Bali hari ke-1, mengunjungi Taman Ayun, Puri Ulun Danu, dan Tanah Lot

Ceritanya saya dan bapak saya hari ini berlibur ke Bali tanpa perencanaan matang. Semua berawal kala saya berburu tiket murah hampir setahun lalu. Jadwal tiket itu memang menentukan kapan saya “harus” liburan.

Meski kepastian keberangkatan sudah saya pegang lama, tetap saja tidak membuat saya siap dengan segalanya. Saya berpikirnya, sudahlah lihat nanti saja sesampainya di Bali. Mau berjalan-jalan ke mana pun belum kepikiran. Nanti spontan sajalah. Lagi pula kali ini saya hanya bersama Bapak saya yang sudah cukup terbiasa jalan-jalan tanpa banyak mikir harus menginap di mana, makan apa, atau mandi di mana.

Sampailah kami tadi pagi di bandara Ngurah Rai. Saya ingat ada banyak brosur tour di bandara. Kami ambil beberapa, sambil membahas rencana selanjutnya. Apapun tempat yang akan dilewati, satu hal sudah pasti, Bapak saya ingin menikmati matahari terbenam di Tanah Lot. Oh ya, saya dan Bapak saya doyan motret. Kategori tempat wisata yang bagus berdasarkan versi kami adalah yang menarik untuk dijadikan objek foto.

Cap cip cup, kembang kuncup. Tak tik tuk, asal tunjuk. Mungkin begitulah kasarnya kami membandingkan berbagai brosur itu. Kami memilah paket yang berakhir di Tanah Lot, yang menyertakan mobil dan supirnya. Akhirnya saya menelepon ke salah satu kontak di banyak brosur itu. Sewa mobil (termasuk bensin) dan supir seharga Rp.325.000,00 yang akan langsung menjemput kami di bandara, lalu akan mengantar kami ke Taman Ayun, ke Ulan Danu, Bedugul, dan terakhir ke Tanah Lot.

Agak was-was juga sih, karena yang akan mengantar kami bukanlah orang yang kami kenal. Ya semoga sajalah supirnya baik. Kalau ternyata tidak menyenangkan, tentulah sepanjang perjalanan kami pun menjadi tidak menyenangkan.

Untunglah perasaan was-was itu hilang setelah Pak Oka, si supir itu datang menjemput. Orangnya ramah, cukup punya banyak cerita tentang Bali. Ia juga seorang Hindu yang sangat cinta akan Bali. Mungkin karena ia juga menyambi sebagai tour guide, ia bisa sangat luwes dalam bercerita. Kalau ada yang mau ke Bali dan butuh diantar kemana-mana, nanti saya kasih kontaknya deh.

Karena ia banyak cerita, jadi kami punya beberapa bayangan akan pergi ke mana esok hari. Pak Oka juga menawarkan beberapa alternatif penginapan yang bersih, tapi dengan harga miring. Tinggal mau pilih di daerah mana: Kuta, Sanur, atau Denpasar? Kami belum bisa memberikan jawaban. Kita lihat sajalah nanti sore. Ternyata Pak Oka juga sudah beberapa kali mengantar rombongan fotografer, sehingga punya bayangan tempat-tempat yang menarik bagi kami.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, tibalah kami di Pura Taman Ayun. Lokasinya sejauh 18 km dari Denpasar. Tepatnya di Kabupaten Mengwi, Badung. Pura ini dikelilingi oleh taman dan sungai. Seperti pura pada umumnya, kami tidak bisa masuk ke dalamnya. Kami hanya bisa berjalan di sekelilingnya. Objek yang menarik sebetulnya untuk dipotret, seandainya saja langit saat itu tidak mendung.

Sekitar setengah jam saya dan Bapak menghabiskan waktu untuk memotret sebelum kami melanjutkan perjalanan kembali ke Bedugul. Rencananya kami akan ke Ulun Danu, melihat pura yang berada di tengah danau itu. Bapak sudah pernah ke sana beberapa tahun lalu, sementara saya belum.

Kami sempat singgah sejenak di rumah makan Saras untuk makan siang. Udaranya sungguh asyik. Bedugul yang berada sekitar 1.000 meter dari laut memiliki udara yang sejuk. Angin semilir menemani kami semua makan siang. Sayangnya harga menu makanan yang disajikan terlihat mahal untuk kelas rumah makan ini. Rasa masakannya pun tidak terlalu spesial. Yang penting, kami kenyang, dan siap melanjutkan perjalanan kembali.

Puri Ulun Danu memang menjadi salah satu tempat wisata pilihan di Bali. Turis asing dan lokal memenuhi tempat ini. Udara sejuk dan kabut tipis menemani pura yang menakjubkan itu. Kalau mau berkeliling danau, ada yang menyewakan perahu dan boat, meski saya sih lebih tertarik untuk menikmati keindahan ini dari tepiannya saja.

