Jambi: Menara Gentala Arasy

DSCF3136

Menara Gentala Arasy ini berada di ujung jembatan yang saya ceritakan di 2 tulisan sebelumnya. Saat saya mampir ke sana, kelihatan interiornya masih dibenahi. Katanya sih nanti akan dipakai sebagai museum. Hehehe awalnya saya kira ini mesjid dari kejauhan.

Ujung jembatan pejalan kaki itu langsung menempel di area dak di lantai dua menara ini. Di dak ini, saya bisa melihat rumah-rumah warga Jambi yang berada di sekitar, di daerah Seberang. Terlihat berbeda banget dengan suasana pusat kota Jambi yang terpisah dengan Sungai Batanghari ini.

DSCF3137

Di Seberang memang masih dipertahankan keaslian daerah Jambi. Rumah-rumahnya masih berupa panggung. Tidak ada pertokan besar seperti Alfamart atau restoran mewah di sini. Yang ada hanya warung biasa. Budaya di daerah Seberang pun masih dipertahankan seperti aslinya. Saat sore masih terlihat warga yang bergerak berkumpul untuk mengaji bersama. Masih pula ada kegiatan masak dan makan bersama-sama. Sesuatu yang bahkan sudah tak terlihat lagi di pusat kota Jambi.

Katanya, malah ada beberapa warga yang memutuskan untuk tetap tinggal di Seberang, demi tidak kehilangan akar budayanya, walau setiap hari mereka harus bekerja di pusat kota Jambi. Bahasa daerah yang digunakan di Jambi ternyata sangat beragam. Mereka yang tinggal di Seberang memiliki ciri khas bahasanya sendiri pula.

Di daerah Seberang, sekitar 1-1,5 kilometer (kurang tau persisnya berapa), dari Menara Gentala Arasy, terdapat Rumah Batu, yang merupakan salah satu cagar budaya Jambi. Kayak gimana sih Rumah Batu itu? Nanti ya di tulisan selanjutnya.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3145

Jambi: Jembatan Gentala Arasy

DSCF3060

Hari Jumat hingga Senin sore kemarin saya berkesempatan untuk datang ke Jambi. Saat itu memang diundang untuk jadi salah satu pembicara yang berbagi cerita dengan topik Social Media for Social Good. Usai acara, tentunya dipakai untuk jalan-jalan dong.

Saya dan teman-teman dari KOPHI dan US Embassy (yang jadi penyelenggara acara) diajak oleh teman-teman baru dari Sahabat Ilmu Jambi (yang jadi panitia lokal), untuk berkeliling kota Jambi. Salah satunya adalah mampir ke tepian Sungai Batanghari.

Saat itulah baru saya tahu, kalau di Jambi punya icon baru yang akan menjadi kebanggaan kotanya. Namanya jembatan Gentala Arasy yang menghubungkan 2 bagian kota Jambi yang terpisah oleh salah satu sungai terbesar di Indonesia ini. Yang lebih mengejutkan lagi adalah, jembatan ini hanya khusus untuk pejalan kaki.

DSCF3057

Salah satu ujung jembatan berada tepat di depan Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jalan Sultan Thaha, Kecamatan Jambi Timur, dan ujung satunya berakhir di Menara Gentala Arasy di Seberang Kota Jambi, Kelurahan Arab Melayu, Kecamatan Pelayangan.

Saat saya datang kemarin, jembatan ini memang belum dibuka untuk umum. Katanya sih baru akan resmi dibuka nanti bulan Februari 2015. Karena jembatan belum dibuka, maka kami pun menyeberang menggunakan getek sewa. Cerita tentang penyeberangan ini nanti ya di postingan selanjutnya.

Koleksi seluruh foto perjalanan ke Jambi bisa dicek di galeri Flickr ini.

DSCF3090

Cinematic Street Photography

Saya sering buka-buka galeri street photography karya orang lain, baik di Flickr maupun 500px. Di antara beragam street photography itu, ternyata ada satu genre yang menarik perhatian saya belakangan ini. Istilahnya “cinematic street photography.” Karya foto Jeff Krol dan James Yeung sering jadi acuannya.

Lalu apa uniknya genre ini? Foto hasil karya ini seakan-akan diambil dari potongan film sinema. Anggap saja kalian menonton Bluray atau DVD film sinema, lalu kalian menekan tombol pause. Nah, kalau kalian bisa menghasilkan jepretan foto seperti saat sebuah film sinema di-pause, nah itulah cinematic street photography.

Yang menjadi ciri khasnya (meski tidak wajib), adalah kesan widescreen dari foto. Ukuran gambar (termasuk bar hitam widescreen) dibuat dalam ratio 16:9, dengan foto di dalamnya berukuran ratio 2,35:1. Jepretan foto berupa candid, sesuatu yang tak terduga, dan memang bukan di-pose-kan. Tone foto pun dibuat seperti film sinema (ini sih sebetulnya bagian tersusahnya).

Silakan jenguk group foto ini di Flickr, supaya lebih terbayang. Ada pula tutorial dari David Geffin di sini.

