Bricks Decool Architect 23 in 1

Biasanya dimulai dari meniru, lalu setelah itu mencoba membuat sesuatu yang baru. Mungkin itu prinsip yang dilakukan bricks merk Decool dari Tionghoa. Awal-awalnya merk ini sering bikin bootleg dari Lego, lalu lama-lama membuat versinya sendiri (meski tetap sih pakai propriety rights pihak lain tanpa izin, hahaha). Itu yang mereka lakukan untuk beragam desain minifigure versi mereka.

Selain minifigure, Decool juga mengeluarkan seri Architect. Kalau di Lego, ini mirip dengan seri Creator. Satu dus berisi banyak part yang bisa digunakan untuk membangun lebih dari 1 bentuk. Tentunya dengan petunjuk di dalamnya. Nah, di seri-seri awal memang Decool meniru abis bentuk dari Lego Creator, namun belakangan ini mereka sudah 100% mengeluarkan desainnya sendiri, tanpa melanggar propriety rights pihak lain.

Ada yang paling menakjubkan di antara desain terbaru itu, yaitu seri 3110. Sementara seri lainnya hanya 3 in 1 (3 macam desain dalam 1 dus), seri 3110 ini malah 23 in 1 (23 macam desain dalam 1 dus). Buku petunjuk di dalamnya memang hanya menceritakan 3 desain saja. Sisa 20 desain lainnya bisa diunduh online dari situs mereka.

DSCF6645
Lihat hasilnya yuk!

Berkreasi di Steller

Blog ini kok makin jarang update ya, padahal tulisan di draft menumpuk. Ternyata waktu juga yang menjadi batasannya. Hidup aktif di social media setelah dipotong waktu produktif untuk kerja, ternyata tidak banyak. Haha itu pun masih harus dialokasikan untuk keluarga dan hobi saya lainnya.

Sekarang waktu yang tidak banyak itu dipotong lagi dengan kehadiran Steller. Aplikasi ini baru dirilis di Indonesia seminggu yang lalu. Terima kasih untuk kak Pinot dan kak Dita yang rajin mempromosikan aplikasi menarik ini.

Sebenarnya fungsi bercerita dari Steller ini nggak jauh berbeda dengan Slideshare. Hanya saja, di Steller kita bisa membuatnya sendiri, sementara Slideshare mengutamakan hanya pada penyajian akhirnya. Steller telah menyiapkan beberapa template dengan desain font dan grafis yang menarik. Pengguna bisa mengunggah gambar, video, atau sekedar bercerita dengan teks. Saat ini aplikasi ini tersedia resmi di Appstore (untuk iOS) dan masih beta untuk Android. Saya yang pengguna Xiaomi Mi3 masih belum bisa menggunakannya.

steller01
Lanjut baca cerita tentang Steller

25 Foto Replika Kejadian Star Wars: The Force Awakens

Kamu pasti sudah nonton Star Wars: The Force Awakens kan?

Di Flickr kan saya mem-follow banyak tipe fotografer. Salah satu yang saya follow adalah fotografer yang suka motret mainan. Salah satu cita-cita saya dulu ingin jago motret mainan, haha tapi apa daya ngoleksi saja nggak. Mikir-mikir selalu setiap kali mau ngeluarin duit buat belanja mainan.

Jadinya kenikmatan visual terhadap mainan ini saya dapatkan saja dari para fotografer keren ini. Mumpung film Star Wars: The Force Awakens lagi ngehits, mereka ikutan membuat serial foto berdasarkan adegan di film tersebut. Berikut ini beberapa fotonya.

Klik lanjut dong, biar bisa lihat foto-foto mainannya

Need – Want, Create – Collect

Tadi pagi menjelang subuh, saya menulis tweet di atas. Mencoba mengingatkan diri untuk tidak memulai mengoleksi sesuatu lagi. Dua pesan yang biasanya saya selalu ingat-ingat saat saya mulai tertarik akan suatu hobi koleksi tertentu.

Saya termasuk orang yang mudah tertarik untuk mengoleksi sesuatu sebagai hobi. Namun saat saya mulai, saya bisa tidak berhenti, meski itu ujung-ujungnya menguras dompet. Sesuatu yang sudah pernah saya alami dulu, dan tidak ingin saya ulangi lagi.