Semakin lama kabut tipis semakin turun ke permukaan laut. Perahu yang semula terlihat di ujung danau kini semakin tertutup oleh kabut putih. Tetesan embun sesekali jatuh membasahi permukaan tanah. Saatnya bagi saya dan Bapak untuk pergi dari sini untuk lanjut pergi ke tempat wisata lain.

Perjalanan saya terakhir di hari ini adalah ke Tanah Lot. Lumayan jauh juga dari Bedugul. Selama perjalanan saya sempat beberapa kali tertidur. Enaknya pergi diantar supir seperti ini, saya tidak pusing mencari-cari jalan dan bisa istirahat kalau capai.

Tanah Lot memang ramai. Penuh wisatawan luar dan dalam negeri. Yang lucunya adalah, sebagian dari mereka saya kenali saat mereka tadi juga berada di Taman Ayun dan Puri Ulun Danu. Rupanya wisata harian yang ditawarkan banyak tour punya trayek yang serupa.

Saat itu matahari mulai miring, hampir jatuh di permukaan laut. Mungkin sekitar setengah jam lagi matahari akan terbenam. Saat itulah yang ditunggu-tunggu pengunjung, menikmati indahnya matahari terbenam di balik siluet puri raksasa yang berada di tepian laut ini.

Beberapa orang, termasuk saya, mengambil posisi di atas tebing, di deretan bangku-bangku di depan kafe dan rumah makan. Lokasi ini memang paling pas untuk menangkap momen terbenamnya matahari.

Banyak orang lainnya terlihat berkumpul di tepian pantai. Air saat itu sedang surut, sehingga banyak orang bisa mendekat ke tepian pura. Menariknya, daratan pasir pantai terlihat banyak paling-palung kecil berisi air, yang menampilkan refleksi orang-orang yang lewat di depannya.

Saya dan Bapak pun menyiapkan kamera sembari menunggu matahari turun mendekati permukaan laut. Kami menikmati suguhan kelapa muda segar sambil sesekali menjepretkan kamera kami masing-masing.

Memang indah menikmati matahari terbenam di Tanah Lot. Untunglah langit cukup cerah dan tak ada hujan. Meski sayang masih ada sedikit awan menutupi pandangan matahari saat jatuh di balik permukaan air.

Terbenamnya matahari menandai berakhirnya wisata hari ini di tanah Bali. Saya dan Bapak pun kembali ke arah kota. Pak Oka, sang supir mengantarkan kami ke daerah Sanur. Hingga saat ini saya dan Bapak pun belum tahu mau menginap di mana. Saya cuma memberi ancer-ancer perkiraan harga saja. Biarlah Pak Oka mengantarkan ke tempat yang ia rekomendasikan. Lagi pula tidak terlalu penting hotel apa yang dipilih, karena toh hanya akan dipakai untuk menginap dan mandi.

Pak Oka akhirnya mengantarkan kami ke Hotel Gedong Ayu, di Jl. Padang Galak Kesiman. Entahlah itu di bagian mana di Sanur. Saat itu sudah terlalu gelap untuk saya menentukan orientasi. Yang jelas, pantai hanya 5 menit jalan kaki dari situ. Untuk kualitas hotelnya, ya dibilang bagus ya nggak juga ya. Kamarnya luas dengan kamar mandi tentunya, meski kualitas kamar mandinya nggak bagus-bagus amat. Namun kami terima saja setelah si pengelola mau menerima harga yang kami tawarkan, Rp.500.000,00 untuk 2 malam. Hihi mau menginap saja kok pakai tawar-menawar.

Hari itu sudah cukup melelahkan. Selepas mandi, saya dan Bapak mencari makan malam di warung sebelah hotel. Bukan warung spesial, tapi setidaknya harganya masuk akal, tak seperti saat kami makan siang tadi. Tak lama kami pun kembali ke hotel dan langsung tidur. Semoga saja hari sabtu besok sama menyenangkannya dengan hari ini.

Imlek

40 imlek

Perayaan Imlek (Tahun Baru Cina) selalu diikuti oleh kegiatan sembahyang di banyak klenteng. Kalau di Jakarta sih yang paling ramai adalah di Petak Sembilan. Penuh banget. Penuh manusia (baik yang sembahyang maupun fotografer yang ikut mengabadikan) dan penuh asap (sehingga bikin mata pedas). Sekedar tips kalau tahun depan mau ke Petak Sembilan lagi, bawa kacamata renang dan masker. Amankan lensa kamera dengan selalu memasang lens cap setiap kali tidak dipakai, karena abu-abu bekas bakaran menyebar dimana-mana. Oh ya, datang sepagi mungkin saat lebih banyak yang sembahyang daripada para fotografernya. f 5.6, 1/320, ISO 200.