharian. Jadi tetaplah gunakan toilet, sambil berdoa semoga tidak ada pemandangan indah menumpuk di kakusnya.

Setelah membaca kisah toilet ini, apakah kalian masih tertarik jalan-jalan ke China?

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

Berkomunikasi di Malaysia dan China

Setiap kali bepergian ke luar negeri, hal yang selalu menjadi pemikiran adalah masalah komunikasi, baik itu sekedar telepon maupun internet. Karena saya kemarin sempat pergi ke dua negara, Malaysia dan China, mungkin saya berbagi saja ya apa yang saya lakukan di sana. Di China saya bersama rekan-rekan grup fotografi yang memang berniat hunting bersama keliling propinsi Sichuan, China.

Saya punya dua nomor ponsel, Matrix dan XL. Nomor Matrix saya langsung kandas karena memang tidak bisa dipakai untuk roaming di luar negeri. Dahulu saya sempat pernah minta dibukakan akses roaming, namun saya diminta untuk memberikan deposit terlebih dahulu dalam jumlah yang tidak sedikit. Padahal itu nomor pasca bayar, dan saya sudah menjadi pelanggannya entah berapa tahun.

Yang jadi andalan memang tinggal nomor XL. Bapak saya yang ikut juga bareng bepergian pun menggunakan nomor XL. Bedanya, saya pakai iPhone dengan nomor pra bayar, dan bapak saya pakai ponsel Nokia lowend dengan nomor pasca bayar. Nah, dua ponsel ini ternyata punya efek yang berbeda di China (detil akan saya jelaskan di bawah).

Di Kuala Lumpur, nomor XL akan otomatis roaming menggunakan operator Celcom Axiata. Karena Celcom masih satu grup dengan XL, tidak ada hambatan berarti. Saya memanfaatkan fasilitas XL Aone Tariff, bisa menelepon dan ditelepon dengan biaya roaming Rp.3.500,00 per menit. Untuk SMS sekali kirim juga Rp.3.500,00. Jadi tentu lebih enak saya langsung menelepon. Urusan bisa selesai kurang dari satu menit, dan jauh lebih murah.

Yang saya nggak paham, meski masih dalam satu grup Axiata, kenapa 3G saya tidak otomatis aktif ya di Kuala Lumpur? Jadi saya belum bisa mengetes seberapa cepat kualitas kecepatan internet mobile di sana. Padahal kalau dilihat di website-nya, fasilitas 3G roaming tersedia di Malaysia dengan biaya Rp.350,00 per 10KB sampai di atas Rp.25.200,00 lalu gratis seharian.

Untungnya, wifi gratis bisa ditemukan mudah di hampir setiap tempat di Kuala Lumpur. Di taman terbuka nan luas depan Petronas Twin Towers ada wifi gratis. Sepanjang di dalam kereta KLIAExpress yang mengantar dari LCCT airport ke stasiun KL Central pun ada wifi gratis.

Yang perlu usaha lebih adalah setelah saya mendarat di Chengdu, propinsi Sichuan, China. Di Chengdu, partner roaming XL adalah China Mobile. Biaya XL One Tariff masih berlaku di sini, meski memang di negeri ini tidak berlaku 3G roaming. Untuk koneksi internet, akhirnya saya hanya bisa mengandalkan wifi gratis dari hotel saja. Kalau saya kemarin tidak bisa mengakses internet selama 5 hari, itu memang disebabkan saya tidak mendapatkan wifi gratis di hotel yang saya lewati di sepanjang propinsi Sichuan, China.

Semua pasti sudah tahu banyak situs social media, seperti Twitter, Facebook, YouTube, dll tidak bisa dibuka di China. Untuk bisa mengaksesnya, kamu harus menggunakan VPN (Virtual Private Network). Kalau kamu punya server sendiri, mungkin kamu bisa men-setup VPN sendiri.

Kalau yang nggak punya, untuk iPhone, bisa mengunduh aplikasi Hotspot VPN atau VPN Fire. Nggak tahu apakah di Android ada aplikasi serupa ya. Saya kemarin menggunakan Hotspot VPN. Setelah di-install, aplikasi akan meminta izin untuk meng-install juga certificate. Tujuannya, saat iPhone terkoneksi internet, VPN akan otomatis aktif. Namun untuk mendapatkan fitur VPN penuh, ada baiknya kamu berlangganan Rp.30.000,00 per bulan. Nggak rugi kok. Setelah aktif, langsung gunakan saja aplikasi favorit kamu. Saya pakai aplikasi Tweetbot dan jalan lancar.

Kelemahan menggunakan VPN adalah koneksi data akan lebih lambat, karena akan dilempar ke server lain dulu sebelum diterima oleh iPhone. Dibutuhkan koneksi internet yang cukup lancar, supaya data dari situs asal bisa diterima.

Saya sempat membeli nomor telepon China Mobile untuk dipasang di ponsel Android saya yang menganggur. Niatnya supaya sesama anggota grup bisa saling berkomunikasi. Ternyata nomor telepon China Mobile tidak bisa dipakai, karena saya harus registrasi lebih dahulu. Saya tidak paham juga bahasanya. Meski sudah minta tolong guide kami untuk membantu registrasi, hal ini juga tidak berhasil. Akhirnya, kembali nomor XL yang menjadi andalan saya dan bapak saya.

Setelah saya keluar dari kota Chengdu, memasuki daerah rural, iPhone XL saya yang tadinya aktif menggunakan operator China Mobile, tiba-tiba kehilangan sinyal. iPhone tidak bisa menemukan operator China Mobile, sehingga tidak bisa dipakai sama sekali. Sementara ponsel Nokia bapak saya malah dengan lancar bisa terus terkoneksi roaming dengan operator China Mobile. Saya nggak paham juga sih, ini salahnya di iPhone, atau iOS-nya (saya pakai iOS 6.0.1), atau masalah di operator? Setelah saya kembali ke Chengdu, iPhone saya kembali normal bisa terhubung dengan operator China Mobile.

Tips saya kalau ada di antara kamu yang akan berangkat ke China, siapkan ponsel lowend juga ya. Apalagi kalau kebutuhan kamu hanya untuk menelepon dan SMS. Roaming dengan ponsel lowend di daerah rural di China malah lebih lancar daripada menggunakan iPhone.

Disclaimer: tulisan di atas adalah murni pengalaman pribadi saya, meski saya bekerja di Stratego, salah satu digital agency dari XL Axiata.

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).