Menghitung Shutter Count Canon

Setiap kamera ada umurnya. Setiap mekanik dalam sebuah benda pasti akan berhenti berfungsi di suatu hari. Sama juga dengan kamera. Usia hidup sebuah kamera bisa dihitung dari jumlah shutter yang sudah dijepretkan. Untuk yang aktif memotret atau suka bikin time lapse, ada baiknya sekali-sekali coba cek sudah berapa kali shutter kamera dijepretkan.

Untuk pengguna Canon ada beberapa aplikasi gratis yang bisa dipakai. Namun untuk kamera Canon 1 digit agak repot, karena ternyata kebanyakan aplikasi gratis ini tidak bisa mendeteksi angka shutter terakhir yang dipakai. Saya pengguna Canon 5D Mark II, dan tools berbasis Windows ini yang sudah saya sempat coba:

1. Camera Shutter Count

Aplikasi berbasis web ini meminta saya untuk mengunggah file JPG jepretan terakhir dari kamera. Nantinya aplikasi ini akan mengeluarkan angkanya, karena biasanya angka ini akan ditanam oleh kamera dalam meta data file JPG. Sayangnya hasil file JPG dari Canon 5D Mark II tidak menyimpan data tersebut. Artinya, saya tidak berhasil mendapatkan angka shutter terakhir.

Cek aplikasi lainnya yuk!

6 Tips Memotret Solo atau Band

Pengalaman memotret penyanyi solo atau band pasti berbeda dibanding memotret grup idol. Kalau motret grup idol kan subjeknya banyak. Walaupun kita diam di tempat pun, pasti masih bisa dapat banyak shot yang berbeda. Apalagi mereka suka bergerak ke sana ke mari dengan koreografi yang menarik untuk difoto.

Nah berbeda kalau kita memotret seorang penyanyi solo atau band yang cenderung diam di tempat. Subjeknya pun itu lagi itu lagi. Kalau kita diam di tempat, shot yang didapat pasti sangat sedikit variannya. Lalu biasanya apa yang saya lakukan?

Berikut ini beberapa tips supaya shot yang diambil bisa lebih bervariasi:

1. Ambil sudut pandang yang berbeda.

Kalau memotret yang pengunjungnya ramai seperti Raisa, saya biasanya sudah menunggu di posisi yang menurut saya andalan. Makin dekat panggung makin baik. Selama dua lagu pertama saya habiskan shot di sana. Setelah itu saya baru pindah titik pemotretan. Ke sisi panggung, kanan panggung, bahkan kalau lokasinya di mall, saya naik ke lantai atas untuk memotret suasananya. Kalau memungkinkan coba juga mengambil dari arah belakang, untuk memperlihatkan keramaian penonton di depan panggung.

IMG_6340

Tips lainnya apa aja ya

Mengontrol Noise untuk Pemotretan Stage

Kemarin di Twitter kak Goenrock sempat bercerita tentang mengontrol noise secara umum dalam pemotretan. Rangkumannya bisa dicek di tautan ini. Silakan baca dulu yaa…

Seperti kalian mungkin juga sudah tahu, kalau saya lebih banyak memotret stage. Tantangan di stage adalah, cahaya yang ada umumnya terbatas (kecuali di konser-konser besar ya), dan kita dihadapkan pada tantangan untuk memotret subjek dengan kecepatan tinggi (apalagi motret grup idol yang geraknya cepat). Jadi saya mau berbagi cerita tentang mengontrol noise, khususnya untuk aksi di stage. Karena saya nggak bakat cerita panjang di Twitter, mending saya ceritain dalam satu postingan blog saja.

Pertama kali yang harus disiapkan adalah, memotretlah dengan file RAW. Jangan hanya JPG, karena RAW memiliki lebih banyak data yang disimpan yang akan sangat jauh memudahkan kalian saat mengedit fotonya nanti. Memang menggunakan file RAW akan memakan space besar. Beli memory card yang banyak, jangan pelit ya.

Lanjut menyimak tips yuk

#MotretIdol

Beberapa hari lalu saya mendapat badge dari wordpress.com kalau saya sudah 8 tahun sejak saya mendaftarkan id saya di sana (meski saya sebenarnya sudah ngeblog sejak Juli 2005). Orang-orang dulu banyak mengenal saya karena blog media-ide.com yang membahas seputar dunia kreatif dan social media. Hahaha jangan dicek blognya, sekarang sudah nggak pernah di-update lagi.

Sejak 2013 saya melihat sudah makin banyak praktisi digital dan social media. Banyak dari mereka yang lebih banyak punya ilmu dibanding saya. Lebih baik menyediakan tempat buat mereka bertanya dan berbagi. Makanya untuk topik social media, saya sudah jarang (baca: malas) menulis. lebih cenderung mengajak mereka untuk bergabung di Facebook Group Social Media Strategist Club saja. Hahaha biar “memaksa” mereka yang pintar-pintar untuk mau berbagi.

Saya sempat vakum ngeblog karena saya bingung mencari tema baru, di luar dunia social media. Hingga akhirnya saya kepikiran untuk mengembangkan kembali blog personal saya ini saja, namun dengan topik yang saya suka dan saya jalani setiap minggunya, memotret stage. Seperti teman-teman tahu, sudah lebih dari 3 tahun saya suka memotret stage, khususnya idol. Blog ini pun saya benahi, saya rapihkan kembali kategori dan tag. Saya rapihkan juga semua konten foto saya di Flickr. Instagram saya yang sudah vakum lama pun saya hidupkan kembali, dengan fokus foto-foto yang saya anggap terbaik saat memotret.

