Hunting Foto 12 Hari di China – Bagian 4

Di tulisan bagian 4 (terakhir) ini, saya lanjutkan cerita tentang lokasi wisata yang sempat saya datangi:

 

Ancient Tower Group Sopo, 16 November.

Saat bus meninggalkan kota Danba menuju Mo Si Chen, kami melewati deretan rumah-rumah di tepi lereng yang bagian bawahnya berbatasan dengan sungai besar. Beberapa rumah dilengkapi dengan menara. Ada yang memiliki satu, ada yang dua. Lokasi rumah bermenara ini tersebar di sepanjang lereng. Dahulu sepertinya menara-menara ini adalah tempat pengawasan terhadap datangnya musuh.

Kami berada di sisi seberang sungai. Bus parkir di lokasi yang memang disediakan untuk melihat rumah bermenara di lereng tersebut. Kami menunggu matahari pagi menyinari lereng, lalu memotretnya. Latar belakang pegunungan dengan puncak salju di balik lereng semakin mempercantik pemandangan.

Hailuogou Glacier Forest Park (www.hailuogou.com), 17 November.

Tempat wisata Hailuogou berada di kota Mo Si Chen. Tiket masuknya ¥ 80 (¥ dibaca Yuan, 1 Yuan adalah sekitar Rp.1.550). Dari tempat pembelian tiket menuju titik wisata, kami harus menggunakan bus internal Hailuogou, dengan tiket pulang pergi ¥ 62 . Bus internal ini mengantar kami ke titik wisata yang sejauh 30 km melewati jalan berliku-liku tajam di lereng gunung. Sekitar setengah jam, akhirnya kami sampai di tujuan.

Di titik ini sebenarnya tidak terlalu ada yang menarik. Kami harus naik kereta gantung dengan tiket seharga ¥ 150 untuk ke titik wisata yang lebih tinggi lagi. Kereta gantung menyeberang lereng curam yang penuh dengan bebatuan, hingga kami sampai di perhentian berikutnya.

Sebenarnya yang paling menarik dari Hailuogou ini adalah pemandangan ke gunung es, dengan batu-batu raksasa yang berserakan di bawahnya. Dari gardu pemandangan yang disediakan, sebenarnya bisa jalan turun menuju kumpulan batu-batu raksasa ini. Hanya harus hati-hati, karena beberapa jalan setapak licin karena lapisan es. Kalau mau, juga bisa menyewa semacam besi bergigi runcing yang diikat di bawah sepatu, supaya saat menginjak es, kaki akan lebih mengunci.

Beberapa titik lainnya yang bisa dilihat adalah Schrein (kuil kecil dengan patung Buddha empat wajah sumbangan dari pemerintah Thailand), Avalokitesvara (kuil kecil lainnya yang berada di atasnya), King Kong Shengle Tower (yang dijaga oleh seorang Buddhist), dan Monument to the Heroes (yang ini tidak terlalu spesial).

Kalau mau jalan kaki naik lagi dari King Kong Shengle Tower, di atas bisa ditemukan bebatuan yang berserakan. Di beberapa batu ini terlihat lapisan merah, kemungkinan lumut. Beberapa batu lainnya banyak tertutup salju, sehingga merahnya batu banyak yang tak terlihat. Mungkin kalau musim panas, nuansa kemerahan di batu-batu ini akan jelas terlihat.

Tempat wisata lainnya di lokasi Hailuogou adalah pemandian air belerang. Siapa tahu ada yang tertarik? Kalau kami sih tidak. Kami hanya makan siang di tempat yang tak jauh dari sana. Lokasi makan dan pemandian air belerang ini dikelilingi oleh hutan dengan banyak monyet. Namun tenang saja, monyetnya tidak jail kok.

Ketika kembali, kami harus menggunakan kereta gantung yang sama, lalu menggunakan bus internal yang akan mengantar kami kembali ke tempat parkir, selama setengah jam. Kali ini kami dapat bonus. Bus yang kami tumpangi tiba-tiba bermasalah di persnelingnya, sehingga kami harus menunggu bus jemputan pengganti di tengah perjalanan.

Sekitar 30 km dari Hailuogou terdapat sungai dengan bebatuan merah yang jauh lebih banyak daripada di Hailuogou sendiri. Tempatnya jauh lebih menarik, tidak perlu bayar pula. Nuansa merah bebatuan di lokasi ini sangat jauh terasa. Apalagi dengan latar belakang pegunungan, membuatnya semakin terihat cantik.

Kuanzhai Lane, Chengdu, 19 November.

