Jalan-jalan Menyusuri Pecinan Jakarta

Bulan lalu saya pernah ikut jalan-jalan menyusuri Cikini bareng @JKTGoodGuide. Hari Senin pas libur hari raya Imlek ini, saya pun kembali ikutan. Kali ini rute yang ditempuh adalah menyusuri daerah China Town (Pecinan)-nya Jakarta, alias Glodok dan sekitarnya.

DSCF3767

Kami berkumpul pukul 9 pagi di 7-Eleven Hotel Novotel Gajah Mada. Lokasinya tidak jauh dari halte bus Olimo. Setelah berkumpul, rombongan dipecah menjadi 3 kelompok, dengan kelompok saya yang dipimpin Mas Farid berangkat lebih dulu. Masih satu kompleks dengan Novotel, tepat di belakangnya terlihat bangunan cagar budaya dengan gaya arsitektur Tionghoa. Papan bertulisan Candra Naya terpajang di atas pintu utama. Rumah ini dahulu adalah kediaman Mayor Khouw Kim An. Bentuk atap rumah ini terlihat melengkung bergaya Tionghoa dengan kedua ujungnya terbelah dua, sering disebut dengan “Ekor Walet.” Bentukan atap ini menunjukkan strata sosial penghuninya.

DSCF3764

DSCF3780

Cerita masih panjang. Lanjut yuk!

Indonesia Comic Con

Hari Sabtu dan Minggu kemarin ada perhelatan besar di JCC, di mana para pelaku dunia komik, karakter, mainan, cosplay berkumpul. Event Indonesia Comic Con ini pertama kalinya diadakan di Jakarta. Akhir September kemarin juga ada event bernama mirip, Jakarta Comic Con, dengan penyelenggara yang berbeda.

Hari pertama saya datang sekitar pukul 13:00 siang. Antrian pembelian tiket terlihat cukup panjang, namun ternyata saya tidak perlu mengantri lama. Selain dibeli di tempat, tiket katanya dijual pula di Indomaret dan Kiostix. Sayangnya saat saya mencoba datang ke Indomaret dekat rumah sebelumnya, nama event Indonesia Comic Con tidak muncul di data di kasir. Hmm, entah apakah ini terjadi di lokal dekat rumah atau berlaku untuk setiap cabang Indomaret.

Setelah membeli tiket, ternyata untuk masuk pun harus kembali mengantri untuk pengecekan. Tepat banget saya masuk ke dalam ruangan ketika bintang tamu Kenji Ohba muncul di panggung utama. Beliau adalah pahlawan saya waktu kecil dulu, saat era video bajakan Betamax mudah disewa di mana-mana. Kenji Ohba adalah pemain utama Uchu Keiji Gavan yang populer di tahun 1980-an. Di panggung, Kenji bercerita tentang pengalaman hidupnya menjadi beragam tokoh hero di banyak serial Jepang. Beliau juga memamerkan gerakan perubahan menjadi Gavan, yang sering saya ikuti dulu waktu kecil.

IMG_0271-0273

Yuk lihat hal lain yang menarik di Indonesia Comic Con

Memotret di Petak Sembilan

Kebiasaan setiap hari libur Imlek selama beberapa tahun belakangan ini adalah berjalan-jalan ke Petak Sembilan, Glodok, Kota, Jakarta. Setiap tahun saat Imlek, Vihara Dharma Bhakti, vihara tertua di Jakarta yang berlokasi di daerah ini selalu penuh dengan kedatangan umatnya untuk berdoa. Vihara ini juga bebas diakses oleh umum, jadi semua orang boleh masuk kapan saja.

Kalau mau mampir ke sini, kalian bisa menggunakan bus Trans Jakarta koridor 1, lalu turun di halte Glodok. Lalu berjalanlah menyeberang ke arah Jl. Gajah Mada. Ada jalan kecil masuk tak jauh dari tangga penyeberangan di halte tersebut. Lalu masuk saja terus ke dalam. Di ujung jalan akan langsung terlihat Vihara ini. Di dekat Vihara ini juga ada satu Vihara lain yang lebih kecil, yang juga ramai dikunjungi. Ada pula bangunan gereja lama Santa Maria de Fatima yang kini masih terus dipakai untuk ibadah. Uniknya, eksterior dan interior gereja ini masih kental dengan unsur etnik Cina. Kalau mau detil cerita tentang sejarah bangunan-bangunan ini, bisa baca tulisan lama teman saya di blognya.

Kalau kalian ke sini di hari raya Imlek, yang datang memenuhi lokasi memang bukan hanya mereka yang beribadah. Banyak juga kru media dan mereka yang hobi fotografi (termasuk saya). Belum lagi pekerja di Vihara yang sibuk mondar-mandir menyiapkan kebutuhan ibadah. Pesan saya sih, kalau memang niat motret di sini, jangan sampai mengganggu mereka ya.

Berikut ini beberapa foto hasil jepretan kemarin siang di Petak Sembilan. Lebih lengkapnya bisa langsung kunjungi galeri Flickr ini.

