Jalan-jalan ke Kotagede

​Setiap tahun saya mampir ke Jogja tapi nggak pernah mampir ke daerah Kotagede. Mungkin karena saya bukan pemburu kerajinan perak, sehingga saya kurang berminat datang belanja ke daerah ini.

Namun kemarin sore saya iseng saja jalan-jalan ke Kotagede. Toh hanya setengah jam dari rumah. Tujuan saya, makam raja Mataram yang berlokasi tak jauh dari Pasar Kotagede. Dengan modal Google Maps akhirnya saya tiba di tujuan. Sayang sekali sepanjang perjalanan, saya tidak melihat informasi penunjuk wisata yang jelas. Pastinya akan menyulitkan bagi turis yang hendak datang untuk melihat.

DSCF5763
Menuju Makam Raja-raja Mataram

Restoran Pizza di Jalan Sudirman Jogja

Salah satu hal di Jogja yang tak berubah sejak dulu adalah banyaknya spanduk dan billboard yang mengotori wajah kota. Di mana-mana terlihat iklan yang asal taruh saja. Banyak pula bangunan yang setelah dibangun justru (saya anggap) merusak wajah Jogja. Bangunan dengan fasade khas yang sebetulnya bisa membuat Jogja semakin unik dan khas, malah “dirusak” dengan bangunan modern yang malah membuat Jogja semakin mirip dengan kota-kota modern lainnya.

Kalau pemilik bangunan mungkin berpikir, semakin modern semakin keren. Kalau saya malah berpikir sebaliknya, semakin vintage semakin keren. Apalagi kalau saya melihat ada bangunan lama yang sudah beralih fungsi menjadi modern, tapi tetap bisa mempertahankan kekhasannya. Itu keren banget. Modern dan vintage jadi satu kesatuan.

Kemarin baru pertama kalinya saya mampir menjejakkan diri masuk ke restoran Pizza Hut di Jalan Sudirman Jogja. Restoran ini sebenarnya sudah lama sih, pindahan dari restoran yang sebelumnya berada di dekat monument Tugu Jogja. Yang bikin saya suka dengan restoran ini adalah bangunannya yang tetap mempertahankan bentuk aslinya. Bapak saya kemarin malah cerita, kalau bangunan ini dahulu banget adalah rumah temannya waktu kecil dulu. Entah pindah ke mana si teman sekarang.

Fasade bangunan tetap asli, dengan perbaikan di sana sini. Unsur modern yang menjadi branding Pizza Hut bisa diimplementasi menjadi bagian dari fasade. Ada modern dan ada vintage. Kalau melihat bangunan ini, jadi ingat restoran Pizza Hut serupa di daerah Senen Jakarta. Di sana, restoran ini menggunakan bangunan lama yang menjadi ekstensi mall atrium Senen.

Bagian dalam interior Pizza Hut Sudirman ini juga nggak kalah menarik. Ruang-ruang tetap dipertahankan sesuai aslinya, namun dicat modern sesuai kekhasan saat ini. Ada pula area terbuka yang memanfaatkan teras asli bangunan. Menyenangkan sekali melihat isinya.

Hmm.. seandainya semakin banyak brand besar yang berani merenovasi bangunan lama dan memanfaatkannya untuk fungsi baru tanpa merusak keasliannya, tentu wajah kota di Indonesia akan semakin baik.

Menemukan Koleksi Masa Lalu

Siapa di sini yang suka menyimpan barang klasik? Minggu lalu ceritanya di rumah lagi dipasang lemari baru. Kalau tahu kebiasaan nyokap, itu artinya akan ada perombakan isi lemari lainnya secara besar-besaran. Yang diganti satu lemari, tapi efeknya ke banyak lemari lainnya. Haha ya jadi PR bersama satu rumah bongkar-bongkar.

Nah gara-gara bongkaran itu, jadi nemu beberapa barang masa lalu yang lupa pernah disimpan di situ. Bukan, bukan foto bekas pujaan hati. Namun koleksi mainan dan barang berbau teknologi nan klasik. Kayak gini nih sukaannya om @pinot. Makanya saya waktu itu jadi foto barang-barang yang saya temukan.

Yang paling banyak ditemukan adalah koleksi kaset lama saya, dan nyokap saya. Eh tau kan yang namanya kaset? Jadi ya adik-adik, dulu itu jauh sebelum kenal dengan MP3, ada yang namanya Compact Disc. Sebelumnya lagi ada yang namanya kaset. Lagunya direkam di atas pita analog. Ada dua sisi, Side A dan Side B. Jadi satu album kaset itu akan dikasih keterangan lagu-lagu apa yang direkam di masing-masing sisi.

