Kompetisi Foto Model Popular

Sebetulnya event ini sudah terjadi tanggal 14 Februari 2015 lalu. Tanggal segitu sih orang-orang ngerayain Valentine, saya malah ikutan kontes foto yang diselenggarakan oleh majalah Popular di lokasi Batik Semar, Tomang. Sebenarnya kegiatan foto model seperti sangat banyak di Jakarta. Setiap minggu pasti ada aja yang bikin event serupa, tinggal mau bayar yang murah atau mahal aja. Biasanya yang saya lihat, siapa modelnya dan bagaimana temanya. Saya belum pernah juga saya memotret model dengan pakaian batik yang seksi. Makanya, tema ini menarik. Makanya akhirnya saya ikutan. Kata si panitia, baru 2 minggu pendaftaran, slot yang terisi langsung penuh. Banyak juga ya yang ikutan.

Event pemotretan terbagi 2 sesi. Siang dengan tema bikini batik, lalu sore dengan tema sporty. Gedung Batik Semar ternyata punya interior yang menarik. Rooftop-nya apalagi. Banyak spot yang asyik dipakai untuk pemotretan (asal nggak hujan aja ya). Untunglah ada lokasi pemotretan yang terkena langsung cahaya matahari. Hehe, kalau sudah motret di dalam bangunan (interior), lalu terpaksa mengandalkan flash, saya biasanya langsung males. Nggak jago dalam menggunakan flash soalnya. Apalagi kalau pakai flash, resiko bayangan yang jatuh di belakang si model jadi terlihat keras. Nggak enak dilihatnya.

Sesi pertama saya habiskan di dalam ruangan, dengan flash seadanya. Ujung-ujungnya flash malah saya matikan, lalu motret dengan ISO tinggi saja. Pasti noise akan terlihat sih, meski sebetulnya masih bisa ditolerir. Sesi kedua baru saya all out, karena dilakukan di rooftop. Ada pula ruangan di lantai atas yang juga langsung terkena cahaya matahari. Nah, yang kayak seperti ini asyik nih. Bisa bikin backlight.

Lalu gimana hasilnya? Setelah saya mengirimkan 3 foto, ternyata ada 1 foto yang dipilih masuk dalam Editor’s Choice. Hahaha, ini nggak dapet duit sih. Cuma dapet kaos dan majalah Popular terbaru. Pemenangnya ternyata adalah yang juga menang di kompetisi Popular tahun lalu. Langganan banget ya. Mungkin memang seleranya sudah sama dengan selera jurinya.

Koleksi fotonya bisa dicek di album Flickr ini ya.

IMG_3747
Yang terpilih masuk Editor’s Choice

IMG_3877
Foto yang sebetulnya saya jagokan, tapi nggak menang. Minimal fotonya sekarang dipakai si model di header Twitter dan Line.

IMG_3773Foto ini juga saya jagokan sih, tapi nggak lolos.

Memotret Model Muda

Sengaja judulnya begitu biar MMM (apa sih Pit?). Hari Sabtu kemarin saya dimintain bantuan dari teman-teman Happy Kindom Inc, untuk memotret beberapa talent mereka. Pemotretan dilakukan di dalam sebuah studio di daerah Cipete. Selain rumah ini memiliki 2 studio kosong yang luas – yang bisa dipakai untuk apapun, area ruang terbuka di dalam rumah ini juga memiliki banyak ornamen hiasan menarik. Bagus deh intinya untuk dijadikan latar belakang pemotretan. Ada dinding dengan banyak artwork di dalam pigura. Ada coretan grafiti warna-warni berada di samping tangga luar. Di lantai dua juga bisa ditemukan dinding dengan banyak banget daun jendela dengan beragam bentuk. Menarik banget.

Ada 5 talent yang difoto kala itu. Dua di antaranya adalah Rachel Florencia (@racheltjhia) dan Marthina Meliana (@MelianaMarthina). Dua-duanya masih muda (banget). Si Meli malah baru 14 tahun. Tiga talent lainnya adalah Widy (@wswidy), Meli (@mellchan_), dan Vey (@Vevepaw). Mereka bertiga kemarin sekalian rekam video unutk lomba dance cover. Butik Coruscate Unique (@CoruscateUnique) meminjamkan beberapa dress cantiknya untuk keperluan pemotretan.