Daerah ini merupakan salah satu sudut kota lama Chengdu yang telah direnovasi. Tempatnya nggak terlalu luas, dibentuk oleh gang selebar 5 meter yang berkeliling membentuk segi empat. Beberapa bangunan memang terlihat bangunan lama, namun direnovasi ulang. Beberapa lainnya terlihat bangunan baru, namun tampilannya menyesuaikan dengan konteks sekitarnya.

Bangunan di sini kini berfungsi sebagai toko suvenir, makanan, buku, kafe, dan restoran. Ada beberapa lapak pedagang yang disiapkan khusus di tepi jalan. Banyak bangku dan meja di luar, pengunjung bisa menikmati suasana jalan sambil mengemil dan minum kopi. Bahkan ada pula Starbucks di sini, dengan desain logo dan suasana ruangan yang tetap menghormati konteks heritage lokasi ini.

Kuanzhai Lane ini memang dikelola khusus oleh departemen turisme China. Pengunjung bebas masuk ke dalamnya, meski bisa pula membayar guide yang akan bercerita lebih dalam tentang sejarah daerah ini. Idenya menarik sih. Andaikan saja satu kompleks Glodok atau Pasar Baru Jakarta bisa didesain apik seperti ini.

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

Hunting Foto 12 Hari di China – Bagian 3

Di tulisan bagian 3 ini, saya lanjutkan cerita tentang lokasi wisata yang sempat saya datangi:

 

Seergu Tibetan Stockade Village, 13 November.

Dalam perjalanan dari Songpan ke Heishui, kami melewati pemukiman suku Tibet yang berada di tepi sungai. Kami tidak masuk ke desa ini. Bus parkir di tepi jalan, lalu kami turun memotret rumah-rumah desa ini yang terlihat saling bertumpuk.

Seergu ternyata hanyalah satu dari banyak sekali desa serupa lainnya. Desain bangunan khas Tibet terlihat dari atapnya yang datar, dengan ornamen hiasan di empat ujung atap. Warna cat merah bata menghiasi setiap tepian pintu dan jendela mereka. Sepertinya banyak desa seperti ini yang dijadikan desa wisata oleh pemerintah China. Disediakan tempat parkir di luar desa, lalu pengunjung bisa bebas masuk dengan berjalan kaki.

Yakexia Snow Mountain, 14 November.

Dalam perjalanan dari Heishui ke Siguniang, bus melewati beberapa gunung. Daerah Sichuan memang penuh dengan gunung dan sungai. Namun hebatnya, sepertinya setiap gunung ini bisa dilalui kendaraan karena sudah disediakan akses jalan raya. Hampir semua jalan yang kami lewati berada di antara tepian pegunungan di satu sisi dan sungai lebar di sisi lainnya. Kadang mengerikan rasanya melewati jalan di lereng ini yang berliku-liku tajam.

Salah satu puncak gunung yang kami lewati dengan bus adalah gunung Yakexia. Kami berhenti di ketinggian 4.743 meter di tengah hamparan salju tebal di tepi jalan. Baru kali ini saya merasakan kaki bisa menginjak di salju tebal. Kata salah satu guide, di musim panas gunung ini tidak bersalju, namun keindahannya tergantikan dengan banyaknya tanaman hijau dan bunga yang tumbuh di lerengnya.

Di puncak ini, saya melihat dua orang penggembala yang memang sehari-harinya mendekam di sana. Ada satu tempat khusus yang dihiasi dengan kertas warna-warni, yang menjadi kekhasan suku Tibet. Dua orang Buddhist ini terlihat bersembahyang di tempat itu, sebelum mereka melanjutkan perjalanan.

Xisuo Tibetan Folk Houses, 14 November.

Setelah turun dari gunung Yakexia dan makan siang, bus melanjutkan perjalanan ke Siguniang. Kami mampir di salah satu desa wisata Tibet yang bernama Xisuo. Awalnya yang menghubungkan desa ini dan jalan terdekat hanya jembatan kayu tua di atas sungai yang deras. Kini jembatan ini sudah tidak dipakai, dan di sebelahnya dibangun jembatan beton yang bisa dilalui kendaraan bermotor. Pemerintah Cina juga memperbaiki dan membangun desa ini, dengan tetap mempertahankan ciri khas aslinya.

Bus parkir di luar desa, di tempat parkir yang memang sudah disediakan. Kami berjalan kaki masuk melewati jembatan dan menuju desa. Kebetulan saat kami datang, sedang ada perayaan di dalamnya. Katanya ini untuk merayakan ulang tahun partai komunis di Cina. Kebetulan desa ini juga menjadi lokasi salah satu cabang partai tersebut. Hiburannya sederhana, menyanyi dan menari, diisi oleh penduduk lokal semua. Meskipun demikian, ada reporter televisi yang meliput datang. Bahkan setelah tahu kami turis dari Indonesia, reporter tersebut mewawancarai salah satu anggota grup kami.

