Medan Merdeka Barat di Pagi Hari

Hari Rabu pagi kemarin saya ke gedung RRI Jakarta di Jl. Medan Merdeka Barat, untuk mendokumentasikan Teenebelle yang siaran di sana. Saat itu pukul 8 lewat. Masih ada banyak waktu sebelum acara dimulai, karena saya sampai di halte bus Monas kepagian. Sambil menunggu, saya duduk cukup lama di dalam halte dan mengamati sekitar.

Menyenangkan sekali suasana pagi saat itu. Cerah. Lalu lintas di sekitar Monas sepi. Lebih banyak bus Trans Jakarta yang lalu lalang daripada mobil yang berlalu. Coba ya setiap sudut kota Jakarta bisa sesepi ini. Enak rasanya menikmati hawa Jakarta seperti ini. Saya pun beranjak ke luar dari halte.

_MG_8400

Perjalanan pun berlanjut

Kisah Seorang Pesulap

Pria itu mengambil nafas panjang. Meski sudah memiliki jam terbang tinggi dalam hal sulap menyulap, setiap kali ia berhadapan dengan banyak audiens, kegugupan selalu muncul. Ia menyeka keringat yang mengalir mendekati portable mic yang dipasang dekat mulutnya.

Pria itu mengucapkan selamat malam kepada audiens di hadapannya, lalu mengeluarkan beberapa kartu domino dari lengan bajunya. Ia menaruh kartu-kartu kecil dengan titik-titik merah itu di telapak tangan kirinya. Si pesulap mengucapkan mantra, lalu tangan kanannya mengusap tumpukan kartu-kartu domino di telapak tangan kirinya. Perlahan, seiring bergesernya tangan, kartu-kartu domino itu berubah menjadi selembar kartu remi. Audiens yang melihatnya pun berdecak kagum.

Si pesulap mengeluarkan trik kedua. Sebuah bohlam lampu ia keluarkan dari tas yang ia kenakan di pinggang. Si pesulap berkata kalau bohlam ini adalah benda ajaib, yang bisa menyala hanya dengan menggunakan listrik dari dalam tubuhnya. Seutas kabel ia keluarkan dari tas. Ia tempelkan salah satu ujungnya ke bohlam, dan ujung lainnya ke lubang hidungnya. Ia kembali mengucapkan matra, dan seketika itu pula bohlam menyala terang. Audiens mulai bertepuk tangan.

Trik ketiga adalah pamungkas dan penutupnya. Si pesulap melepas kabel yang menempel ke bohlam, dan bohlam pun kembali mati. Ia mengembalikan kabel ke tas, dan mengeluarkan sekantung plastik kresek transparan. Kali ini ia bercerita kalau nafasnya juga mengandung aliran listrik. Ia memasukkan bohlam tadi ke dalam kantung plastik kresek. Si pesulap mengucapkan mantra lalu memberikan tiupan ke dalam plastik. Bohlam pun kembali menyala terang di dalam plastik kresek. Tepuk tangan audiens pun bertambah keras.

Si pesulap senang karena tiga triknya bisa memberikan hiburan. Kini saatnya ia menuai hasil. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh audiens.

Si pesulap lalu bergerak maju, melewati lorong sempit di hadapannya. Berulang kali ia mengucap permisi saat harus melewati desakan orang-orang yang bergelantungan. Plastik yang masih berisi bohlam menyala ia sodorkan ke setiap bangku yang ia lewati, berharap mereka yang terhibur ikhlas memberikannya seribu dua ribu untuk ia makan malam nanti. Tak lama kemudian, bus berhenti. Si pesulap lalu turun, dan mencari peruntungan di bus berikutnya.

#hujan

Rangkaian tweet dari seorang pejalan kaki di trotoar Jakarta:

“Aku berlindung di balik sebuah payung. Melihat butiran #hujan berjatuhan kencang di hadapan wajahku. Memecah jalan yang kutempuh kini.”