Lalu hasil pemotretan ini nanti akan ditayangkan di mana? Hahaha, tunggu saja yaa. Namun untuk sementara ini, saya share beberapa foto preview dulu. Sisanya, tunggu tanggal mainnya 🙂

IMG_2855
Marthina Meliana

IMG_3060
Rachel Florencia

IMG_3406
Meli dan Achel

IMG_3334
Meli, Widy, dan Veu

Lensa Kacamata Baru

Ini sebetulnya cerita minggu lalu. Sudah beberapa minggu belakangan ini kepala saya suka pusing. Kadang saya berpikir kalau saya yang memang kecapaian. Namun saya merasa mendingan ketika kacamata saya lepas. Sudahlah, saya langsung bisa simpulkan, lensa kacamata saya pastilah sudah bermasalah. Memang sudah lama sekali sejak saya ganti terakhir kali. Pasti ada baret-baret di lensa (yang sepintas tak terlihat), tapi sebenarnya mengganggu hingga membuat kepala saya pusing.

Puluhan tahun lalu, awal saya memakai kacamata, saya membelinya di optik terkenal. Saya sebut sajalah ya, Optik Melawai. Memang setiap kali saya mengganti lensa baru, saya selalu diminta untuk menunggu beberapa hari. Beberapa tahun terakhir ini, setelah saya tahu kalau di ITC Mangga Dua bisa ditemukan puluhan kios optik, saya membeli lensa dan kacamata baru di sana. Murah meriah, bahkan untuk merk terkenal sekalipun. Kalau budget terbatas, bisa pilih kualitas KW supernya, yang hampir nggak bisa dibedakan sama sekali dengan aslinya.

Untuk harga memang kios-kios ITC Mangga Dua nggak ada yang ngalahin. Bahkan mereka bisa menjual merk-merk terkenal yang nggak akan bisa ditemukan di Optik Melawai, Seis, atau Tunggal. Yang lebih luar biasa adalah, mereka sanggup mengganti lensa kacamata baru hanya dalam satu jam. Pernah suatu waktu, mereka tidak bisa menyelesaikannya dalam satu jam, mereka malah berjanji akan mengirimkannya ke saya esok hari. Diantar ke rumah!

Nah, minggu lalu saat saya mau ganti kacamata. Sebetulnya nggak masalah saya mencari lensa kembali di ITC Mangga Dua. Satu hal yang membuat saya ragu membeli di sana adalah proses pengecekan matanya. Nggak meyakinkan soalnya. Meski mereka punya alat pengecek ukuran lensa, ruang kios yang terbatas membuat mereka memanfaatkan cermin untuk mengatur jarak tembakan antara mata ke tulisan yang harus saya baca. Kesannya jadi nggak presisi.

Saya pun mencoba lebih dahulu ke optik-optik terkenal, seperti Melawai, Seis, dan Tunggal. Ya siapa tahu setelah bertahun-tahun, optik-optik ini sudah punya pembaharuan servis, seperti ganti lensa kacamata yang bisa ditunggu. Kenyataannya, setelah saya menelpon dan mendatangi masing-masing optik, servis mereka tak berubah sama sekali. Untuk lensa plastik, mereka butuh waktu 3 hari, sementara lensa kaca mereka butuh waktu 5 hari. Ternyata tidak semua optik terkenal ini punya mesin potong lensa. Untuk optik yang punya mesin potong lensa, mereka memang bisa melakukan servisnya dalam satu jam, dengan asumsi mereka punya stok lensanya. Sayangnya, nggak semua jenis lensa mereka siap. Untuk yang nggak punya mesin potong, lensa akan dibawa ke laboratorium masing-masing. Makanya butuh waktu lama.

Kacamata kan sudah barang konsumsi umum. Agak aneh kalau optik-optik ini belum bisa menanganinya, sementara optik kelas kios ala ITC Mangga Dua bisa melakukannya. Bukan hanya ITC Mangga Dua. Kios-kios semacam ini dengan servis serupa bisa ditemukan di ITC Cempaka Mas, Blok M, hingga ITC Kuningan. Hampir semua kios punya mesin potong lensa. Yang nggak punya akan berkolaborasi dengan yang punya. Demikian pula dengan stok lensa. Kalau satu kios nggak punya stoknya, ia akan mencarinya di kios sebelah. Saling membantu satu sama lain dalam berbisnis.

