Kerinduan Akan Rumahmu

Kamu tahu betapa berdebunya tempat ini? Kamu pasti tak akan berhenti bersin kalau sampai datang ke hunianku sekarang. Aku pun sudah tak mungkin kembali ke tempatmu, sejak kamu mengusirku kala itu.

Dahulu aku selalu mengamatimu. Setiap kali kamu membersihkan rumah, kamu selalu rajin menyapu, mengelap, menggosok setiap sudut agar terlihat bersih dan cemerlang. Kalau temanmu datang, kamu menyuruhnya untuk melepas sepatu. Kamu bahkan meminta temanmu mengenakan sandal khusus yang memang kamu siapkan untuk berjalan-jalan di dalam rumah.

Aku ingat saat memandangmu asyik memasak. Mungkin hanya rumah kamu satu-satunya di dunia yang punya dapur sebersih kamar tidur. Tak pernah terlihat noda sebercakpun setelah kamu membersihkan dapur setelah memasak. Semua panci, nampan, penggorengan, dan perlengkapan memasak lainnya tergantung cantik dan berkilauan di lemari.

Kamu tahu kalau aku selalu was-was berada di dekat kamu. Melihatmu rajin membuat segala isi rumah menjadi bersih membuatku cemas. Jelas aku tak akan bisa mengubah perilaku yang sudah aku bawa sejak lahir ini. Sudah dipastikan kalau aku pun tak akan bisa hidup sebersih kamu. Mungkin memang sudah suratan takdir, saat masa itu kita harus berpisah.

Kamu akhirnya menemukan tempat persembunyianku, dan membersihkan sarangku. Aku berlari kencang saat kamu mengayunkan sapu saktimu ke tubuhku. Kalau saja aku tak hapal seluk beluk lubang di rumahmu, aku pasti akan tewas saat itu.

Sekarang dengan bodohnya aku menuliskan surat ini, sambil berharap kamu bisa membacanya. Boro-boro membacanya, aku bahkan tak yakin kamu bisa memegang surat yang hanya berukuran sebuku jari kelingkingmu ini. Namun aku optimis, kalau kamu bisa menemukan dan membaca surat ini.

Kamu tahu kan, hidup sebagai seekor kecoak tidaklah mudah. Masa hidup kami pun hanya sebentar di dunia. Maka izinkan aku mengucapkan selamat berpisah, terima kasih, dan mohon maaf dalam satu kalimat. Esok hari mungkin aku sudah meninggalkan dunia penuh debu ini. Aku sungguh merindukan rumahmu yang bersih dan cantik. Mudah-mudahan surgaku nanti seperti rumahmu.

Mengingat Perjumpaan Lama

Hai, lama sekali kita tak bertemu. Seingatku, kita terakhir berpapasan kala perjumpaan komunitas digital di malam hari itu. Saat itu pun kita tak sempat berbicara banyak. Jumlah tatapan kontak mata kita saja masih bisa kuhitung dengan kedua tanganku. Kala acara selesai, kita juga tak sempat berbicara banyak, karena malam sudah meninggi, dan kita semua harus kembali ke peraduan masing-masing.

Bagaimana dengan dirimu sekarang? Masihkah kamu seperti saat kita bertatap mata pertama kali dulu? Masihkah kamu menyukai cokelat dan bakso? Ah, tak mungkin kamu melupakan dua makanan favoritmu itu. Bahkan, mungkin kamu sedang menyantap salah satunya sekarang. Aku ingat dulu sempat mengajakmu mencari suguhan bakso yang menggugah selera, namun ajakan itu tak kunjung terlaksana. Aku bertanya-tanya, apakah kalau aku mengajakmu sekarang, kamu masih tertarik untuk menerimanya?

Seperti biasanya, aku selalu terkesan banyak omong dan tanya-tanya. Ya, ya, biarkan saja kalau kamu menganggapku seorang yang kepo dan penasaran. Sebagai pengobat rasa kangen dan mengingat kembali karakter dirimu di pikiranku, nggak salah dong kalau aku rajin bertanya? Lagi pula kamu (mungkin) senang kalau aku memberikan kesan perhatian.

Kamu pasti masih menjadi penggila kopi dan rokok. Dua benda yang tak bisa lepas satu dengan lainnya. Seperti perkataanmu sendiri dulu, akan percuma mengajakmu untuk berhenti merokok, karena seperti para perokok lainnya, kamu pun sadar kalau itu berbahaya. Aku ingat kamu sempat cerita kalau para perokok lebih baik diajak untuk beraktivitas sehat. Biasanya ajakan seperti ini malah akan menarik perhatian, dan menggerakkan diri untuk mau mencoba, daripada mendengar orang melarang-larang kamu merokok. Mudah-mudahan sejak terakhir kita bertemu, kamu pun sudah mulai banyak berolahraga di alam luar ya.

Kapan-kapan kita sempatkan untuk lebih banyak bertemu yuk. Makan bakso (atau apapun yang menyenangkan) sembari berdiskusi tentang topik favoritmu, pemasaran digital. Siapa tahu kita bisa saling belajar dari pengalaman masing-masing.

Mungkin itu dulu. Ingatanku terlalu pendek untuk mengarsipkan kepingan memori perjumpaan dan percakapan kita sebelumnya.

Salamku untuk keluarga di rumahmu ya!

Kebahagiaan Semu

Aku tertawa keras di pagi hari. Guyonan seorang teman membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Kopi pagiku hampir tumpah karenanya.

Aku tersenyum kala seorang temanku bercerita tentang pengalamannya. Ia menyampaikannya dengan cara yang tak biasa. Bermain kata seolah kamus padanan indah selalu mengisi pikirannya.

Aku menyeringai lebar saat tengah malam teman-teman memberiku ucapan selamat ulang tahun. Sungguh kegembiraan hati tak terbendung. Semua tak lupa akan hari setahun sekaliku ini.

Semua tawa, senyuman, dan kegembiraan memang menyenangkan. Aku akui itu semua. Meski setitik ruang dalam hati ini masih tetap merasa sepi. Ada kepingan yang terasa kurang untuk pelengkap kebahagiaan.

Apakah ini rasa karena semua temanku hanyalah maya?

Mungkin aku memang butuh sosialisasi nyata, yang lebih daripada sekedar menatap linimasa Twitter-ku setiap saat.