Yang saya perhatikan, di desa ini sangat sedikit anak muda. Lebih banyak orang tua dan anak-anak. Kata salah satu warga, para anak muda berkelana mencari kerja di kota-kota besar seperti Shanghai. Seorang anak dikenalkan kepada kami. Ia ternyata sudah ditinggalkan ibunya sejak kecil. Ayahnya sakit-sakitan dan tidak bisa bergerak. Ia kini lebih banyak diasuh oleh nenek dan kakeknya.

Siguniang Mountain (www.siguniangmountain.com), 15 November.

Lokasi wisata ini tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Bus hanya mengantar sampai tempat parkir utama, untuk selanjutnya kami harus menggunakan bus internal mereka yang akan mengantar hingga depan gerbang masuk. Biaya masuk lokasi ini ¥ 70 (¥ dibaca Yuan, 1 Yuan adalah sekitar Rp.1.550) dan biaya tiket busnya ¥ 20.

Dari gerbang masuk ini, kami harus berjalan kaki, melewati penduduk lokal yang menawarkan kuda untuk ditunggangi. Kami juga melewati sebuah kuil, sebelum masuk ke dalam hutan. Seperti di Jiuzhaigou dan Huanglong, sudah disiapkan jalan setapak terbuat dari papan kayu. Pengunjung tinggal melewati jalur yang sudah ditetapkan.

Sayangnya kami semua datang terlambat sebulan. Kalau sebelumnya di bulan Oktober, pengunjung bisa melihat hutan warna-warni merah dan kuning, namun kini mulai memasuki musim dingin, daun-daun berwarna itu sudah mulai rontok. Yang terlihat hanya nuansa hutan yang kelam dan dingin. Objek menarik yang difoto hanyalah gunung Siguniang (empat putri) yang terlihat di kejauhan. Gunung setinggi 6.850 meter ini disebut empat putri, karena gunung ini memiliki empat puncak.

Usai keluar dari hutan Siguniang, guide mengantar kami ke sebuah lokasi, di mana kami bisa melihat gunung Siguniang dari kejauhan. Tempat ini disebut Cat’s Nose Ridge, berada sekitar 15 menit dari tempat sebelumnya.

(bersambung ke bagian 4)

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

Hunting Foto 12 Hari di China – Bagian 2

Di tulisan bagian 2 ini, saya lebih ingin bercerita sepintas tentang lokasi wisata yang sempat saya datangi:

 

Jiuzhaigou (www.jiuzhai.com), 9-11 November.

Hutan wisata Jiuzhaigou ini sangat luas, sehingga tak mungkin menjelalah setiap titik menariknya dalam sehari. Danau-danau di Jiuzhaigou berbeda dengan danau umumnya, karena airnya sangat bening, sehingga pengunjung bisa melihat dasarnya dengan sangat jelas.

Kalau melihat dokumentasi videonya, pengunjung bisa mendapatkan suasana yang berbeda setiap musimnya. Saat musim semi, hutan akan terlihat dengan bunga yang beraneka ragam. Saat musim panas, akan banyak hewan yang terlihat di hutan dan danau. Saat musim gugur, dedaunan warna merah dan kuning menghiasi hutan. Kalau seperti saya yang kali ini datang saat permulaan musim dingin, yang terlihat adalah hutan yang mulai merontokkan daunnya, dengan danau yang mulai terlihat mendingin. Ada beberapa lokasi di Jiuzhaigou yang sudah terlihat tertutup salju.

Tiket masuk Jiuzhaigou lumayan mahal, ¥ 220 (¥ dibaca Yuan, 1 Yuan adalah sekitar Rp.1.550). Namun untuk lansia, dibebaskan dari biaya tiket. Untuk bergerak di antara titik-titik wisata yang berjauhan di Jiuzhaigou, pengunjung bisa menggunakan bus internal yang secara periodik berlalu-lalang. Selain membeli tiket masuk, pengunjung juga harus membeli tiket bus ¥ 90 yang berlalu sehari penuh ke arah manapun. Entah ada berapa ratus bus yang melayani 3 rute utama di Jiuzhaigou. Seluruh rute ini bertemu di titik tengah, stasiun Nuorilong, yang sekaligus menjadi tempat makan dan belanja utama.