Saya sendiri baru mencoba bereksperimen dengan genre ini. Berikut ini adalah foto yang diambil saat Pawai Seni dan Budaya Kreatif 2014 di Monas beberapa minggu lalu. Saya mengedit tone foto dan menambahkan efek widescreen. Galeri lebih lengkap bisa dijenguk di sini.

[fshow photosetid=72157647395157880]

From Tugu To KM 0 Jogja

DSCF1466

Seperti biasanya setiap tahun saya berlebaran di Jogja. Selain silaturahmi dengan Eyang dan keluarga lainnya yang berada di Jogja, tentunya saya juga hunting motret ke beberapa tempat. Saya sempat mendatangi Alun-alun Selatan pada saat sore hari, Pantai Jogan yang berada di pesisir selatan Jogja, Candi Prambanan, dan tentunya Malioboro. Beberapa tempat ini sebelumnya sudah pernah saya datangi sebelumnya. Berkali-kali malahan, apalagi yang namanya Malioboro. Rumah Eyang yang berdekatan dengan Malioboro memungkinkan saya untuk mampir bolak-balik setiap hari (kalau mau).

Kali ini saya mau mencoba sesuatu yang beda, sesuatu yang pastinya lebih melelahkan buat saya sendiri. Saya ingin mencoba mendokumentasikan aktivitas di sepanjang Malioboro saat siang dan sore hari. Biar lebih panjang dan menantang, saya menambahkan jalan Mangkubumi pula (sebelum Jalan Malioboro yang terpisahkan oleh rel kereta api). Persisnya saya mulai dari Tugu Jogja yang memang sudah menjadi ikon kota ini. Rute foto saya akhiri di KM 0 Jogja, yang berada di ujung akhir Malioboro, sebelum memasuki area alun-alun.

DSCF1581

Dulu ke mana-mana saya selalu memotret menggunakan kamera DSLR Canon EOS 5D Mark II. Lumayan berat kalau dipakai untuk travelling, namun kualitasnya tidak pernah mengecewakan. Namun sejak beberapa bulan lalu saya mencoba kamera mirrorless Fujifilm X100S. Kamera yang mirip pocket ini punya kemampuan yang nggak kalah hebatnya dengan DSLR. Ringan dan praktis pula. Sangat ideal untuk yang suka motret saat travelling dan melakukan street photography.

Akhirnya dengan modal X100S yang saya tenteng terus, saya pun berjalan-jalan bolak-balik Tugu hingga KM 0 Jogja. Panjang itu loh kalau dipikir-pikir. Hahaha.. Saya melakukan aksi motret pada tanggal 31 Juli dan 1 Agustus 2014. Beberapa daerah saya lalui berulang-ulang pula. Saat sore hari saya lewati juga sebagian jalan yang sudah saya telusuri. Capek? Bangeeet. Malamnya kaki pegal parah. Tapi senang? Senang bangeeet…

Hasil foto dari X100S sudah saya set menjadi hitam putih. Hasilnya bagus. Namun tetap saja sih, biar saya merasa sreg, semua foto yang diambil ini saya edit ulang menggunakan Lightroom. Semua dibuat hitam putih versi Lightroom. Hasilnya adalah 186 foto yang bisa dicek di slideshow berikut ini.

[fshow photosetid=72157645704629339]

Versi fullscreen juga bisa dilihat langsung di galeri flickr di tautan ini.

Berkeliling Akihabara

Stasiun Akihabara bisa dicapai dari Shinjuku dengan menggunakan Chuo Line. Sesampainya di Akihabara, saya tak menyangka kalau ini ternyata adalah stasiun lama. Terlihat dari cat bangunan yang mulai kusam. Meskipun demikian, stasiun ini termasuk salah satu yang teramai di Tokyo. Akihabara telah lama menjadi pusat elektronik. Kini tempat ini telah menjelma menjadi surga para otaku.

AKB48 Cafe & Shop
AKB48 Cafe & Shop

Masih di stasiun Akihabara, di sisi luar, terlihat AKB48 Café & Shop. Dua buah toko menghapit kafe yang berada di sisi tengah. Isi toko tak jauh berbeda sebetulnya dengan SKE48 Café & Shop di Sakae, Nagoya. Para penjaganya mengenakan seifuku yang bernada sama dengan yang biasa dipakai oleh AKB48. Beragam merchandise dengan foto para anggota AKB48 menjadi jualan utama. Gantungan kunci, kipas, holder, map, magnet, hanyalah sebagian dari isinya. Buat saya pribadi, isi toko ini tidak terlalu menarik. Bisa jadi karena saya sendiri bukan pengoleksi merchandise seperti ini.

Saat itu saya juga melihat cukup panjang juga antrian masuk ke dalam kafe. Sebenarnya kafe ini tak berbeda jauh dengan kafe-kafe lainnya. Seperti kafe di SKE48 Café & Shop, menu makanan dan minuman mendapat rekomendasi dari beberapa anggota AKB48.