Dahulu saya termasuk yang gila mengoleksi komik US. Saya membeli banyak komik setiap bulannya. Boros banget, apalagi untuk hitungan saya saat itu sebagai seorang mahasiswa. Saya merasa kurang kalau tidak belanja komik dan membaca ceritanya lebih lanjut setiap bulannya. Bahkan saat seri itu tidak menarik lagi, saya masih membelinya demi saya memiliki lengkap semua nomor seri komik tersebut.

Hal yang menjadi justifikasi saya melakukan itu selalu sama. Komik ini menarik, dan punya nilai lebih. Bila membeli komik yang tepat dan menjadi hits (entah karena cerita, ilustratornya, dll) nilai komik itu kan menjadi tinggi, karena semakin dicari orang untuk koleksi. Pemikiran ini selalu menjadi pembenaran bagi saya untuk membeli dan terus membeli. Padahal, tidak ada satupun komik itu yang akhirnya saya jual sampai sekarang, meski kenyataannya ada yang benar harganya melambung tinggi kalau dijual ke pasar luar.

Akhirnya saya berhasil menghentikan kebiasaan mengoleksi itu karena nilai dolar yang waktu itu tiba-tiba melambung tinggi. Sudah di luar kemampuan saya untuk membelinya. Saat saya berhenti, langsung saat itu saya coba berhenti total. Tidak membeli sama sekali. Dorongan untuk membeli terus ada, namun nalar dan dompet menghalangi dorongan itu untuk muncul.

Waktu berselang dan keinginan untuk mengoleksi sesuatu selalu saja muncul. Mungkin bukan lagi komik, tapi hal lain yang menjadi ketertarikan saya selanjutnya. Melihat action figure, Lego, DVD, atau apapun memunculkan dorongan mengoleksi sesuatu kembali. Pengalaman dengan komik dahulu menjadi pengingat supaya saya tidak lagi mengulangnya. Lebih baik saya tidak mulai sama sekali daripada saya tidak bisa berhenti lagi. Saya jadi punya semacam “mind block” untuk menutup dorongan itu.

Biasanya orang yang tertarik dengan shopping, saat melihat barang diskon, akan mudah tertarik untuk membelinya, padahal belum tentu barang itu dibutuhkan. Jangan salah, kalau saya belum pernah punya pengalaman di atas, mungkin saya akan melakukannya pula. Sekarang setiap kali melihat suatu barang menarik, “mind block” saya mencoba menghalanginya. Saya selalu berpikir, barang itu nggak akan terpakai, barang itu nggak akan saya gunakan. Saya nggak butuh banget barang itu. Susah? Awalnya memang seperti itu. Namun percayalah, begitu akhirnya saya sudah pulang ke rumah, berpikir tenang, saya lalu bersyukur karena saya tidak membeli barang tersebut.

Kalau sesampainya di rumah, ternyata saya masih memikirkannya, saya akan mencoba merasionalisasikannya. Apakah benar barang itu akan dibutuhkan? Bila memang benar-benar dibutuhkan, baru saya akan kembali esok harinya ke toko tersebut untuk membelinya.

“Mind block” ini yang akhirnya pun bisa menghalangi saya untuk membeli barang hanya karena diskon. Saya tidak pernah lagi peduli dengan diskon sekarang. Lebih baik saya membeli suatu barang karena benar-benar dibutuhkan, meski saat itu tidak diskon, daripada saya membeli barang setiap kali terjadi diskon. Seharusnya, biaya yang saya keluarkan akan tetap lebih murah.

Kembali ke urusan koleksi-mengoleksi, dorongan ini masih saya rasakan hingga sekarang. Contoh terakhirnya adalah kemarin. Saat kumpul dengan teman-teman fans JKT48, seseorang membawa koleksi photo pack-nya di album. Saya buka satu demi satu, dan menemukan sesuatu yang luar biasa di sini. Ada edisi terbatas. Ada beberapa foto yang punya nilai lebih daripada yang lain. Bahkan ada seseorang yang punya koleksi seri lengkap dan menjualnya dengan harga tinggi. Sekarang untuk foto tertentu, nilainya bisa berlipat-lipat jauh dari harga pembeliannya. Sama persis konsepnya dengan saat saya mengoleksi komik dahulu.

Saya pun sadar, kalau saya memulai ini, saya tidak akan bisa menghentikannya lagi. Saya akan mengulang kebiasaan yang sudah lama saya coba tekan dan hilangkan. Saya pun mencoba menulis 2 tweet tersebut tadi pagi. Mencoba mengingatkan diri supaya tidak terjerumus ke kebiasaan lama.