“Aku menatap ke langit. Melihat #hujan yang semakin menderas. Aku menatap ke depan. Melihat bercak air yang mengumpul di jalan.”

“Aku melompat. Terus melompat. Menjaga kaki jauh dari basah #hujan. Menjaga tubuh agar tetap jauh dari lubang-lubang trotoar yang menganga.”

Sebuah tweet dari pejalan kaki lainnya:

“Astaga! Dalam #hujan seorang pria terjatuh ke dalam lubang galian. Payungnya terlepas. Ia tak terlihat lagi. Apakah ia hanyut terbawa arus?”

 

Satu dari Seratus

“Ayo sekarang giliranmu!” si pelatih berucap kepadanya.

Si penerjun pun berdiri. Pesawat yang bergoyang-goyang kembali membuatnya ragu.

“Ayo, cepat! Kamu bukan pengecut kan?” si pelatih memancing.

Si penerjun mencoba berdiri tegap. “Tidak! Aku bukan pengecut!” serunya keras. Ia pun berjalan mendekati pintu pesawat yang telah terbuka lebar. Parasut sudah terpasang di punggungnya.

“Haha bagus! Tenang saja, hanya 1 dari 100 penerjun yang mati karena kegagalan parasut!” ujar si pelatih.

Si penerjun berpegangan pada tepian pintu pesawat, “Hah, mati?”

“Iya! Saat ini sudah 99 penerjun dan semuanya selamat sampai di darat,” kata si pelatih sambil menendang keras si penerjun keluar dari pesawat.

Sebelas. Sebelas. Sebelas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Rangkuman tweet yang tak jelas. Dari otak yang tentu masih waras. Semoga terhibur dari rasa was-was.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Aku tak bisa tidur pulas. Aku hanya terbaring memelas. Karena cinta yang tak berbalas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Hati ini berasa ampas. Jantung ini tak bisa bernafas. Gugup menunggu tweet ini terbalas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Hai sekantung kapas. Tak inginkah kamu lepas. Menjarah udara bersih dengan bebas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Akhirnya darah terhempas. Leher dan kepala habis tertebas. Sabitan pedangnya memang ganas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Badannya terjuntai lemas. Celananya terlihat keras. Pasti karena nonton JAV terlalu bebas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Selamat pagi teman sekelas. Kamu sudah mengerjakan tugas? Awas loh sang dosen ganas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Kamu mirip seekor unggas. Tak pernah bisa lugas. Sekali-sekali tolonglah bersikap tangkas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Pagi ini sungguh panas. Tetaplah semangat, jangan lemas. Capailah mimpi hingga ke langit atas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Bibirmu bening bak secangkir gelas. Namun sayang mukamu bak ubi talas. Ayo sana dulu cari amplas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Selamat ultah @tukangkopi yang cadas. Semoga elo tetap cerdas. Membangun nusa dan angkasa luas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Selamat menikah untuk @bluewey dan si Mamas. Tetap jangan lupakan tugas. Kantormu pun perlu diawas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Hai kamu pemalas. Cobalah lebih bekerja keras. Supaya nanti kamu bisa memberiku hadiah pemanas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Pagi-pagi kamu nonton film panas. Lihat wajahmu mupeng tak jelas. Ayo sana cepat keramas!

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Tititmu butuh diamplas? Atau kamu butuh dibantu keramas? Carilah tukang pijat berkualitas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Hai ibu bermuka ampas. Sampah kok dibuang asal blas. Semoga ibu nanti kena karma dari yang di atas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Sudah lewat jam sebelas. Apakah kamu sudah bekeja keras? Hati-hati loh jaga pankreas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Eh ada twitwar berbalas. Dari dulu nggak juga tuntas. Semoga semua berakhir tanpa ada culas.

Sebelas. Sebelas. Sebelas. #YES #YES #YES

Sebelas. Sebelas. Sebelas. Masih belum bosen Mas? Dari semalam main sebelas sebelas sebelas. Biarin, meski tak ada yang mau membalas.