Makna Lebaran

​1 Juli 2016. Hari ini saya kembali lagi ke kota Jogja setelah setahun berlalu. Sepertinya saya hanya datang ke kota ini saat menjelang Lebaran tiba, atau kecuali ada tugas yang menuntut saya mampir ke kota ini.

Sebenarnya sudah tidak ada hal yang mewajibkan saya dan keluarga saya untuk kembali ke Jogja saat Lebaran. Maklum, semua eyang saya sudah lebih dahulu meninggalkan kami semua sejak lebih setahun lalu.

Continue reading “Makna Lebaran” »

Nostalgia Melalui WhatsApp Group

Kini WhatsApp sudah menjadi aplikasi lumrah untuk berkomunikasi dengan banyak orang, menggantikan BBM yang pernah populer. Saya sendiri lebih banyak menggunakannya untuk berkomunikasi urusan pekerjaan.

Seiring digunakan makin banyak orang, group di WhatsApp saya pum bertambah. Setelah group pekerjaan, kini ada group keluarga dan alumni. Jujur hampir semua group itu tidak saya baca setiap saat. Group alumni apa lagi. Kontennya terlalu berisik. Saya bergabung demi menjalin silaturahmi saja. Ngobrol di sana pun sangat jarang.

Buat saya yang dihujani banyak konten dari banyak kanal social media, saya memang harus memilih mana yang lebih diutamakan. Namun tentunya ini berbeda dengan kedua orang tua saya. Baik Bapak dan Ibu saya bisa dibilang aktif di group WhatsApp keluarga dan alumninya masing-masing. Bagi mereka, komunikasi di group benar-benar mendekatkan mereka yang sudah lama terpisah oleh jarak dan waktu.

Lanjut dengerin cerita tentang Bapak saya

Alternatif Pertanyaan Basa-basi

Masih lanjut dari tulisan sebelumnya nih. Biar para keluarga jauh punya bahan lain untuk memulai percakapan basa-basi dan nggak bikin kamu sakit hati, saya kasih beberapa ide nih. Tahun depan, sebelum sungkeman, daftar pertanyaan ini bisa kamu email/fax/surat/telegram/merpati pos-kan terlebih dahulu ke mereka.

“Wow kamu ganteng/cakep banget ya sekarang. Resepnya apa?”

“Kamu sudah tambah kaya ya sekarang?”

“Kamu masuk TV/majalah/koran ya beberapa bulan lalu?”

“Kamu selebtweet ya? Follower kamu berapa?”

“Baju kamu keren deh. Kamu fashionista sejati ya sekarang?”

“Saya bangga deh dengan kamu. Kamu kemarin dapet emas ya di olimpiade di Inggris sana?

“Saya dengar kamu jadi grandmaster catur tingkat RT ya bulan lalu?”

“Dengar-dengar kamu sempat menerima penghargaan di Jerman ya?”

“Kamu hebat deh sekarang. Sudah punya 5 gedung apartemen dan 10 ruko ya katanya?”

Silakan tambahkan saja pesan basa-basi lainnya. Pilihlah topik yang mengangkat harkat dan martabat kamu di antara anggota keluarga lain. Pilihlah topik yang menonjolkan kelebihan kamu dibanding keluarga jauhmu yang lain.

Ayo buat libur lebaran kamu jadi jauh lebih menyenangkan tahun depan!

Pertanyaan Menyebalkan

Maaf lahir bathin ya kakak-kakak semua!

Selain bermaaf-maafan yang selalu kita lakukan setiap Lebaran (semoga sih dari hati ya), selalu ada kebiasaan untuk sungkeman dengan keluarga yang lebih tua. Untuk banyak orang, sungkeman adalah bagian yang menyiksa, karena kita akan berhadapan dengan pertanyaan rutin yang membosankan.

Bertemu dengan anggota keluarga yang mungkin hanya setahun sekali memang bertujuan untuk menjalin silaturahmi. Karena mereka nggak kenal banget dengan kita, ujung-ujungnya yang terlontar adalah pertanyaan basa-basi. Saking basa-basinya, mereka suka nggak sadar kalau beberapa pertanyaan menyakitkan hati karena terlalu pribadi.