IMG_4175

IMG_4115

IMG_4130

IMG_4230

Jambi: Candi Muara Jambi

DSCF3207

Saat hari terakhir saya di Jambi, saya menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu warisan budaya yang kini menjadi cagar budaya nasional, yakni Candi Muara Jambi. Hari itu saya diantar dua orang teman dari komunitas Sahabat Ilmu Jambi. Mumpung ada kendaraan, hahaha..

Lokasinya memang di luar kota Jambi, sekitar 30 menit dari pusat kota. Untuk Jambi 30 menit itu lumayan jauh loh. Perjalanan melewati jembatan yang menyeberangi Sungai Batanghari dan melewati beberapa perkebunan sawit.

Mungkin karena saat itu hari Senin, tidak banyak wisatawan yang berkunjung. Parkiran kendaraan terlihat kosong. Saya dikenalkan dengan seorang pengrajin batu yang memiliki bengkel di area parkir kompleks candi. Batu akik memang lagi tren ya. Si pengrajin cerita kalau ia dapat banyak order ratusan batu akik dari Jakarta.

Tiket masuk ke kompleks candi murah. Rp. 5.000,00. Hihihi tapi meski murah, saya malah dibebaskan untuk masuk. Teman saya yang di Jambi ini memang kenal banyak dengan masyarakat Jambi. Ia ternyata sering juga mengantar tamu ke berbagai tempat wisata.

DSCF3218

Jangan bayangkan Candi Muara Jambi seperti Candi Boko, Prambanan, Borobudur, atau candi-candi lainnya di Jawa ya. Mungkin sudah banyak yang tau juga, kalau candi-candi di kompleks ini bukan dibangun dengan bahan batu, tapi dengan bahan batu bata.

Saya bilang candi-candi, karena memang kompleks ini memiliki candi yang bertebaran luas di seluruh kompleksnya. Lokasi antara candi pun banyak yang berjauhan. Makanya tersedia banyak penyewaan sepeda di sana.

Karena waktu yang terbatas, saya hanya mengunjungi beberapa candi saja. Candi yang tersebar di sekitar area masuk, dan Candi Astano yang agak jauh, yang harus ditempuh sejauh 800 meter dengan berjalan kaki. Lumayan ya?

Katanya di musim hujan, di sekitar candi ini akan terlihat air mengalir di paritnya. Sayangnya, saat itu parit terlihat kering. Namun ada hal yang menarik di Candi Astano. Di sekitar candi terlihat banyak bunga kuning mekar. Langsung saja dong ini saya dokumentasikan.

Sekedar tips, kalau nanti ada di antara kalian yang mau mampir ke kompleks Candi Muara Jambi, pastikan datang sepagi mungkin. Sewa sepeda, lalu jalan-jalanlah ke seluruh kompleksnya. Kalau kata wikipedia nih, luas kompleks ini 12 km persegi, dengan panjang lebih dari 7 kilometer.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3233

Jambi: Rumah Batu

DSCF3254

Rumah Batu berada di daerah Seberang di Jambi. Lebih tepatnya sih di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi. Kalau jalan kaki dari Menara Gentala Arasy sih bisa.. hehe tapi jauh juga. Jadi mending ke sananya pakai kendaraan.

Dari tepian jalan memang tidak kelihatan. Penandanya hanya papan kecil yang menunjukkan kalau ada bangunan bernama Rumah Batu yang kini menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi. Awalnya saya membayangkan, kalau Rumah Batu itu adalah rumah yang masih terlihat seperti rumah sebenarnya, namun setelah melihat kondisinya, rumahnya sudah mengenaskan. Entah kenapa pihak Pemda Jambi tidak merenovasinya, dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Yang ada ini didiamkan saja. Jendela yang sudah banyak yang hilang. Atap banyak yang bolong. Bahkan untuk berteduh di kala hujan pun sepertinya sudah tidak memungkinkan.

DSCF3255

Menurut cerita, rumah ini dahulu adalah milik Said Idrus bin Hasan Al Djufri, atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Wiro Kusumo. Ia adalah seorang keturunan Arab yang mendapat kedudukan penting di Kesultanan Jambi, hingga ia wafat di tahun 1901. Rumah itu kemudian dihuni oleh keturunannya.

Apa sih yang membuat rumah ini menjadi cagar budaya? Dari dekorasi di gerbang dan pintu masuknya memang terlihat kalau desain rumah ini merupakan perpaduan dari budaya lokal, Cina, dan Eropa. Unsur lokal berupa rumah panggung (seperti banyak rumah lainnya di daerah Seberang, Jambi). Unsur Cina terlihat dari bentuk atap, gapura, dan ornamen dinding yang berbentuk naga, awan, bunga, dan arca singa. Lalu unsur Eropa terlihat dari tiang-tiang panggung yang terbuat dari bata dan semen.

Di hadapan rumah ini terhampar area rumput yang cukup luas. Sepertinya meski rumah ini sudah terlihat mengenaskan, masih tetap menarik bila dijadikan lokasi pemotretan. Kata teman sih, memang sudah cukup banyak fotografer dan modelnya yang mengambil rumah ini sebagai lokasinya.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3260