Menatap Hari Besar

Tatapannya sayu. Ia melihat kaki-kakinya yang hitam. Rumput yang ia tiduri sejak semalam sudah terlihat melayu. Ia gerakkan salah satu kakinya, berupaya mengusir lalat yang beterbangan mendekat. 

Ia goyang-goyangkan kepalanya, mencoba menghilangkan kelesuan dari wajahnya. Ia harus semangat menghadapi hari besar ini. Hari ini hanya hadir setahun sekali. Kali ini ia ingin membuat perbedaan, dengan membuat orang lain bahagia. Beruntunglah kesempatan besar ini mendatanginya tahun ini. 

Ia menarik nafas panjang, mendongakkan kepalanya. Wajahnya terlihat tegar. Seseorang mendekatinya dan menarik tali yang terikat di lehernya, lalu membawanya ke tempat pemotongan kurban. Senyum kemenangan terakhir pun terlintas di bibirnya.

Peminta Receh

Cuaca sungguh panas di Sunter. Matahari rasanya tak berhenti mengirimkan pancaran sinarnya sejak tadi pagi. Aku berusaha berdiri di rumput, menahan lelah. Mobil-mobil beregrak pelan di hadapanku, antri menuju putaran balik arah di depan. Aku melihat penumpang di dalamnya menatapku. Ada yang tersenyum. Ada yang ketakutan. Ada yang menatap bingung.

Sesekali ada yang membuka jendela, memanggil dan mengajakku mendekat. Aku ulurkan tangan hitamku, meraih koin yang mereka berikan. Receh yang berusaha aku kumpulan dari pagi hingga sore untuk majikanku. Sesekali ada yang melemparku koin. Rantai di leher menahanku untuk bergerak. Aku biarkan majikan yang mengambilkan koinnya untukku. Lagi pula, aku tak pernah tahu apa manfaatnya. Yang aku tahu, aku bekerja, dan majikanku memberiku makan dan kesempatan hidup.

Sudahlah, untuk apa aku memikirkan itu semua. Aku kibas-kibaskan kotoran yang menempel di bajuku. Aku pakai lagi topengku yang berwajah manusia. Lalu aku berdiri lagi meminta uang kepada setiap mobil yang lewat, sambil terus mengibas-ngibaskan ekor hitamku.

 

Selamat Malam

Selamat malam, kata-kata. Istirahatkanlah kalimatmu sejenak. Taruhlah sebuah koma. Kita lanjutkan sampai kalimatmu berakhir titik esok hari.

Selamat malam, hati. Tenangkan dirimu malam ini ya. Kita lanjutkan pencarian cintanya esok hari lagi. Mudah-mudahan esok kita lebih beruntung.

Selamat malam, pikiran. Kosongkan isimu malam ini. Isilah dengan mimpi indah, agar kamu terbangun segar esok pagi untuk menyerap ilmu baru.

Selamat malam gadis berkostum balerina. Jagakan mimpimu. Percayalah kalau dirimu bisa mencapai apapun yang kamu inginkan. Sekarang, beristirahatlah.

Selamat malam juga untukku. Selamat tidur dan istirahat.

Perjalanan Penuh Kebisingan

Perjalanan kali ini penuh goncangan. Pilot pesawat kami melewati hambatan yang tak mulus. Kami berdua berpegang erat satu sama lain, sembari menahan getaran pesawat yang tak kunjung reda.

Temanku menutup telinga menahan kebisingan. Berulang kali aku mencoba bersuara, tapi suaraku selalu terbenam oleh berisiknya goncangan pesawat. Susah sekali menyapa sang pilot. Ia begitu konsentrasinya menempuh hambatan, sehingga pikirannya tak bisa lagi terkonsentrasi mendengarkan teriakanku.

Untunglah goncangan pun akhirnya berhenti. Sungguh lega kami masih bisa melihat sinar matahari. Aku dan temanku berucap terima kasih kepada sang pilot. Meski tak nyaman, kami toh semua tetap bisa sampai di tujuan dengan selamat.

47-Perjalanan-Penuh-Kebisingan

Jagad Maya

Jagad Maya, kamu memang yang terindah bagiku. Aku mungkin belum pernah bertemu dengan kebanyakan temanku di sini. Mungkin pula aku memang pernah bertemu walau cuma sekali. Namun hebatnya, aku tak melihat perbedaan yang jelas saat aku berbincang dengan mereka di duniamu. Semua teman baik baru dan lama seakan sama dalam satu mata, tak risau apakah aku kenal betul dengan mereka atau tidak.

Memang banyak dari mereka yang mungkin tak nyata. Akun palsu katanya. Cara terbaik mengenali mereka adalah dengan lebih lama mengenalmu terlebih dahulu, Jagad Maya. Semakin aku kenal kamu, semakin aku bisa mengenali siapa yang asli, siapa yang tidak. Aku cukup hidup dan menghirup nafas yang kamu berikan. Selanjutnya, aku biarkan aura kehidupanmu yang akan menunjukkan jalan dengan sendirinya.

Jagad Maya, kamu memang luar biasa. Kamu sebenarnya telah menciptakan dunia yang nyaman, yang membuat para peragu dan pemalu akhirnya berani berbicara. Kamu membuat aku yang sukar berbicara di dunia nyata untuk berani menunjukkan diri. Kamu membuat mereka yang tak bisa berucap lancar untuk berani mewujudkannya dalam susunan kata dan frase. Kamu sungguh membuat segalanya menjadi lebih mudah.

Hanya saja, kadang masih saja ada yang merusak kemurnianmu. Ada yang merasakan dunia yang kamu ciptakan ini bebas tanpa aturan, sehingga merasa bisa berbuat sesuka hati mereka. Aku tak mau menuduh, karena aku sendiri pun suka merasa pernah berbuat demikian. Aku pernah menyakiti teman yang bahkan belum pernah kujumpa sebelumnya. Aku pernah menyinggung hati seseorang hanya karena perbedaan persepsi dalam kata. Aku pernah sesuka hati menuliskan pesan tanpa berpikir jauh apakah aku menyiksa batin orang lain yang membacanya.

Satu hal yang aku suka dari kamu, Jagad Maya, kamu sudah menyiapkan dunia ini dengan sebaik yang kamu bisa. Tak sempurna memang, tapi sudah sangat memadai. Sekarang biarkan kami yang mengisinya dengan kata dan gambar kami. Biarkan kami saling bercakap satu sama lain, memohon maaf kalau kami menyakiti satu sama lain, menyebar ilmu dan keahlian kami demi kebaikan teman-teman kami, dan biarkan kami untuk menjaga duniamu dengan energi positif.

Terima kasih Jagad Maya. Terima kasih sebesar-besarnya. Aku akan selalu terus menjagamu.