“Wah kamu kok gemukan ya sekarang?”

“Pipi kamu tembem ya?”

“Kapan dong pacarnya diajak ke sini?”

“Jadi kapan nikah?”

“Kapan nih dedeknya lahir?”

“Si inih nggak pengen kamu kasih adik?”

Mau disepet bales dengan pertanyaan lain kok kayaknya nggak sopan. Yang paling dilakukan cuma menganggap itu sebagai doa dan mengaminkan. Meski tetap sih dalam hati dongkol. Yah, namanya juga setahun sekali. Kalau ketemunya hampir setiap hari sih mereka kan sudah kenal dengan diri kita, dan pertanyaan basa-basi itu nggak akan muncul.

Jadi jangan dimasukkan ke hati ya!

Btw, saya sendiri sudah nggak ditanyakan lagi sih. Kalau dulu itu yang tanya hanya eyangti saya. Hihi karena si eyangti pun sudah tahu tentang cerita saya, jadi pertanyaan itu nggak muncul lagi.

Tulisan Terakhir di 2011

new-year-2012-500x375
Huufff… jam-jam terakhir menjelang tahun 2011 berakhir. Tahu nggak, selama setahun ini saya ternyata sudah menuliskan 177 posting blog (termasuk tulisan ini). Ada 84 posting di blog media-ide.com, 23 posting di blog pitra.media-ide.com, 31 posting di blog mataku.media-ide.com, dan 39 posting di blog laindunia.media-ide.com. Ini belum terhitung entah berapa puluh cuplikan yang saya taruh di mediaide.tumblr.com.

Banyak? Iya kali ya, tapi kalau dilihat frekuensinya sih semakin menurun ke akhir tahun. Semangat di awal, semakin mengendur di tengah-tengah. Mungkin memang nggak ada bahan, atau memang waktunya yang habis untuk kebutuhan lain (baca: pekerjaan dan pergaulan). Nyambung dengan itu, saya jadi mengingat-ingat upaya apa yang saya dapatkan selama setahun kemarin.

Bisnis

Kalau ini saya sih cukup berucap Alhamdulillah. Rejeki memang nggak kemana-mana asal segala sesuatunya dikerjakan dengan ridho dan ikhlas. Pendapatan kantor tahun ini nggak jauh berbeda dengan tahun 2010 sih. Yang berbeda adalah komposisinya. Kalau tahun 2010 pendapatan lebih banyak diperoleh dari proyek digital untuk event, kalau tahun 2011 ini lebih banyak diperoleh dari proyek yang berhubungan dengan web dan social media. Jumlahnya? Hahaha nggak boleh tahu! Rahasia perusahaan! Pokoknya banyak lah.

Lalu saya dan seorang teman lainnya mencoba peruntungan di bidang makanan. Buka warung Naskun di Ambassador. Banyak orang yang sudah mencoba, dan kata mereka nasi kuningnya memang enak banget. Beneran! Namun ya pilihan lokasinya memang tidak menguntungkan. Service charge-nya pun terlalu tinggi, tidak sebanding dengan volume penjualan. Jadi mau nggak mau bisnis yang satu ini mesti dipertimbangkan ulang. Saat ini Naskun masih menerima pesanan katering, tapi maaf, untuk sementara warung di Ambassador terpaksa kami tutup lebih dahulu.

Di akhir tahun sempat buka warung lagi. Kali ini franchise Arabian Kebab. Peruntungannya belum tahu nih, tapi kalau dari progresnya kemarin sih lumayan. Nggak gede sih, tapi selalu ada setiap hari. Jualannya jauh tapinya, di Bekasi sana.

Keluarga

Untuk yang satu ini saya beruntung masih ditemani oleh keluarga saya. Ada Bapak, Ibu, adik saya, suaminya, dan anaknya yang kini berusia 4 tahun. Untuk keponakan saya ini memang sering saya ceritakan di twitter. Iya iya, meski bukan anak sendiri, tetap saja punya kebanggaan tersendiri punya keponakan sepintar (dan sebandel) dia.