Saya dan rombongan tur bolak-balik masuk Jiuzhaigou selama 3 hari berturut-turut. Hari pertama dan kedua untuk memilih titik wisata yang berbeda-beda, lalu hari ketiga untuk memotret di lokasi yang kami anggap terbaik saja di antara lokasi yang sudah kami datangi di dua hari sebelumnya.

Setiap titik wisata di Jiuzhaigou dilengkapi dengan jalur pejalan kaki yang sangat nyaman. Terbuat dari papan kayu, jalur ini bisa ditemukan di semua titik. Beberapa jalur bahkan disiapkan lewat di atas aliran sungai, sehingga pengunjung bisa melihat air mengalir di kiri kanannya. Ada juga jalur yang dibuat turun dengan tangga dan perlindungan atap, sehingga pengunjung bisa nyaman berjalan sambil melihat air terjun di dekatnya. Disediakan tempat peristirahatan luas di beberapa jalur, lengkap dengan tempat persewaan kostum tradisional. Pengunjung bisa berfoto dengan kostum tersebut dengan latar belakang indahnya alam Jiuzhaigou.

Yang menarik adalah tidak ada sama sekali pedagang di dalam setiap titik wisata. Kebersihan selalu dijaga, ada petugas yang rutin berkeliling jalan memungut sampah yang berserakan. Meskipun udara dingin, pengunjung patuh untuk tidak merokok di lokasi, karena tahu resikonya akan kebakaran hutan.

Di Jiuzhaigou ini, saat hari pertama kami berkunjung ke Mirror Lake, salah satu danau dengan pantulan refleksi pohon-pohon yang terlihat jelas di bawah air. Lalu kami berpindah ke Pearl Shoals, sungai yang mengalir menuju air terjun. Kami melewati jalur papan berupa anak tangga hingga kami sampai di kolam tempat jatuhnya air terjun.

Setelah makan siang, kami berpindah ke Primitive Forest. Di sini tak banyak yang dilihat kecuali pemandangan gunung di kejauhan. Terakhir kali kami pindah ke Multi Colored Lake. Sayang sudah terlalu sore dan langit tidak mendukung, sehingga refleksi air di danau tidak terlihat terlalu menarik.

Lalu di hari kedua, kami mendatangi Long Lake. Lokasi ini adalah yang paling tinggi di Jiuzhaigou. Sekitar titik wisata ini terlihat lapisan salju. Suhu mencapai -2 derajat C. Jari-jari tangan saya pun menggigil menahan dingin saat memotret gunung di kejauhan. Jalur tangga yang menuju danau terlihat licin, sehingga kami harus turun dengan hati-hati. Tak lama kami berpindah ke Colorful Pond, yang berada tak jauh di bawahnya. Beberapa bagian hutan di lokasi ini pun tertutup salju.

Sebelum kami makan siang, kami turun di Zechawa Village, pertokoan tradisional khas Tibet. Suvenir di sini dijual dengan harga lebih murah daripada di Nuorilong (meski tempatnya sebetulnya berdekatan). Setelah makan siang, kami kembali lagi ke Multi Colored Lake. Cahaya matahari hari itu jauh lebih baik daripada sebelumnya. Saya melihat beberapa pengunjung menyewa pakaian tradisional Tibet dan berfoto dengan latar belakang danau yang jernih.

Kunjungan kami terakhir hari itu adalah ke Nuorilong Waterfall, yang tak jauh dari stasiun pertemuan antar-bus. Mungkin karena hari Sabtu, titik wisata ini sangat penuh. Air terjunnya memang indah. Banyak sudut menarik untuk dipotret. Sayangnya hari sudah menjelang sore, sehingga matahari berada di belakang air terjun, sehingga foto terlihat silau. Akan lebih baik bila bisa datang ke sini pagi hari.

Kami lalu berpindah ke Tiger Lake dan Rhinoceros Lake yang saling bersebelahan, danau dengan aliran yang tenang dan latar belakang gunung. Niatnya kami menunggu matahari terbenam di sini, meski akhirnya kami batalkan, karena tertutup awan. Lagi pula, kalau kami tetap menunggu, kami bisa diusir dari Jiuzhaigou karena sudah menjelang waktu tutup.

Di hari terakhir, kami kembali mengunjungi Nuorilong Waterfall. Kami datang sejak pukul 8, menunggu matahari bersinar terang menyinari air terjun. Akhirnya foto air terjun dengan pencahayaan yang menarik bisa kami dapatkan. Setelah makan siang, kami kembali mengunjungi Pearl Shoals. Kali ini kami melewati jalur setapak yang berbeda.

