Nonton Film Suicide Squad

Saya pertama kali kenal dengan grup Suicide Squad di tahun 1987, saat awal-awal membaca komik DC versi asli (bukan terjemahan). Saat itu konsepnya benar-benar baru bagi saya. Sekumpulan penjahat yang menjalani misi rahasia dari pemerintah, dengan imbalan pengurangan masa hukuman.

Untuk menjaga agar mereka tetap bekerja dalam koridor yang benar, ada chip bom ditanam di tangan mereka. Mereka juga dipandu oleh perwakilan tentara US dan hero, seperti Colonel Flag, Nightshade, dan Bronze Tiger. Sebuah konsep grup baru, di antara grup-grup superhero lainnya saat itu seperti Justice League, Titans, dan Outsiders. Saat itu penulisnya adalah John Ostrander, yang namanya diabadikan di film Suicide Squad sebagai nama salah satu bangunan.

suicide squad 1987
Suicide Squad versi 1987 (ada nama-namanya tuh)

Lanjut baca tentang Suicide Squad

Adaptasi Karakter Komik, Haruskah Sama?

Sekarang kan makin banyak film dan serial televisi yang diadaptasi dari komik Marvel dan DC. Di Netflix ada Daredevil dan Jessica Jones. Di CW ada Arrow, Flash, dan Legends of Tomorrow. Belum lagi Batman v Superman yang baru rilis belakangan ini di bioskop.

Ada teman saya yang suka bertanya, sejauh mana adaptasi ini sesuai dengan cerita di komik aslinya. Komik US beda dengan manga Jepang. Biasanya cerita anime sebagian besar diambil dari versi manganya. Umumnya hanya ada satu kronologi cerita dari suatu manga, yang kemudian diadaptasi ke format anime atau layar lebar.

Sementara, karakter-karakter komik superhero Marvel dan DC punya banyak versi. Setiap generasi pembaca baru, biasanya akan ada perubahan asal-usulnya. Tim kreatifnya pun terus berganti. Jadi, agak sulit kalau ditanya, “Apakah suatu adaptasi film dan serial televisi itu sesuai dengan versi komiknya?” Biasanya akan saya lempar balik dengan jawaban, “Versi yang mana dulu nih?”

batman_v_superman_dawn_of_justice_2016-1280x800
Lanjut untuk tahu jawabannya

Garuda Superhero

Ceritanya gw abis pulang banget dari nonton film Garuda Superhero. Dulu gw udah pernah lihat trailernya pertama kali pas Hellofest. Kebetulan ketemu dengan teman yang ngurusin versi komiknya. Saat lihat trailer itu, gw kagum. Film ini 90%-nya CGI, alias kalau nggak pake animasi, ya minimal compositing antara live action dan foto/render. Gw gak akan expect kualitasnya sekelas Hollywood, karena itu gak akan mungkin, dengan budget filmnya. Namun gw berharap minimal gw bisa enjoy plot ceritanya.

Sebelumnya, kalian udah pernah nonton film Sky Captain and the World of Tomorrow belum? Itu memang film Hollywood, yang memerankannya Jude Law, Angelina Jolie, dan Gwyneth Paltrow. Film itu pun 90%-nya CGI. Hampir semua adegan dilakukan di studio dengan green screen. Bisa dibilang, ini film animasi tapi dengan karakter live action. Nah, meski gw gak berharap kualitas CGI film Garuda Superhero mendekati Sky Captain, tapi gw berharap feel-nya bisa mendekati.

Terlepas dari kualitas CGI, gw berharap plot cerita film Garuda Superhero ini menarik, tidak membosankan, dan enak dirunut. Namun sayangnya, ini nggak gw dapatkan. Di film ini muncul banyak banget karakter. Karakter protagonis dan antagonisnya jelas. Karakter sekunder yang menjadi penyokong cerita, seperti para pejabat pemerintahan masih jelas. Namun film ini seperti memaksakan membuat plot bercabang, yang konsekuensinya adalah penambahan karakter, yang sayangnya tidak memiliki dampak terhadap plot utama. Artinya, kalo plot bercabang ini dibuang, inti cerita bisa tetap sama. Lalu buat apa karakter-karakter ini ada? Yang ada malah seperti ada bagian cerita yang hilang, lalu tokoh yang (mungkin seharusnya) diceritakan di bagian yang hilang ini, bisa muncul tiba-tiba menyelesaikan masalah di akhir cerita.