Akihabara
Akihabara

Sementara Didut masih tetap di Shinjuku, saya dan Ipi menyusuri jalan utama Akihabara. Isi toko-toko di jalan ini sungguh kontras dengan daerah Tokyo lain yang sudah kami datangi. Sepanjang jalan bisa ditemukan toko-toko yang spesifik hanya menjual manga (baik umum maupun dewasa), JAV, mainan, suvenir, game, hingga yang khusus hanya berjualan photopack.

Biasanya setiap beberapa minggu sekali, AKB48 akan merilis serial photopack dengan tema tertentu. Model rilis photopack ini yang juga diadaptasi oleh JKT48 di Jakarta. Hanya bedanya, skala fandom di Akihabara ini jauh berlipat lebih banyak. Banyak toko yang memajang koleksi photopack dari yang satuan, satu set, hingga yang serial terbatas. Harga bervariasi dari hanya 100 Yen hingga 3.000-an Yen. Kadang tidak semua photopack dipajang. Biasanya di dekat kasir bisa ditemukan folder berisikan koleksi photopack. Silakan pilih dan bayar.

Penjualan photopack
Penjualan photopack
Satu set photopack Haruka Nakagawa
Satu set photopack Haruka Nakagawa

 

Saya juga memasuki beberapa toko yang spesifik menjual manga. Di lantai satu dan dua biasanya yang dipajang hanyalah manga umum. Manga dewasa hingga yang kelas porn berat bisa ditemukan di lantai tiga ke atas. Saya sampai nggak menyangka, hingga sebanyak ini serial manga, baik itu berupa buku atau majalah, memenuhi setiap toko. Toko manga terbesar di Akihabara, yang saya lihat, adalah KBooks. Tokonya luas dan terdiri dari 2 lantai. Selain manga umum dan dewasa, toko ini juga menjual beragam manga artbook.

Toko manga
Toko manga

Itu baru manga. Saya bahkan sempat masuk ke sebuah toko yang isinya dari lantai dua ke atas hanya menjual koleksi JAV. Semua rak dengan jarak antaranya yang padat, dipenuhi koleksi DVD dan Bluray JAV. Layar televisi kecil menyempil di beberapa rak, memutar potongan iklan video JAV.

Hampir di setiap perempatan bisa ditemukan perempuan yang mengenakan kostum tertentu. Ia biasanya mempromosikan toko atau restoran yang berlokasi tak jauh dari situ.

Sudut Akihabara
Sudut Akihabara

Akhirnya saya dan Ipi menemukan gedung Don Quijote. Di lantai 8 gedung inilah, teater AKB48 dimulai. Sepanjang eskalator tertempel beragam poster raksasa AKB48. Terlihat beberapa poster lama dengan anggota yang kini sudah tidak lagi berada di AKB48.

Rupanya di lantai 2-4 gedung Don Quijote ini dijual beragam barang unik. Campuran antara pasar swalayan yang menyajikan segala jenis makanan, minuman, perlengkapan rumah tangga, sampai segala hal yang berhubungan dengan AKB48, cosplay, pakaian dalam, dan entah apa lagi. Mau cari lightstick murah, ada. Mau cari kupluk dengan beragam bentuk model binatang, ada. Mau cari kostum french maid, perawat, seifuku sekolah, hingga yang terlihat kinky pun ada. Tinggal pilih dari yang harga 3.000 Yen hingga 9.000 Yen. Aksesoris hiasan yang lucu pun tersedia. Terlihat beragam usia, laki-laki dan perempuan, berbelanja di 3 lantai ini. Hampir setiap pojok pasar swalayan ini diputar lagu-lagu AKB48.

Sebagian lantai 5 berisikan toko resmi AKB48. Yang jaga hanya satu orang, dengan setumpuk dus di belakang meja kasir. Kalau mau berbelanja, cukup amati dinding kiri dan kanan yang menampilkan foto-foto merchandise beserta kode masing-masing. Cukup sebutkan kode yang diinginkan ke penjaga kasir, dan ia akan mengambilkannya. Variasi merchandise memang jauh lebih beragam daripada toko JKT48, meski tidak bisa dibilang menarik juga. Toko ini juga menjual koleksi DVD lengkap AKB48. Caranya sama, tinggal sebutkan kode, lalu akan diambilkan oleh penjaga kasir.

AKB48 Shop
AKB48 Shop

Lantai 6 dan 7 berisikan game arcade. Eskalator menuju teater AKB48 di lantai 8 saat itu dijaga oleh petugas. Lucu juga, tali penghalang rupanya tak cukup untuk membatasi, sampai perlu ada petugas yang menunggu di depan eskalatornya.

Sebenarnya masih banyak keunikan lain di Akihabara, namun sayang saya tidak sempat menjelajah semua titiknya. Sekitar jam 17:00 kami pun meninggalkan Akihabara, untuk melihat nuansa daerah Harajuku.

(Tulisan ini merupakan potongan dari ebook perjalanan ke Jepang, yang kini masih dalam proses penyusunan. Tunggu tanggal rilisnya ya!)