Selanjutnya kami berpindah ke Shuzeng Waterfall dan Shuzeng Lake, yang berlokasi di sebelah Tiger Lake. Air terjun di sini tidak terlalu besar, meski tetap menarik untuk dilihat. Di sekitar danau terlihat rumah-rumah reyot tak terpakai yang menarik untuk dijadikan objek foto. Terakhir kali kami berpindah ke Sparkling Lake. Saya sudah terlalu capai sehingga hanya duduk saja di sini, sementara anggota grup lainnya ada yang berjalan dan terus mengambil gambar. cuma nunggu di sini, kecapean, sementara ada yg lain foto.

Setiap hari setelah kami selesai berkunjung di Jiuzhaigou, kami harus kembali ke pintu masuk utama menggunakan bus internal. Selanjutnya kami harus berjalan kaki cukup jauh ke lokasi parkir bus. Menariknya, sebelum sampai ke lokasi parkir, kami harus melewati pasar tertutup, tempat masyarakat lokal berjualan suvenir, pakaian, dan makanan. Pengunjung tentunya diharapkan untuk mampir belanja sebelum akhirnya pergi meninggalkan Jiuzhaigou.

HuangLong (www.huanglong.com), 12 November.

Perjalanan menuju HuangLong dari Jiuzhaigou melewati pegunungan. Bus bergerak menyusuri lereng gunung, yang sebagiannya tertutup salju. Sebelum sampai ke tujuan, bus sempat berhenti dahulu di Snow Ridge, lokasi gardu pemandangan untuk melihat lansekap pegunungan di sekitarnya.

Seperti di Jiuzhaigou, bus hanya bisa mengantar sampai lokasi parkir. Kami harus menggunakan bus internal yang akan mengantar ke lokasi stasiun kereta gantung. Tiket masuk lokasi ¥ 200, tiket bus ¥ 80, dan tiket kereta gantung satu arah naik ¥ 80. Kalau mau beli tiket turun hanya ¥ 40, meski banyak orang memilih untuk turun dengan berjalan kaki. Kereta gantung akan mengantar ke stasiun terakhir yang berbeda ketinggian sekitar 500 meter daripada sebelumnya.

HuangLong bisa dibilang skala kecilnya Jiuzhaigou. Ada beberapa titik wisata yang bisa dilihat sepanjang kita turun dari stasiun kereta gantung hingga tempat parkir bus umum. Jalur dengan papan kayu dibangun mengelilingi lokasi ini. Di sepanjang jalur ini, pengunjung bisa melihat pemandangan ke arah gunung bersalju, kolam beragam warna, hingga air terjun yang mengalir dari kolam ke kolam lain di bawahnya. Di bulan November ini, banyak kolam yang masih tertutup salju, ada pula yang masih mengkristal, sementara ada bagian kolam lainnya yang masih mengalir. Banyak sekali bunga es terlihat menggantung di dahan yang berada dekat kolam.

Siapkan fisik dahulu sebelum memutuskan menjelajah HuangLong. Jalur papan kayu yang mengelilingi Huanglong ini berjarak kurang lebih sekitar 7 km. Kaki dijamin akan pegal, meski jalur yang disiapkan sudah sangat nyaman untuk pengunjung berjalan kaki. Dengan berjalan santai sambil melihat dan memotret, jalur papan kayu ini bisa ditempuh selama 4 jam.

Songpan, 13 November.

Songpan berada di antara Jiuzhaigo dan Huanglong. Di tengah kota yang dulunya bernama Songchu ini terdapat benteng tua yang dibangun sejak abad 5-6 Masehi. Dahulu kehidupan kota berada di balik dinding benteng raksasa ini, meski sekarang sudah melebar ke luar benteng.

Benteng kini telah direnovasi dengan mempertahankan bentuk asal. Bangunan perkotaan di dalam benteng juga dipugar ulang. Tata letak kota menyesuaikan seperti aslinya. Semua bangunan baru, namun desain fasadenya menyesuaikan dengan gaya arsitektur Cina lama. Beberapa ornamen modern seperti LED sign bisa ditambahkan di atas toko, asalkan tidak merusak tampilan fasade. Bangunan-bangunan ini kini difungsikan untuk toko, hotel, bank, kantor polisi, rumah sakit, dll.

Sebagian jalan di dalam benteng tidak bisa diakses kendaraan bermotor, namun ada semacam becak bermotor yang bisa dipakai untuk mengantar di dalam kota Songpan dan sekitarnya. Lampu jalan dibentuk dengan gaya China lama. Kala malam, lampu jalan ini akan menyala cantik menerangi jalan-jalan di dalam benteng. Atap dan dinding benteng pun dihiasi dengan lampu, sehingga saat malam, bentukan benteng tetap bisa terlihat cantik.