Gw akui beberapa sekuens animasi terlihat cakep. Animasinya loh ya, bukan compositing-nya. Motion graphic di bagian kredit juga sangat keren. Compositing ini sih yang banyak terlihat aneh di sepanjang film. Gw masih mentolerir kualitas blending antara karakter di foreground dan CGI di background yang tidak sempurna, karena itu butuh resource yang besar untuk membersihkannya. Namun maaf, saat proses compositing-nya sendiri, terlihat banyak asset yang ditumpuk tapi tidak memperhatikan perspektif dengan benar, dan ini sangat mengganggu.

Banyak pula adegan yang menampilkan compositing antara karakter live action dengan stok foto. Lalu ada beberapa bagian yang di-zoom in. Terlihat banget kalau background lalu terlihat pixelated, karena memang asset fotonya bukan beresolusi tinggi.

Beberapa adegan malam yang menggunakan stok foto sebagai background juga terlihat janggal. Seharusnya saat lampu mengeluarkan cahaya akan terlihat pendaran. Lampu-lampu yang muncul sebagai bagian dari stok foto di background ini terlihat diam saja. Aneh banget jadinya.

Ada banyak adegan fight di film Garuda Superhero, dengan mayoritas background-nya menggunakan CGI. Yang gw perhatikan adalah, seperti tidak ada desain yang menggambarkan posisi para karakter yang lagi fight atau tembak-tembakan ini di mana di ruangan tersebut. Akibatnya adalah, banyak cut yang tidak jelas, kenapa tiba-tiba si karakter ini muncul di posisi ini? Lalu saat peluru ditembak, seharusnya bergerak ke mana? Kok yang itu bisa kena? Loh kok tiba-tiba ada jendela di belakangnya, untuk si karakter melompat menembus kaca? Dari mana mobil berkecepatan tinggi ini muncul dan menabrak? Posisi mobil seharusnya di bagian mana sih di ruangan ini?

Oh ya, acting Pak Slamet Raharjo yang jadi tokoh antagonis Durja di film Garuda Superhero ini sangat bagus. Kalau nggak ada beliau, mungkin gw sudah kendur semangat menontonnya di tengah-tengah.

Apakah elo lalu harus menonton film Garuda Superhero ini? Kalo gw sih memang sudah siap nonton dengan ekspektasi rendah. Jadi saat gw keluar bioskop tadi, gw tidak kecewa sedikit pun. Yang ada malah jadi bahasan rame-rama bareng teman yang nonton, tadi kejanggalan film ini di mana saja ya?

Kalo elo emang suka film superhero, CGI, dan ada uang jajan berlebih, nontonlah film ini. Setidaknya apresiasi para animator dan motion graphic artist yang sudah terlibat di dalamnya. Nggak ada dari mereka yang bisa langsung jago dalam profesinya, kecuali kalo mereka langsung terlibat dalam proyek. Gw yakin, buat mereka, keterlibatan mereka dalam film ini adalah hal yang sangat penting. Nggak mungkin kan membuat sebuah film dengan CGI berkualitas bagus tanpa ada proses belajar sebelumnya. Nah, anggap saja ini bagian dari proses pembelajaran mereka.

Akhir kata, mohon maaf kalo postingan ini dirasakan terlalu pedas. Gw hanya penonton biasa, namun gw masih ingin punya film animasi Indonesia yang bisa dibanggakan. Mungkin saat ini film Garuda Superhero belum bisa jadi jawabannya, tapi semoga film bisa menjadi langkah maju ke proses berikutnya yang lebih baik.

Tulisan ini juga bisa ditemukan di Google Plus.

Premiere Pendekar Tongkat Emas

Pagi tadi gw dan beberapa teman berkesempatan untuk datang ke pemutaran premiere Pendekar Tongkat Emas. Sebelumnya gw sudah pernah lihat preview trailernya saat event Hellofest, dan langsung penasaran tentang filmnya.

