Mencari Tas Kamera

Kalau nggak butuh, maka saya nggak akan nyari. Akhirnya saya membeli tas backpack untuk kamera. Sejak dulu saya selalu memanfaatkan tas punggung yang saya bawa sehari-hari ke kantor, untuk saya pakai juga saat memotret.

Tentu saja menggunakan tas punggung biasa beresiko, karena kamera dan lensa di dalamnya bisa saling bersinggungan. Lebih ngeri lagi, lensa kamera bisa tertekan. Ini yang saya alami berulang kali. Lensa sih sebetulnya aman, karena memang didesain untuk bisa menahan tekanan. Namun filter lensa di depannya tidak. Sudah 2x dalam setahun saya ganti filter lensa karena pecah. Yang pertama retak biasa. Yang kedua retaknya sampai kecil-kecil sehingga sulit membersihkannya dari permukaan lensa.

Biasanya kalau beli keperluan kamera, saya cek di web Focus Nusantara untuk harga atas. Lalu cari di Tokocamzone atau di Pasar Baru untuk penawaran yang lebih murah. Ternyata itu nggak berlaku untuk tas. Semua berharga sama persis.

Pilih tas kamera merk apa?

#WonderfulEclipse: Mengamati Gerhana Matahari Sebagian di Jakarta

Saya masih kecil waktu gerhana matahari tahun 1983 dulu banget. Namun masih membekas di ingatan betapa pemerintah saat itu memberi peringatan keras supaya kita tidak melihat gerhana matahari langsung. Alasan kesehatan mata tentunya. Akhirnya lebih banyak yang mengamati melalui TVRI saja. Saya salah satunya. Akibat larangan itu, saya pun dilarang untuk keluar rumah.

Tahun 2016 tentu berbeda. Sekarang malah pemerintah gencar mempromosikan gerhana matahari supaya turis berdatangan ke propinsi-propinsi yang mengalami gerhana matahari total. Banyak teman dan saudara saya yang terbang ke Palembang dan Bangka Belitung demi bisa menyaksikannya langsung.

sekuens//embedr.flickr.com/assets/client-code.js
Yuk lihat proses gerhana matahari yang terjadi

Alasan Penyebaran Hoax

Kalau dulu penyebaran hoax terjadi di BBM Group, kalau sekarang terjadinya di WhatsApp Group, terutama di group keluarga dan alumni. Kira-kira kenapa ya ini selalu terjadi? Kenapa kejadian ini terjadi pula di banyak group lainnya, yang bahkan tidak bersinggungan dengan group keluarga dan alumni saya?

Kalau saya amati, pelaku penyebaran hoax biasanya mereka yang baru berinteraksi di ranah internet sejak era BBM ada. Masih terbilang baru. Sementara mereka yang juga aktif di social media, suka memantau berita, rajin mencari sesuatu di Google, relatif akan memfilter dulu yang mereka baca. Buat mereka (termasuk saya sendiri) sudah terlalu banyak menerima informasi setiap saat. Mekanisme otak saya secara otomatis akan memfilter yang menurut saya penting. Apalagi saat melihat hasil copas di WhatsApp, saya langsung skip tanpa membaca isinya, karena kebanyakan tidak relevan dengan kebutuhan saya.

hoax pack
Jadi kira-kira apa yang membuat hoax menyebar?

Menghitung Shutter Count Canon

Setiap kamera ada umurnya. Setiap mekanik dalam sebuah benda pasti akan berhenti berfungsi di suatu hari. Sama juga dengan kamera. Usia hidup sebuah kamera bisa dihitung dari jumlah shutter yang sudah dijepretkan. Untuk yang aktif memotret atau suka bikin time lapse, ada baiknya sekali-sekali coba cek sudah berapa kali shutter kamera dijepretkan.

Untuk pengguna Canon ada beberapa aplikasi gratis yang bisa dipakai. Namun untuk kamera Canon 1 digit agak repot, karena ternyata kebanyakan aplikasi gratis ini tidak bisa mendeteksi angka shutter terakhir yang dipakai. Saya pengguna Canon 5D Mark II, dan tools berbasis Windows ini yang sudah saya sempat coba:

1. Camera Shutter Count

Aplikasi berbasis web ini meminta saya untuk mengunggah file JPG jepretan terakhir dari kamera. Nantinya aplikasi ini akan mengeluarkan angkanya, karena biasanya angka ini akan ditanam oleh kamera dalam meta data file JPG. Sayangnya hasil file JPG dari Canon 5D Mark II tidak menyimpan data tersebut. Artinya, saya tidak berhasil mendapatkan angka shutter terakhir.

Cek aplikasi lainnya yuk!

6 Tips Memotret Solo atau Band

Pengalaman memotret penyanyi solo atau band pasti berbeda dibanding memotret grup idol. Kalau motret grup idol kan subjeknya banyak. Walaupun kita diam di tempat pun, pasti masih bisa dapat banyak shot yang berbeda. Apalagi mereka suka bergerak ke sana ke mari dengan koreografi yang menarik untuk difoto.

Nah berbeda kalau kita memotret seorang penyanyi solo atau band yang cenderung diam di tempat. Subjeknya pun itu lagi itu lagi. Kalau kita diam di tempat, shot yang didapat pasti sangat sedikit variannya. Lalu biasanya apa yang saya lakukan?

Berikut ini beberapa tips supaya shot yang diambil bisa lebih bervariasi:

1. Ambil sudut pandang yang berbeda.

Kalau memotret yang pengunjungnya ramai seperti Raisa, saya biasanya sudah menunggu di posisi yang menurut saya andalan. Makin dekat panggung makin baik. Selama dua lagu pertama saya habiskan shot di sana. Setelah itu saya baru pindah titik pemotretan. Ke sisi panggung, kanan panggung, bahkan kalau lokasinya di mall, saya naik ke lantai atas untuk memotret suasananya. Kalau memungkinkan coba juga mengambil dari arah belakang, untuk memperlihatkan keramaian penonton di depan panggung.

IMG_6340

Tips lainnya apa aja ya