(bersambung ke bagian 3)

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).

Hunting Foto 12 Hari di China – Bagian 1

Perjalanan saya dan bapak saya berlanjut. Setelah di Kuala Lumpur dua hari satu malam, kami berangkat menuju Chengdu. Di bandara LCCT Kuala Lumpur, kami bertemu dengan rombongan lainnya dari Jakarta, Lombok, Bali, Malang, dan Surabaya. Total kami bersebelas memang berencana melakukan tur hunting foto bersama keliling propinsi Sichuan, China utara. Beberapa peserta tur hunting foto ini memang fotografer senior.

Tur ini berlangsung sejak kami tiba di Chengdu tanggal 7 November, keliling ke banyak tempat, lalu kembali lagi ke Chengdu tanggal 19 November. Setelah itu kami akan kembali terbang ke Kuala Lumpur, lalu berpisah di sana, untuk kembali ke kota asal kami masing-masing.

Kami berkeliling China utara menggunakan bus, dipandu oleh 3 guide lokal, yang sayangnya nggak terlalu bisa bahasa Inggris. Yang satu malah tidak bisa bahasa Inggris sama sekali Oh ya dari 11 peserta, sebanyak 7 orang dari kami sangat fasih bahasa Mandarin, yang dua lagi mengerti sedikit sekali, dan dua lainnya (saya dan bapak saya) buta sama sekali bahasa Mandarin. Walhasil, banyak cerita yang tidak saya tangkap selama perjalanan, kecuali saya tanya sesama anggota rombongan tur tentang apa yang dibicarakan si guide.

Banyak tempat wisata menarik kami kunjungi. Banyak lokasi alam mengagumkan kami hampiri. Banyak kehidupan rural rakyat China yang kami lihat. Banyak pembangunan konstruksi luar biasa kami lewati, selama perjalanan kami dengan bus naik turun pegunungan dan sungai di daratan Sichuan, China. Banyak hal menarik yang bisa saya ceritakan dalam beberapa tulisan.

Rute perjalanan saya adalah sebagai berikut (detilnya akan dijelaskan dalam tulisan berikutnya):

 

Kuala Lumpur – Chengdu, 7 November:

  • Sekitar jam 10 malam kami mendarat di Chengdu Shuangliu International Airport.
  • Di Chengdu, menginap di DunHuang International Hotel.

 

Chengdu – Jiuzhaigou, 8 November:

  • Berangkat dari DunHuang Internatioal Hotel.
  • Melewati jalan yang lagi dibangun di tepi sungai. Ada beberapa pemukiman baru yang didesain apik di tepi sungai.
  • Makan siang.
  • Diexi Sea View Point. Di sini banyak penjual warungnya yang muslim.
  • Menginap di New You Yue Hotel, Jiuzhaigou.

 

Jiuzhaigou, 9 November:

  • Mirror Lake.
  • Pearl Shoals. Air terjun, turun tangganya lumayan supaya bisa lihat air terjun dari bawah.
  • Makan siang di Nuorilong Restaurant.
  • Primitive Forest. Di sini tidak lama. Hanya memotret gunung salju, masuk jalan setapak di hutan, lalu keluar kembali.
  • Multi Colored Lake. Di sini saya berjalan mengelilingi danaunya yang luas.
  • Kembali menginap di New You Yue Hotel.

 

Jiuzhaigou, 10 November:

  • Long Lake. Salah satu lokasi tertinggi di Jiuzhaigou. Suhu -2° C, banyak bekas tetesan salju.
  • Colorful Pond. Lokasi tak jauh di bawahnya, juga terlihat sisa-sisa salju.
  • Zechawa Village. Lokasi tempat belanja suvenir tradisional.
  • Makan siang di Nuorilong Restaurant. Mungkin karena hari Sabtu, di ruang tengah ada pertunjukan musik.
  • Kembali mampir ke Multi Colored Lake. Terlihat lebih banyak orang dibanding kemarin. Ada orang yang menyewa pakaian tradisional dan berfoto.
  • Nuorilong Waterfall. Banyak banget orang di sini. Sayang motret di sini backlight kalau sore hari.
  • Tiger lake dan Rhinoceros lake. Dua danau ini bersebelahan, dibatasi air terjun kecil-kecil.
  • Kembali ke New You Yue Hotel.