Lalu kayak gimana filmnya? Hahaha gak mungkin gw spoil ceritanya di sini. Bisa dimusuhin banyak orang nanti gw. Namun gw bisa share beberapa hal berikut, supaya elo tertarik untuk nonton filmnya:

1. Scenery film ini keren banget. Gak nyangka ada scenery seperti ini di bumi Indonesia. Miles Production memang dari dulu paling jago nemuin lokasi yang unik dan eksotik di negeri ini. Lokasi shooting di tanah Sumba. Kalau dilihat dari behind the scene-nya sih, diambil di lokasi yang memang belum banyak terjamah manusia. Konsekuensinya, memang biaya produksinya jadi mahal (katanya).

2. Setting. Kalo nggak salah, semua setting film ini dibangun sendiri, dan bukan mengandalkan bangunan yang sudah ada. Gw kebayang sih, kalau setelah film ini rilis, setting film ini malah bisa dijadikan tempat wisata, dan bisa menarik pendapatan wisata bagi masyarakat Sumba.

3. Action silat. Film ini sekitar 70-80% isinya adegan laga. Namun jangan bandingkan dengan Raid ya. Ini laga genre yang beda lagi. Kualitas berantemnya sangat keren. Hahaha dan gak perlu tuh ada efek bedak putih dan efek sinar saat berantem (kayak di sinetron).

4. Film ini murni fiksi, bersetting di tanah antah berantah. Gw gak perlu tau ini ceritanya di Indonesia atau bukan, di masa lalu atau bukan. Pokoknya film ini punya universe-nya sendiri. Meskipun demikian, corak budaya lokal kita tetap terasa di film ini. Nanti perhatikan deh betapa banyaknya elemen tekstur Sumba di film ini.

5. Sinematografinya bikin takjub kepala. Hampir semua cut-nya, kalau kita pencet tombol pause, sudah jadi banget tuh jadi suatu jepretan karya fotografi yang keren. Gw menemukan beberapa cut yang agak aneh sih transisi tone warnanya, tapi itu sangat minor dibandingkan overall seluruh filmnya.

6. Tara Basro.. Iya Tara Basro!

Hahahaha, mungkin itu 5+1 hal yang bikin gw tertarik saat menonton film ini.

Foto di bawah ini diambil usai pemutaran premiere filmnya.

Brengsek nih Nicsap.. sampai nanya gini ke gw coba, “Wah.. fans-nya Tara Basro ya? Yaa, Tara-nya nggak dateng hari ini..”
Gw cuma terdiam -__-

Tulisan ini juga bisa ditemukan di Google Plus.

Foto pinjam dari Rahne Putri.

pendekar tongkat emas 1

Preview Pendekar Tongkat Emas

Hari Minggu kemarin, saya mampir ke event Hellofest di Tennis Indoor Senayan. Sore hari memang ada presentasi dari Mira Lesmana dan Riri Riza tentang film terbaru mereka, Pendekar Tongkat Emas. Saat itu diputar juga teaser, trailer 2 menit, preview potongan film 2 menit, dan 3 behind the scene video-nya.

Setting-nya keren banget. Siapa yang menyangka tanah Sumba seindah itu. Proses shooting katanya mencapai 3 bulan, dan ongkos produksinya katanya mencapai 25 milyar. Weh, ini sih film lokal termahal hingga saat ini.

Mira juga bercerita kalau untuk memperkaya film ini, juga akan dirilis mobile game, yang diproduksi oleh Altermyth. Komiknya pun juga sudah ada, diterbitkan oleh MnC. Di Hellofest kemarin juga dijual buku behind the scene-nya secara terbatas. Hehehe, tapi saya nggak ikut beli sih.

Di event Hellofest kemarin juga muncul Reza Rahadian, Tara Basro (ya ampun, cakep bangeeet), Nicholas Saputra, dan Eva Celia, lengkap dengan kostum yang mereka kenakan di film. Mereka bercerita tentang pengalaman mereka selama proses produksi. Reza dan Tara bahkan berbagi cerita kalau sudah tak terhitung jumlahnya mereka berdua jatuh dari kuda selama proses produksi.

Filmnya kayak gimana? Haha saya sih pengin banget nonton. Lihat trailer-nya bikin ngiler soalnya. * menunggu sabar *

Galeri fotonya bisa dicek di album Flickr ini.

Postingan asli bisa dilihat di Google Plus.

IMG_8957

IMG_8956

IMG_8942

IMG_8944