Saya harus ingat kalau ini hanya “want” bukan “need.”

Saya juga harus ingat kalau saya lebih suka “create” daripada “collect.”

Lebih baik saya kembali menciptakan sesuatu yang menarik yang berhubungan dengan fandom JKT48 daripada saya mengumpulkan sesuatu kembali. Saya waktu itu sudah membuat survei tentang fans. Sesuatu yang akhirnya dibaca banyak orang, dan saya senang karenanya. Ini yang sejak pagi saya terus ingat-ingat di benak, membangun “mind block” supaya tidak tertarik lebih dalam untuk mengoleksi photo pack.

Syukurlah, seiring dengan penulisan blog ini, dorongan untuk itu mulai berkurang. Sekarang, saya harus mencoba mengalihkan pemikiran untuk membuat sesuatu yang menarik lagi selain survei yang sudah pernah saya buat dulu. Namun apa ya…?

Tertipu Juga :(

Teman-teman mohon hati-hati ya. Kejadian ini saya alami kemarin siang, yang mengakibatkan saya kehilangan DSLR + powerbank + lensa tambahan iPhone. Sudah saya ikhlaskan semua barang itu sih, cuma tetap saja masih gondok dengan para penipu itu. Mudah-mudahan mereka semua dapat karmanya saja deh.

Ceritanya begini. Kemarin siang usai nyoblos Pilkada, saya berangkat ke Kemayoran. Kebetulan seorang teman memberikan undangan untuk bisa datang ke IIMS (Indonesia International Motor Show) di hari pertama. Mau dong, masa rejeki ditolak sih. Kali ini saya berangkat membawa mobil, karena toh kemarin hari libur. Jalan cenderung kosong, sehingga nggak akan bikin saya kesal karena macet.

Mungkin ini akibat saya sendiri juga yang sudah lama tak menyetir mobil, sehingga kena dengan tipuan ini. Saat saya melewati depan Pasar Baru, seorang di atas motor lewat sambil menunjuk-nunjuk ban belakang kanan. Saya curiga, jadi saya diamkan saja. Tak lama ada motor kedua lewat, sambil menunjuk arah yang sama. Kali ini saya mulai mikir. Pengalaman saya dengan mobil juga nggak seberapa bagus. Bisa dibilang saya sering punya masalah dengan mobil saat menyetir (padahal nyetirnya jarang). Jadi, saya sempat berpikir, jangan-jangan memang mobilnya lagi?

Saya sempat minggir. Saya turun, mobil dikunci, lalu lihat ke ban belakang kanan. Tidak ada apa-apa. Meski heran, saya tetap kembali ke mobil dan berjalan.

Baru jalan beberapa meter, motor ketiga lewat dan kembali memberi aba-aba yang sama. Ia kini lebih mendekati mobil dan menunjuk ban. Di sinilah saya melakukan kesalahan. Kali ini saya minggir dan turun. Sialnya, kali ini saya teledor dan lupa mengunci pintu. Si pengemudi motor juga mendekat lalu ngajak ngobrol saya tentang sesuatu yang sempat ia lihat jatuh dari arah ban belakang kanan. Tak lama ia pun pergi.

Saya lalu berjalan mengelilingi mobil, lalu melihat pintu kiri nggak tertutup kencang. Masih belum sadar juga, saya pun kembali ke bangku mobil. Di situlah saya baru sadar ketika melihat tas kecil yang saya taruh di bangku samping depan sudah nggak ada. Aaakkh… Baru sadar kalau tadi semua adalah skema penipuan, yang sebetulnya sudah pernah saya dengar berkali-kali.

Penipuan ini dilakukan setidaknya minimal 4 orang ini (3 orang di motor yang peringatan, dan 1 orang yang mengambil dari bangku samping kiri saat kita lengah). Lokasinya di jalan raya utama. Ini di depan Pasar Baru, setelah halte bus Trans Jakarta.

Pesan saya sih kalau ada kejadian serupa seperti di atas, jangan langsung percaya. Bahkan kalau sampai ada 3 atau 5 atau bahkan 10 orang memberi informasi yang serupa. Mereka berhasil menipu kita karena mereka konsisten melakukannya, sehingga kita jadi percaya. Apapun yang terjadi, kalau memang mau mengecek kendaraan, berhentilah di tempat yang lumayan jauh dari tempat kejadian perkara.

Semoga kejadian yang menimpa saya ini, tidak terulang lagi pada teman-teman sekalian ya.. 🙂