Setelah membandingkan antara optik terkenal dan optik kelas kios, saya jadi bingung, kenapa masih banyak orang yang lalu memilih optik terkenal ya? Di optik kelas kios, harga lensa jelas lebih. Servis lebih cepat. Kalau mau gaya-gayaan, banyak kacamata kelas KW super yang sangat murah bisa ditemukan. Kalau mau beli yang original pun, di optik kelas kios juga bisa ditemukan dengan harga yang lebih murah daripada optik terkenal.

Memang sih kalau ngomongnya QC (quality control), optik terkenal lebih menjamin. Namun sangat sayang kalau karena QC ini, layanan yang diberikan menjadi semakin lama. Seharusnya untuk optik sekelas Melawai, Seis, atau Tunggal, mereka sudah bisa menemukan cara supaya lead time servis lebih cepat dengan tanpa mengabaikan QC yang tinggi.

Tentang Levitasi Bagian IV

64 levitasi 1 64 levitasi 2

Minggu lalu teman-teman Levitasi Hore bikin acara photowalk bareng ke Ragunan. Yang datang lumayan banyak, dan kebanyakan memang belum pernah mencoba foto levitasi sebelumnya. Saking banyaknya, yang ikutan photowalk pun dibagi menjadi beberapa tim. Saya di sini berkenalan dengan Nongky, yang kebetulan juga menjadi model di tim saya. Hihi, modelnya pun ikutan belajar, karena jadi model levitasi itu nggak gampang loh. Lompat yang nggak kelihatan lompat ya memang susah. Anyway, berikut ini foto-foto Nongky di photowalk Ragunan. Semua foto dijepret dengan speed 1/500, dengan ISO yang menyesuaikan.

Ada satu foto di sini yang levitasinya diolah murni dengan editing digital. Saya motret 2 kali. Satu si model yang berdiri di atas sebuah objek. Satu lagi saya foto background yang bersih. Lalu saya montase kedua foto sehingga si model terlihat melayang. Nah, silakan deh tebak foto mana yang saya maksud.

64 levitasi 3 64 levitasi 4

 

 

Tentang Levitasi Bagian III

Lanjut lagi ya tentang foto levitasi. Ini ceritanya saya dan teman-teman kembali melanjutkan sesi foto levitasi. Kali ini di Episentrum Walk. Hari pertama di sana kami sempat dilarang satpam untuk foto-foto, sampai akhirnya kami semua mengajukan keberatan ke akun Episentrum Walk di @epiwalk. Hahaha, ternyata memang boleh kok foto-foto di sana. Cek tweet ini saja, dan simpan sebagai favorit sebagai buktinya. Beberapa hari berikutnya kami kembali datang ke Episentrum Walk dan dengan cueknya foto-foto. Begitu ditegur satpam, bilang saja kalau pengelola Episentrum Walk sudah mengizinkan. Beres deh!

Di sesi pemotretan ini, yang jadi model teman-teman saya lainnya. Ternyata eh ternyata, nggak semua orang bisa dengan mudah meloncat tinggi. Sepertinya semakin berat orang tersebut, semakin pendek pula loncatnya. Bahkan dengan mengambil sudut pemotretan foto dari bawah pun, masih belum terlihat tinggi. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan untuk menunjang keberhasilan foto levitasi adalah: ekspresi wajah sebaiknya tetap datar (seperti tidak terjadi apa-apa), saat meloncat kedua kaki sebaiknya melenting ke belakang (jangan satu kaki diangkat), dan rambut panjang sebaiknya diikat (supaya tidak memberi kesan si model jatuh, bukan terbang). Yang paling enak sih ya kalau beneran si model bisa meloncat tinggi.

Foto pertama diambil di luar Grand Indonesia, dengan model Silva. Foto kedua dan seterusnya diambil di Episentrum Walk, dengan model Hanny, Atri, Eva, serta Taufik dan Lily. Semua dijepret dengan kecepatan 1/500.

63 levitasi 1 63 levitasi 5 63 levitasi 4 63 levitasi 3 63 levitasi 2