 

Jiuzhaigou, 11 November:

  • Kembali lagi ke Nuorilong Waterfall. Sudah siap dari jam 8, menunggu matahari hingga jam 11. Menyenangkan karena hari itu langit cerah.
  • Makan siang di Nuorilong Restaurant. Ada hiburan musik tradisional. Di sini kalau menyanyi gayanya agak-agak seriosa ya? Teriak-teriak cempreng begitu.
  • Kembali ke Pearl Shoals, kali ini lewat jalan setapak yang berbeda.
  • Shuzeng Waterfall dan Shuzeng lake. Di sini ada rumah-rumah reyot tak terpakai, yang menarik untuk dijadikan latar belakang foto.
  • Sparkling Lake.
  • Kembali ke New You Yue Hotel.
  • Menonton pertunjukan teater modern, namun membawakan cerita lokal. Lokasi teater tak jauh dari hotel.

 

Jiuzhaigo – HuangLong, 12 November:

  • Berhenti tengah jalan, kami berfoto bersama dengan latar belakang gunung.
  • Snow Ridge. Suatu perhentian di mana kami bisa memotret gunung salju.
  • Huanglong Valley. Setelah makan siang, lanjut naik kereta gantung, lalu keliling lokasi wisata ini, dengan jarak sekitar 7 km.
  • Kembali melewati Snow Ridge. Kali ini pas banget saat matahari terbenam. Angin yang bertiup luar biasa kencang.
  • Menginap di HuangLong Hotel. Ternyata mereka tidak siap kedatangan tamu, sehingga makan malam terlambar. Sayang pula kamar mandi di hotel ini agak kotor dibandingkan hotel-hotel sebelumnya.

 

HuangLong – Heishui, 13 November:

  • Kota tua dalam benteng Song Chu (sekarang diubah menjadi Songpan), dibangun sejak abad 5-6. Bangunan di dalam benteng banyak yang sudah bangunan baru tapi facade tetap didesain seperti bangunan lama. Udara dingin banget sekitar -2° C sampai dengan 5° C di pagi hari.
  • Perbatasan propinsi. Kami dihentikan oleh polisi yang memeriksa semua passport penumpang. Akhirnya kami dilarang masuk daerah ini, karena orang asing. Katanya karena ada kecelakaan (meski saya mencium ada sebab lain yang berbau politik di sini). Kami membatalkan memotret di lokasi ini.
  • Kembali lagi ke Diexi Sea View Point. Kali ini kami memotret yak (sapi gunung) dan pemiliknya.
  • Makan siang.
  • Seergu Tibetan Stockad Village. Semacam desa wisata, yang sudah diperbaharui pemerintah, jembatan diganti, bangunan diperbaiki. Datang saat perayaan 18 tahun partai komunis, dan perayaan ini diselenggarakan di setiap daerah. Kami melihat hiburan rakyat di sini.
  • Heishui. Kota yang tahun 2008 terkena gempa raksasa, namun kini sudah penuh bangunan baru yang ditata rapih. Tempatnya enak untuk jalan kaki. Kami menginap di Zhihe Hotel.

 

Heishui – Siguniang, 14 November:

  • Memotret danau dekat Mahe Ba Forest.
  • Berada di Yakexia Snow Mountain, ketinggian 4.743 m. Dataran yang penuh salju tebal.
  • Kembali melewati perbatasan, dan mendapat pemeriksaan polisi lagi. Untungnya kali ini kami bisa lewat.
  • Makan siang di rumah makan tepi jalan.
  • Xisuo Tibetan Folk Houses.
  • Memotret gunung Mengbi, 4.114 m.
  • Berhenti sejenak di Dazhai Cun village, karena kerumunan domba lewat yang mengundang untuk dipotret.
  • Sampai di Siguniang tepat saat seluruh kota sedang mati listrik. Lampu jalan tetap menyala karena menggunakan tenaga surya. Bintang-bintang terlihat jelas banget di langit. Hotel yang kami inapi ini usianya baru 4 bulan.

 

Siguniang – Danba, 15 November:

  • Siguniang Mountain. Sayang tak banyak yang bisa dilihat, kecuali menusuknya udara dingin di pagi hari. Katanya paling bagus di bulan Maret – April, saat hutan penuh bunga, atau bulan Oktober saat pohon menampilkan daun-daun merah.
  • Cat’s Nose Ridge. Di sini kami bisa melihat Siguniang Mountain dengan lebih jelas. Tinggi gunungnya 6.850 m.
  • Makan siang di rumah makan tepi jalan.
  • Kembali dihentikan, kali ini untuk pemeriksaan mobil. Wajah yang memeriksa seperti preman, tapi jelas ini bukan polisi. Mungkin semacam DLLAJR kalau di sini kali ya?
  • Berhenti beberapa kali di tepian sungai, memotret pohon dengan daun kuning berjejer di bawah matahari yang mulai miring.
  • Tiba di Danba. Hotelnya sederhana dan kecil, mirip ruko. Sisi sebaliknya hotel menghadap ke sungai. Kami makan malam di luar hotel. Kota Danba ini padat banget, banyak bangunan 4 lantai berdempat, padahal sepertinya penduduknya nggak banyak. Saat itu sedang banyak pekerjaan konstruksi jalan dan jembatan.