20120330-091827.jpg

Selain kaset untuk audio, ada yang namanya juga kaset video. Format yang dulu terkenal ada dua: VHS dan Betamax. Ada yang bisa dipakai merekam selama 30 menit hingga 120 menit. Dulu saya suka merekam ke video dari Laser Disc. Tau gak Laser Disc? Itu adalah DVD era masa lalu. Bentuknya juga cakram tapi besar. Ada dua sisi juga, jadi bisa diputar bolak-balik. Dulu adalah eranya penyewaan film Laser Disc. Biasanya beberapa film bagus, saya rekam dulu dari Laser Disc ke video VHS. Sekarang kaset-kaset rekaman itu teronggok begitu saja karena saya sudah tak punya video player-nya.

Selain itu saya juga menemukan dus-dus program yang masih menggunakan disket. Adik-adik pasti gak kenal yang namanya disket. Seperti kaset, disket menyimpan data digital dalam bentuk pita yang berbentuk cakram. Satu disket ukuran 3.5 inci itu cuma muat 1.44 Megabytes. Haha bayangkan saja dengan USB flash disk yang sekarang bisa menyimpan sampai 8 Gigabytes.

20120330-092045.jpg

Jadi dulu kalau saya main game itu saya harus bolak-balik ganti disket, karena satu jenis game itu bisa punya 3-10 disket, tergantung kompleksitas game-nya. Apalagi dulu hard disk adalah barang mewah. Ukuran 20 Megabytes saja bisa dibilang mahal. Beruntunglah kala itu untuk mereka yang punya hard disk, game bisa dikopi dulu ke situ, jadi nggak perlu bolak-balik ganti disket.

Ngomong-ngomong disket, saya menemukan disket original Windows 3.1 dan DOS 6.2 Upgrade. Saya juga menemukan game klasik Rex Nebular dan Quest for Glory I dan II. Game original ini dulu dibelikan di Singapura. Dulu ingin tahu juga sih apa bedanya beli game bajakan dan original versi disket. Ya sama aja sih sebetulnya. Bedanya yang original lebih mahal aja. Jadi? Lebih murah beli bajakan. Hahaha apalagi dulu modelnya sistem copy game. Per copy-nya bayar Rp.1.000,00. Murah ya?

20120330-091914.jpg

20120330-091937.jpg

20120330-092007.jpg

Benda klasik lain yang saya temukan saat bongkar lemari adalah koleksi komik lokal lama. Saya nemu lengkap satu seri Putri Ular karya Djair. Gambar sampulnya aduhai sekali. Susah ngedapetin komik lama yang lengkap seperti ini. Saya dulu membelinya di sebuah pameran buku, lupa tapi persisnya kapan dan di mana.

20120330-091755.jpg

Tahun 2000-an saya bersama beberapa teman pernah membuat serangkaian komik, ada yang independen, ada yang bekerja sama dengan penerbitan. Dari puluhan komik yang pernah kami buat, tidak semuanya saya masih punya komik versi cetaknya. Bersyukurlah saya, karena saat bongkar-bongkar ini, saya bisa menemukan sebagian komik-komik tadi. Suatu kenangan tersendiri bisa memegang komik-komik karya sendiri ini lagi.

Akhir kata, semua koleksi ini saya pisahkan. Yang memang sudah tak terpakai, namun memiliki rasa sentimentil yang kuat, tentu saya simpan. Selebihnya, akan bersatu dengan sampah-sampah lainnya.

Kalau kamu, benda nostalgia dan sentimentil apakah yang dari masa lalu yang masih kamu simpan?

20120330-091723.jpg

20120330-091701.jpg

Perhentian Masa Lalu

15 perhentian masa lalu

Foto ini diambil kala saya bersama teman-teman di Twitter ikut serta dalam Hunting Jagamine, dengan tutornya Jeng Sasha (@poeticpicture). Kami berkumpul hari Sabtu, 27 November 2010, pagi pukul 08:30 di kantin di Kota, yang rupanya menjadi sarangnya fotografer Jakarta. Sasha sempat memberikan pengarahan singkat, sebelum akhirnya kami dipecah menjadi 4 kelompok untuk berburu foto. Sekitar pukul 10:30 kami kembali berkumpul. Acara dilanjutkan dengan membahas foto unggulan kami masing-masing, sembari makan siang.

Sudah banyak orang mengambil gambar di Kota. Hari Sabtu Kota juga ramai, sehingga pastinya akan menyulitkan pengambilan gambar. Tantangannya adalah mengambil sudut pandang yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Ini adalah frame foto terakhir saya sebelum berkumpul kembali. Signage TAXI berikut lampu sirine (yang sudah tidak lagi menyala) ini bisa ditemukan di sudut Kafe Batavia. Saya ingin menampilkan foreground dan background secara jelas. Menggunakan lensa 18mm, f 8, 1/640 sec.