Sempat ngobrol dengan Alex @aMrazing di Twitter mengenai konten Instagram, dan dia menyarankan saya untuk pakai hashtag #motretidol saja, karena toh memang saya sukanya memotret idol. Hashtag ini masih saya pakai terus di Instagram. Jangan berpikir sempit kalau kata “idol” itu harus JKT48 ya. Itu hanya bahasa marketing mereka saja. Buat saya, “idol” itu ya idola, artinya bisa siapa saja yang memang saya sukai.

Lanjut baca tentang #motretidol

Lensa Memotret

Semakin sering memotret, semakin lama pasti akan semakin merasa butuh lensa baru. Biasanya mulai dengan lensa kit, lalu setelah tahu limitasinya, mulai mencari lensa lain yang sesuai kebutuhan. Untuk yang suka memotret landscape, pasti akan mencari lensa wide. Sementara seperti saya yang suka memotret stage pasti akan mulai mencari lensa tele. Yang jelas, saya selalu mencari tahu lebih dulu limitasi lensa yang saya punya, supaya saya tahu lensa seperti apa yang akan saya cari berikutnya.

Saya pengguna kamera Canon, jadi yang akan saya share di sini adalah lensa Canon atau yang mendukung Canon.

1. Canon EF 24-105mm f/4L IS USM

Ini lensa wide/zoom yang pertama yang saya pakai ke manapun saya pergi. Travelling, liburan, dokumentasi, selalu pakai ini. Dengan 24 mm-nya, saya bisa mengambil gambar cukup lebar, memadai untuk memotret ruang luar. Hanya saja saya sering mengingatkan diri sendiri supaya tidak memotret close up pada saat di wide, karena distorsinya tidak terlalu enak. Dengan zoom 105 mm-nya sangat memadai bila ingin memotret medium close up seseorang. Bila saya di depan panggung, lensa ini juga bisa dipakai untuk memotret wide situasi di panggung.

Canon EF 24-105mm f/4L IS USM

2. Canon 70-200mm f/4L IS USM

Ini lensa andalan saya sekarang. Paling sering saya bawa kalau saya memotret panggung. Sebenarnya lebih enak kalau punya yang f/2.8L, tapi harga barunya terlalu mahal buat kantong saya. Jadi pilihannya jatuh ke f/4L. Lagi pula yang f/2.8L jauh lebih berat, dan bikin pegal kalau dibawa terlalu lama. Perbedaan mendasar pastinya ada di bokeh yang didapatkan karena lensa f/2.8L punya depth of field yang lebih tipis daripada f/4L. Baik lensa f/2.8 atau f/4L sangat berguna untuk memotret panggung dengan kondisi pencahayaan temaram. Apalagi kalau yang difoto adalah JKT48 yang membutuhkan kecepatan minimal 1/250, karena aksi gerak cepat mereka di panggung. Auto focus lensa ini juga cepat, bahkan di tempat yang cukup gelap. Sangat membantu saat memotret aksi performer di panggung yang suka berpindah-pindah dengan cepat.

Canon 70-200mm f/4L IS USM

3. Canon EF 40mm f/2.8 STM

Lensa fix 40mm ini biasanya saya pakai kalau memotret model. Kadang saya bawa juga sih kalau jalan-jalan di Jakarta. Ringan banget soalnya. Umumnya saya selalu pakai di f/2.8 demi mendapatkan depth of field tipis di wajah (atau bagian badan lainnya yang saya tujukan fokusnya). Bokehnya juga bagus, apalagi kalau dipakai untuk memotret di malam hari. Ukuran 40mm cukup memberikan ruang lebar, namun tidak sampai membuat bagian tubuh model terdistorsi seperti yang terjadi saat saya pakai 24mm (cek point nomor satu di atas).

Canon EF 40mm f/2.8 STM

4. Samyang 8mm f/2.8 UMC Fisheye CS II

Lensa fisheye bukan hal yang wajib dimiliki sih. Kebutuhannya murni sebagai gimmick. Nggak enak kalau melihat semua hasil foto menggunakan fisheye. Namun menarik kalau ada 2-3 foto menggunakan fisheye di antara kumpulan foto umum lainnya. Lensa Samyang ini manual, alias tidak ada motor focus-nya, namun memiliki hasil yang bagus dengan harga yang masih masuk akal. Perlu diperhatikan saat memasang lensa ini di body kamera full frame, karena akan terlihat vignette dan chromatic abrassion di setiap sudutnya. Bagi saya, hal ini tidak terlalu masalah, karena toh bagian itu masih bisa saya crop.

Samyang 8mm f/2.8 UMC Fisheye CS II

5. Helios 44-2 58mm f/2

Lensa fix manual ini juga masuk kategori gimmick sih. Keunikan lensa ini adalah menampilkan bokeh yang berbentuk swirly. Biasanya akan terlihat jelas saat ada pepohonan di background. Mengenai lensa ini sudah pernah saya tuliskan di postingan ini.

Helios 44-2 58mm f/2

6. Canon EF 70-300mm f/4.5-5.6 DO IS USM

Sebelum saya punya lensa nomor 2 di atas, lensa tele inilah yang selalu menemani saya saat memotret panggung. Lensa DO (Defractive Optics) ini ringan, karena menggunakan teknologi yang berbeda dengan IS. Sayangnya lensa ini kurang populer, entah kenapa. Buat saya yang suka menghadapi panggung yang pencahayaannya temaram, f/4.5-5.6 kurang memadai. Saya harus terpaksa mengorbankan speed atau menaikkan ISO hingga 6400 (itu pun kadang belum cukup). Keuntungannya lensa ini punya jangkauan 300mm. Lensa ini akhirnya hanya akan saya pakai bila kondisi pencahayaan sangat memadai dan jarak ke subjek pemotretan jauh.

Canon EF 70-300mm f/4.5-5.6 DO IS USM