Genki Sushi

Hari Minggu kemarin sempat mencoba makan siang di Genki Sushi, Grand Indonesia West Mall lantai 2. Lokasinya gabung dengan Seibu. Tanya saja deh kalau nggak nemu. Susah jelasin posisi persisnya.

DSCF3939

DSCF3921

Di restoran sushi ini, cara memesannya beda dengan restoran sushi lainnya. Di setiap meja tersedia 1 iPad. Pemesanan menu melalui aplikasi yang sudah ditanam di iPad. Pilih saja sesuai gambar. Jumlah porsinya sudah terlihat di gambar. Tekan tombol Confirm lalu tunggu sejenak.

Continue reading “Genki Sushi” »

Mrs. Waffles

Ini bukan postingan berbayar yaa..

Hari Minggu kemarin ketika jalan-jalan ke suatu mall, keponakan saya minta dibelikan waffle di salah satu mini kios makanan. Nama kiosnya Mrs. Waffle.

Belakangan ini saya memang selalu membawa kembali kamera mirrorles Fujifilm X100S saat jalan-jalan. Lalu saya kepikiran, kenapa nggak saya coba sekalian dokumentasikan saja proses pembuatan dan penyajiannya.

Berikut ini beberapa foto hasil jepretannya, tanpa memasuki proses editing sama sekali. Kayaknya nanti kalau belanja makanan di tempat lain, akan saya coba fotoin juga deh seperti ini.

DSCF3674

DSCF3654

Lihat foto-foto selanjutnya yuk!

From Tugu To KM 0 Jogja

DSCF1466

Seperti biasanya setiap tahun saya berlebaran di Jogja. Selain silaturahmi dengan Eyang dan keluarga lainnya yang berada di Jogja, tentunya saya juga hunting motret ke beberapa tempat. Saya sempat mendatangi Alun-alun Selatan pada saat sore hari, Pantai Jogan yang berada di pesisir selatan Jogja, Candi Prambanan, dan tentunya Malioboro. Beberapa tempat ini sebelumnya sudah pernah saya datangi sebelumnya. Berkali-kali malahan, apalagi yang namanya Malioboro. Rumah Eyang yang berdekatan dengan Malioboro memungkinkan saya untuk mampir bolak-balik setiap hari (kalau mau).

Kali ini saya mau mencoba sesuatu yang beda, sesuatu yang pastinya lebih melelahkan buat saya sendiri. Saya ingin mencoba mendokumentasikan aktivitas di sepanjang Malioboro saat siang dan sore hari. Biar lebih panjang dan menantang, saya menambahkan jalan Mangkubumi pula (sebelum Jalan Malioboro yang terpisahkan oleh rel kereta api). Persisnya saya mulai dari Tugu Jogja yang memang sudah menjadi ikon kota ini. Rute foto saya akhiri di KM 0 Jogja, yang berada di ujung akhir Malioboro, sebelum memasuki area alun-alun.

DSCF1581

Dulu ke mana-mana saya selalu memotret menggunakan kamera DSLR Canon EOS 5D Mark II. Lumayan berat kalau dipakai untuk travelling, namun kualitasnya tidak pernah mengecewakan. Namun sejak beberapa bulan lalu saya mencoba kamera mirrorless Fujifilm X100S. Kamera yang mirip pocket ini punya kemampuan yang nggak kalah hebatnya dengan DSLR. Ringan dan praktis pula. Sangat ideal untuk yang suka motret saat travelling dan melakukan street photography.

Akhirnya dengan modal X100S yang saya tenteng terus, saya pun berjalan-jalan bolak-balik Tugu hingga KM 0 Jogja. Panjang itu loh kalau dipikir-pikir. Hahaha.. Saya melakukan aksi motret pada tanggal 31 Juli dan 1 Agustus 2014. Beberapa daerah saya lalui berulang-ulang pula. Saat sore hari saya lewati juga sebagian jalan yang sudah saya telusuri. Capek? Bangeeet. Malamnya kaki pegal parah. Tapi senang? Senang bangeeet…

Hasil foto dari X100S sudah saya set menjadi hitam putih. Hasilnya bagus. Namun tetap saja sih, biar saya merasa sreg, semua foto yang diambil ini saya edit ulang menggunakan Lightroom. Semua dibuat hitam putih versi Lightroom. Hasilnya adalah 186 foto yang bisa dicek di slideshow berikut ini.

[fshow photosetid=72157645704629339]

Versi fullscreen juga bisa dilihat langsung di galeri flickr di tautan ini.

Restoran Pizza di Jalan Sudirman Jogja

Salah satu hal di Jogja yang tak berubah sejak dulu adalah banyaknya spanduk dan billboard yang mengotori wajah kota. Di mana-mana terlihat iklan yang asal taruh saja. Banyak pula bangunan yang setelah dibangun justru (saya anggap) merusak wajah Jogja. Bangunan dengan fasade khas yang sebetulnya bisa membuat Jogja semakin unik dan khas, malah “dirusak” dengan bangunan modern yang malah membuat Jogja semakin mirip dengan kota-kota modern lainnya.

Kalau pemilik bangunan mungkin berpikir, semakin modern semakin keren. Kalau saya malah berpikir sebaliknya, semakin vintage semakin keren. Apalagi kalau saya melihat ada bangunan lama yang sudah beralih fungsi menjadi modern, tapi tetap bisa mempertahankan kekhasannya. Itu keren banget. Modern dan vintage jadi satu kesatuan.

Kemarin baru pertama kalinya saya mampir menjejakkan diri masuk ke restoran Pizza Hut di Jalan Sudirman Jogja. Restoran ini sebenarnya sudah lama sih, pindahan dari restoran yang sebelumnya berada di dekat monument Tugu Jogja. Yang bikin saya suka dengan restoran ini adalah bangunannya yang tetap mempertahankan bentuk aslinya. Bapak saya kemarin malah cerita, kalau bangunan ini dahulu banget adalah rumah temannya waktu kecil dulu. Entah pindah ke mana si teman sekarang.

Fasade bangunan tetap asli, dengan perbaikan di sana sini. Unsur modern yang menjadi branding Pizza Hut bisa diimplementasi menjadi bagian dari fasade. Ada modern dan ada vintage. Kalau melihat bangunan ini, jadi ingat restoran Pizza Hut serupa di daerah Senen Jakarta. Di sana, restoran ini menggunakan bangunan lama yang menjadi ekstensi mall atrium Senen.

Bagian dalam interior Pizza Hut Sudirman ini juga nggak kalah menarik. Ruang-ruang tetap dipertahankan sesuai aslinya, namun dicat modern sesuai kekhasan saat ini. Ada pula area terbuka yang memanfaatkan teras asli bangunan. Menyenangkan sekali melihat isinya.

Hmm.. seandainya semakin banyak brand besar yang berani merenovasi bangunan lama dan memanfaatkannya untuk fungsi baru tanpa merusak keasliannya, tentu wajah kota di Indonesia akan semakin baik.