 

 

Danba – Mo Si Chen, 16 November:

  • Sarapan noodle di rumah makan sebelah hotel. Enak.
  • Melihat Ancient Tower Group Sopo, yang berupa rumah-rumah dengan menara tinggi di seberang sungai.
  • Berhenti memotret di area konstruksi jalan tepi sungai.
  • Melewati jalan yang seram, di tepi gunung dan sungai. Banyak batu-batu runtuh dan jalan jelek. Terlihat beberapa titik lagi ada perbaikan jalan. Lebar jalan sempit sehingga kadang bergantian dengan truk yang berlawanan arah.
  • Masuk terowongan yang menembus isi gunung. Bedanya, terowongan ini panjang, dan bercabang-cabang, ada yang tak seberapa lebar, ada yang lebar banget. Keluar terowongan, melihat jembatan mulai dibangun yang menyeberang gunung-gunung.
  • Makan siang di Hong Xue Lian Hotel, kecamatan Wuchan. Ini tingkatnya kecamatan tapi padatnya sudah seperti kota besar aja. Jalanan ramai, trotoar banyak orang jalan, semua mengenakan jaket/sweater dan sepatu tinggi, padahal saat siang hari terasa panas.
  • Tiba di Mo Si Chen, menginap di Gong Ga Hotel. Jalan-jalan di sekitar terlihat sangat apik, trotoar rapih, dengan banyak pertokoan dan restoran.

 

Mo Si Chen, 17 November:

  • Hailuogou Glacier Forest Park, dengan mendatangi lokasi berikut:
  • Naik menggunakan kereta gantung.
  • Gardu pemandangan, melihat gunung tinggi bersalju.
  • Kuil Schrein, dengan patung Buddha empat wajah, yang merupakan sumbangan Thailand.
  • Avalokitesvara.
  • King Kong Shengle Tower.
  • The Monument To The Heroes. Saya nggak mampir dan memotret di sini, karena monumennya tidak ada yang spesial.
  • Red Rock Patch. Lokasi yang berisi pecahan banyak batu, dengan warna merah lumut menggerus kulit batu di beberapa tempat. Banyak batu yang tertutup salju.
  • Kembali turun dengan kereta gantung.
  • Makan siang.
  • Turun lagi pakai bus internal Hailuogou, dan mogok. Sekitar setengah jam, kami menunggu bus pengganti.
  • Menuju lokasi batu merah lain yang berserakan di tepi sungai, sekitar 30 km dari Hailuogou. Melewati 3 jembatan besi. Jembatan besi kedua ada batu dan balok beton menghalangi supaya mobil besar nggak bisa lewat. Jembatan ini memiliki panjang 10 m dan bisa menahan 15 ton. Bus seharusnya bisa melewatinya. Akhirnya dengan pas-pasan, bus bisa melewati sempitnya titik masuk dan keluar jembatan.

 

Mo Si Chen – Chengdu, 18 November:

  • Berhenti sebentar di luar kota Mo Si Chen, memotret ladang di pagi hari.
  • Melewati jalan tol dari dekat kota Menghuo menuju Chengdu. Kami melewati terowongan di bawah gunung sejauh 10 km. Keluar terowongan disambut kabut tebal, sisi kanan jalan nggak terlihat. Kamiseperti bergerak di atas awan.
  • Belum tiba di Chengdu, kami keluar tol menuju kota kecil untuk makan siang. Perjalanan ke Chengdu padahal masih 138 km lagi.
  • Sampai di Chengdu dan kembali menginap di DunHuang International Hotel.

 

Chengdu, 19 November:

  • Saya dan beberapa anggota grup mencari oleh-oleh di tengah kota Chengdu yang penuh dengan mall. Tempatnya asyik untuk berjalan kaki.
  • Kuanzhai Lane, salah satu lokasi historis di Chengdu.
  • Sore hari kami menuju Chengdu Shuangliu International Airport, makan malam di KFC bandara, sebelum tengah malam kami berangkat ke Kuala Lumpur, dan lanjut ke Jakarta.

 

Detil cerita tempat-tempat wisata yang menarik akan saya ceritakan di bagian berikutnya yaa!

(bersambung ke bagian 2)

(Untuk melihat koleksi foto perjalanan ke China, silakan cek galeri 500px).