Bersyukur pula saya sempat mengajak keluarga saya berjalan-jalan di tahun 2011 ini. Awalnya saya hanya mengajak Bapak untuk berjalan-jalan backpacker-an ke Bali. Menyenangkan, karena selama 3 hari saya bisa berjalan-jalan dan ngobrol dekat dengan si Bapak.

Dua minggu berikutnya, bersama seluruh keluarga saya sempt berjalan-jalan ke Singapura. Ini sama menyenangkan dan sama capeknya. Karena mengajak si Ibu dan keponakan, tentunya nggak mungkin kemana-mana ala backpacker. Ternyata sudah lama sekali baik Bapak atau Ibu saya tak berjalan-jalan ke luar negeri. Meski liburan 3 hari ini hanya sampai ke negeri singa (yang entah sudah berapa kali mereka berdua dulu ke sana), ternyata Singapura sudah jauh berubah. Jadi, buat mereka ini menjadi pengalaman yang baru pula.

Teman-teman

Siapa bilang hidup lama di social media itu kesepian? Ya iya sih kesepian kalau kerjanya cuma nongkrong menatap notebook atau hape demi eksistensi. Beruntungnya saya, perjumpaan di Twitter selalu berakhir dengan perjumpaan kopdar di dunia nyata. Teman-teman saya banyak, dari Kopdar Jakarta, FreSh, Piknik Asik, Twitalk, Langsat, dan entah pertemuan dimana-mana lagi. Hihihi, maaf juga kalau saya akhirnya lupa nama dan wajah meski ternyata kita sudah pernah berkenalan sebelumnya.

Twitter menjadi tempat yang menyenangkan untuk berbagi, ngobrol, hingga ada sebutan kalau saya suka menggombal. Entah siapa yang bilang saya begitu, padahal saya ya cuma bicara jujur apa adanya. Kalau kamu cakep atau cantik atau lucu atau berhati baik atau imut atau kiyut atau unyu, maka memang demikianlah kamu apa adanya. Sebutan gombal itu hanyalah ungkapan terbuka saya saja kepada kamu (siapapun itu kamu yang merasa).

Romansa

Naaah, kalau ini sih nggak ada perubahan. Status quo, yang entah sudah berapa tahun lamanya. Naksir? Pastilah ada yang ditaksir. Sayangnya ada beberapa pertimbangan yang akhirnya saya tak melanjutkan. Bisa karena tak berbalas, bisa karena ternyata saya tidak terlalu suka setelah kenal lebih lanjut, bisa karena ternyata ia sudah berpacar (halah). Sudahlah, ini tak perlu diceritakan. Nggak perlu di-mention juga siapa saja orangnya.

 

Lalu bagaimana tahun 2012? Saya nggak pernah bikin tekad atau resolusi. Saya lebih suka mengikuti kehidupan ini apa adanya. Saya memang pragmatis, lihat bagaimana situasi nanti dan bagaimana menyikapinya. Hihihi, siapa juga yang berencana tahun 2011 kemarin saya akhirnya buka warung?

Yang saya punya untuk 2012 ini cuma doa. Doa semoga saya bisa lebih membuat orang tua saya lebih bahagia (entah dengan cara bagaimana). Doa semoga petualangan romansa saya pun melewati masa status quo. Doa semoga bisnis saya lebih berkembang (nggak perlu gede-gede banget, tapi harus mencukupi untuk investasi masa depan). Doa semoga saya bisa lebih banyak berbagi dengan cara baru lagi (entah apa dan dengan cara apa).

Doa untuk bangsa, semoga Indonesia (dan Jakarta) dipimpin oleh orang yang tegas dan nggak bikin sakit hati. Doa supaya banyak orang sadar kalau kebaikan bangsa dimulai dari dirinya sendiri. Kalau kita mau berbagi (dalam hal apapun) dengan ikhlas dan ridho, dengan tidak langsung kita akan membuat karakter bangsa ini menjadi lebih baik.

Selamat tinggal 2011.

Selamat datang 2012.

*nonton kembang api*